Dinginnya
kota London Inggris membuat semua orang merapatkan baju hangatnya, tak
terkecuali gue, gue merapatkan baju hangat gue yang akan menjaga tubuh gue dari
dinginnya udara, gue sedang ada di London untuk bebarapa urusan. Stasiun London
penuh sesak dengan orang-orang yang berlalu lalang. sebenernya gue mau kesebuah
perusahaan terkenal di London, tapi karna gue berangkatnya kepagian jadi gue
memutuskan untuk duduk sebentar sambil menikpati kopi panas gue.
“
kalian ingat film harry potter? Peron 93/4 yang diceritakan
didalamnya, lokasi shootingnya ada di stasiun yang sangat terkenal di London.”
Dengar gue dari jauh, suara orang Indonesia batin gue dan tersenyum.
Orang-orang Indonesia itu berjalan didepan gue gue hanya melirik dan kembali
terfokus pada kopi panas gue.
“
jadi selama ini lo ada di London?” suara laki-laki itu membuyarkan konsentrasi
gue ada kopi panas yangg gue pegang. Gue menatap sepatu yang ada di hadapan gue
dan mendongak ke atas, mata gue terbelalak melihat siapa yang berbicara pada
gue. Kendra ada di hadapan gue dengan memakai baju hangat berwarna coklat kopi,
sepasang sepatu putih dan penutup kepala abu-abu yang akan menjaga telinganya
tetap hangat.
“
Ken, Kendra ...” kata gue terbatah-batah seakan tak percaya siapa orang yang
ada di hadapan gue. “ kenapa lo bisa disini.?” Tanya gue gugup.
“
jurusan gue sedang mengadakan study tour di Inggris dan tujuan rombongan gue
adalah stasiun London, salah satu tempat adegan Shooting Harry Potter. dan gak
sengaja gue ngeliat cewe yang mirip lo sedang menikmati kopi panasnya, dan
ternyata ini lo Ganessa.” Jelas Kendra.
Gue
berdiri di hadapan Kendra, parfumnya kini masuk kedalam hidupku bau yang selalu
gue rindukan pengen banget meluk dia saat ini. “ lalu lo ga takut di tinggal
sama rombongan lo?”
“
gue tadi uda izin sama dosen gue buat ke kamar mandi sebentar, Jadi ini alasan
Nathan ga ngebiarin gue tau dimana kos-kosan lo di Bandung, lo uda lama di
Inggris?”
“
Nathan? Kapan lo ketemu dia? Gue uda hampir setengah tahun disini gue anak
beasiswa di Oxford, dan gue yang nyuruh orang-orang terdekat gue buat ga bilang
sama lo atau keluarga lo kalau gue sedang ada di Inggris.” Kata gue sambil
menunduk merasa bersalah.
“Essa
dengerin gue, gue sahabat lo apa bukan?” tanya kendra dengan memegang pipi gue
yang dingin.
“
lo tetep jadi sahabat gue Ken, tapi gak tau kenapa gue hanya ga mau kalau lo
tau gue lagi di Inggris.” Gue merasa pipi gue merah sangking seneng dan malu
Kendra memegang pipi gue.
“
seharusnya lo ngabarin gue apapun itu tentang keadaan lo, gue tau gue dan lo
saling sayang lebih dari sahabat kan? Makanya lo ga mau ngasih tau gue kalau lo
ada di luar negri.” Kata-kata kendra seperti cambukan buat gue, Kendra suka
sama gue? Sama seperti gue suka sama dia?. Gue merasa otak gue sudah tak
berfungsi dengan baik, seketika gue memeluk kendra. Dan kendra membalas pelukan
gue dengan sangat hangat.
Tiba-tiba
hape kendra bunyi temannya menelponnya karna dia harus melanjutkan wisata
mereka ketempat yang lain. Gue dan kendra saling bertukar nomer hape, dan kendra
janji akan menghubungi gue kalau dia sedang free. Gue hanya bisa menatap
punggung yang nyaman untuk gue bersandar yang berlalu bergi menjauh. Guepun
segera berbalik dan segera menyelesaikan urusan gue di London.
Gue
baru nyampe apartemen sore hari gue buru-buru cerita tentang kendra ke Luara. “
dan lo tau Ra selama ini gue selalu berdo’a agar gue dipertemukan dengan Kendra
di Inggris, dan akhirnya Tuhan mendengar do’a gue Ra sumpah gue seneng banget
Ra.” Cerita gue dengan menggebu-gebu apalagi kalau ini tentang Kendra.
“
dulu lo pernah bilang sama gue kalo lo percaya sama yang namanya jodoh akan
selalu datang pada kita dimanapun kita berada jadi apa yang lo percaya sekarang
jadi kenyataan.” Kata Laura. Gue mencerna ucapan Laura yang ada benarnya gue semakin
yakin ini cara Tuhan buat mempertemukan gue dan Kendra.
