Sebuah karya kakakku yang masih disimpan di laptopku, aku mau memberitau dunia bahwa bakat menulisku juga ada pada kakakku. silahkan meningkmati cerpen Missing You.
Missing
You
Perlahan
namun pasti, kulangkahkan kakiku menuju tempat itu. Tempat dimana aku dan dia
sempat merasakan malam yang indah. Kubiarkan meski dinginnya malam semakin
menusuk tubuhku. Tak kuhiraukan kencangnya angin yang membuat rambutku
berantakan.
Akhirnya
setelah langkah kesekian, kulihat kerlipan indah lampu hias yang membuat tempat
itu tampak indah. Bunga – bunga yang tumbuh menghiasi tempat itu pun tak sulit
untuk kulihat meski malam terus meraja. Dan akhirnya pandanganku tertumbuk pada
benda bulat besar yang paling mencolok di tempat itu. Sebuah bianglala besar
sedang berputar, membawa orang yang menaikinya merasakan indahnya kota malam
hari.
Tanpa
bisa ku tahan, ingatan tentang malam 4 tahun yang lalu itu menyergapku.
Membuatku lupa dimana aku berpijak dalam sedetik. Masih jelas diingatanku akan
kenangan hari itu. Canda tawa, kebahagiaan, masih dapat ingat jelas. Setitik
air mata lolos melewati pipiku. “Bodoh” bisikku pada diri sendiri.
Ku
edarkan pandangan ke sekelilingku. Semua masih sama seperti 4 tahun yang lalu.
Tidak ada yang berubah. Tempat ini masih indah, masih dipenuhi orang – orang
yang mencari hiburan di taman kecil ini. Entah bersama keluarga, teman ataupun
kekasih. Semua masih sama. Mungkin hanya aku yang telah berubah.
Setelah puas memandang taman ini, ku
langkahkan kakiku pada air mancur yang berada tak jauh dari posisiku. Aku duduk
dipinggiran air mancur itu. Kucelupkan jari – jari tanganku. Dingin itulah yang
terasa pada jari – jariku. Kembali memori bersamanya di tempat ini menyeruak di
kepalaku.
Ada rasa rindu, sesak,
sedih, dan bahagia yang aku rasakan ketika potongan – potongan kenangan masa
lalu itu memenuhi kepalaku. Kembali bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Ak
merindukannya masa itu. Aku merindukan indahnya malam itu. Aku merindukan
senyum bahagia kami hari itu. Aku merindukan semua. Meski telah 4 tahun
terlewati. Tapi aku masih merindukan saat – saat bahagia bersamanya.
Bersama orang yang aku
cintai, bersama seseorang yang akan selalu dan selamanya menjadi best man dalam
hidupku, bersama seseorang yang tidak bisa kumiliki meski telah aku katakan
bahwa aku sangatlah mencintainya. Bersama orang yang tidak akan pernah bisa aku
lupakan untuk sisa hidupku mungkin.
“Aku pulang mas. Aku
disini sekarang. Ditempat indah ini” ucapku pelan.
Ya, sudah 4 tahun aku
pergi dari kota kelahiranku untuk mewujudkan cita – citaku. Meninggalkan semua
tentangnya, meninggalkan cinta yang selama 6 tahun sebelumnya telah kupupuk,
meninggalkan orang yang sangat aku cintai agar dia bahagia bersama perempuan
lain yang dia cintai. Dan meski sudah 4 tahun, tapi entah kenapa rasaku padanya
belum juga hilang. Atau mungkin tidak akan hilang.
Senyum sedih terukir
diwajahku ketika ingatan ketika aku harus melepaskannya bersama orang lain
menyeruak diantara kenangan – kenangan indahku bersamanya di taman ini. Rasa
sesak itu semakin aku rasakan. Seolah ada yang menghimpit dadaku. Rasanya
sakit. Ku remas baju bagian dadaku, seolah dengan cara itu dapat membantuku
menghilangkan rasa sesak yang kurasakan.
Aku merindukannya,
merindukan semua tentang dia. Dan aku sebenarnya benci mengakui ini semua.
Karena harusnya aku sudah tidak boleh marasakan perasaan rindu ini. Tapi
perasaan, siapa yang bisa menyalahkannya.
Ku tarik nafas dalam
untuk menenangankan diriku. Perlahan aku mulai bisa mengontrol diriku lagi.
Setelah aku mulai tenang, ku lanjutkan perjalananku di taman penuh kenangan
ini. Ak langsung menuju tempat pembelian karcis bianglala. Tujuanku selanjutnya
adalah bianglala. Aku ingin kembali mengingat saat aku naik bianglala berdua
berasamanya. Aku ingin mengumpulkan sisa – sisa kebahagiaanku bersamanya. Aku
ingin mengingatnya selama aku masih bisa mengingat.
