Rabu, 26 April 2017

MUSIK SEBAGAI MEDIA PENENANG UNTUK ATLET



Saat saya menonton Drama Korea yang berjudul “School 2015 : Who are you” saya sempat heran karena salah satu tokoh utamanya yang bernama Han Yi An selalu memakai headphone di telinganya sebelum melakukan lomba renang. Saya berfikir bahwa itu hanya serpihan dalam adegan dan saya hanya memaknai bahwa mendengarkan musik hanya untuk sekedar penenang. Dan setelah saya membaca beberapa refrensi saya baru mengerti bahwa musik dapat mempengaruhi kerja otak dan kerja jantung kita. Saya ingat dosen saya Pak Radit, beliau pernah mengatakan bahwa saat mendengarkan musik Flight of the Bumble Bee itu akan mempercepat kerja otak kita.
Dalam buku Simfoni otak yang ditulis oleh Stephanie Merritt, ia mengakatakan bahwa, “ Fenomena keselarasan berlaku juga untuk musik yang kita dengar kalau kita mendengarkan musik yang temponya lebih cepat daripada detak jantung kita, jantung kita akan berdetak lebih cepat. Detak jantung manusia normal berkisar antara 70-80 ketukan per menit. Detak jantung lebih cepat dari angka ini akan memicu dan meningkatkan ketegangan.” Jadi saat kita ingin merasa tenang maka dengarkanlah musik yang bertempo lambat atau lagu-lagu slow.
Sama halnya dengan tokoh Han Yi An ini, sebelum ia melakukan olahraga renang ia akan mendengarkan musik sejenak. Karena musik bisa membantu para atlet dan orang-orang yang suka berolahraga melakukan latihan keras tanpa merasa tertekan. Selain membuat olahraga menjadi lebih menyenangkan sehingga kita dapat menekuni jadwal latihan, musik juga menjauhkan kita dari rasa lelah dan mendorong untuk lebih giat berolahraga dan tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit.

Bagaimana bisa musik yang kita dengarkan bisa memberikan dampak yang sangat luar biasa pada tubuh kita?, bahkan terkadang kita hanya menganggap remeh musik yang kita dengar. Karena hanya memiliki fungsi untuk sekedar mengisi waktu luang dan agar tidak bosan. Namun alangkah lebih bijaknya kalau kita mendengarkan musik yang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita agar dapat memberikan manfaat. Seperti yang dilakukan tokoh Han Yi An ini ia mendengarkan musik untuk mengatur pernapasan dan meningkatkan koordinasi otot-otot pada tubuh atlet tersebut.
Daftar Pustaka :
Merritt, Stephanie. 2003. Simfoni Otak. Bandung:Penerbit Kaifa.

Selasa, 04 April 2017

UTS Bahasa Indonesia Profesi

Kurangnya Fasilitas Sekolah Dapat Mempengaruhi Mutu Pendidikan

Sekolah adalah tempat dimana para orang tua menitipkan anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik setelah pendidikan moral yang dilakukan orang tua di rumah. Orang tua akan memilihkan sekolah yang bagus, memiliki fasilitas lengkap dan mempunyai standart yang tinggi. Bahkan orang tua tidak segan-segan untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang bertaraf internasional. Di tahun 2017 seharusnya sudah banyak sekolah dengan fasilitas yang lengkap, tapi nyatanya di Indonesia bahkan di China masih banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas lengkap. Jangankan ada perpustakaan dengan buku yang banyak atau laboraturium komputer bahkan ada sekolah yang terpaksa menyuruh siswanya berdiri di belakang meja karena tidak adanya kursi di ruang kelas atau sudah rusak dan tidak layak pakai.

Mirisnya, masih banyak sekolah yang tidak sesuai dengan harapan semua orang tua. Sekolah-sekolah terpelosok misalnya, tidak harus ada ruangan ber AC ataupun LCD proyektor untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, dengan adanya guru yang mau mengajar mereka sudah senang. Orang tua selalu ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, namun jika tak mampu apa daya. Penelitian yang dilakukan telah banyak menunjukkan bahwa masih kurangnya fasilitas di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Pemerintah harus berperan aktif untuk memajukan sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun bukan hanya pemerintah yang berperan aktif namun juga sekolah itu sendiri harus merencanakan visi dan misi sekolah tersebut dengan kokoh agar sekolah tersebut dapat menjadi sekolah yang maju.

Menurut hasil wawancara kepada beberapa orang dari kalangan mahasiswa dan siswa SMA mereka sepakat bahwa di Indonesia banyak sekolah yang kurang layak. Sekolah yang layak hanya berada di kota-kota besar yang susah dijangkau oleh kalangan menengah kebawah karena sekolah “bertarif” Internasional. Dan Bagaimana jika fasilitas tidak terpenuhi? Maka jawaban mereka berfariatif, sebagian besar menjawab bahwa kurangnya fasilitas dapat mempengaruhi mutu pendidikan di Indonesia, tapi ada juga yang menjawab kurangnya fasilitas tidak akan mempengaruhi apapun dan yang terpenting adalah kualitas pembelajaran. Dan perubahan yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki kualitas sekolah adalah memeratakan pembangunan dan memperlengkap sekolah dengan fasilitas yang menunjang, membuat siswa betah berada di sekolah dan memperbaiki minat baca yang sudah sangat menurun di kalangan siswa maupun mahasiswa, dan memperbaiki kurikulum agar selalu menunjang mutu pendidikan khususnya di Indonesia.

“Satu permasalahan pokok pendidikan negeri ini adalah mengenai pemerataan akses pendidikan. Banyaknya berbagai jenjang pendidikan formal belum disentuh utuh oleh semua golongan masyarakat. Pendidikan formal seakan semakin menjauh dari masyarakat kecil. Tarif bea masuk sekolah yang tinggi menjadi pemicu jauhnya jarak masyarakat kecil dengan lembaga pendidikan formal. Tidak adanya perbedaan antara sekolah negeri maupun sekolah swasta saat ini, perbedaan yang ada adalah sekolah untuk orang kaya, sekolah untuk orang menegah dan sekolah untuk orang miskin. Gejala segregasi sosial dalam lingkup pendidikan ini bisa terlihat dari munculnya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Satu dari produk kebijakan pendidikan kita yang merupakan efek dari paham kapitalisme.” Sudah dapat dilihat dari kutipan sebelumnya bahwa sekolah untuk orang miskin adalah sekolah yang sangat jauh dari kata layak dan fasilitas yang kurang lengkap akan mempengaruhi mutu pendidikan sekolah tersebut.


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah dengan taraf International akan mencetak generasi muda yang lebih baik dengan kemampuan yang telah diberikan oleh pihak sekolah. Namun mirisnya bahwa sekolah yang ada dipedesaan siswanya akan kalah dengan siswa yang ada di kota yang sudah mempunyai skill yang bak. Disinilah kita sebagai generasi muda Indonesia harus berperan aktif untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan melengkapi fasilitas sekolah-sekolah pelosok.

Daftar Pustaka :
Tim Kreatif LKM UNJ.2011.Restorasi Pendidikan Indonesia.Jogjakarta:AR-RUZZ MEDIA.