Kamis, 12 Februari 2015

Season Change Musim Gugur


September berangin, yah itulah kata yang tepat untuk bulan september di Inggris. Angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun sekitar kampus gue.
“hey Ganessa, Can you help me?” tanya temen gue bernama Genny.
“yes, what can I do for you?” jawab gue sibuk dengan rambut-rambut gue yang berkibar.
“I will absen for this class, because do you know? I want to party with my boy friend. Please collect this work.” Genny menyerahkan beberapa paper ke gue. “ Thanks Ganessa, sometime you can join party with us.” Katanya lagi dan berlalu.
Kadang gue heran dengan temen-temen yang kuliah di sini, mereka menghabiskan uang orang tua mereka untuk bermain-main. Yah contohnya Genny temen sekelas gue, gue tau kalau dia terlahir di keluarga yang menengah ke atas sama kaya gue, tapi setidaknya gue berbeda dalam hal otak, kemampuan gue masih di atas Genny.
Setelah hampir 4 bulan gue di Inggris gue sudah mengenal seluk-beluk Oxford, Gue tinggal di Apartemen deket Oxford dan satu kamar dengan Laura, manusia blasteran Inggris Indonesia, jadi kalau lagi di apartemen gue terbebas dari bahasa Inggris, Laura orangnya asik buat di ajak cerita, kami selalu berbagi cerita, dia seperti saudara perempuan yang tak pernah gue miliki.
Nathan dan Kirana sering banget nanyain kabar gue lewat sosial media, kalau Nathan kadang-kadang pake vidio call, orang tua gue 2 bulan sekali melakukan perjalanan bisnis ke Inggris sekalian nengokin gue, Kendra? Kendra gak tau kalau gue sekarang di Inggris. Dan gue sengaja gak ngebolehin orang-orang rumah atau sahabat-sahabat gue di Bandung untuk ngasik tau Kendra kalau gue ada di Inggris. Karna gue tau kalau Kendra jodoh gue dia bakalan nemuin gue di Inggris, dan gue percaya sama takdir.
“ Good morning everybody? How are you to day?” sapa dosen gue. “ now lesson, I’ll give you a information about last test, and Ganessa Nasution From Indonesia best grades. Congratulation for Ganessa amazing !” kata yang bikin gue terpesona seketika dengan orang bule ini, gue dapet nilai terbaik, bangga banget rasanya. Gue berdiri dan membungkukkan badan gue lalu di iringi tepuk tangan teman-teman sekelas gue lalu gue tersenyum dan kembali duduk masih dengan tersenyum.
Setelah kelas selesai hari ini, gue segera kembali ke apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampus. Gue menyempatkan makan masakan Laura yang sudah disiapkan olenhnya tadi sebelum dia berangkat kuliah. Ya seperti biasa laura yang suka memasak akan masakin gue apa aja yang selalu akan gue makan karna masakannya termasuk masakan yang enak. Sambil makan gue membuka laptop dan mengoneksikan internet lalu gue buka obrolan chatingan gue, dan ternyata nathan lagi on.
Ganessa : hai nathan! I miss you like crazy ({})
Nathan : are you sure about that? Miss you too Ganessa :D
Genessa : hihi... really miss you, do you know? I get a great point for my last test. I am really happy :p J
Nathan : are you sure? I pround of you J, cie traktirannya kapan?
Ganessa : Nanti deh kalau pulang ke Indonesia gue bakalan neraktir lo sepuasnya sampe kenyang, asal lo yang minta duit ke bokap sama nyokap gue.
Nathan : sama aja boong kalo gitu, lo apakabar?
Genessa : nah lo sih dikit-dikit traktir nah gue mana ada duit apalagi di Inggris ini apa-apa mahal gitu :3, baik kok, gue makan dengan baik, gue tidur dengan baik, dan gue belajar juga dengan baik, ya lo tau sendiri itulah yang dilakukan anak-anak beasiswa. Lo juga apa kabar? Kirana masih sering ngumpul sama lo kan?
Nathan : nah kan gue adalah manusia yang paling suka di teraktir hoho :p, kaya berapa tahun aja lo kenal gue Sa. Bagus deh disana masih sering hunting foto? Gue ya begini-begini aja ga pernah ada perubahan, dan juga jarang kumpul sama kirana karna gue sibuk akhir-akhir ini.
