Minggu, 30 November 2014

Season Change Musim Hujan #part3

Pagi dihari minggu ini membuat Kendra malas untuk bangun pagi. Jam dinding menunjukan jam 6 pagi, Kendra masih bersembunyi di balik selimut.
Decitan pintu kamar kendra mulai terdengar, ternyata adik perempuan kendra yang baru berusia 12 tahun. Namanya Lia, lia  duduk di bangku Sekolah dasar dan akan memulai ujian nasional beberapa bulan lagi.
“ kak kendra bangun kak uda pagi nih, ayo kak joging keliling kompleks kakak kan uda janji kemarin.” Teriak lia dan melompat-lompat di tempat tidur kendra.
“ ini jam berapa sih Li? Kakak masih ngantuk banget nih.” Kata kendra setengah hati.
“ ihh, kakak kalau janji ya harus di tepatin aku juga uda ngajak kak essa nih kak, ayo bangun kak.” Teriak lia semakin keras, dan suara lia memenuhi kamar kendra.
“ siapa Li? Essa? Kita kan beda perumahan dan sangat jauh lia. Apa kamu gila jika essa akan ikut dengan kita.” Jawabnya dengan menarik selimutnya dan merapatkannya.
“ kan ada mobil yang bisa buat aku datang ke perumahanmu bukan?” suara yang membut kendra benar-benar tersadar dari tidurnya. Ya itu suaraku.
Aku sengaja pagi-pagi ke rumah kendra karna ada undangan dari lia untuk joging barsama. Aku tersenyum melihat kendra dengan muka yang kusut. Aku mendekati wajahnya agar kendra benar-benar bangun dari tidurnya.
“ come on kendra, cepet sana beres-beres badan, tuh masih ada bekas buat peta semalam, ihh jorok.” Kataku lalu aku keluar dengan tawa terbahak-bahak, lia mengekor di belakangku.
Sudut mataku melihat kendra yang langsung meluncur ke kamar mandi. Aku meneruskan langkahku menuju ruang keluarga yang menurutku jauh lebih nyaman dari pada rumahku sendiri yang cenderung sepi. Kedua orang tuaku adalah orang sibuk begitupun dengan papa kendra. Namun mama mereka tetap ada di rumah sebagai ibu rumah tangga yang baik.
“ essa, kamu uda sarapan sayang?” suara yang tiba-tiba ada di belakangku, tante Ica sudah berdiri dengan cantik di belakangku.
Aku tersenyum menatap tante ica “ sudah tante, tadi pagi mama masih sempat buatin essa sama kak adit sarapan” jawabku dengan senyum termanis yang aku punya.
“ emang mau ada perjalanan bisnis lagi ya mamamu? Kali ini kemana?” tanya beliau tanpa ragu.
“ lombok tan, nanti malem pasti pulang kok tan,”  aku menatap taman di dalam rumah kendra . aku teringat dulu waktu kami masih SMP kami selalu bermain ataupun bertukar cerita di sana, duduk di dekat kolam ikan dengan gemercik air yang menengkan kalbu.
Kendra menuruni tangga dengan pakaian kaos oblong dan jins pendek, ia memakai sepatu cats putih terlihat cool. “ serius banget ngobrolnya, ngomongin aku ya?” ucapnya.
“ hhahah pede banget kamu ken, iya gak tante?” aku hanya terkekeh mendengarnya.
Lia yang tak sabar untuk berlari pagi, terus menggeret aku dan kendra, kami hanya menggeleng-geleng melihat tingkah adik kendra yang sungguh menggemaskan.

