Minggu, 04 Juni 2017

Sikap Toleransi Bangsa Indonesia Terhadap Keberagaman Agama dan Suku

Inter-Relasi :
      1.    Toleransi
      2.    Agama
      3.    Suku
      4.    Bhineka Tunggal Ika

Pokok Pikiran :
     1.    Kampanye Toleransi
     2.    Toleransi Dalam Islam
     3.    Toleransi dalam lingkup SMP
     4.    Toleransi dalam lingkup SMA – Perguruan Tinggi
     5.    Semboyan Bhineka Tunggal Ika
     6.    Jiwa Bhineka Tunggal Ika
     7.    Kesimpulan

Sikap Toleransi Bangsa Indonesia Terhadap Keberagaman Agama dan Suku
Indonesia sedang gencar memkampanyekan tentang toleransi akhir-akhir ini, bukan hanya toleransi antar umat beragama namun juga antar suku. Dikarenakan kasus Ahok tentang penistaan agama Islam, dan membuat seluruh umat Islam geram dan membuat aksi damai dengan tanggal-tanggal cantiknya. Dan sebagian masyarakat menjadi pihak netral dan mulai mengkampanyekan tentang adanya toleransi. Toleransi sendiri adalah sikap saling menghargai, menghargai perbedaan warna kulit, agama, suku, dan bahasa daerah masing-masing. Indonesia memiliki hampir 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Bisa dipastikan bahwa seribu suku ini mempunyai adat dan kebudayaan masing-masing. Beberapa suku di Indonesia : Suku Jawa, Suku Banjar, Suku Sunda, Suku Dayak, Suku Batak dll. Dan Indonesia sendiri mempunyai 5 agama yang berbeda yaitu : Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Hindu. Di Indonesia mayoritas adalah agama Islam.
Karena moyoritas agama adalah Islam, dan Islam sendiri juga mengajarkan tentang toleransi. Saling mengahargai sesama dan tidak membeda-bedakan adalah hal yang diajarkan kepada kita sejak kecil. Tolerasi beragama juga diajarkan pada kita sejak dini. “Agamamu Agamamu dan Agamaku Agamaku” penggalan arti dari salah satu surah yang ada di Al-Qur’an ini sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk menghargai. Jika pihak A melarang umat islam untuk mengucapkan selamat natal, atau pihak B mengizinkan umat islam untuk mengucap selamat natal pada umat kristiani, kita juga harus menghargai keputusan mereka. Karena disetiap keputusan selalu ada alasan dibaliknya.
Sebagai bangsa Indonesia yang menjujung tinggi toleransi terhadap perbedaan agama maupun suku kita harus bisa hidup rukun dengan sesama umat beragama. Tingkat toleransi terhadap sesama di Indonesia dirasa masih kurang. Contohnya saja saat kita masih SMP masih anak usia dibawah 17 tahun, saat kita memilih teman kita akan melihat mana teman yang paling rupawan, teman yang pintar, teman yang kaya, teman yang asyik. Lalu apa kabar dengan teman yang miskin? Teman yang tidak terlalu pintar? Teman yang mempunyai wajah pas-pasan bahkan kurang dari itu?. Ini bisa disimpulkan bahwa kurangnya penerapan dan pemahaman dari toleransi.
Namun hal ini berbeda dengan mahasiswa atau siswa tingkat SMA. Mereka mulai merangkul seluruh golongan. Satu Universitas bukan hanya berisi satu suku saja namun ratusan suku dapat kita temui di kampus-kampus Indonesia negeri maupun swasta. Salah satunya di Unversitas Muhammadiyah Malang, jika kita mencari mahasiswa dari Sabang sampai Merauke kita akan menemukannya meski bukan mayoritas. Disini adalah wadah kita untuk saling belajar tentang tradisi dan adat istiadat suatu suku tertentu. Kita juga akan belajar bahasa dari daerah masing-masing mahasiswa, meskipun tidak semuanya yang kita akan pelajari.
Bhineka Tunggal Ika semboyan ini adalah pemersatu bangsa Indonesia semboyan yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan yang ditulis oleh Mpu Tantularan pada tujuh abad silam ini sangat melekat untuk Bangsa Indonesia. Semboyan ini juga sangat cocok untuk image Indonesia sendiri. Indonesia yang terdiri dari 5 agama besar di Dunia, 1.340 suku, 17.504 buah pulau, 4 warna kulit utama orang Indonesia, dan berbagai macam perbedaan yang ada sudah seharusnya menanamkan sikap toleransi terhadap keberagaman yang dianugerahkan Tuhan terhadap Indonesia ini. Meskipun perbedaan selalu ada diantara bangsa Indonesia namun perbedaan tidak boleh mempecah belahkan kedaulatan Negara Republik Indonesia.
Seluruh Masyarakat Indonesia wajib memiliki jiwa Bhineka Tunggal Ika di dalam dirinya. Karena tanpa adanya jiwa ini kita akan menjadi manusia yang egois tanpa adanya toleransi. Jiwa Bhineka Tunggal Ika haris dimiliki sejak dini agar saat dewasa kita akan bisa menghargai adanya perbedaan. Tanpa adanya perbedaan hidup juga kurang menarik bukan? Perbedaan Agama dan Suku membuat Indonesia kaya akan Tradisi dan kebudayaan. Dan bukan hanya Indonesia saja yang menerapkan jiwa Bhineka Tunggal Ika namun juga seluruh dunia harusnya menerapkan semboyan leluhur ini agar bisa bermasyarakat dengan damai.