Malam
harinya gue sedang duduk di balkon kamar apartemen gue, gue menunggu kendra
menghubungi gue, gue memandang langit malam Inggris yang indah, tak berapa lama
gue melamun bunyi handphone gue membuyarkan lamunan gue, gue menatap layar dan
membaca nama kendra yang muncul di handphone gue.
“
halo” sapa gue dengan lembut.
“
essa? Right?” kata suara dari sebrang
“
yes here I am. Ah tak perlu la lo pake bahasa Inggris.”
“
kan kita lagi di Inggris seharusnya kita pake bahasa Inggris dong.”
“
ahh lo aja deh, gue males kalo pake bahasa Inggris nanti gue mikir artinya
lagi.”
“
dasar anak beasiswa bisa males mikir juga, lagi apa lo?”
“
ya biarin dong, anak beasiswakan juga manusia kali. Diem aja di balkon sambil
....” belum sempat gue menyelesaikan kata-kata gue Kendra uda memotong
kata-kata gue.
“
Bintang maksud lo?” kata Kendra kemudian.
“
yah seperti yang lo tau kebiasaan gue apa.”
“
weekend ini lo sibuk ga?”
“
engga sih gue ga ada jadwal kelas atau rencana keluar, ada apa?”
“
gue mau ngajak lo jalan-jalan di London kita ketemu di Stasiun London jam 5
sore gimana lo bisa?”
“
oke be on time yah.”
“
siap, ya uda gue mau mandi dulu bye”
Setelah
hampir 15 menit gue ngobrol dengan Kendra, gue senyum sendiri dan gue sangat
menantikan hari sabtu minggu ini.
Hari-hari
yang gue lewati berjalan sangat lambat mungkin karna ada hari yang sangat gue
tunggu, ya itu hari sabtu, tentu saja gue cerita ke Nathan kalau gue ketemu
Kendra di London, kuliah gue jadi semangat saat ada Kendra yang selalu
nyemangatin gue kuliah, dia selalu menemani hari-hari gue meski by phone but no
problem, Iam happy really happy.
Dan
akhirnya hari yang gue tunggu datang gue siap-siap mulai jam 2 siang, Laura
membantu gue memilihkan baju yang cocok untuk gue. gue mencoba untuk dandan
senatural mungkin, gue mengikat kuda rambut gue.
Akhirnya
gue menjatuhkan pilihan gue pada gaun sederhana berwarna biru cerah dan diberi
hiasan sabuk kecil, Laura bilang kalau gue sangat cantik dan itu yang membuat
gue merasa malu sekaligus semakin percaya diri.
Jam
3 gue berangkat ke kota London, karna apatemen gue dengan London lumayan jauh
membutuhkan waktu hampir 90 menit lamanya. Untuk terakhir kalinya gue melihat
kaca apakah dandan ini tidak berlebihan? Gue memakai pakaian hangat abu-abu
yang menyembunyikan gaun gue. gue memakai flat shoes agar terlihat tidak
berlebihan. Gue sudah memesan taksi depan apartemen gue.
“
London Train station sir.” Kata gue dan mobilpun segera berjalan. Sepanjang
perjalanan guemerasa grogi, padahal ini bukan kali pertamanya gue pergi berdua
dengan kendra. Tapi mungkin karna sekarang Kendra bukan lagi sahabat gue tapi
dia cowok yang gue suka dan gue sayang.
Malam
minggu ini sedikit macet mungkin akan banyak orang berkencan malam ini, mungkin
aku akan telat 10-20 menit pikirku. Aku mentap layar hpku yang menunjukkan
pukul 4.50 PM. Tapi stasiun masih jauh aku hanya bisa pasrah.
Dugaanku
benar aku terlambat hampir 10 menit Kendra sedang duduk dan memegang kopi yang
kelihatannya sudah dingin.
“
Maaf ken, gue telat macet banget.” Kata gue dengan tersenyum.
Kendra
hanya melihat kearah gue tanpa sepatah katapun, gue sedikit heran apa ada yang
salah dengan penampilan gue. mata Kendra melihat ujung kaki sampai ujung kepala
gue, gue sedikit risih dengan pandangan Kendra mencoba segera membangunkan
lamunan Kendra. “ Hellow Ken, are you right?” kata gue dengan mengayunkan
tangan gue ke depan mukanya.
“
kamu cantik banget Ganessa.” Hanya kata itu yang terlontar dari mulut kendra
dan membuat gue sedikit malu mungkin muka gue sekarang sedang merah semerah
lobster.
Gue
dan Kendra jalan-jalan di sekitar setasiun kami banyak bercerita tentang kuliah
kami, dan saat matahari kembali keperaduannya Kendra mengajak gue ke London
Eye, kincir angin terbesar kedua. Ternyata antriannya sedikit panjang namun ini
tidak menyurutkan semangat kami untuk menaiki London Eye yang bersebelahan
dengan sungai Thames.