***

Saat persahabatan manjadi cinta, ini hal yang paling aku tak suka. Aku tak ingin persahabatan yang selama ini aku rajut dengan susah senang harus pecah dengan nama CINTA.
Aku memejamkan mataku untuk beberapa saat untuk dapat berfikir lebih jernih. Aku tidak boleh cinta ke sahabatku sendiri, bagaimanapun caranya ga boleh, kata-kata itu akan selalu teringat dihatiku.
Aku mulai membuka bukuku untuk melupakan hal hal yang tidak penting seperti itu. Belajar adalah pelarian yang sangat akurat buat aku, aku tak tau mengapa kenapa belajar itu membuat semua pikiranku terfokus kepada satu titik dan itu membuat aku lebih baik.
“ Ganessa.!!!” Sayup-sayup aku mendengar suara memanggilku, namun aku tak terlalu menghiraukannya. “Ganessa!!!” suara itu muncul lagi, aku melangkahkan kakiku dengan malas, pergi ke suara itu berasal yaitu ruang keluarga di lantai bawah.
Aku hanya melihat kakakku yang sedang berdiri, dengan binar-binar senang dimukanya yang terlihat jelas. “ ada apa kak? Kakak taukan aku sedang belajar aku sangat terganggu kak.” Gerutuku dengan memasang muka cemberut.
“ kau harus tau siapa yang datang, apakah kau tak merindukannya?” aku berfikir keras, seseorang yang telah lama pergi akhirnya kembali, aku heran, jika itu adalah kedua orang tuaku yang sangat sibuk untuk bekerja, tidak mungkin jika itu kedua orang tuaku yang baru tadi pagi berangkat, mana mungkin hari belum larut malam  mereka sudah pulang.
Lalu ada sosok yang mendekat kearah kakakku, lalu laki-laki itu tersenyum kearahku. Kini aku tau siapa yang datang dia adalah sahabat kecilku, lebih lama dari pada Kendra. Bisa dibilang dia adalah kembaranku dan malaikat penolongku.
Waktu kecil saat aku sedang menangis karna jatuh dari sepeda dia yang sigap menolongku, sedangkan teman-teman yang hanya melihatku dengan tertawa karna aku jatuh dan menangis. Aku ternsenyum jika mengingat itu. Akupun sedikit berlari ke arahnya memintanya merengkuhku kedalam pelukannya.” Apakah kau baru ingat jika kau punya teman kecil yang kau tinggalkan bertahun-tahun.” Aku berbicara disela-sela pelukannya.
“ maafkan aku, kau tau aku sangat sibuk disana. Tapi setelah hampir 9 tahun kita berpisah aku datang untuk menemuimu bukan.” Jawabnya dengan melonggarkan pelukannya.
Dia adalah sahabatku Wildan Fahirin yang 9 tahun lalu pergi keluar negeri karna kedua orangnya yang ditugaskan untuk mengurusi perusahaan cabang tempat papanya bekerja di Canada. Tempat yang sangat jauh dari Jakarta. Aku ingat saat usiaku masih 7 tahun ia sering sekali mengajakku bermain bersama. Ia 1 tahun lebih tua dari pada aku, april depan dia menginjak sweet seventen.
“ apa yang kau lakuakan disana? Sehingga akhir ini kau tak pernah membalas pesanku? Apa kau ingin aku mati karna meridukan malaikat penolongku?” gerutuku dengan menatap mata elangnya dengan tajam.
“ aku sedang mengurusi kepindahanku dari Canada ke Jakarta, aku pindah dari high school canada untuk ke High school di Jakarta. Karna aku merindukan tempat kelahiranku.” Jawabnya dengan tenang.
“ sungguh kau akan pindah ke Jakarta? Apakah oom Suryo dan Tante Sarah juga akan ikut pindah kemari?” tanyaku dengan mata berbinar.
“ maaf-maaf mengganggu, essa berikan dia kesempatan untuk duduk dan minum, dia baru datang kau lihat koper-koper besar dan barang bawaanya?” kata kak adit yang kupikir benar. Aku mempersilahkan dia untuk duduk dan menikmati minuman yang kusuguhkan dan beberapa hidangan kecil. Ku berikan wildan beberapa kesempatan untuk menghilankan lelahnya.
Aku mengamati wajah lelah Wildan yang saat ini sedang tidur di kursi ruang keluarga. Lekuk-lekuk wajahnya masih sama mungkin hanya berbeda dari segi dagu yang jauh lebih tirus dan di lehernya terdapat benjolan yang ada pada laki-laki remaja sampai dewasa pada umunya.
Dia masih terlihat sama 9 tahun yang lalu, hanya senyuman pahit yang ia lemparkan kearahku saat di bandara waktu itu. Aku sungguh tidak rela saat itu mungkin karna aku takut tidak ada yang melindungiku. Tapi mungkin sejak kehadiran Kendra aku mulai merasa aku mempunyai malaikat peindungku yang baru tanpa melupakan sosok berarti Wildan.