Toleransi adalah sikap yang harus dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Jangan karena sedikit perbedaan Indonesia pecah dan menjadi negara yang bobrok dan miskin adanya toleransi. Perbedaan agama, suku, bahasa dan warna kulit seharusnya sudah menjadi hal yang kita harus junjung tinggi. Karena tanpa perbedaan Indonesia akan menjadi negara yang biasa saja namun dengan perbedaan Indonesia harusnya menjadi negara yang luar biasa. 

Kamis, 25 Mei 2017

Konsumsi Remaja Usia 17-22 Tahun Terhadap Tayangan Televisi Masa Kini


Dewasa kini semua rumah di Indonesia mempunyai televisi, televisi merupakan hal yang sangat lazim untuk warga Indonesia sendiri. Bisa dibilang televisi adalah faktor penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, banyak disayangkan karena tayangan televisi sekarang sudah banyak yang berubah. Dapat dilihat sekarang stasiun televisi ANTV mulai pagi sampai malam hanya menayangkan sinetron-sinetron India dan kartun-kartun India. Sebagai anak muda usia 17-22 tahun akan jarang sekali menonton tayangan seperti itu. Karena yang disukai remaja adalah FTV dengan cerita yang ringan, atau acara-acara televisi yang anak muda banget. Sangat disayangkan dengan anak usia dia 17 tahun mereka malah suka dengan sinetron-sinetron Indonesia dengan bobot cerita yang berat dan kadang tidak mendidik.
Televisi sendiri sudah dirajai oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), terkadang yang membuat saya bingung KPI melarang tayangan kartun dengan muatan bela diri atau pertarungan seperti Naruto namun menayangkan sinetron Anak Jalanan yang masih SMA sudah cinta-cintaan dan kebut-kebutan di jalanan dan terkadang ada pertarungan antar genk. Dua tayangan ini sama-sama menampilkan pertarungan namun ada bedanya, jika di Naruto mereka melawan kejahatan namun di Anak Jalanan bertarung untuk memperebutkan kekuasaan atau untuk mendapatkan kekaguman dari orang lain. Sebagai insan muda yang berpendidikan kita harus cerdas memilih dan memilah tontonan yang memiliki mutu dan kualitas yang bagus agar televisi yang kita tonton dapat memberikan manfaat kepada kita. Tontonan yang layak adalah tontonan yang memberikan manfaat tanpa mengurangi fungsi tontonan tersebut untuk menghibur dikala penat melanda.
Berbicara tentang televisi juga tak bisa jauh yang namanya konsumerisme, kita sebagai public penikmat televisi akan selalu dihindangkan dengan produk-produk berbagai macam jenisnya. Mulai dari yang murah samapai yang mahal, mulai yang penting bagi kita sampai yang kurang penting ataupun yang tidak berguna untuk kita. Dan sebagian masyarakat dapat dikatakan ‘kemakan iklan’ sebutan ini cukup cocok untuk masyarakat yang tingkat konsumtifnya tinggi. Dengan tayangan yang menarik dan dijual bebas secara online ataupun dijual di toko dengan kemudahan itu masyarakat sudah bisa menjadi konsumtif. Contohnya saat ada iklan handphone terbaru, masyarakat akan berbondong-bondong untuk segera membeli handphone yang baru  yang kadang mereka tidak butuh namun hanya untuk gengsi. Iklan juga sering masuk kedalam sinetron, talkshow, reality show, dan lain-lain. Namun masuknya iklan juga sangat penting untuk produksi sebuah tayangan karena dengan adanya iklan sinetron itu juga terbantu difinansialnya.

