Kamis, 12 Februari 2015

Missing you

Sebuah karya kakakku yang masih disimpan di laptopku, aku mau memberitau dunia bahwa bakat menulisku juga ada pada kakakku. silahkan meningkmati cerpen Missing You.

Missing You

Perlahan namun pasti, kulangkahkan kakiku menuju tempat itu. Tempat dimana aku dan dia sempat merasakan malam yang indah. Kubiarkan meski dinginnya malam semakin menusuk tubuhku. Tak kuhiraukan kencangnya angin yang membuat rambutku berantakan.
Akhirnya setelah langkah kesekian, kulihat kerlipan indah lampu hias yang membuat tempat itu tampak indah. Bunga – bunga yang tumbuh menghiasi tempat itu pun tak sulit untuk kulihat meski malam terus meraja. Dan akhirnya pandanganku tertumbuk pada benda bulat besar yang paling mencolok di tempat itu. Sebuah bianglala besar sedang berputar, membawa orang yang menaikinya merasakan indahnya kota malam hari.
Tanpa bisa ku tahan, ingatan tentang malam 4 tahun yang lalu itu menyergapku. Membuatku lupa dimana aku berpijak dalam sedetik. Masih jelas diingatanku akan kenangan hari itu. Canda tawa, kebahagiaan, masih dapat ingat jelas. Setitik air mata lolos melewati pipiku. “Bodoh” bisikku pada diri sendiri.
Ku edarkan pandangan ke sekelilingku. Semua masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah. Tempat ini masih indah, masih dipenuhi orang – orang yang mencari hiburan di taman kecil ini. Entah bersama keluarga, teman ataupun kekasih. Semua masih sama. Mungkin hanya aku yang telah berubah.
            Setelah puas memandang taman ini, ku langkahkan kakiku pada air mancur yang berada tak jauh dari posisiku. Aku duduk dipinggiran air mancur itu. Kucelupkan jari – jari tanganku. Dingin itulah yang terasa pada jari – jariku. Kembali memori bersamanya di tempat ini menyeruak di kepalaku.
Ada rasa rindu, sesak, sedih, dan bahagia yang aku rasakan ketika potongan – potongan kenangan masa lalu itu memenuhi kepalaku. Kembali bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Ak merindukannya masa itu. Aku merindukan indahnya malam itu. Aku merindukan senyum bahagia kami hari itu. Aku merindukan semua. Meski telah 4 tahun terlewati. Tapi aku masih merindukan saat – saat bahagia bersamanya.
Bersama orang yang aku cintai, bersama seseorang yang akan selalu dan selamanya menjadi best man dalam hidupku, bersama seseorang yang tidak bisa kumiliki meski telah aku katakan bahwa aku sangatlah mencintainya. Bersama orang yang tidak akan pernah bisa aku lupakan untuk sisa hidupku mungkin.
“Aku pulang mas. Aku disini sekarang. Ditempat indah ini” ucapku pelan.
Ya, sudah 4 tahun aku pergi dari kota kelahiranku untuk mewujudkan cita – citaku. Meninggalkan semua tentangnya, meninggalkan cinta yang selama 6 tahun sebelumnya telah kupupuk, meninggalkan orang yang sangat aku cintai agar dia bahagia bersama perempuan lain yang dia cintai. Dan meski sudah 4 tahun, tapi entah kenapa rasaku padanya belum juga hilang. Atau mungkin tidak akan hilang.
Senyum sedih terukir diwajahku ketika ingatan ketika aku harus melepaskannya bersama orang lain menyeruak diantara kenangan – kenangan indahku bersamanya di taman ini. Rasa sesak itu semakin aku rasakan. Seolah ada yang menghimpit dadaku. Rasanya sakit. Ku remas baju bagian dadaku, seolah dengan cara itu dapat membantuku menghilangkan rasa sesak yang kurasakan.
Aku merindukannya, merindukan semua tentang dia. Dan aku sebenarnya benci mengakui ini semua. Karena harusnya aku sudah tidak boleh marasakan perasaan rindu ini. Tapi perasaan, siapa yang bisa menyalahkannya.
Ku tarik nafas dalam untuk menenangankan diriku. Perlahan aku mulai bisa mengontrol diriku lagi. Setelah aku mulai tenang, ku lanjutkan perjalananku di taman penuh kenangan ini. Ak langsung menuju tempat pembelian karcis bianglala. Tujuanku selanjutnya adalah bianglala. Aku ingin kembali mengingat saat aku naik bianglala berdua berasamanya. Aku ingin mengumpulkan sisa – sisa kebahagiaanku bersamanya. Aku ingin mengingatnya selama aku masih bisa mengingat.
