September
berangin, yah itulah kata yang tepat untuk bulan september di Inggris. Angin
berhembus kencang menerbangkan daun-daun sekitar kampus gue.
“hey
Ganessa, Can you help me?” tanya temen gue bernama Genny.
“yes,
what can I do for you?” jawab gue sibuk dengan rambut-rambut gue yang berkibar.
“I
will absen for this class, because do you know? I want to party with my boy
friend. Please collect this work.” Genny menyerahkan beberapa paper ke gue. “
Thanks Ganessa, sometime you can join party with us.” Katanya lagi dan berlalu.
Kadang
gue heran dengan temen-temen yang kuliah di sini, mereka menghabiskan uang
orang tua mereka untuk bermain-main. Yah contohnya Genny temen sekelas gue, gue
tau kalau dia terlahir di keluarga yang menengah ke atas sama kaya gue, tapi
setidaknya gue berbeda dalam hal otak, kemampuan gue masih di atas Genny.
Setelah
hampir 4 bulan gue di Inggris gue sudah mengenal seluk-beluk Oxford, Gue tinggal
di Apartemen deket Oxford dan satu kamar dengan Laura, manusia blasteran
Inggris Indonesia, jadi kalau lagi di apartemen gue terbebas dari bahasa
Inggris, Laura orangnya asik buat di ajak cerita, kami selalu berbagi cerita,
dia seperti saudara perempuan yang tak pernah gue miliki.
Nathan
dan Kirana sering banget nanyain kabar gue lewat sosial media, kalau Nathan
kadang-kadang pake vidio call, orang tua gue 2 bulan sekali melakukan
perjalanan bisnis ke Inggris sekalian nengokin gue, Kendra? Kendra gak tau
kalau gue sekarang di Inggris. Dan gue sengaja gak ngebolehin orang-orang rumah
atau sahabat-sahabat gue di Bandung untuk ngasik tau Kendra kalau gue ada di
Inggris. Karna gue tau kalau Kendra jodoh gue dia bakalan nemuin gue di
Inggris, dan gue percaya sama takdir.
“
Good morning everybody? How are you to day?” sapa dosen gue. “ now lesson, I’ll
give you a information about last test, and Ganessa Nasution From Indonesia
best grades. Congratulation for Ganessa amazing !” kata yang bikin gue
terpesona seketika dengan orang bule ini, gue dapet nilai terbaik, bangga
banget rasanya. Gue berdiri dan membungkukkan badan gue lalu di iringi tepuk
tangan teman-teman sekelas gue lalu gue tersenyum dan kembali duduk masih
dengan tersenyum.
Setelah
kelas selesai hari ini, gue segera kembali ke apartemen yang tidak terlalu jauh
dari kampus. Gue menyempatkan makan masakan Laura yang sudah disiapkan olenhnya
tadi sebelum dia berangkat kuliah. Ya seperti biasa laura yang suka memasak
akan masakin gue apa aja yang selalu akan gue makan karna masakannya termasuk
masakan yang enak. Sambil makan gue membuka laptop dan mengoneksikan internet
lalu gue buka obrolan chatingan gue, dan ternyata nathan lagi on.
Ganessa
: hai nathan! I miss you like crazy ({})
Nathan
: are you sure about that? Miss you too Ganessa :D
Genessa
: hihi... really miss you, do you know? I get a great point for my last test. I
am really happy :p J
Nathan
: are you sure? I pround of you J,
cie traktirannya kapan?
Ganessa
: Nanti deh kalau pulang ke Indonesia gue bakalan neraktir lo sepuasnya sampe
kenyang, asal lo yang minta duit ke bokap sama nyokap gue.
Nathan
: sama aja boong kalo gitu, lo apakabar?
Genessa
: nah lo sih dikit-dikit traktir nah gue mana ada duit apalagi di Inggris ini
apa-apa mahal gitu :3, baik kok, gue makan dengan baik, gue tidur dengan baik,
dan gue belajar juga dengan baik, ya lo tau sendiri itulah yang dilakukan
anak-anak beasiswa. Lo juga apa kabar? Kirana masih sering ngumpul sama lo kan?
Nathan
: nah kan gue adalah manusia yang paling suka di teraktir hoho :p, kaya berapa
tahun aja lo kenal gue Sa. Bagus deh disana masih sering hunting foto? Gue ya
begini-begini aja ga pernah ada perubahan, dan juga jarang kumpul sama kirana
karna gue sibuk akhir-akhir ini.