Giliran
kami naik Kincir yang berkapasitas 4 orang tapi karna Kendra memohon pada
petugas untuk menaikinya hanya berdua saja. Gue duduk berhadapan dengan Kendra
yang selalu mengembangkan senyum manisnya saat gue menatapnya.
“
dari sini kita bisa melihat London dengan jelas apalagi kalau malem gini bangus
banget ya Ken.” Kata gue dengan tersenyum yang tak bisa pergi dari wajah gue
malam ini.
“
iya Sa, apalagi aku ngeliatnya pemandangan indah ini sama kamu.” Gue sedikit
heran kenapa Kendra ngomong seperti itu.
Kendra
bersimpuh di hadapan gue yang membuat gue otomatis terkejut, gue terheran
kenapa kendra berbuat seperti ini.
“
Seharusnya aku ngomong ini dari awal Sa, maaf telah menunda ini. Aku sayang
kamu Sa, lebih dari seorang sahabat. Aku mencintaimu Sa, dari awal kita bertemu
aku sudah menaruh rasa padamu namun aku tak berani mengungkapan karna kita
sudah terlalu dekat menjadi seorang
sahabat karna aku tak mau persahabatanku hancur dengan kata cinta. Tapi
saat kita jauh aku selalu memikirkanmu, aku kehilangan sosokmu yang selalu ada
buat aku. Tapi sekarang aku percaya bahwa kamu adalah wanita yang tepat untukku
aku berhenti mencari cinta Ganessa Nasution.” Kendra mengeluarkan sesuatu dari
kantung jaketnya. Yang ternyata sebuah kalung perak berliontin Bintang yang di
tengah ada permatanya. “ kau mau menjadi kekasihku?” tanya kendra.
Gue
tentu saja ingin menangis akhirnya gue tau apa yang Kendra rasa sama seperti
yang gue rasa gue mencintai Kendra dan Kendrapun sebaliknya dia mencintai gue.
tanpa gue sadari air mata meluncur dari kelopak mataku. Gue tersenyum dan
mengangguk. Kendra memasangkan kalung itu dileher gue dan mencium kening gue
dengan hangat. Sedetik kemudian Salju pertama di Bulan Desember turun. Musim
Salju di Inggris tiba dengan salju turun dengan mengesenkan.
Kini
gue dan Kendra menjadi sepasang kekasih di awal musim salju di Negara Inggris.
Kami makan malam di sebuah cafe yang romantis sekali Kendra tidak melepaskan
tangan gue sama sekali. Namun gue suka tangan Kendra yang hangat.
“
jadi kapan kamu balik Indonesia?.” Tanya gue setelah menelan habis steak yang
ada di mulutku.
“
Senin aku pulang ke Indo, jadi kamu jangan nakal y akalau aku sedang jauh
denganmu.” Kata Kendra bercanda.
“
siap komandan.” Kata gue lalu tersenyum.
“
tunggu aku ya 2 tahun lagi aku balik ke Indonesia dengan gelar sarjana, do’ain
ya.”
“
pasti sayang, aku selalu mendo’akanmu tanpa kau minta sekalipun.” Gue hanya
bisa tersenyum lagi.
Akhirnya
setelah bertahun-tahun aku memendam, menyembunyikan semua ini rapi sekarang berakhir
bahagia. Apa yang gue bilang dengan takdir bahwa jodoh tak akan kemana menjadi
kenyataan, Kendra datang ke Inggris dan menemukan gue. kemudian kita menjadi
sepasang kekasih thank for all God everything is awesome.
Waktu
menunjukan pukul 10.00 PM kami masih sempat ke pusat penentuan waktu dunia jam
terbesar di London, dingin menyergap membuat gue merapatkan baju hangat gue.
Kendra berdiri dihadapan gue, ia mendekatkan wajahnya ke wajah gue dan yang
kira gue akan mencium bibir gue ternyata dia mencium kening gue lagi dengan
hangat. Dan ia memeluk gue rapat sekali yang membuat gue merasa hangat.
Tunggu
gue Ken, 2 tahun aja tunggu gue, gue akan kembali, kembali kepelukan lo kembali
menjadi kekasih yang baik buat lo, menjadi pendamping buat lo, Tunggu gue Ken.
TAMAT
Sebelumnya terima kasih Pada Tuhan yang Maha Esa, tanpa karuniaNya mungkin aku ga bakalan bisa menyelesaikan novel keduaku, ini di tulis hampir 2 tahun lalu, tepatnya tanggal 3 april 2013 - 9 februari 2015 cukup lama ya? semoga kalian menikmati karya terbaru saya. bisa di komen juga maklum masih baru jadi penulis huehehe ^_^ enjoy with my story ... Next Novel masih dalam pembuatan dan belum menemukan judul yang pas. :)








0 komentar:
Posting Komentar