Selasa, 31 Maret 2015

Aku Bukan Untukmu By : Julian Dwi M.


Perkenalkan namaku Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi, nama yang panjang memang itulah yang dikatakan orang saat mereka tau nama panjangku, aku lahir di Bandung, 18 Agustus 1997, Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara. Papaku pengusaha yang sedang sukses dan naik daun layaknya artis ibu kota, mamaku wanita karir yang keren, kami tinggal di Bandung daerah yang dulu tempat paling sejuk tapi sekarang adalah kota yang padat penduduk. Disinilah kisahku dimulai...
            Suatu pagi aku mendengarkan sayup-sayup suara memanggil namaku, karna aku belum sepenuhnya sadar dari tidurku.
            “ Lylaaaa.... cepat bangun.” Suara itu terdengar lagi namun suara semakin dekat.
            Seseorang masuk ke kamar tersebut. Dan ternyata itu mamaku, aku menarik selimutku lebih rapat karna hawa dingin yang menyergap.
            “ayo lyl bangun, mama uda mau buatin sarapan. Mama lagi buru-buru ini. Kita harus makan bersama, cepat bangun namun hati-hati nanti jatuh.” Kata mama dan berlalu pergi.
            Aku membuka mataku berlahan, kepalaku sedikit pening. Aku masih mencoba duduk dan bersiap untuk sarapan. Aku berjalan perlahan dan keluar dari kamar aku melangkahkan kakiku dengan berhati-hati. Hanya saja aku takut jatuh dan terluka.
            “ pagi ma.. pa.. abang.. essa..” sapaku dengan senyuman.
            “ pagi sayang, itu rotinya dimakan tapi jangan lupa, hati-hati nanti terluka.” Jawab papaku dengan tersenyum.
            “ ohh iya hari ini guru home schooling kamu datang jangan banyak tingkah patuhi apa yang dikatakan beliau, mama pilihkan guru yang muda agar bisa jadi temen ngobrol kamu juga kalau abang-abang kamu sama essa lagi gak ada dirumah.”
            Aku hanya menatap mama dan tersenyum semanis mungkin meski aku tau ini aku memaksakan senyumku. Sejak SMA aku di larang keras untuk masuk sekolah formal. Aku hanya bisa belajar dirumah, membaca dirumah semua aktifitasku aku lakukan dirumah. Alasanya? Karna takut jatuh dan terluka.
            Aku makan roti bakarku dengan perlahan, apapun yang aku lakukan semuanya perlahan dan tidak boleh tergesah-gesah. Aku sangat bahagia memiliki keluarga yang hangat seperti ini, abang Faisol ( Muhammad Faisol Galih Eka Putra Al Fahriyzie) yang baik dan selalu ngelindungi aku, abang Faisal ( Muhammad Faisal Gandhi Dwi Putra Al Fahrieyzie) yang jail tapi selalu menuruti apa yang adik-adiknya mau, ya dan mereka berdua kembar. Aku punya adik kecil yang lucu tapi desawa dari pada aku Essa ( Herlina Ganessa Catur Putri Al Fahriyzie). Punya mama dan papa yang sayang sama aku, yang selalu perhatian dan aku sangat-sangat bahagia, yah meski orang tuaku sering keluar kota ataupun keluar negeri untuk urusan bisnis dan lain-lainnya.
            Satu jam kemudian.... hanya tinggal aku sendiri, sebenarnya tidak benar-benar sendiri masih ada pak satpam, tukang kebun, dan beberapa asisten rumah tangga. Aku menunggu guru privatku datang, dengan duduk di gazebo dekat kolam renang tempat belajar favoritku. Dengan air yang jernih pepohonan yang rindang dan semua kenyamanan hidup ada di tempat ini. Aku mulai membaca buku-buku pelajaran yang kadang membuat kepalaku pusing.
            “Lyla?” sapa suara lembut yang ada dihadapanku.
            Aku sedikit mengalihkan pandanganku kesuara itu berasal. Seorang wanita berparas cantik, sorot matanya tajam namun teduh dan bahasa tubuhnya mengatakan bahwa ia adalah seorang yang cerdas. “ Ahh iya, anda guru privat saya yang baru?” tanyaku sebisa mungkin dengan sopan.
            “ perkenalkan nama saya Malika, kamu bisa panggil bu Malika,atau kakak. Kan umur saya belum terlalu tua.” Candanya di sela-sela perkenalannya, aku tersenyum dan mempersilahkan guru privatku duduk di sebelahku. “ hari ini kita mau belajar langsung apa sekedar ngobrol-ngobrol saja? Namun saya rasa kamu sudah siap untuk belajar.”
            “ saya pikir kak Malika orang yang menyenangkan. Dan saya rasa langsung belajar saja karna sudah ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada kakak.” Aku memutuskan untuk memanggilnya kakak karna aku rasa umurnya tak jauh beda dengan abang-abangku. Ia hanya melemparkan senyuman manis dan menjawab pertanyaan yang aku ajukan.
***
            2 bulan kemudian, susana makan malam hari ini sedikit berbeda, semua makan dalam diam. “ begini...” itulah kata yang papa ucapkan pertama saat makan malam hampir selesai. “ Papa dan Mama harus mengurus bisnis kita yang ada di Bali, dan kami berdua tidak mungkin meninggalkan kalian tanpa pengawasan, jadi kalian harus ikut semua ke Bali tanpa terkecuali. Kalian harus transfer sekolah, Ical sama Icol harus transfer universitas di Bali. Dan kami akan urus semuanya dalam 2 Minggu kita berangkat ke Bali.”