Setelah membayar karcis, aku masuk dalam antrian. Aku kembali tersenyum ketika mengingat bagaimana dulu aku dan dia mengantri disini. Obrolan ringan, sedikit saling memukul adalah yang terjadi saat itu. Saling menggoda, membuat satu sama lain malu, memenuhi detik – detik kebersaam kami selama menunggu giliran menaiki bianglala.
Senyum sedih kembali menghiasi wajahku, ketika kusadari bahwa apa yang terjadi 4 tahun lalu tidak akan pernah bisa terulang lagi. Kulihat antrian di depanku. 3 baris lagi, dan aku akan menaiki bianglala. Saat itulah, seseorang menepuk bahuku. Kutolehkan wajah untuk melihatnya. Dan mataku membulat sempurna ketika aku tau siapa orang baru saja menupuk bahuku.
“Bell” serunya pelan dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Ry...Ryu..” kataku gagap. Ini tidak mungkin kan ? Bermimpikah aku ? orang yang sejak tadi berada dalam lamunanku kini ada dihadapanku. Dia, orang yang semenjak tadi kucari bayangannya ditempat ini baru saja menyapaku bahkan menepuk bahuku.
“Udah lama nggak ketemu kamu ya” katanya. Dan aku hanya bisa mengangguk. Stupid. Kenapa aku harus bersikap seperti ini. Aku benar – benar merutuki sikapku.
“Naik bareng yuk” ajaknya.
“Hah..???”
“Udah ayo naik bareng.” Dia langsung merebut karcis ditanganku dan segara menyerahkannya pada petugas yang bearda di deapan kami. Ternyata sekarang sudah giliranku. Saking shocknya aku sampai tidak menyadari bahwa sekarang adalah giliranku.
Ryu segara menarikku memasuki salah satu anting di bianglala. Dan setelah itu bianglala langsung berputar secara perlahan. Kami duduk berhadapan.
Aku berusaha mengendalikan diriku sendiri. Aku tidak boleh bersikap bodoh. Ku coba merilekskan diriku. Ku tolahkan wajahku untuk melihat pemandangan kota. “Masih tetap indah” seruku pelan.
“Ya... masih indah” sahutnya. “Kenapa kamu kemari bell ?”
“Mencari sisa – sisa kenangan indah disini” jawabku tanpa menoleh padanya. “Kamu sendiri ?” gantian aku yang bertanya.
“Aku kangen kamu. Makanya aku datang kesini” ucapnya.
Kurasakan bahwa jantungku berdetak tidak normal. Aku hanya berharap semoga Ryu tidak mendengar degub jantungku.
“Kapan kamu kembali ?” tanyanya agar suana tidak hening.
“Kemarin malam” jawabku. Kali ini kuberanikan diri untuk melihatnya. “4 tahun, apa kabar kamu ?” tanyaku
“Baik. Kamu sendiri gimana ?”
“Aku juga baik”
Keheningan mulai menguasai. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan. Tidak mungkin aku mengatakan jika aku merindukannya. Itu benar – benar tidak mungkin. Meski tadi Ryu menjawab bahwa ia rindu padaku, bukan berarti aku menjawbnya kan.
Ketika aku sibuk dengan pikiranku Ryu tiba – tiba bertanya “Apa selama ini kamu bahagia Bell ?”
“Apa ??”
“Aku nanya apa kamu bahagia ?”
“Ohh.. Iya aku bahagia” jawabku pelan tanpa melihat matanya.
“Baguslah” sahutnya
“Iya”
Kubiarkan keheningan kembali menemani kami. Tak terasa satu putaran telah terlewati. Karena tadi Ryu merebut karcisku, berarti kami akan menaiki bialanglala ini satu putaran lagi. Tuhan apa yang harus aku lakukan. Batinku merana.
“Bell..”panggilnya ketika anting yang kami naiki berada di puncak tertinggi.
“Ya..???”
“2 bulan lagi aku akan menikah. Aku harap kamu bisa datang” katanya.
Entah seperti apa wajahku ketika aku mendengar informasi ini. Yang jelas aku terkejut.
“Iya kah ? Selamat. Ok aku akan datang” jawabku setalah aku bisa kembali menemukan suaraku. Dan sekali lagi, aku menjawab tanpa melihat wajahnya.
“Makasih”. Dan aku hanya mengangguk.