Tiba-tiba aku teringat sosok Kendra yang hangat, kenapa aku tiba-tiba merindukannya? Aku hanya dapat bertanya pada diriku sendiri.
*** 

Sabtu, 29 November 2014

For my mood Booster :) ({})

Hari ini aku mau ngepost tentang seseorang yang berarti buat aku. Dia kecil, pendek, punya lubang di pipinya. Dan dia adalah temen curhat, teman satu sekolah, teman organisasi. Namanya Laudira athaya Khansa.


Dia kadang egois, kadang kaya anak kecil, tapi aku sayang sama dia. Kita saling ngingatin.
Dan sampe aku sehati banget sama dia. Dulu pernah waktu aku masuk rumah sakit ternyata dia juga lagi sakit.
Kami sama-sama anak ke 2, sama-sama ga bisa makan pedes. Sama-sama suka galau gara-gara cowo. Banyak banget hal hal yang diluar pikiran yg bisa sehati sama dia.


"Laudira athaya khansa tetep jadi sahabat yang baik ya, sahabat yg selalu ada untuk sahabatnya, jangan pernah merubah sikapmu, tetaplah seperti ini. Karna aku nyaman dengan sama Kamu yang polos dan apa adanya"

:')

Mungkin bagimu aku adalah kesalahan dalam hidupmu.
Mungkin bagimu aku tak pernah berarti tapi ...
Untukku kau adalah segalanya.
Kau yang membuatku lebih baik...
Kau yang buat aku tau artinya kejujuran.
Namun sekarang...
Kau pergi..
Kau Hilang..
Sampai rasanya aku tak bisa menggapaimu lagi
Haruskah mencintaimu sesakit ini?
Bantu aku melupakanmu..
Bantu aku berdiri tegak dan berlari menjauhimu..

Because of you FM :')

Rabu, 26 November 2014

Season Change Musim Hujan #PART2

“ loe tau ga? Kendra ngerelain jaket yang dia pake demi Essa. Gue ga terima. Gue suka Kendra dari dulu, kenapa harus Essa yang selalu dapat perhatian dari Kendra. Gue ga akan suka sungguh!!!.” Kata Prili dengan nada meninggi. Ia menatap tajam ke arah kaca yang terpantul bayangannya. Prili menimbang nimbang apa yang kurang dari dia, sampai Kendra tak pernah melirik dia sedikitpun.
“ lo cemburu Pril? Seharusnya lo harus berusaha buat dapetin Kendra. Kendra lebih memilih Essa karna loe tau kan mereka udah sahabat dari SMP, orang tua mereka juga berteman uda kayak saudara malah, itu kata bokap gue yang pernah berbisnis bareng sama bokap Essa. “ kata Sesil menanggapi ucapan prili.
Mereka adalah teman-teman Essa, prili gadis berparas cantik, dengan bibir tipis, mata lebar, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Namun cantik di wajahnya berbanding terbalik dengan hati dan sifatnya. Prili sangat iri dengan Essa, yang bisa dekat dengan Kendra, cowo yang beberapa bulan terakhir ini menyita semua perhatiannya. Prili suka menyukai Kendra namun dia tidak bisa mendekati Kendra karna Essa.
Teman Prili yaitu Sesil, Sesil juga tak kalah cantiknya dengan Prili, malah sesil sedikit jauh lebih cantik karna perawakan indonya. Sesil begitu netral, ia bisa membaur dengan semuanya tak seperti Prili yang kesannya memilih-milih teman. Orang tua sesil juga salah satu donatur terbesar di sekolahnya dengan orang tua Kendra dan Essa.
“ Sesil lo itu sebenarnya mendukung siapa sih? Gue atau essa? Lo temen gue kan? Ya loe seharusnya dukung gue lah, bukan orang lain loe ngertikan?” gerutu Prili
“Prili sayang, gue bukan orang yang memihak sana-sini, loe tau kan? Gue netral. Kalau lo mau jadian sama Kendra atau si Kendra yang deketin loe, kunci loe itu Cuma satu yaitu berusaha. Kalau loe ga usaha lo ga akan pernah dapet apapun yang loe inginkan ngerti?” Sesil pun langsung pergi meninggalkan Prili yang sedang mencerna omongan Sesil.