            “ Pa, papa gak bisa dong seperti itu, aku baru saja adaptasi masuk ITB sekarang aku harus transfer ke Bali. Gimana kalau Lyla dan Essa yang ikut, aku sama Ical tetep di Bandung.” Kata bang Icol tak setuju dengan rencana papa.
            “ Icol sayang, maaf kami tidak ada pilihan lain, kami belum tega meninggalkan kalian berdua di Bandung sendirian. Kami tak tega sayang.” Kata mama dengan lembutnya memberi pengertian ke bang Icol.
            “ mama, kami sudah dewasa kami bisa jaga sendiri, toh jarak Bandung Bali gak sejauh ke Malaysiakan, kalian bisa menengok kita kapanpun kalian mau, kami janji saat kami tak bersama kalian kami tidak akan menjadi anak yang nakal.” Bang Ical angkat bicara.
            Papa melempar sendok dan garpu yang Ia pegang hingga terdengar bunyi dentingan keras. “ cukup !! kalian tidak punya pilihan, kalian keluar dari rumah ini atau kalian ikut Papa ke Bali. Dan papa jamin kalau kalian masih keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah papa dan mama kalian berdua khususnya tidak akan papa sekolahkan. Jadi intinya kalian harus pindah ke Bali tanpa terkecuali.” Ucap papa dengan amarah dan meninggalkan kami berlima di meja makan.
            Aku hanya bisa terdiam tanpa suara, aku baru beradaptasi dengan kak Malika, guru muda yang baik dan cerdas, bisa di ajak curhat. Namun aku tau papa berbuat begini karna beliau sayang dengan kita semua.
            “ Icol, Ical, Lyla dan Essa. Kalian bisa mengertikan ? maksud papa sama mama ini baik jadi kalian tolong kerja samanya ini demi kebaikan kalian.” kata mama dengan tatapan nanar.
            “ apa kalau Lyla ikut kalian Lyla bisa masuk sekolah formal? Bukannya di Bali banyak bule, pasti di rumah sakit Bali akan tersedia Golongan darah istimewa yang Lyla miliki. Jadi kalaupun Lyla terluka penanganan akan jauh lebih cepat kan?” tanyaku dengan nada rindukan kebebasan.
            “ nanti mama sapa papa pertimbangkan dulu.” Kata mama dan berlalu pergi.
            Kami hanya bisa saling menatap pasrah, aku menatap abang-abangku yang kecewa, begitupun dengan essa yang kecewa juga tentunya. Aku tau mereka punya banyak teman di sekolahnya, tapi meski aku hanya bisa home schooling tapi aku juga akan kehilangan guru privatku.
            Kami mulai berkemas hanya dalam waktu dua minggu, kak Malika kini yang biasanya hanya datang seminggu 3 kali karna keinginanku kak Malika jadi datang kerumah setiap hari memberikan pengetahuan yang aku inginkan, tidak hanya itu kadang kak Malika juga membantu mengepak barang-barangku.
            Sudah banyak kardus-kardus yang tersusun rapi di ruang keluarga, sebagian sudah dikirim ke rumah baru kami di Bali, namun masih saja banyak kardus-kardus yang menumpuk. Dan waktu kurang satu minggu sebelum keberangkatan. Abang-abangku jadi sering pulang malam karna sering main dengan teman-teman alasannya sih harus salam perpisahan gitu katanya. Mungkin hanya aku yang tidak harus mengucap salam perpisahan, karna aku tak punya teman selain Kak Malika, dan mungkin teman-teman SMPku sudah lupa dengan aku yang jarang masuk sekolah dulu waktu SMP. Papa dan Mama setuju kalau aku di Bali akan masuk ke sekolah formal, aku masuk Di SMA Negeri 1 Denpasar Bali. Abang-abangku di transfer ke Universitas Udayana Bali, Essa ke SMP Negeri 4 Denpasar Bali yang dekat dengan perumahan kami nantinya, itu sih kata mama dan papa.
            Aku berharap aku bisa menjadi anak normal pada umumnya, merasakan sekolah, jalan-jalan ke mall, ke pantai, piknik bareng, study tour, wisata dengan teman-teman sekelas ataupun yang paling aku inginkan merasakan cinta. Selama ini aku hanya tau cinta dari ftv dan drama-drama yang aku lihat. Bahagia sekali merasakan cinta dari lawan jenis kita. Abang Faisol penah bilang kalau kita sedang jatuh cinta kita akan susah tidur kita akan selalu kepikiran orang yang sedang kita cintai. Kalau kata Bang Faisal, kalau sedang jatuh cinta kita akan tidak enak makan, senyum-senyum sendiri, dan selalu bersemangat. Dan aku ingin merasakan itu semua aku ingin merasakan cinta.
            Tiba saat keberangkatan ke Bali, kami sekeluarga dan asisten rumah tangga kami yang ikut serta diboyong ke pulau Dewata sudah ada di Bandara internasional Halim Perdana Kusuma, ini bukan penerbangan kali pertama untukku atau saudara-saudaraku, Jadi aku merasa rileks dan biasa saja, namun mbak Ipeh asisten rumah tangga kami baru kali pertama naik yang namanya pesawat saat kita masih menunggu keberangkatan mbak Ipeh uda sering bolak balik ke toilet. Aku mencoba untuk membuat mbak Ipeh tenang namun tak berhasil.