Setelah membayar
karcis, aku masuk dalam antrian. Aku kembali tersenyum ketika mengingat
bagaimana dulu aku dan dia mengantri disini. Obrolan ringan, sedikit saling
memukul adalah yang terjadi saat itu. Saling menggoda, membuat satu sama lain malu,
memenuhi detik – detik kebersaam kami selama menunggu giliran menaiki
bianglala.
Senyum sedih kembali
menghiasi wajahku, ketika kusadari bahwa apa yang terjadi 4 tahun lalu tidak
akan pernah bisa terulang lagi. Kulihat antrian di depanku. 3 baris lagi, dan
aku akan menaiki bianglala. Saat itulah, seseorang menepuk bahuku. Kutolehkan
wajah untuk melihatnya. Dan mataku membulat sempurna ketika aku tau siapa orang
baru saja menupuk bahuku.
“Bell” serunya pelan
dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Ry...Ryu..” kataku
gagap. Ini tidak mungkin kan ? Bermimpikah aku ? orang yang sejak tadi berada
dalam lamunanku kini ada dihadapanku. Dia, orang yang semenjak tadi kucari
bayangannya ditempat ini baru saja menyapaku bahkan menepuk bahuku.
“Udah lama nggak
ketemu kamu ya” katanya. Dan aku hanya bisa mengangguk. Stupid. Kenapa aku
harus bersikap seperti ini. Aku benar – benar merutuki sikapku.
“Naik bareng yuk”
ajaknya.
“Hah..???”
“Udah ayo naik
bareng.” Dia langsung merebut karcis ditanganku dan segara menyerahkannya pada
petugas yang bearda di deapan kami. Ternyata sekarang sudah giliranku. Saking
shocknya aku sampai tidak menyadari bahwa sekarang adalah giliranku.
Ryu segara menarikku
memasuki salah satu anting di bianglala. Dan setelah itu bianglala langsung
berputar secara perlahan. Kami duduk berhadapan.
Aku berusaha
mengendalikan diriku sendiri. Aku tidak boleh bersikap bodoh. Ku coba
merilekskan diriku. Ku tolahkan wajahku untuk melihat pemandangan kota. “Masih
tetap indah” seruku pelan.
“Ya... masih indah”
sahutnya. “Kenapa kamu kemari bell ?”
“Mencari sisa – sisa
kenangan indah disini” jawabku tanpa menoleh padanya. “Kamu sendiri ?” gantian
aku yang bertanya.
“Aku kangen kamu.
Makanya aku datang kesini” ucapnya.
Kurasakan bahwa
jantungku berdetak tidak normal. Aku hanya berharap semoga Ryu tidak mendengar
degub jantungku.
“Kapan kamu kembali ?”
tanyanya agar suana tidak hening.
“Kemarin malam”
jawabku. Kali ini kuberanikan diri untuk melihatnya. “4 tahun, apa kabar kamu
?” tanyaku
“Baik. Kamu sendiri
gimana ?”
“Aku juga baik”
Keheningan mulai
menguasai. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan. Tidak mungkin aku
mengatakan jika aku merindukannya. Itu benar – benar tidak mungkin. Meski tadi
Ryu menjawab bahwa ia rindu padaku, bukan berarti aku menjawbnya kan.
Ketika aku sibuk
dengan pikiranku Ryu tiba – tiba bertanya “Apa selama ini kamu bahagia Bell ?”
“Apa ??”
“Aku nanya apa kamu
bahagia ?”
“Ohh.. Iya aku
bahagia” jawabku pelan tanpa melihat matanya.
“Baguslah” sahutnya
“Iya”
Kubiarkan keheningan
kembali menemani kami. Tak terasa satu putaran telah terlewati. Karena tadi Ryu
merebut karcisku, berarti kami akan menaiki bialanglala ini satu putaran lagi.
Tuhan apa yang harus aku lakukan. Batinku merana.
“Bell..”panggilnya
ketika anting yang kami naiki berada di puncak tertinggi.
“Ya..???”
“2 bulan lagi aku akan
menikah. Aku harap kamu bisa datang” katanya.
Entah seperti apa
wajahku ketika aku mendengar informasi ini. Yang jelas aku terkejut.
“Iya kah ? Selamat. Ok
aku akan datang” jawabku setalah aku bisa kembali menemukan suaraku. Dan sekali
lagi, aku menjawab tanpa melihat wajahnya.
“Makasih”. Dan aku
hanya mengangguk.
Dan saat itu putaran
bianglala kedua kami berakhir. Pintu anting dibuka oleh petugas, dan kami
langsung keluar. Segera kami menuju pintu keluar dan menuju area taman yang
lain.