Ganessa : iya gue tau lo dengan baik juga kok Than, masih kok ya tiap kalo ga ada kuliah gue selalu jalan-jalan sama Laura temen satu apartemen gue, dia cantik lo Than, lo mau kenalan? Sibuk apa sih anak IT ini?
Nathan is offline now.

Gue mengendus kesal kala lagi asyik chatting Nathan lalu Off, tuh anak tetep aja pikir gue sering banget ninggal saat chating.
***
Mungkin kau dan aku adalah takdir, bukan takdir sekarang tapi takdir masa depanku. Aku Menunggumu kembali, Namun Biarkan takdir yang mempertemukan kita.
Kendra sedang sibuk dengan buku dan laptopnya hari ini dia akan presentasi dan mempersiapkan bahannya. Ia sangat serius dengan studynya. Sampai ia tak menyadari kehadiran Laras yang membawa segelas kopi panas untuk Kendra. Saat Kendra mulai tersadar ada yang memperhatikannya. Ia memalingkan mukanya.
“aku suka memperhatikan muka kamu kalau lagi serius kaya gini, kamu terlihat jenius. Ini ada kopi kesukaan kamu, tadi aku beli buat kamu.” Kata Laras dengan menyodorkan gelas panas penuh dengan asap yang mengepul.
“ terima kasih tapi sebaiknya kamu jangan repot-repot juga. Tapi ini aku minum ya.” Jawab kendra dengan mata kembali terkonsen dengan laptopnya kembali.
“ kamu kaya orang lama  deh sama aku, jangan sungkan sungkan kaya gini dong, jangan hanya karna aku pernah bilang suka sama kamu, kamu jadi canggung gini ke aku. Kan aku jadinya gak enak.” Terang Laras, Kendra menatap mata Laras mencari kejujuran dalam ucapannya. Kendra tersenyum dan kembali ke tugas-tugasnya.
Laras hanya bisa menatap Kendra lama, menikmati lekuk-lekuk wajahnya yang menurutnya proposional, mata Kendra yang teduh membuatnya semakin enak di pandang.
“jangan sering-sering natap aku kaya gitu nanti kamu ga bisa move on lagi dari aku.” Canda Kendra, lalu ia melihat gerak-gerik Laras yang mulai gelagapan tak karuan.
“ ahh kamu bisa aja, ya uda aku masuk kelas dulu ya. Nanti pulang bareng lagi, aku lagi males naik angkot, BBM naik jadi aku nebeng aja.” Katanya lalu pergi, Kendra hanya bisa menatap dan tersenyum sebelum kembali dengan tugas-tugasnya.
Tiba-tiba suara handphone di sebelah laptop kendra berbunyi,ternyata dari teman satu kampusnya.
“Ken, besok shooting ya, di gedung sate Bandung, jadi gue harep lo nyiapin peralatan-peralatan yang sudah di list saat rapat kemaren lusa.”
“dadakan banget sih kalo ngomong bukannya kesepakatan kita minggu depan baru shooting ya?”
“ iya Ken, soalnya minggu depan anggota kelompok pada gak bisa, dan gue lihat jadwal minggu ini banyak yang kosong. Lo kosong juga kan? Lebih baik juga ga nunda-nunda shooting ini biar bisa cepet ke fase editing.”
“iya deh, kalo gitu. Langsung kumpul di gedung sate apa gimana nih? Gue bawa mobil sendiri deh.”
“ kita kumpul di kampus aja ken, jam 6 pagi ya. Biar yang bawa motor bisa ikutan anak-anak yang bawa mobil.”
“ oke deh sip, ya udah gue sibuk gue tutup ya telponnya.” Kendra memencet tombol off. Lalu mengendus kesal, Kendra adalah tipe orang yang tidak suka jika ada pemberitahuan dadakan seperti ini.” Ia kembali ke kesibukannya.

Nathan sedang sibuk dengan camera-cameranya meskipun dia anak IT dan bukan anak Komunikasi dia tetep saja sering memainkan camera DSLRnya. Dia sejak SMP suka banget dengan dunia photography yang kini ditularkan ke Ganessa. Ia bersama teman-temannya sedang beristirahat di sebuah bangku di taman tersebut, tiba-tiba ada yang menyapanya dengan memukul pundaknya, Nathan menoleh ke arah seseorang yang tepat di depannya.