Pada intinya sebagai masyarakat yang diuntungkan dengan adanya telivisi kita harus bijak dalam memilih tayang yang akan kita tonton apalagi jika kita menonton dengan anak yang usianya dibawah 10 tahun, yang gampang terkontaminasi dengan adegan-adengan yang kadang kurang pantas untuk anak kecil lakukan. Dan sebagai penikmat teknologi kita juga harus berhat-hati dalam mengkonsumsi apapun itu, kita harus menimbang apakah barang yang kita inginkan penting atau tidak, perlu atau tidak untuk kita. Konsumen yang baik adalah konsumen yang dengan bijak membelanjakan uangnya. Penonton yang baik adalah penonton yang bisa mengambil manfaat dari tayangan yang ditontonnya.

Selasa, 23 Mei 2017

My Unforgettable Moment

           Moments that I can not forget is when I lost the opportunity to study at 2015, When I was still in vocational high schools I've been dreaming to get into college, whether it be public or private university. But beginning in my meeting with a man named Yayan and he enrolled at the University of Udayana Denpasar - Bali and he majored in D4 - Tourism Destinations. I had the purpose to study in the same place, but my parents banned because the cost of living in Bali is not cheap. But the dream to become a student of tourism has not stopped there I would try the tourism school in Malang.
I tried some tests at several universities, including the first wave in the University of Muhammadiyah Malang, and I entered as one of the students of the thousands of students who graduated, I was accepted in the department of Technical Information, but I have no interest in the majors. I take a test track SBMPTN and select S-1 Tourism at Brawijaya University but I failed. then I go back to UMM to test a second wave majored in communication science I graduated but I include students up and have to pay extra money education worth seven million. my parents do not agree to spend that much money because my sister will soon graduate from the same university. Finally I decided to postpone my studies.
And to wait for college in 2016, I asked for permission to my parents to look for work experience. and I work at batik clothing store in my area. I only lasted five months because they there is a problem with the other employees. Around February I saw the announcement has been the opening of new admissions in the invitation, but when I tried to register my announcement failed again. But I did not stop there I followed the first wave in 2016, and I studied very hard in order to save a seat at the University of Muhammadiyah Malang. finally I get my dream, I became a student of Muhammadiyah Malang University majoring in Communication Science.

A lesson that I can take from my life experience is to never refuse the chance that came in sight, grab any chance that know you will regret later on. And the results will never betray the business, continue to try whatever you can, and always pray to God, always dreaming whatever you want and try to make it happen. Because the opportunity sought not come without effort.

Rabu, 03 Mei 2017

PENTINGNYA UNSUR MUSIK DALAM SEBUAH FILM

Inter-Relasi :
    A.   MUSIK
    B.   SOUNDTRACK
    C.   FILM
    D.   MUSIK dan FILM
Pokok Pikiran di Paragraf :
    1.    Musik sebagai pemanis dalam sebuah film
    2.    Pengertian sountrack
    3.    Soundtrack untuk memperkuat suasana
    4.    Ilustrasi musik dan theme song
    5.    Musik terintegrasi dan on backstage
    6.    Pembuatan sebuah theme song
    7.    Theme song juga bisa berupa musik orkestra
    8.    Musik unsur penting dalam sebuah film