            4 jam kemudian .....
            Yah kami landing di bandara Internasional I Ngurah Rai, hawa panas menyergap, kurapatkan jaketku dan topi yang aku kenakan agar tidak terkena sinar mataharinya yang terik, sopir baru kami sudah datang menjeput tepat di pintu kedatangan, sopir itu membantu memasukkan koper-koper kami kedalam bagasi mobil, dan kami segera masuk ke mobil untuk langsung ke rumah baru.
            “ nanti kalian bisa jalan-jalan ke pantai Kuta, ke Sanur, ke GWK juga. Pokoknya disini papa kasih kalian ke bebasan untuk jalan-jalan atau kalian mau ke Lombok untuk berlibur? Papa siapkan akomondasinya. Ini hadiah papa untuk kalian, karna kalian sudah mau ikut pindah ke Bali.” Kata papa dengan tersenyum lebar. Aku dapat melihatnya dari kaca sepion.
            “ termasuk Lyla pa? Apa Lyla boleh jalan-jalan sampe Lyla puas?” tanyaku dengan suara bergetar.
            “ yah mungkin, kamu masih harus dalam pengawasan kami, tapi asal kamu mau janji kamu akan baik-baik saja, papa akan mengizinkan.”
            “ papa yakin? Papa akan mengizinkan Lyla pergi kemana saja yang Lyla mau?” tanyaku dengan mata berbinar dan senyum lebar kali ini.
            “ ya papa akan mengizinkan, tapi tetap dengan pengawasan.”
            Aku hanya tersenyum dan seakan mengucapkan terima kasih sangat sulit, hanya bisa tersenyum dan tersenyum bahagia. Kami tinggal di komplek perumahan Elit di Denpasar, menurut papa ini perumahan dekat dengan pusat kota yang akan memudahkan kita kalau kita mau kemana-mana dekat dengan sekolah, dekat dengan Hotel papa dan mama bekerja, dekat dengan kampus abang-abangku.
            Kita sampai di rumah baru kami, aku memilih kamar yang memiliki balkon, dan ternyata kamar ini telah di desain sesuai keinginanku, temboknya bercat biru muda, dan langit-langitnya diserupakan langit malam yang penuh bintang. Kamar ini juga didesain dengan pintu yang saling menhubung ke kamar sebelah, sebelah kananku kamar bang Faisol dan bang Faisal, sebelah kiri kamar adikku Essa, kamar mama dan papa ada di lantai bawah, dan kamar tamu juga ada di lantai bawah. Rumah ini sangat megah jauh lebih megah dari rumah kami di Bandung. Rumah ini juga ada perpustakaan mini yang sudah di lengkapi dengan sofa yang nyaman untuk membaca, kolam renang dan taman yang luas. Namun halaman depannya tidak terlalu luas. Nampaknya papa dan mama mendesain rumah ini agar kami nyaman tinggal di dalamnya. Setelah kurasa lelah mengelilingi rumah untuk melihat ruangan-ruangan yang ada kini saatnya aku beristirahat di kamarku sambil menatap langit-langit kamar yang elok.
            Papa tau kalau aku suka dengan langit malam dan isinya, benda langit yang paling aku suka dan hanya ada di malam hari adalah bintang. Aku suka bintang yang menurutku kalau aku sedang melihat mereka dilangit luas aku merasa tenang dan damai seakan masalah yang ada pada diriku hilang.
***
            Hari ini adalah hari pertama kami beraktifitas di pulau Dewata yang katanya surganya Indonesia ini. Aku suka melihat diriku di bayangan kaca, rambutku terkuncir kuda rapi dengan memakai setelan seragam putih abu-abu dan dasi yang sudah terpasang dileherku, dengan lengan pendek dan rok span di bawah lutut. Aku membawa buku-buku yang telah disiapkan oleh papa kemarin malam, aku bahagia bisa masuk ke sekolah formal hari ini. Aku baru kelas X / sepuluh tahun ini, aku turun dari kamarku dengan tas punggung yang hanya aku pakai sebelah saja. Aku duduk di meja makan dengan tersenyum.
            “ cie akhirnya masuk sekolah formal lagi.” Goda bang Icol yang aku tanggapi dengan meringis kecil. Aku mulai memakan roti yang ada di hadapanku.
            “ Lyla mama uda bilang ke kepala sekolah dan guru olahraga kamu, kalau kamu tak harus ikut olahraga, di tas sudah ada obat-obatan yang kamu perlukan kan? Nanti mama siapkan di mobil juga, biar kamu ga ribet bawa obat  kamu titipin di lemari pendingin di kantin kan bisa. Ohh iya hati-hati jangan sampai jatuh dan terluka. Kalau uda pulang langsung pulang kalau mau jalan-jalan sama teman kamu bilang mama ya.” Tutur mama panjang lebar pagi ini, aku hanya bisa menjawab dengan kata iya, iya dan iya.
            Setelah Essa turun dari mobil, saatnya aku yang menuju ke sekolahku. Tak jauh dari sekolah Essa. Saat sampai pak Ketut supir baru keluarga kami mengantarku sampai depan gerbang, saat masih di gerbang sudah banyak mata yang menatapku dan berkasak-kusuk hebat. Aku melemparkan senyuman kearah pak Ketut untuk meninggalkanku. Aku berjalan sepelan mungkin menuju ruang kepala sekolah. Dan saat bel masuk aku diantar ke kelas baruku, menyusuri lorong-lorong yang ada di sekolah ini.