“ ehh lo Kendra kan?” Nathan sebenarnya tidak lupa dengan Kendra yang setiap saat dilihatnya di laptop, dompet maupun hape Ganessa.
“ iya lo inget sama gue? Lo satu kampuskan sama Genessa. Kalo gue boleh tau dimana dia sekarang.”
“di... dia lagi ada kuliah sekarang.” Jawab Nathan gugup karna dia sedang berbohong.
“ ohh, okey. Gue boleh tau alamat kos kosannya di Bandung? Lo tau kan pasti.” Kata Nathan menyelidik.
Tiba-tiba Handphone Nathan berbunyi, dan ia cepat memalingkan dari pertanyaan yang kendra ajukan. Tepat banget ini telpon bunyinya, batin Nathan.
“iya Kirana? Ada apa?”
“ di depan lo itu kendra bukan? Gue jarak 10 meter dari lo, lihat arah jam 12. Sepertinya lo lagi dalam kesulitan sebaiknya lo pergi ke arah gue dan kita kabur bareng-bareng.” Nathan menatap jauh di depannya ada seorang wanita, ya itu Kirana.
“ oke, gue kesana sekarang lo tunggu gue ya.” Lalu Nathan menutup telponnya dan berdiri. “ soory Ken, gue harus ke temen gue udah nungguin.” Lalu Nathan berpamitan pada teman-temannya yang sedang duduk. Nathan menghembuskan nafas panjang menandakan lega bisa kabur dari pertanyaan yang gak bisa dia jawab. Karna nathan sudah berjanji pada Ganessa tidak akan memberitau dimana Essa sekarang berada.
Kendra heran dengan sikap Nathan yang sepertinya menghindari pernyataan dari Essa, Kendra metap punggung Nathan yang kokoh dan hilang dari pandangan.
“ ehh kalian temen-temennya Nathan kan? Kalian taukan dimana kos-kosan Ganessa.” Kendra tetap tak patah semangat untuk mencari kos-kosan Essa di Bandung, ini juga karna di suruh mamanya untuk nengokin Ganessa.
“ sorry bro, emang kita temennya Nathan, tapi kita-kita gak tau dimana tempat kos Ganessa, toh kita juga gak terlalu deket dengan Ganessa.” Jawab teman-teman Nathan yang membuat hati Kendra kecewa.
“ oke deh bro, thanks ya gue balik dulu.” Kata Kendra yang hanya disambut dengan senyuman.
“mama, maaf aku ga bisa nemuin kos-kosan Ganessa. Tadi aku ketemu temen SMA yang satu kampus tapi dia ga bisa ngasih info apa-apa. Maaf ya ma. Jadi makanan yang tadinya buat Ganessa, Kendra makan aja ya Ma. Laper gitu.” Send mama. Dengan nafas berat ia mengirimkan pesan singkat ke mamanya.
Kendra mulai sibuk dengan tripot dan cameranya, hari ini akan jadi hari yang melelahkan pikir kendra, karna dia tau shooting adalah hal yang sangat melelahkan. Kendra sebenarnya banyak pikiran, ia memikirkan dimana Ganessa sekarang tak tau mengapa ia berfikir bahwa Nathan sedang merahasiakan dimana Ganessa berada.
“Ken, focus dong kita harus selesai sebelum matahari tenggelam. Jangan sering-sering cut dong” tegur teman Kendra.
“ sorry ya sorry gue mau fokus susah, gue cari udara seger dulu bentar sepuluh menit lagi gue balik. Lo bisa lakuin tugas gue kan.”
“ iya deh gue bisa cepet balik ya jangan lama-lama juga nanti temen-temen yang lain pada sirik lagi.”
“thanks ya lo temen baik.” Kendra memeluk temen perempuannya itu.
***
Musim gugur membuat gue tak betah berada lama-lama diluar ruangan, gue selalu mencari tempat yang ada penghangat ruangan. Seperti perpustakaan, gue mengambil beberapa buku yang ingin gue baca dan gue duduk di ubin belakang pojok perpustakaan yang selalu sepi dari pengunjung, rasanya gue inget sesuatu gue sepertinya pernah melakukan hal yang sama seperti ini hanya dulu ada Kendra yang bersama gue.