PENTINGNYA UNSUR MUSIK DALAM SEBUAH FILM

Pernahkah sebelumnya anda menonton sebuah tayangan tanpa musik? Bisakah anda bayangkan jika anda menonton film tanda adanya musik, hambar bukan?. Bisa dipastikan bahwa musik adalah salah satu unsur penting dalam sebuah film. Musik bisa menjadi pembangun emosi untuk para penonton. Musik juga bisa diibaratkan pemanis bagi sebuah film. Tak jarang juga sebuah musik bisa terkenal karena menjadi sountrack dalam sebuah film.
            Soundtrack adalah musik yang di putar dalam sebuah film, sinetron, drama korea ataupun kartun. Masih ingatkah anda judul lagu “My Heart Will Go On” lagu yang di populerkan oleh Celine Dion ini menjadi original soundtrack dari film “Titanic”. Saat kita mendengarkan musik itu kita akan membayangkan adegan dimana Jack dan Rose sedang berdiri di ujung kapal dengan membentangkan kedua tangan mereka. Bisa disimpulkan bahwa musik adalah unsur penting dari sebuah film.
Tanpa adanya sountrack, ataupun backsound pada sebuah film para penonton kurang dapat menjiwai sebuah film. Dalam arti lain adanya audio, apakah itu dialog, musik atau efek suara membantu memperkuat susana atau mood yang ingin dicapai oleh sebuah film. Heru Effendy 2002 Mari Membuat Film panduan untuk menjadi produser: Elemen musik dimaksudkan untuk mempertegas sebuah adegan agar lebih kuat maknanya. Apabila musik dimaksudkan sekedar sebagai latar belakang, maka musik masuk dalam kategori elemen efek suara.(p.95)
Musik sendiri dibagi menjadi dua, ilustrasi musik dan theme song. Ilustrasi musik adalah suara, baik dihasilkan melalui instrumen musik atau bukan, guna memperkuat suasana. Contoh : gesekan biola pada film-film hantu untuk membuat penonton merasa merinding seakan hantu akan datang. Theme song adalah lagu yang dimaksudkan untuk memberikan identitas pada sebuah film. Biasanya lagu ini di tuliskan secara khusus untuk film tersebut atau menggunakan lagu-lagu yang sudah populer. Contoh : theme song film “The Guys” dengan Judul “Bila Bersamamu” lagu ini khusus di buat dan di nyanyikan oleh Band Nidji, ataupun theme song sinetron “Kesempurnaan Cinta” dengan judul yang sama yang dinyanyikan oleh Rizky Febrian yang sudah populer sebelumnya.
Menurut K.J Donnelly (2007:10) , musik dibagi menjadi dua jenis berdasarkan bagaimana mereka berurusan dengan membagi antara lagu dan dramatis, narasi bagian dari film. Mereka “terintegrasi” jika lagu-lagu dan menari memiliki karakter yang terkenal fungsi atau membantu mengembangkan narasi dalam beberapa cara. Dalam banyak kasus, terutama sebelum 1930-an, “On backstage” musik dalam kekuasaan, dimana lagu yang dilakukan sebagai bagian dari panggung menunjukkan dalam cerita. Sementara di belakang panggung musik juga bisa menjadi terintegrasi, dua bentuk yang memiliki sering terbukti berbeda.
Theme song untuk sebuah film proses pembuatannya juga tidak mudah, produser harus membuat lagu yang sesuai dengan konsep dari film tersebut. Karena theme song juga harus menggambarkan film tersebut. Contohnya lagu Marmut Merah Jambu yang dibawakan oleh The Nelwans di awal Mei tahun 2014, lagu ini sangat menggambarkan filmnya dengan judul yang sama yang ditulis, disutradarai dan dimainkan oleh Raditya Dika. Theme song untuk drama-drama korea juga begitu, mereka dibuat khusus untuk drama korea tersebut. Misalnya drama korea School 2015 : Who Are You , salah satu theme songnya berjudul Reset yang dibawakan oleh penyanyi asal Korea Selatan Tiger JK (feat. Jinsil). Lagu ini sangat melekat untuk orang-orang penikmat drama korea.
Namun tidak semua theme song adalah musik dengan lirik, ada juga theme song yang hanya menggunakan musik orkestra seperti film Harry Potter. Kita tidak akan mendengarkan suara orang bernyanyi pada theme song Harry Potter. Namun hanya mendengar musik orkestra. John Williams adalah salah satu composer dan conductor dalam pembuatan theme song Harry Potter. Orkestra yang dibwakan oleh London Symphony Orchestra sangat mendukung mood penontong saat menyaksikan film yang sangat legendaris ini.
Dapat disimpulkan bahwa film tidak bisa lepas dari unsur musik. Selain menajdi pemanis musik juga sebagai unsur pembangun mood dalam sebuah film. Musik juga sebagai media menguatan adegan dalam sebuah film. Dengan kata lain musik adalah unsur penting dalam sebuah film.