Dan saat itu putaran bianglala kedua kami berakhir. Pintu anting dibuka oleh petugas, dan kami langsung keluar. Segera kami menuju pintu keluar dan menuju area taman yang lain.
Kami berjalan beriringan, tanpa kata.  Kami menuju salah satu bangku taman yang ada disalah satu sudut taman. Bangku yang menghadap bianglala.
“Semoga kalian bahagia” ucapku ketika kami sudah mendaratkan pantat kami di bangku tamn.
“Iya makasih ya.”
Aku diam.
“Bell..” dia kembali memanggilku.
“Hmmm”
“Maaf”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Aku tau, kamu pasti terluka selama ini” katanya.
Aku hanya tersenyum menaggapinya.
“Apa kamu masih mencintai aku Bell ?” tanyanya. Aku kembali terkejut. Entahlah, kenapa malam ini aku selalu terkejut. Ryu benar – benar hebat karena ia berkali- kali membuatku terkejut.
Kuhembuskan nafas pelan sebelum menjawab “Cinta itu nggak akan pernah hilang Ryu. Apapun yang terjadi. Bahkan meskipun kita akan berakhir dengan orang lain, perasaan itu nggak akan hilang. Selamanya rasa itu akan tetap tersimpan disudut hatiku yang terdalam”
“Apakah kamu bahagia dengan semua ini ?”
“Ya aku bahagia. Dan inilah caraku bahagia”
Kudengan Ryu menghembuskan nafas. Mungkin ia kesal dengan jawabanku. Mungkin dia ingin mendengar kalau aku sudah tidak mencintainya lagi. Dasar bodoh, batinku.
Hening. Sebelum akhirnya Ryu meraih tanganku yang sukses membuatku menatap wajahnya. Ryu memandang tepat di mataku. “Mungkin ini akan jadi kesmpatan terakhirku mengatakan ini Bell. Dan maaf karena aku baru mengatakn ini setelah sekian lama.” Dia kembali menarik nafas dalam. “Bell, aku cinta sama kamu” katanya perlahan. Aku hanya bisa diam, karena aku tidak tau apa yang harus aku katakan. “maaf selama ini aku nggak pernah ngungkapin tentang ini. Tapi aku cinta sama kamu Bell. Dan dengan cinta ini pula, aku lepasin kamu. Maaf kalau aku ngebuat kamu terluka lagi dengan mengatakn ini. Tapi aku nggak mau menyesal. Aku harus mengatakn ini sebelum aku menikah” jelasnya panjang lebar.
Kupejamkan mata. Ku tenangkan diriku. Beberapa detik mataku terpejam, perlahan kubuka mataku. Kutatap langsung matanya, berusaha mencari sesuatu disana. Namun yang kutemukan hanya keseriusan. Kulepaskan tanganku yang masih dalam genggamannya.
“Akhirnya...” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Kembali hening. Aku harus mengakhiri ini sekarang, sebelum aku kehilangan kontrol diri. Aku langsung berdiri, dan tanpa menoleh padanya aku berkata “Makasih, karena udah ngasih tau aku apa yang kamu rasain ke aku. Dan sekarang waktunya kita bener – bener berpisah Ryu. Semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu. Aku akan datang sebagai seorang teman yang ikut bahagia karena temannya akhirnya telah menemukan kebahagiaannya”. Tanpa menunggu tanggapannya aku pun melangkahkan kaki meninggalkan Ryu.
Namun di langkahku yang ke lima, Ryu kembali memanggilku dan aku berhenti untuk menoleh padanya. “Ku harap kamu juga segera menemukan kebahagiaan kamu. Karena kebehagiaan kamu juga adalah yang terpenting buat aku” ucapnya.
Aku hanya mengangguk. Lalu aku kembali melangkah pergi. Dan aku juga tau bahwa Ryu juga telah melangkah pergi meninggalkan semua sisa – sisa kenangan indah kami di tempat ini. Aku tau, karena itu pula yang aku lakukan. Perlahan air mata menyeruak dari kedua mataku. Kali ini aku tidak mau menahannya. Biarkan semuanya lepas, agar aku bisa merasakan lega. Meski saat ini yang kurasakan adalah hampa. Kehampaan yang sama yang kurasakan 4 tahun lalu saat aku memutuskan untuk melepaskan diri darinya, kehampaan yang sama yang kurasakan ketika aku melepaskannya malam itu.
“Bye Ryu..” bisikku.
Dan ditempatnya, Ryu pun mengucapkan hal yang sama “Selamat Tinggal Bell”.

----------End---------
 by : Shindy Ayu Nur Shaida. 

0 komentar:

Posting Komentar