***
Aku duduk termenung di depan kamarku, menatap gelapnya malam yang penuh bintang. Aku suka bintang dari aku kecil, menurutku bintang adalah benda langit yang diciptakan Tuhan begitu indah. Entah kenapa aku suka bintang mungkin karena bintang itu yang selalu buat aku tenang, yang selalu menemani malamku jika aku sedang sendirian dan ingin sendiri.
Tiba-tiba aku mendengar decitan pintu kamar yang terbuka, kak Adit tiba-tiba duduk di sisiku tanpa menatapku iapun ikut menatap bintang yang malam ini cukup banyak. Tak ada yang membuka percakapan kami untuk beberapa saat, hingga...
“ apa kau ada masalah Essa?” tanyanya tiba-tiba, aku menengok ke arahnya dan aku melongo menatap wajahnya dari samping. “tutup mulut itu tak usa sampai melongo juga Sa.” Tuturnya lagi.
Aku pun mulai menatap bintang lagi. “ kakak tau aku punya masalah? Memang kak aku sedang punya masalah dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit.” jawabku tanpa berpaling dari langit.
“ pilihan apa? Aku hidup denganmu hampir 16 tahun jadi jika kamu punya masalah aku ingin kau cerita ke aku. Aku ada untuk kamu. Kamu adikku bukan? Kakak akan selalu ada untuk adiknya. Kamu taukan?” kata kak adit dengan lembut. Aku pun tersenyum dan memeluknya, ia membalas pelukannku.
“ ada dua orang yang sama-sama memberikan perhatian yang lebih kepadaku, Kendra dan Nathan.aku harus bagaimana kak? Aku bingung sungguh. Nathan pernah menyatakan perasaannya padaku kak, aku akui dia sangat gentel. Tapi waktu itu aku sedang tidak punya perasaan kesiapapun jadi sampai detik ini aku tidak pernah memberikan jawaban apapun ke Nathan. Aku tau kak tidak seharusnya aku menggantungkan perasaan seseorang.” Ucapku panjang lebar.
Masih di pelukan kak adit. “ lalu apa Ken sudah pernah mengungkapkan perasaannya kepadamu?” kak adit menatap kedua mataku. Akupun menggeleng pelan. “ kau kan sahabatan sama ken uda lama ya wajar dong kalau dia memberikan perhatian yang begitu lebih ke kamu.”
Aku masih mencerna ucapan kak Adit. Memang Ken adalah sahabatku, namun sahabat bisa jadi cinta kan? Aku termenung kembali bingung dengan apa yang di ucapkan kak adit padaku, kendra adalah sahabatku dan itu hal yang sangat wajar jika sahabat memberikan perhatian kepada sahabatnya yang lain. Namun aku ingin kendra lebih dari sahabatku, lebih dari teman. Dari hati kecilku, aku mencintai kendra namun aku tak ingin jika apa yang aku rasa membuat persahabatan kami terasa hambar dengan hadirnya cinta.
“ kak jika aku mencintai sahabatku sendiri apa itu wajar?” tanyaku ke kak adit.
Kak adit menatapku lekat-lakat mencari apa yang aku sembunyikan darinya dan mencari apa yang aku rasakan. “ sebenarnya wajar essa, namun apakah kau mau jika persahabat kalian hancur dengan kata cinta.? Aku tak ingin apa yang terjadi padaku dulu terjadi pada adikku. Jika kamu suka kendra lebih baik kau acuhkan perasaan itu dan cobalah perpaling dari rasa itu, mungin nathan solusinya.”
“ Nathan? Namun aku belum terlalu mengenalnya kak? Aku kenal dia baru-baru ini. Aku takut dia bukan yang terbaik untukku?” jawabku ragu.
“ nah itu yang buat kamu bimbang, ragu-ragu. Jangan pernah kamu ragu dalam mengambil keputusan, aku ingin kamu menggambil kesempatan yang ada di hadapanmu selagi itu baik buat kamu, kamu mengerti?” kata Kak Adit menatapku lekat-lekat.
Hening sejenak tak ada suara di antara kami, merenung manatap bintang, saat itulah aku merasakan tenang menyergap kalbuku.
“ Essa?” panggil kak adit. Aku hanya berdeham untuk menjawab panggilannya terebut. “ kakak tidur disini ya males banget nih mau keluar kamar kamu.