            “ kamu baik-baik saja Lyla? Kalau kamu merasa lelah berjalan kita bisa beristirahat sebentar.” Tanya kepala sekolah kepadaku dengan tatapan khawatir, aku hanya tersenyum dan menggelangkan kepalaku menandakan aku tidak apa-apa.
            Beberapa saat aku menunggu di depan kelas lalu kepala sekolah mempersilahkan aku masuk ke kelas tersebut. Riuh rendah terdengar oleh telinga kecilku, banyak yang mulai berkasak-kusuk hebat.
            “ hai semua, perkenalkan namaku Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzie, bisa di panggil Lyla singkatnya, aku pindahan dari Bandung semoga kita bisa berteman ya.” Sapaku untuk yang pertama tak lupa senyuman termanis yang aku punya aku persembahkan untuk mereka.
            “ ada yang ditanyakan kepada Lyla?” tanya Pak Made kepala sekolah yang masih setia berdiri disebelahku. Mataku menangkap gerakan tangan yang diacungkan ke atas, kepala sekolah lalu mempersilahkan pemilik tangan tersebut bertanya.
            “apa kamu di sekolah lamamu juara kelas?” katanya, aku bingung menjawab karna selama ini aku hanya home schooling yang tidak ada penilaian juara kelas.
            “ maaf sebelumnya, aku baru saja masuk high school, sebelumnya aku adalah siswa home schooling jadi aku belum pernah merasakan jadi juara kelas selama high school.”
            “ sudahlah Vin, kamu ini gak seru banget sih dia kan baru masuk ke SMA kita masa uda di tanyain hal yang berat-berat sih, kamu takut salah saing?” Celoteh anak lelaki di belakangnya. Anak yang mengacungkan tangan tadi yang ternyata namanya Kevin hanya tersenyum sinis. Aku yakin dia anak yang selalu menjadi juara kelas.
            “ oke cukup, Lyla silahkan kamu duduk di bangku yang kosong. Oh iya tolong hati-hati ya.” Kata pak Made lalu keluar dari kelas, kata “hati-hati” tidak akan pernah terlupa dari pikiranku, dan sekarang kepala sekolah juga akan memperingatkanku. Aku berjalan menatap bangku yang kosong di tengah kelas, aku tersenyum kepada teman di sampingku yang ternyata seorang anak perempuan yang manis menurutku. Dan hari-hari menyenangkan di sekolah formal di mulai...
            Saat istirahat aku membawa sebuah termos kecil yang berisi obat-obatan yang di import langsung dari Amerika, aku berniat menitipkan termos itu di kantin sekolah.
            “ ibu permisi kenalin nama saya Lyla saya siswa baru bu, saya boleh titip sesuatu di lemari pendingin itu?.” Kataku sambil menunjung lemari pendingin yang ada di sebelah etalase toko tersebut.
            “ ohh iya neng, nama saya bu Mitro, silahkan neng tak papa kok. Neng taruk aja di bagian belakang yang paling bawah agar tak ada yang tertarik dengan termos itu.” Sapanya dengan ramah.
            “ iya bu, tolong kalau ada yang mau buka jangan di bolehin ya bu. Ini penting buat saya, soalnya kalau ga di simpan di tempat yang dingin takutnya rusak. Ohh iya ini buat bonus menjaga termos saya.” Aku mengeluarkan uang seratus ribu untuk memberi imbalan jasa.
            “ tidak perlu neng, saya ikhlas kok.” Kata bu mitro dengan mendorong uang yang aku berikan.
            “ begini saja bu saya beli minuman ini uangnya.” Kataku sambil mengambil sebotol minuman dari lemari itu juga lalu saat bu Mitro sibuk mencarikan uang kembalian aku langsung pergi dari kantin tersebut. Sudut mataku melihat bu Mitro menggelang-gelangkan kepala.
            Aku hanya bisa duduk di kelas yang menjagaku tetap aman dari segala gangguan yang ada di sekolah ini yang bisa membuat aku terluka. Seseorang berdiri dihadapanku aku tau saat aku sedang konsentrasi dengan bukuku. Ada sepatu yang berhenti tepat di sebelah mejaku, aku mendongak ke atas dan melihat siapa yang datang, ternyata ada seorang laki-laki yang berdiri dihadapanku dengan badan yang tegap dan atletis yang sedang menjulurkan tangan ke arahku.
            “ kamu anak barukan? yang tadi aku lihat sedang ngobrol dengan Bu Mitro di kantin? Kenalin aku Nico, Aditya Nico Arif Prayoga.” Ucapnya berusaha mengajakku bersalaman. Aku tersenyum dan menerima tangan itu dan ku genggam tangannya yang ternyata sangat hangat.
            “ iya aku anak baru, panggil saja Lyla.” Aku masih tersenyum menatapnya, saat aku melepas tangannya tiba-tiba dia duduk di bangku depan menghadap kearahku.
            “ kenapa kamu disini? Kamu belum bisa bersosialisasi ya sama yang lain?” tanyanya lagi.
            Aku menatap matanya dan tersenyum lagi , “ tidak, bukan begitu aku bisa berteman dengan siapa saja. Hanya aku takut untuk keluar karna banyak resiko untukku.”