Daftar Pustaka :
    1.    Effendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film (Panduan untuk menjadi produser). Panduan dan Yayasan Konfiden, Yogyakarta
    2.    Donnelly, K.J. 2007. British Film Music and Film Musicals. Palgrave Macmillan, New York. (Bookzz.org)


Rabu, 26 April 2017

MUSIK SEBAGAI MEDIA PENENANG UNTUK ATLET



Saat saya menonton Drama Korea yang berjudul “School 2015 : Who are you” saya sempat heran karena salah satu tokoh utamanya yang bernama Han Yi An selalu memakai headphone di telinganya sebelum melakukan lomba renang. Saya berfikir bahwa itu hanya serpihan dalam adegan dan saya hanya memaknai bahwa mendengarkan musik hanya untuk sekedar penenang. Dan setelah saya membaca beberapa refrensi saya baru mengerti bahwa musik dapat mempengaruhi kerja otak dan kerja jantung kita. Saya ingat dosen saya Pak Radit, beliau pernah mengatakan bahwa saat mendengarkan musik Flight of the Bumble Bee itu akan mempercepat kerja otak kita.
Dalam buku Simfoni otak yang ditulis oleh Stephanie Merritt, ia mengakatakan bahwa, “ Fenomena keselarasan berlaku juga untuk musik yang kita dengar kalau kita mendengarkan musik yang temponya lebih cepat daripada detak jantung kita, jantung kita akan berdetak lebih cepat. Detak jantung manusia normal berkisar antara 70-80 ketukan per menit. Detak jantung lebih cepat dari angka ini akan memicu dan meningkatkan ketegangan.” Jadi saat kita ingin merasa tenang maka dengarkanlah musik yang bertempo lambat atau lagu-lagu slow.
Sama halnya dengan tokoh Han Yi An ini, sebelum ia melakukan olahraga renang ia akan mendengarkan musik sejenak. Karena musik bisa membantu para atlet dan orang-orang yang suka berolahraga melakukan latihan keras tanpa merasa tertekan. Selain membuat olahraga menjadi lebih menyenangkan sehingga kita dapat menekuni jadwal latihan, musik juga menjauhkan kita dari rasa lelah dan mendorong untuk lebih giat berolahraga dan tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit.

Bagaimana bisa musik yang kita dengarkan bisa memberikan dampak yang sangat luar biasa pada tubuh kita?, bahkan terkadang kita hanya menganggap remeh musik yang kita dengar. Karena hanya memiliki fungsi untuk sekedar mengisi waktu luang dan agar tidak bosan. Namun alangkah lebih bijaknya kalau kita mendengarkan musik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita agar dapat memberikan manfaat. Seperti yang dilakukan tokoh Han Yi An ini ia mendengarkan musik untuk mengatur pernapasan dan meningkatkan koordinasi otot-otot pada tubuh atlet tersebut.
Daftar Pustaka :
Merritt, Stephanie. 2003. Simfoni Otak. Bandung:Penerbit Kaifa.

Selasa, 04 April 2017

UTS Bahasa Indonesia Profesi

Kurangnya Fasilitas Sekolah Dapat Mempengaruhi Mutu Pendidikan

Sekolah adalah tempat dimana para orang tua menitipkan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik setelah pendidikan moral yang dilakukan orang tua di rumah. Orang tua akan memilihkan sekolah yang bagus, memiliki fasilitas lengkap dan mempunyai standart yang tinggi. Bahkan orang tua tidak segan-segan untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang bertaraf internasional. Di tahun 2017 seharusnya sudah banyak sekolah dengan fasilitas yang lengkap, tapi nyatanya di Indonesia bahkan di China masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas lengkap. Jangankan ada perpustakaan dengan buku yang banyak atau laboraturium komputer bahkan ada sekolah yang terpaksa menyuruh siswanya berdiri di belakang meja karena tidak adanya kursi di ruang kelas atau sudah rusak dan tidak layak pakai.

Mirisnya, masih banyak sekolah yang tidak sesuai dengan harapan semua orang tua. Sekolah-sekolah terpelosok misalnya, tidak harus ada ruangan ber AC ataupun LCD proyektor untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, dengan adanya guru yang mau mengajar mereka sudah senang. Orang tua selalu ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, namun jika tak mampu apa daya. Penelitian yang dilakukan telah banyak menunjukkan bahwa masih kurangnya fasilitas di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Pemerintah harus berperan aktif untuk memajukan sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun bukan hanya pemerintah yang berperan aktif namun juga sekolah itu sendiri harus merencanakan visi dan misi sekolah tersebut dengan kokoh agar sekolah tersebut dapat menjadi sekolah yang maju.