“ ih, ga mau kak. Sana-sana keluar aku ga mau tidur sama kakak. Hancur semua ntar nih badan kakak kalau tidur ga punya aturan.!” Kataku sambil mendorong punggung kak adit. Kak adit hanya tertawa dan keluar dari kamarku. 
***

Selasa, 25 November 2014

XII TKJ 1 (T_One)

hari ini gue mau share tentang beberapa pengalaman. 
ini cerita kita yang awalnya ber 35 menjadi ber 30 dan setahun yang lalu menjadi ber 31. 
dan ini adalah kelas TKJ 1 angkatan ke 5 SMK NEGERI 2 SINGOSARI

Tahun 2012


Di kelas ini, gue merasa suka, duka dan yang lain-lain. dari awal kita ga saling kenal, akhirnya jadi saling kenal satu sama lain. Seperti yang kalian tau tak selamanya kita ada dijalan yang baik-baik saja di jalan yang lurus. Kita pernah berantem, kita pernah ga saling sapa, kita pernah saling sindir, yang berkuasa yang membully. Gue udah pernah rasain itu. namun gue yakin kalau mereka teman-teman yang baik. 

Tahun 2013 

Namun dengan seiring berjalannya waktu kami saling mengenal, kami saling memahami karakter dari satu watak ke watak yang lain. mungkin mereka bukan hal yang luar biasa namun mereka istimewa. Kadang dari mereka kami bisa saling belajar dan membenahi sifat masing-masing. "They are my 3th family" 

Tahun 2014

Dan akhirnya 3 tahun kita bersama, 3 tahun kita belajar bersama, merajut asa, menggapai impian. mungkin ini akan menjadi penghujung dimana kita bersama. meski ada yang masih tak saling sapa, ada yang egoisnya tinggi, ada yang sok dewasa, ada yang lucu, kocak, ada yang hanya serius dengan laptopnya kalau di kelas, tapi ini kami dengan sifat dan watak masing-masing. yang kami tau pertemanan kita akan abadi selamanya, meski tanpa saling sapa dan saling tegur nanti jika kita berpisah.
"karna yang aku tau ada mantan pacar tapi tak ada yang namanya mantan teman" 