            “resiko? Resiko apa?” tanyanya menyelidik.
            Lagi-lagi aku hanya tersenyum dan mengeluarkan kalung perak bertulisan pasien Von Willebrand Diases, aku tau Nico sedang membaca kalung itu lalu tak berapa lama aku kembalikan kalung yang melingkar dileherku masuk kedalam bajuku. Kulihat raut wajah bingungnya menatapku penuh tanya. “ sebelumnya aku tak pernah menceritakan ini pada siapapun, tapi tak tau kenapa aku percaya sama kamu jadi janji ya jangan bilang siapa-siapa tentang ini. Aku sakit Co aku pengidap von willebrand diases, ketika aku terluka darahku akan sukar membeku bisa-bisa terjadi pendarahan yang berlebihan, ini kelainan darah yang diturunkan dan nenekku adalah salah satu pasien VWD sampai akhirnya 10 tahun yang lalu nenek meninggal.” Aku bercerita dengan mata sedikit berkaca-kaca.
            Nico menatapku lama penuh tanya, seakan masih tak percaya kalau aku sakit. “ lalu apa yang terjadi jika pendarahan yang berlebihan?” tanyanya masih dengan muka yang penuh tanya.
            “ Aku membutuhkan tranfusi darah minimal, maksimalnya aku meninggal dunia karna kehilangan banyak darah. Inilah sebab aku tak mau keluar kelas bukan karna aku tak bisa bersosialisasi tapi karna aku takut terluka, sebelumnya aku tak menceritakan karna aku takut mereka semua akan jijik melihatku dan pergi menjauh.” Jawabku dengan singkat.
            “ tapi kenapa kamu menceritakan ini ke aku apa kamu tak takut kalau aku jijik padamu dan pergi menjauh?”
            “ silahkan kalau kau mau menjauh dariku sekarang aku tak apa, yang aku minta padamu jangan bilang pada teman-teman yang lain, kamu bisakan?” tanyaku penuh kekhawatiran seharusnya aku tak pernah cerita pada siapapun, sedikit ada penyesalan pada hatiku karna telah bercerita pada orang yang baru aku kenal.
            Kini aku dapat melihat bibir Nico sedikit terangkat keatas menandakan dia sedang tersenyum. “ Aku tak akan menjauhimu, aku tetap ingin berteman denganmu gadis yang berparas cantik, dan aku janji aku tak akan pernah bilang tentang keadaanmu kepada orang lain.” Jawab nico dengan tersenyum lebar, kini aku sedikit lega dengan apa yang baru saja ia bicarakan dan aku bisa tersenyum lega.
            Pulang sekolah Nico mengantarku sampai gerbang dan aku langsung masuk mobil, kusempatkan untuk melambaikan tangan padanya teman yang membuat aku nyaman. Saat mobil berjalan sejenak aku melihat kebelakang dan Nico masih memperhatikan sampai mobilku hilang dari pandangannya.
            “Gadis yang menarik.” Desah Nico saat mobilku hilang dari pandangannya.
***
            Hari minggu ini abang-abang mengajakku dan Essa berjalan-jalan di sekitar pantai Kuta Bali, saat semua ke pantai dengan pakaian pendek aku malah menggunakan pakaian serba tertutup dan topi. Tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk bersenang-senang, aku mau bersenang-senang seharian ini.
            “ Lyla kamu jalannya kecepetan” teriak abangku memperingatkan.
            “ Lyla terlalu bersemangat bang, sekarang Lyla akan pelan-pelan.” Jawabku dengan memperlambat jalanku sangat lambat sekali.
            Kugunakan waktu sejenak untuk beristirahat di pinggir pantai duduk sambil menikmati pemandangan dan melihat orang lalu lalang dihadapanku. Essa sedang berlari-lari ke bibir pantai dan bermain dengan ombak bersama bang Ical, sedangkan bang Icol mencarikan minuman untuk kami dan alhasil aku sendirian duduk memperhatikan mereka semua. Tak lama aku duduk ada seseorang yang ikut duduk denganku aku menoleh dan terkejut ternyata Nico sedang duduk di sampingku.
            “ hai, kenapa kamu sendirian disini?” tanyanya tanpa memandangku.
            Aku masih mengatasi rasa terkejutku dan tersenyum “ aku tidak sendirian aku bersama saudara-saudaraku, kau lihat dua orang yang sedang bermain disana? Mereka adalah kakak dan adikku, tapi kakakku sulungku masih membelikan kami minuman dan belum kembali.” Kataku sambil menunjuk Essa dan Bang Icol yang sedang tertawa lepas aku terdiam sejenak . “ lalu kenapa kau disini sendirian? Apa yang kamu lakukan disini?” kataku berbalik bertanya.
            “ setiap Minggu aku memang selalu kesini untuk berlari-lari saja, lalu tadi tak sengaja aku melihatmu bersama saudara-saudramu aku dari tadi mengekor jauh di belakangmu, namun kau tak sadar kalau aku membuntutimu.” Jawab Nico.
            Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku tanda mengerti beberapa saat kami diam dalam pikiran masing-masing. Dan bang Icol datang dengan beberapa bungkus plastik di tangannya. “lama banget bang belinya, jauh yah belinya?” kataku dengan melihat barang bawaan bang Icol. Bang Icol melihat Nico lalu melihatku, aku mengerti arti tatapan itu. “Kenalin bang ini temen di Sekolah namanya Nico, Nico ini abang aku Bang Icol.” Mereka saling berjabat tangan dan tersenyum.