Ganessa
: iya gue tau lo dengan baik juga kok Than, masih kok ya tiap kalo ga ada
kuliah gue selalu jalan-jalan sama Laura temen satu apartemen gue, dia cantik
lo Than, lo mau kenalan? Sibuk apa sih anak IT ini?
Nathan is offline now.
Gue
mengendus kesal kala lagi asyik chatting Nathan lalu Off, tuh anak tetep aja
pikir gue sering banget ninggal saat chating.
***
Mungkin kau dan aku adalah
takdir, bukan takdir sekarang tapi takdir masa depanku. Aku Menunggumu kembali,
Namun Biarkan takdir yang mempertemukan kita.
Kendra
sedang sibuk dengan buku dan laptopnya hari ini dia akan presentasi dan
mempersiapkan bahannya. Ia sangat serius dengan studynya. Sampai ia tak
menyadari kehadiran Laras yang membawa segelas kopi panas untuk Kendra. Saat
Kendra mulai tersadar ada yang memperhatikannya. Ia memalingkan mukanya.
“aku
suka memperhatikan muka kamu kalau lagi serius kaya gini, kamu terlihat jenius.
Ini ada kopi kesukaan kamu, tadi aku beli buat kamu.” Kata Laras dengan
menyodorkan gelas panas penuh dengan asap yang mengepul.
“
terima kasih tapi sebaiknya kamu jangan repot-repot juga. Tapi ini aku minum
ya.” Jawab kendra dengan mata kembali terkonsen dengan laptopnya kembali.
“
kamu kaya orang lama deh sama aku,
jangan sungkan sungkan kaya gini dong, jangan hanya karna aku pernah bilang
suka sama kamu, kamu jadi canggung gini ke aku. Kan aku jadinya gak enak.”
Terang Laras, Kendra menatap mata Laras mencari kejujuran dalam ucapannya.
Kendra tersenyum dan kembali ke tugas-tugasnya.
Laras
hanya bisa menatap Kendra lama, menikmati lekuk-lekuk wajahnya yang menurutnya
proposional, mata Kendra yang teduh membuatnya semakin enak di pandang.
“jangan
sering-sering natap aku kaya gitu nanti kamu ga bisa move on lagi dari aku.”
Canda Kendra, lalu ia melihat gerak-gerik Laras yang mulai gelagapan tak
karuan.
“
ahh kamu bisa aja, ya uda aku masuk kelas dulu ya. Nanti pulang bareng lagi,
aku lagi males naik angkot, BBM naik jadi aku nebeng aja.” Katanya lalu pergi,
Kendra hanya bisa menatap dan tersenyum sebelum kembali dengan tugas-tugasnya.
Tiba-tiba
suara handphone di sebelah laptop kendra berbunyi,ternyata dari teman satu
kampusnya.
“Ken,
besok shooting ya, di gedung sate Bandung, jadi gue harep lo nyiapin
peralatan-peralatan yang sudah di list saat rapat kemaren lusa.”
“dadakan
banget sih kalo ngomong bukannya kesepakatan kita minggu depan baru shooting
ya?”
“
iya Ken, soalnya minggu depan anggota kelompok pada gak bisa, dan gue lihat
jadwal minggu ini banyak yang kosong. Lo kosong juga kan? Lebih baik juga ga
nunda-nunda shooting ini biar bisa cepet ke fase editing.”
“iya
deh, kalo gitu. Langsung kumpul di gedung sate apa gimana nih? Gue bawa mobil
sendiri deh.”
“
kita kumpul di kampus aja ken, jam 6 pagi ya. Biar yang bawa motor bisa ikutan
anak-anak yang bawa mobil.”
“
oke deh sip, ya udah gue sibuk gue tutup ya telponnya.” Kendra memencet tombol
off. Lalu mengendus kesal, Kendra adalah tipe orang yang tidak suka jika ada
pemberitahuan dadakan seperti ini.” Ia kembali ke kesibukannya.
Nathan
sedang sibuk dengan camera-cameranya meskipun dia anak IT dan bukan anak
Komunikasi dia tetep saja sering memainkan camera DSLRnya. Dia sejak SMP suka
banget dengan dunia photography yang kini ditularkan ke Ganessa. Ia bersama
teman-temannya sedang beristirahat di sebuah bangku di taman tersebut,
tiba-tiba ada yang menyapanya dengan memukul pundaknya, Nathan menoleh ke arah
seseorang yang tepat di depannya.