Menurut hasil wawancara kepada beberapa orang dari kalangan mahasiswa dan siswa SMA mereka sepakat bahwa di Indonesia banyak sekolah yang kurang layak. Sekolah yang layak hanya berada di kota-kota besar yang susah dijangkau oleh kalangan menengah kebawah karena sekolah “bertarif” Internasional. Dan Bagaimana jika fasilitas tidak terpenuhi? Maka jawaban mereka berfariatif, sebagian besar menjawab bahwa kurangnya fasilitas dapat mempengaruhi mutu pendidikan di Indonesia, tapi ada juga yang menjawab kurangnya fasilitas tidak akan mempengaruhi apapun dan yang terpenting adalah kualitas pembelajaran. Dan perubahan yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki kualitas sekolah adalah memeratakan pembangunan dan memperlengkap sekolah dengan fasilitas yang menunjang, membuat siswa betah berada di sekolah dan memperbaiki minat baca yang sudah sangat menurun di kalangan siswa maupun mahasiswa, dan memperbaiki kurikulum agar selalu menunjang mutu pendidikan khususnya di Indonesia.

“Satu permasalahan pokok pendidikan negeri ini adalah mengenai pemerataan akses pendidikan. Banyaknya berbagai jenjang pendidikan formal belum disentuh utuh oleh semua golongan masyarakat. Pendidikan formal seakan semakin menjauh dari masyarakat kecil. Tarif bea masuk sekolah yang tinggi menjadi pemicu jauhnya jarak masyarakat kecil dengan lembaga pendidikan formal. Tidak adanya perbedaan antara sekolah negeri maupun sekolah swasta saat ini, perbedaan yang ada adalah sekolah untuk orang kaya, sekolah untuk orang menegah dan sekolah untuk orang miskin. Gejala segregasi sosial dalam lingkup pendidikan ini bisa terlihat dari munculnya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Satu dari produk kebijakan pendidikan kita yang merupakan efek dari paham kapitalisme.” Sudah dapat dilihat dari kutipan sebelumnya bahwa sekolah untuk orang miskin adalah sekolah yang sangat jauh dari kata layak dan fasilitas yang kurang lengkap akan mempengaruhi mutu pendidikan sekolah tersebut.


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah dengan taraf International akan mencetak generasi muda yang lebih baik dengan kemampuan yang telah diberikan oleh pihak sekolah. Namun mirisnya bahwa sekolah yang ada dipedesaan siswanya akan kalah dengan siswa yang ada di kota yang sudah mempunyai skill yang bak. Disinilah kita sebagai generasi muda Indonesia harus berperan aktif untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan melengkapi fasilitas sekolah-sekolah pelosok.

Daftar Pustaka :
Tim Kreatif LKM UNJ.2011.Restorasi Pendidikan Indonesia.Jogjakarta:AR-RUZZ MEDIA.

Rabu, 29 Maret 2017

Kalimat Majemuk Setara dan Bertingkat

Kalimat Majemuk Dengan Kata “Sekolah”
1.    Penggabungan
Sekolah formal berfungsi untuk mendidik anak di lembaga pendidikan milik pemerintah dan sekolah non formal untuk mendidik anak di luar lembaga pendidikan milik pemerintah.
2.    Pertentangan
Sekolah formal di Indonesia lebih murah sedangkan sekolah non formal tidak.
3.    Pemilihan
Masyarakat sekarang sudah dapat memilih sekolah yang jauh lebih murah atau yang jauh lebih mahal.
4.    Penguatan
Sekolah negeri di Indonesia sudah menerapkan berbahasa inggris setiap hari bahkan banyak sekolah yang telah menerapkan wajib berbicara dalam 3 bahasa.
5.    Waktu
Ibu saya mengantar sekolah pertama kali saat saya masuk TK pada umur 5 tahun.
6.    Sebab
Bagi saya sekolah formal lebih baik sebab saya punya lebih banya teman.
7.    Akibat
Sekolah formal sangat diminati sehingga banyak pendaftar ke sekolah tersebut.
8.    Syarat
Kepala sekolah akan memberikan hadiah jika ada muridnya yang berprestasi.
9.    Perlawanan
Sekolah di Jakarta tidak akan diliburkan walaupun banjir melanda.
10. Pengandaian
Anak-anak bisa berangkat sekolah tepat waktu andaikan hujan tidak lebat.
11. Tujuan
Sekolah diberi akreditasi agar masyarakat tau kualitas yang lebih baik.
12. Perbandingan
Bagi saya, menuntut ilmu di sekolah ibarat berjihad di jalan Allah
13. Pembatasan
Tidak ada sekolah dasar terbaik di Malang selain Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang.