            “ ini minuman buat Nico, tadi aku beli lebih.” Kata abangku dengan memberikan kaleng soft drink pada Nico.
            “ Makasih kak, seharusnya kakak gak perlu repot-repot.” Nico menyambut soft drink tersebut. Bang Icol memberikan satu minuman susu kesukaanku dan membukanya untukku. Setelah dipanggilnya bang Ical dan Essa supaya mendekat kearah kami. Nico sempat bingung melihat Bang Ical dan Bang Icol yang kembar.
            “ kalo ini abangku yang kedua namanya Bang Ical dan ini adik paling kecil namanya Essa, yah sepertinya kamu bingung Nico, Bang Ical sama Bang Icol ini kembar, kembar identik malah. Jadi susah untuk dibedakan bagi orang yang tak pernah melihat mereka berdua.” Kataku seolah sudah menghapus pertanyaan yang ada di muka Nico.
            Akhirnya kami berlima berjalan-jalan sampai parkiran mobil , sudah saatnya kami pulang abang Icol sempat menawarkan untuk Nico pulang bersama kami tapi ternyata Nico menolaknya dengan halus karna Nico membawa sepeda motor yang diparkirnya tak jauh dari mobil kami. Aku sempat melambaikan tangan pada Nico sebelum ia pergi dan menghilang dari pandanganku. Setelah melambaikan tangan tak tau mengapa kepalaku mendadak pusing dan akhirnya pandanganku gelap lalu aku pingsan dan bang Icol yang membopongku kedalam mobil.
            Saat sadar aku sudah ada dikamarku, aku melihat sekelilingku kepalaku masih terasa pening, aku melihat saudara-saudaraku berada disisiku aku tersenyum “ maaf ya bang lyla begini lagi.” Ucapku pertama kali saat aku tersadar dari pingsanku. Aku melihat muka saudara-saudaraku yang khawatir dengan keadaanku. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang menusuk di sendi-sendi kakiku aku meliriknya dan ternyata kakiku sedang di kompres dengan air es karna kakiku sudah sedikit membengkak, mungkin ini karena aku kelelahan.
            “ untung hanya membengkak dan tak ada yang fatal.” Kata bang Ical saat atau melihat kakiku yang membengkak, mungkin ini sudah kesekian kalinya kakiku membengkak seperti ini.
            Aku kembali memejamkan mata menikmati dingin yang menusuk disetiap sendiku, aku selalu berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali, semakin lama rasa dinginnya hilang hanya terlihat bekas lebam. Aku mencoba menggerakan kakiku dengan perlahan ini yang aku lakukan saat kakiku sudah tak bengkak lagi.
            Saat bang Icol melihatku keluar dari kamar ia berusaha membantuku, aku meliriknya dan tersenyum. “ besok jangan masuk sekolah ya aku takut kamu kenapa-kenapa dek.” Katanya dengan raut muka yang khawatir.
            Aku menggelengkan kepalaku pelan “ Lyla mau masuk bang, Lyla tak mau tertinggal pelajaran lagi.” Jawabku dengan berjalan tertatih.
            Aku tau aku egois, ini karna aku tak mau kejadian saat SMP kembali terulang. Tak ada yang mengenalku di sekolah aku hanya punya sedikit teman, sangat menjengkelkan saat aku sendirian.
            Saat malam tiba setelah mencoba belajar dan membaca beberapa buku aku keluar dari kamar duduk di balkon depan kamarku memandang ke langit malam yang luas, menatap bintang yang bertaburan dengan hiasan bulan sabit yang tersenyum, lalu tiba-tiba bayangan Nico menari-nari di kepalaku. Aku tak tau mengapa ini terjadi aku tak tau mengapa Nico yang ada dikepalaku saat ini, aku mencoba menyingkirkan dia dari fikiranku saat ini. Kucoba menatap bintang lagi menenangkan pikiranku yang agaknya sedikit terombang ambing. Apa mungkin aku sedang merasakan apa yang orang sebut dengan namanya jatuh cinta.
***
            Aku memutuskan untuk tidak masuk hari ini, karna kakiku sangat sakit jika di gerakkan terlalu lama, ini kali pertamaku tak masuk sekolah di sekolah baruku. Ada sedikit ke khawatiran yang ada di benakku. Tadi sekitar jam 8 pagi Nico mengirim sms padaku kenapa hari ini aku tak masuk dan ada juga beberapa teman yang sms, aku heran mereka tau nomerku dari mana? yang aku tau aku hanya memberikan nomerku pada Nico. Aku senang saat mereka mengirimkan pesan padaku karna aku tau kalau mereka sedang memperhatikanku. Kubalas satu-satu pesan mereka dengan sabar dan dengan hati senang.
            Dari : Putra
Lyla kamu kenapa gak masuk hari ini? Kan aku jadi tak bisa melihat senyummu hari ini L
            Dari : Michael
                        Kamu hari ini kemana? Kelas sepi tanpamu :3 cepat sembuh yaa.... ({})
            Dari : Susan
Lyl, kenapa ga masuk? Kamu sakit ya? Cepat sembuh ya ... aku sendirian ga ada temen sebangku jadi garing nihh.. J
            Dari : Nico
Kamu kecapekan ya gara-gara kemarin sampai kamu hari ini gak masuk? nanti malem kalo sempet aku telpon deh, kamu gapapakan? Jangan sakit-sakit ya, kalau kamu masuk aku akan jaga kamu agar tak terluka, miss you Neng ... :*
            Dari semua pesan yang dikirimkan teman-temanku mungkin hanya pesan Nico yang menarik untuk kubaca berulang-ulang, dia memanggilku ‘neng’ lagi. Aku tak tau apa hubunganku dengan Nico tapi aku merasa nyaman, aku nyaman dengan apa yang ia lakukan untukku, aku membaca kembali pesan Nico lalu tersenyum dan akhirnya kubalas pesan singkat tersebut.