Kami berjalan
beriringan, tanpa kata. Kami menuju
salah satu bangku taman yang ada disalah satu sudut taman. Bangku yang
menghadap bianglala.
“Semoga kalian
bahagia” ucapku ketika kami sudah mendaratkan pantat kami di bangku tamn.
“Iya makasih ya.”
Aku diam.
“Bell..” dia kembali
memanggilku.
“Hmmm”
“Maaf”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Aku tau,
kamu pasti terluka selama ini” katanya.
Aku hanya tersenyum
menaggapinya.
“Apa kamu masih
mencintai aku Bell ?” tanyanya. Aku kembali terkejut. Entahlah, kenapa malam
ini aku selalu terkejut. Ryu benar – benar hebat karena ia berkali- kali
membuatku terkejut.
Kuhembuskan nafas
pelan sebelum menjawab “Cinta itu nggak akan pernah hilang Ryu. Apapun yang
terjadi. Bahkan meskipun kita akan berakhir dengan orang lain, perasaan itu
nggak akan hilang. Selamanya rasa itu akan tetap tersimpan disudut hatiku yang
terdalam”
“Apakah kamu bahagia
dengan semua ini ?”
“Ya aku bahagia. Dan
inilah caraku bahagia”
Kudengan Ryu
menghembuskan nafas. Mungkin ia kesal dengan jawabanku. Mungkin dia ingin
mendengar kalau aku sudah tidak mencintainya lagi. Dasar bodoh, batinku.
Hening. Sebelum
akhirnya Ryu meraih tanganku yang sukses membuatku menatap wajahnya. Ryu
memandang tepat di mataku. “Mungkin ini akan jadi kesmpatan terakhirku
mengatakan ini Bell. Dan maaf karena aku baru mengatakn ini setelah sekian
lama.” Dia kembali menarik nafas dalam. “Bell, aku cinta sama kamu” katanya
perlahan. Aku hanya bisa diam, karena aku tidak tau apa yang harus aku katakan.
“maaf selama ini aku nggak pernah ngungkapin tentang ini. Tapi aku cinta sama
kamu Bell. Dan dengan cinta ini pula, aku lepasin kamu. Maaf kalau aku ngebuat
kamu terluka lagi dengan mengatakn ini. Tapi aku nggak mau menyesal. Aku harus
mengatakn ini sebelum aku menikah” jelasnya panjang lebar.
Kupejamkan mata. Ku
tenangkan diriku. Beberapa detik mataku terpejam, perlahan kubuka mataku.
Kutatap langsung matanya, berusaha mencari sesuatu disana. Namun yang kutemukan
hanya keseriusan. Kulepaskan tanganku yang masih dalam genggamannya.
“Akhirnya...” hanya
itu yang bisa aku ucapkan.
Kembali hening. Aku
harus mengakhiri ini sekarang, sebelum aku kehilangan kontrol diri. Aku
langsung berdiri, dan tanpa menoleh padanya aku berkata “Makasih, karena udah
ngasih tau aku apa yang kamu rasain ke aku. Dan sekarang waktunya kita bener –
bener berpisah Ryu. Semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu. Aku akan datang
sebagai seorang teman yang ikut bahagia karena temannya akhirnya telah
menemukan kebahagiaannya”. Tanpa menunggu tanggapannya aku pun melangkahkan
kaki meninggalkan Ryu.
Namun di langkahku
yang ke lima, Ryu kembali memanggilku dan aku berhenti untuk menoleh padanya.
“Ku harap kamu juga segera menemukan kebahagiaan kamu. Karena kebehagiaan kamu
juga adalah yang terpenting buat aku” ucapnya.
Aku hanya mengangguk.
Lalu aku kembali melangkah pergi. Dan aku juga tau bahwa Ryu juga telah
melangkah pergi meninggalkan semua sisa – sisa kenangan indah kami di tempat
ini. Aku tau, karena itu pula yang aku lakukan. Perlahan air mata menyeruak
dari kedua mataku. Kali ini aku tidak mau menahannya. Biarkan semuanya lepas,
agar aku bisa merasakan lega. Meski saat ini yang kurasakan adalah hampa.
Kehampaan yang sama yang kurasakan 4 tahun lalu saat aku memutuskan untuk
melepaskan diri darinya, kehampaan yang sama yang kurasakan ketika aku
melepaskannya malam itu.
“Bye Ryu..” bisikku.
Dan ditempatnya, Ryu
pun mengucapkan hal yang sama “Selamat Tinggal Bell”.
----------End---------
by : Shindy Ayu Nur Shaida.







0 komentar:
Posting Komentar