Ahh Kendra rasanya sudah bertahun-tahun gue tak melihatnya, nampaknya gue merindukan sosoknya. Sekarang dia lagi apa ya? Lagi dimana? Sama siapa? Apa dia baik-baik aja. Kini Kendra memenuhi otak gue. Gue selalu berharap dia akan nemuin gue Inggris dan dia adalah jodoh gue.
Seseorang datang dan duduk di sebelah gue, ternyata dia juga temen beasiswa gue asal Bengkulu namanya Yayan dia orang yang menyenangkan dan menurut gue, gue nyaman saat dia dideket gue.
“ lo ngapain disini, mojok aja.” Tanyanya dengan logat batak yang kental
“ baca buku lah, menurut lo? Ya sambil ngangetin badan sih kan ruangan ini punya pemanas gak kaya di apartemen gue. Makanya gue kesini. Nah lo apa kabar? Ngapain lo disini?”
“ ini tempat favorit gue kalau lagi baca buku, sepi jarang oarang lewat sini dan gue suka disini.”
“ ohh, jadi ini tempat favorit lo? Oke mulai sekarang lo harus terbiasa ini juga tempat favorit gue.” Kata gue dengan terkekeh. Dan Yayan hanya tersenyum.
Well, gue dan Yayan membaca buku bersama hanya saja sudah tak ada percakapan antara gue dan dia, kami hanya terpaku dengan buku yang kami baca.
Hampir satu jam gue baca buku yang isinya semua bahasa Inggris dan akhirnya gue memutuskan pulang dan meninggalkan Yayan sendiri di pojok perpustakaan. Saat gue keluar dari perpustakaan angin yang berhembus kencang sudah menyambut gue dengan ramah, gue merapatkan jaket gue agar tak kedinginan dan segera beranjak ke apartemen gue.
Di apartemen Laura sedang menonton tv dan dengan kertas serta buku-buku yang berantakan di depannya. “ tugas dari dosen lagi?” tanya gue sambil membuka lemari es.
“ iya nih, gila banyak banget tugas gue pening rasanya, lo dari mana tumben jam segini baru nyampek?”
“ gue dari perpustakaan, ya lo taukan gue orang berdarah panas jadi gue mencari kehangatan di sana.” Jawab gue dengan bercanda.
“ ohh jadi lo nyari ruangan yang ada pemanas ruangannya? Ehh itu tadi gue masak terus gue sisain buat lo.”
“ wah, thanks my best housemate love you more.” Jawab gue dan mencium pipi Laura, dan gue segera menuju meja makan dan dengan cepat melahap masakan Laura yang pas banget sama lidah gue.
***
“ ehh Ken, liat deh jurusan kita ngadain Study tour ke salah satu pembuatan film terbaik di Inggris, lo mau ikut gak? Kesempatan bagus nih buat belajar sekaligus jalan-jalan keluar negri.” Kata Dani setelah melihat papan pengumuman.
“ boleh banget nih, but berapa htmnya? Kalo mahal pasti banyak yang gak ikut kan kasian.”
“ cukup murah kok, kan sebagian di tanggung sama kampus gak lebih dari lima juta. Jadi lo mau ikut gak?”
“ siap gue ikut, gue bilang orang tua gue deh nanti. Toh kalo segitu tabungan gue bisa kepake sekarang.” Jawabnya dan berlalu pergi.
Kendra memutuskan untuk ikut ke Inggris nambah-nambah Ilmu pikirnya, ia akan segera membicarakan ini dengan kedua orang tuanya, Inggris I’am coming kata Kendra dalam hati.
Sebelum keberangkatan ke Inggris seluru peserta Study tour harus mengurus paspor, visa dan lain-lainnya. Sedangkan kendra hanya mengurus visa kendra sudah lama memiliki passpor dan passpor kendra masih berlaku, meski masih kurang 1 bulan lagi namun kendra sudah menyiapkan barang-barangnya mulai baju musim dingin, obat-obatan, makanan ringan Indonesia dan yang lain-lain.
Di ramalkan bahwa saat Kendra study Tour ke Inggris, Inggris akan mengalami musim salju, jadi Kendra menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan lengkap.
***
To be Continue ..... Season Change Musim Dingin dan Musim yang terakhir 

0 komentar:

Posting Komentar