            Saat malam tiba setelah abangku mengantar makan malam dan obat yang harus kuteguk, akhirnya seseorang yang kutunggu memberi ku kabar dengan menelponku, aku tersenyum melihat layar handphoneku yang sedang menyala. Kuangkat dengan segera dan hati gembira.
            “halo.” Kataku memberi awal pembukaan
            “ halo Lyl, gimana udah baikan?” jawab Nico dari sebrang telpon
            “ ehh uda kok Co, besok mungkin juga uda masuk sekolah.”
            “ emang sakitnya yang mana sih?”
            “ ya Cuma nyeri aja di persendian kaki, jadi buat jalan susah tapi ini uda baikan kok.”
            “ ohh, yakin uda bisa jalan? Kalau ga bisa jalan jangan paksain deh dari pada makin parah neng.”
            Eh, aku terdiam sejenak dia manggil aku neng rasanya jantungku langsung meloncos keluar dari raga lalu kembali. “ aku gak papa kok, yakin deh suwer.” Jawabku dengan cepat agar suaraku tak terdengar bergetar. Karna tiba-tiba ada getaran berbeda dalam dadaku.
            Selanjutnya Nico bercerita dengan keadaan kelasnya yang selalu ramai membicarakanku, karna aku dan Nico tidak satu kelas. Dan Nico bercerita betapa dia bahagianya bisa dekat denganku, aku pun juga bahagia dekat dengannya kataku dalam hati. Hampir 2 jam kami mengobrol ditelpon tertawa bersama, saling bercerita satu sama lain meskipun aku tau yang banyak bercerita adalah Nico aku hanya mendengarkan saja.
            “ uda ya neng, uda malem kamu juga harus istirahat. Makasih ya uda mau ngobrol sama aku neng, besok kalau kamu uda masuk aku tungguin di gerbang deh. Kan aku uda janji aku bakalan jagain kamu, selamat malam neng.” Kata nico dan aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat malam. Kumatikan telponnya lalu aku tidur dengan tersenyum.
***
            Pagi-pagi ternyata Nico sesuai dengan janjinya kemarin malam, dia sudah ada di gerbang sekolah menungguku. Saat aku turun dari mobil di bantu oleh pak Ketut sedetik kemudian Nico sudah di depanku menjulurkan tangannya kusambut tangan yang hangat itu dengan tersenyum, saat jalan di koridor sekolah yang sudah agak ramai aku berjalan dibelakang Nico, dia seperti tameng berjalan untukku agar aku tak tersenggol oleh teman-teman yang lain. Tatapan yang berbeda-beda kudapat pagi ini, ada yang terkejut dan ada tatapan tak suka padaku, aku mempererat peganganku pada lengan baju Nico, saat Nico sadar jika aku memegang erat lengannya dia menoleh kearahku, aku hanya tersenyum dan menggeleng lalu kembali berjalan dengan pelan ke kelas. Yang aku syukuri adalah teman-teman kelas tetap tersenyum melihatku datang, setelah bilang terima kasih ke Nico aku duduk di bangkuku dan Nico berlalu pergi.
            “ kamu uda baikan Lyl?” tanya Susan teman satu bangkuku.
            “ sudah kok San, kemarin Cuma kecapekan aja jadi ga bisa bangun dari tempat tidur, sekarang udah ga papa kok seperti yang kamu lihat.” Kataku dengan tersenyum.
            “ kok tadi bisa dianterin Nico sih Lyl?” kali ini Putra yang angkat bicara.
            “ iya kemarin memang uda janjian di gerbang sama Nico, ya uda deh tadi Nico nganterin ke kelas juga sekalian.” Jawabku dengan menatap Putra.
            “ eh, Lyl kamu kira Nico itu bodyguardmu apa? Masa iya Nico jalan di depan kamu kaya jadi tameng kamu. Kamu kira kamu siapa?” kata-kata dari Micel sedikit menyinggungku dan mengusik hatiku.
            Beberapa saat aku terdiam lalu tersenyum kearah suara itu berasal. “ aku memang bukan siapa-siapa Nico. Tapi dia sendiri yang berjalan di depanku, dan aku tidak pernah mengganggapnya sebagai pengawal pribadiku atau apalah itu namanya, dia hanya temanku.” Jawabku dengan tegas namun tetap tersenyum.
            “ eh, Micel terserah Nico dong mau jalan di depan kek, atau dimanalah, kan yang punya kaki Nico bukan kamu, kamu cemburu ya? Kan kamu dari dulu suka Nico.” Kata Kevin dengan ucapan pedasnya dan disusul dengan tawa anak-anak satu kelas. Aku melihat muka Micel merah sekarang sangking malunya mungkin. Aku Cuma tersenyum dan mengeluarkan beberapa bukuku untuk kubaca.