Rabu, 15 Maret 2017

Merespon Fenomena

FORMULA MERESPON FENOMENA


Kata                : Sekolah
Frasa              : Fasilitas Sekolah Kurang Lengkap
Hipotesa     : Di tahun 2017 seharusnya sudah banyak sekolah dengan fasilitas yang lengkap, tapi nyatanya di Indonesia bahkan di China masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas lengkap. Jangankan ada perpustakaan dengan buku yang banyak atau laboraturium komputer bahkan ada sekolah yang terpaksa menyuruh siswanya berdiri di belakang meja karena tidak adanya kursi di ruang kelas atau sudah rusak dan tidak layak pakai.

Data : 
   1. Fasilitas sekolah kurang lengkap
2       2. Kurang aktifnya peran pemerintah

Senin, 27 Februari 2017

Pelajaran Mengarang Sudah Dimulai

Pelajaran mengarang sudah dimulai
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.  Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***
    
Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia  juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah. Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah. Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…
Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992.  Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.

KOMENTAR untuk cerpen Pelajaran Mengarang Sudah Dimulai Karya Seno Gumira Ajidarma

“Cerpen yang dibuat oleh Seno Gumira adalah cerpen yang sangat bagus dari tata bahasa dan cara penulisannya. Cerpen ini sangat menyayat hati siapapun yang membacanya. Disini tokoh Sandra yang usianya 10 tahun bingung untuk menulis apa untuk mengarang. Tokoh wanita tua atau yang biasa di panggil Mami ini tidak pantas berkata kasar pada anak yang usianya baru 10 tahun yang kadang tak mengerti apa maksud dari kata-kata kasar yang dilontarkan kepadanya. Sandra juga sangat menyayangi mamanya meski dia tak pernah tau siapa papanya. Ibu guru Tati adalah orang yang mudah menyimpulkan padahal belum semua cerita yang ia baca, dan Sandra adalah anak-anak yang tak pernah merasakan indahnya masa kecilnya.”

Sabtu, 18 Februari 2017

Deskripsi Diri ( Tugas Bahasa Indonesia Profesi)

Halooo !!!
Apa Kabar semua? apa kabar semester 2 semoga bisa menjalani dengan baik dan dapat hasil yang maksimal ya...
Disini Aku mau memperkenalkan diriku (lagi) karena tugas hehehe :D
Perkenalkan Namaku Julian Dwi Masyithoh, aku lahir tanggal 12 Juli 1997 dan sekarang sudah mau umur 20 tahun huhu sedih karena kita semakin tua :". Di umur yang sudah mau menginjak 20 tahun aku baru saja menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan masih semester 2.
Oh iya aku mau cerita tentang hobbyku yang mungkin banyak orang yang kurang tau, aku suka sekali dengan menulis Novel, asik aja saat kita tenggelam dengan tulisan yang sedang kita buat, sampai larut kedalam emosi novel yang sedang kita tulis. Selain menulis aku juga suka membaca Novel sudah banyak novel yang sengaja aku beli untuk tambahan koleksi bacaan novel di rumah penulis favoritku adalah kak Luna Torashyngu beberapa bukunya adalah novel action yang di kemas dengan baik, ada buku yang menceritakan tentang pembunuh bayaran, ada juga yang tentang hacker muda internasional sampai tentang pasukan pengaman presiden dan pengaman anak presiden, she is best writer pokoknya.^_^
Selain baca dan menulis novel aku juga suka nonton Drama Korea banyak oppa oppa ganteng kalau lagi suntuk yah itu adalah pelarian paling bagus.
Wah uda banyak ya yang aku tulis, and the last I say happy writing dan Jadilah sejarah!!!



jangan takut menjadi dirimu sendiri jangan pernah berubah menjadi orang lain agar kamu disukai orang lain