“
ehh lo Kendra kan?” Nathan sebenarnya tidak lupa dengan Kendra yang setiap saat
dilihatnya di laptop, dompet maupun hape Ganessa.
“
iya lo inget sama gue? Lo satu kampuskan sama Genessa. Kalo gue boleh tau
dimana dia sekarang.”
“di...
dia lagi ada kuliah sekarang.” Jawab Nathan gugup karna dia sedang berbohong.
“
ohh, okey. Gue boleh tau alamat kos kosannya di Bandung? Lo tau kan pasti.”
Kata Nathan menyelidik.
Tiba-tiba
Handphone Nathan berbunyi, dan ia cepat memalingkan dari pertanyaan yang kendra
ajukan. Tepat banget ini telpon bunyinya, batin Nathan.
“iya
Kirana? Ada apa?”
“
di depan lo itu kendra bukan? Gue jarak 10 meter dari lo, lihat arah jam 12.
Sepertinya lo lagi dalam kesulitan sebaiknya lo pergi ke arah gue dan kita
kabur bareng-bareng.” Nathan menatap jauh di depannya ada seorang wanita, ya
itu Kirana.
“
oke, gue kesana sekarang lo tunggu gue ya.” Lalu Nathan menutup telponnya dan
berdiri. “ soory Ken, gue harus ke temen gue udah nungguin.” Lalu Nathan
berpamitan pada teman-temannya yang sedang duduk. Nathan menghembuskan nafas
panjang menandakan lega bisa kabur dari pertanyaan yang gak bisa dia jawab.
Karna nathan sudah berjanji pada Ganessa tidak akan memberitau dimana Essa
sekarang berada.
Kendra
heran dengan sikap Nathan yang sepertinya menghindari pernyataan dari Essa,
Kendra metap punggung Nathan yang kokoh dan hilang dari pandangan.
“
ehh kalian temen-temennya Nathan kan? Kalian taukan dimana kos-kosan Ganessa.”
Kendra tetap tak patah semangat untuk mencari kos-kosan Essa di Bandung, ini
juga karna di suruh mamanya untuk nengokin Ganessa.
“
sorry bro, emang kita temennya Nathan, tapi kita-kita gak tau dimana tempat kos
Ganessa, toh kita juga gak terlalu deket dengan Ganessa.” Jawab teman-teman
Nathan yang membuat hati Kendra kecewa.
“
oke deh bro, thanks ya gue balik dulu.” Kata Kendra yang hanya disambut dengan
senyuman.
“mama, maaf aku ga bisa
nemuin kos-kosan Ganessa. Tadi aku ketemu temen SMA yang satu kampus tapi dia
ga bisa ngasih info apa-apa. Maaf ya ma. Jadi makanan yang tadinya buat
Ganessa, Kendra makan aja ya Ma. Laper gitu.” Send
mama. Dengan nafas berat ia mengirimkan pesan singkat ke mamanya.
Kendra
mulai sibuk dengan tripot dan cameranya, hari ini akan jadi hari yang melelahkan
pikir kendra, karna dia tau shooting adalah hal yang sangat melelahkan. Kendra
sebenarnya banyak pikiran, ia memikirkan dimana Ganessa sekarang tak tau
mengapa ia berfikir bahwa Nathan sedang merahasiakan dimana Ganessa berada.
“Ken,
focus dong kita harus selesai sebelum matahari tenggelam. Jangan sering-sering
cut dong” tegur teman Kendra.
“
sorry ya sorry gue mau fokus susah, gue cari udara seger dulu bentar sepuluh
menit lagi gue balik. Lo bisa lakuin tugas gue kan.”
“
iya deh gue bisa cepet balik ya jangan lama-lama juga nanti temen-temen yang
lain pada sirik lagi.”
“thanks
ya lo temen baik.” Kendra memeluk temen perempuannya itu.
***
Musim
gugur membuat gue tak betah berada lama-lama diluar ruangan, gue selalu mencari
tempat yang ada penghangat ruangan. Seperti perpustakaan, gue mengambil
beberapa buku yang ingin gue baca dan gue duduk di ubin belakang pojok
perpustakaan yang selalu sepi dari pengunjung, rasanya gue inget sesuatu gue
sepertinya pernah melakukan hal yang sama seperti ini hanya dulu ada Kendra
yang bersama gue.