Senin, 24 November 2014

Season Change Musim Hujan #part1

Season Change


Tahun 2002
 Aku berlari menerjang hujan yang deras. Sekuat kakiku untuk berlari,  nafas mulai tarengah-engah. Aku mulai melambatkan kecepatan lariku karna halte yang aku tuju segera sampai.   Hujan ini sedikit menyiksaku, berlari dengan sekuat tenaga dengan nafas yang tidak teratur, berlari dari sekolah sampai ke halte. Kali ini supir pribadi keluargaku telat untuk menjeput. Mungkin macet karna hujan yang cukup deras ini akan membuat seluruh jalan raya macet karna banyak jalan-jalan yang tergenang oleh air.
Aku mulai kedinginan, bibirku mulai membiru dan badanku mulai merindukan kehangatan ruangan. Sayup-sayup ku dengar suara tapak kaki yang mendekat ke arahku. Aku melihat ke arah itu, sudut  mataku menangkap sosok yang telah aku kenal sejak SMP.
“ kau ada disini?” itulah kata yang membuat aku menegakkan kepalaku ke arahnya dan menatap matanya yang teduh dan selalu membuatku tenang.
“ iya, mang paijo terkena macet di jalan mungkin. Kamu tau bukan, jalanan jika hujan seperti ini, pasti macet. Kau berlari dari sekolah ke halte? Bukannya kau bawa motor Kendra?” ucapku masih dengan menatap matanya.
Lalu iya mendekat ke arahku dan melingkarkan tangannya di bahuku, menaruh jaketnya di bahu kecilku.
“ aku melihatmu berlari tadi, dan kulihat kau juga kedinginan dari jauh mukamu lucu sekali jika kau sedang kedinginan. “ ucapnya lalu tersenyum ke arahku.
“ kau memang sahabat yang selalu mengerti aku Kendra, terima kasih jaketnya ya mungkin aku akan mengembalikannya jika kering.” lalu aku tersenyum ke arahnya. Kendra  adalah sahabatku dari SMP, karna orang tua kami juga berteman maka dari itulah aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia sosok yang sangat menyenangkan, kami bagaikan perangko dan surat yang sulit untuk di pisahkan. Karna persahabatan kami sudah berjalan hampir 4 tahun.
“ don’t worry, kamu bisa mengembalikannya kapan saja jika kau mau. Aku akan menemanimu sampai mang paijo datang untuk menjemputmu. Apa kau keberatan jika aku ada disini Essa?”
“ tentu tidak ken. Jika kamu ada di sampingku aku merasa lebih tenang, karna kamu akan selalu melindungiku bukan, sampai kapanpun?”
Kendra hanya mengangguk, kamipun duduk di bangku besi halte yang dingin, hujan mulai reda hanya menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, ku rapatkan jaket kendra yang melingar di bahuku. Aku melihat ke arah kendra yang sedang menatap jalan dengan tatapan kosong.
“ apa kau sedang punya masalah ken? “ tanyaku dengan hati-hati.
“ ti. . .ti. . .tidak, aku tidak punya masalah apapun.”
“ jangan pernah sembunyikan dari aku, aku mengenalmu dari 4 tahun yang lalu. Aku mengertimu luar dan dalam. Jadi jangan pernah kau sembunyikan apapun dari aku.” Kataku dengan tatapan nanar ke arah kendra.
Tangan Kendra memegang pipiku yang merah dan dingin. “ tidak essa aku tak pernah menyembunyikan apapun dari kamu. Aku janji saat aku punya masalah aku akan bercerita ke kamu.” Ucapnya dengan mata yang meyakinkan. Aku tetap menatapnya dan mencari kebenaran dari matanya.
Klakson berbunyi dengan menduru. Aku menengok ke arah mobil itu, dan aku tersenyum melihat siapa yang datang, ya mang paijo yang menekan klakson tersebut.
“ tunggu sebentar disini ya ken,”  aku berlari menuju mobil mercedes tersebut, aku mengambil shal rajutan dari almarhumah nenek. Aku berlari menuju ke arah kendra yang menatapku heran, lalu aku melingkarkan shal itu ke lehernya yang panjang. “ aku tak ingin kau sakit ken, pakailah shal ini yang akan menjagamu sedikit lebih hangat. Aku pulang dulu ya, terimakasih kau telah menemaniku.” Aku tersenyum ke arahnya.
“ terima kasih Essa, oke bilang sama mang paijo hati-hati. Aku tak ingin sahabatku yang jelek ini kenapa-kenapa, nanti kalau aku sampai rumah aku telfon kamu.” Sambil memegang hidungku lembut, aku memeluk iya sejenak untuk salam perpisahan.

Aku melangkahkan kakiku dengan enggan menuju bangku belakang mobil, sudut mataku menagkap gerakan mang Paijo yang tersenyum ke arah Kendra.

Opening my Blog

Hello guys, ini blog pertama saya dan ini blog baru.
perkenalkan namaku Julian Dwi Masyithoh, aku dilahirkan di RST Malang pada tanggal 12 Juli 1997, aku dibesarkan di keluarga yang baik. aku anak kedua dari dua bersaudara. aku punya kakak cewe yang kadang ngeselin tapi kadang juga bikin kangen. but she is my everything in my life.
Riwayat Pendidikan : TK ABA II Bedali -Lawang , SDN Bedali II , MTS Negeri Lawang, SMKN 2 singosari. (gak jauh-jauh dari angka 2 ya :p) 
mungkin di blog ini aku bakalan ngeshare apa aja yang pengen aku bagi kepada semua orang yang membaca, mulai dari curhatan, foto, cerpen, novel dan lain-lain yang aku posting.
aku bahagia dengan hidupku dan aku menikmati.
so you must enjoy your life same with me :)

Julian Dwi Masyithoh



salam dari penulis.