Ahh
Kendra rasanya sudah bertahun-tahun gue tak melihatnya, nampaknya gue
merindukan sosoknya. Sekarang dia lagi apa ya? Lagi dimana? Sama siapa? Apa dia
baik-baik aja. Kini Kendra memenuhi otak gue. Gue selalu berharap dia akan
nemuin gue Inggris dan dia adalah jodoh gue.
Seseorang
datang dan duduk di sebelah gue, ternyata dia juga temen beasiswa gue asal
Bengkulu namanya Yayan dia orang yang menyenangkan dan menurut gue, gue nyaman
saat dia dideket gue.
“
lo ngapain disini, mojok aja.” Tanyanya dengan logat batak yang kental
“
baca buku lah, menurut lo? Ya sambil ngangetin badan sih kan ruangan ini punya
pemanas gak kaya di apartemen gue. Makanya gue kesini. Nah lo apa kabar?
Ngapain lo disini?”
“
ini tempat favorit gue kalau lagi baca buku, sepi jarang oarang lewat sini dan
gue suka disini.”
“
ohh, jadi ini tempat favorit lo? Oke mulai sekarang lo harus terbiasa ini juga
tempat favorit gue.” Kata gue dengan terkekeh. Dan Yayan hanya tersenyum.
Well,
gue dan Yayan membaca buku bersama hanya saja sudah tak ada percakapan antara
gue dan dia, kami hanya terpaku dengan buku yang kami baca.
Hampir
satu jam gue baca buku yang isinya semua bahasa Inggris dan akhirnya gue
memutuskan pulang dan meninggalkan Yayan sendiri di pojok perpustakaan. Saat
gue keluar dari perpustakaan angin yang berhembus kencang sudah menyambut gue
dengan ramah, gue merapatkan jaket gue agar tak kedinginan dan segera beranjak
ke apartemen gue.
Di
apartemen Laura sedang menonton tv dan dengan kertas serta buku-buku yang
berantakan di depannya. “ tugas dari dosen lagi?” tanya gue sambil membuka
lemari es.
“
iya nih, gila banyak banget tugas gue pening rasanya, lo dari mana tumben jam
segini baru nyampek?”
“
gue dari perpustakaan, ya lo taukan gue orang berdarah panas jadi gue mencari
kehangatan di sana.” Jawab gue dengan bercanda.
“
ohh jadi lo nyari ruangan yang ada pemanas ruangannya? Ehh itu tadi gue masak
terus gue sisain buat lo.”
“
wah, thanks my best housemate love you more.” Jawab gue dan mencium pipi Laura,
dan gue segera menuju meja makan dan dengan cepat melahap masakan Laura yang
pas banget sama lidah gue.
***
“
ehh Ken, liat deh jurusan kita ngadain Study tour ke salah satu pembuatan film
terbaik di Inggris, lo mau ikut gak? Kesempatan bagus nih buat belajar
sekaligus jalan-jalan keluar negri.” Kata Dani setelah melihat papan
pengumuman.
“
boleh banget nih, but berapa htmnya? Kalo mahal pasti banyak yang gak ikut kan
kasian.”
“
cukup murah kok, kan sebagian di tanggung sama kampus gak lebih dari lima juta.
Jadi lo mau ikut gak?”
“
siap gue ikut, gue bilang orang tua gue deh nanti. Toh kalo segitu tabungan gue
bisa kepake sekarang.” Jawabnya dan berlalu pergi.
Kendra
memutuskan untuk ikut ke Inggris nambah-nambah Ilmu pikirnya, ia akan segera
membicarakan ini dengan kedua orang tuanya, Inggris I’am coming kata Kendra
dalam hati.
Sebelum
keberangkatan ke Inggris seluru peserta Study tour harus mengurus paspor, visa
dan lain-lainnya. Sedangkan kendra hanya mengurus visa kendra sudah lama
memiliki passpor dan passpor kendra masih berlaku, meski masih kurang 1 bulan
lagi namun kendra sudah menyiapkan barang-barangnya mulai baju musim dingin,
obat-obatan, makanan ringan Indonesia dan yang lain-lain.
Di
ramalkan bahwa saat Kendra study Tour ke Inggris, Inggris akan mengalami musim
salju, jadi Kendra menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan lengkap.
***
To be Continue ..... Season Change Musim Dingin dan Musim yang terakhir








0 komentar:
Posting Komentar