            Bel pulang berbunyi yang disambut lega oleh murid-murid lainnya. Aku merasa lelah karna pelajaran matematika ini membuat kepalaku pusing, andai saja ada kak Malika yang akan membatu mengerjakan soal dengan cara mudah dan cepat pikirku, ahh aku merindukannya. Nico sudah stay depan ruangan kelas, aku menunggu yang lain keluar dulu agar aku tak tersenggol sana-sini. Saat ruang kelas sudah kosong aku berjalan menuju Nico berdiri.           
            “ aku mau berjalan disampingmu, aku tak mau berjalan di belakangmu.” Kataku dengan nama yang sedikit lain dari biasanya.
            “ loh memangnya kenapa kalau aku jalan di depanmu, aku menjagamu agar kamu tak tersenggol anak-anak saat mereka sedang menggerumbul, aku memberikan jalan padamu.” Jawab Nico heran.
            “ aku hanya tak ingin mereka salah paham dengan hubungan kita, Micel sudah cemburu dengan sikap kamu yang seperti ini ke aku, aku Cuma pengen teman disini bukan musuh Nico.” Aku hanya bisa menatap ujung sepatuku untuk menyembunyikan perasaanku.
            Nico memegang pipiku dengan kedua tangannya dan rasa hangat merasuk kedalam relungku seketika, “ neng, aku tak peduli apa yang mereka bilang tentang kita, aku tak peduli mereka membicarakanku seperti apa. Aku hanya ingin menjadi teman yang baik buat kamu.” Nico tersenyum dan ia mulai berjalan didepanku dengan pelan akupun mulai mengekor di belakangnya.
***
            Bulan agustus datang, inilah saat bahagiaku juga datang ini adalah bulan kelahiranku yah aku tak sabar untuk merayakan ulang tahunku. Sudah satu bulan saat kepindahan kami ke Bali. Tak ada yang berubah mungkin orang tuaku sedang sibuk-sibuknya di Hotel dan cotage cotage yang mereka kelolah, aku juga sudah beberapa kali tidak masuk sekolah karna penyakitku. Dulu aku ingat saat baru dua minggu masuk sekolah, teman-teman menanyakan kenapa aku selalu menghilang saat pelajaran olahraga di lapangan, saat jam olahraga aku pergi keperpustakaan untuk membaca buku apapun yang menurutku menarik.
            Hubunganku dengan Nico yah kita masih berteman setelah satu bulan ini, mungkin kita sedang ada di zona nyaman berteman mungkin. Tapi aku selalu bersyukur dengan apa yang kudapat saat ini. Hari ini hari minggu dan aku hanya berdiam dikamar, aku rasanya sedang lelah dan tak ingin kemana-mana. Kuhabiskan waktuku untuk tiduran, membaca buku, ke kamar mandi, kembali ke tempat tidur yah kegiatan yang monoton.
            Bulan ini juga bertepatan dengan bulan Ramadhan bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan. Karna di sekolahku mayoritas beragama hindu jadi sampai H-3 menjelang Hari Raya Idul Fitri sekolah belum juga diliburkan, tetapi yang umat muslim sudah boleh libur, aku dan keluargaku pulang ke Bandung dan merayakan lebaran bersama sanak saudara kami yang ada di Bandung dan daerah sekitar. Nico? Em Nico balik ke Malang yah dia berasal dari kota Malang, dan Nico muslim.
            Kami selalu saling mengingatkan untuk makan sahur, saat berbuka juga kami saling menghubungi. Sebenarnya aku tidak dianjurkan untuk puasa karna dapat mengganggu kesehatanku, tapi karna aku ingin menjadi umat Tuhan yang baik jadinya aku ikut berpuasa. Kadang setelah sholat tarawih aku dan Nico tak jarang telfon-telfonan sampai malam.
            Sampai pada akhirnya tanggal 17 Agustus 2012, Nico memberiku pesan singkat bahwa ia akan menyatakan perasaanya pada seorang wanita yang ia suka di Malang, aku merasa terpukul? Iya pasti, aku kecewa ternyata rasaku untuknya bertepuk sebelah tangan. Tapi aku tetap tegar dan tak ingin menangis, aku kacau sangat kacau.
            Keesokan harinya Nico menelponku pagi-pagi selain untuk membangunkan aku sahur ia juga mengucapkan selamat ulang tahun padaku, ini adalah hari bahagiaku dilahirkan di dunia. Aku tak ingin mengingat-ingat kejadian kemarin saat aku kacau hari ini aku ingin bersenang-senang. Sebenarnya tak ada acara spesial untuk ulang tahunku yang ke 15 tahun hanya ada acara buka puasa dengan keluarga kecilku.
            Dan lebaran tiba tepat 2 hari setelah ulang tahunku, saat aku selesai sungkem dengan keluarga yang sudah jadi tradisi sebelum kita ke Jakarta untuk ke rumah saudaraku Nico tiba-tiba menelpon. Aku heran kenapa dia menelpon di moment yang seperti ini, awalnya aku kira hanya untuk bermaaf-maafan saja, jadi ku angkat telpon itu.
            “ halo Co?”
            “ halo Lyl, minal aidzin walfaidzin ya Lyl, maaf maaf nih kalau aku punya salah ya.”
            “ ohh iya Co, aku juga ya minta maaf kalau selama ini Lyla bikin salah ke Nico.”
            “ Lyl, kamu ingat 3 hari yang lalu aku bilang mau nembak cewe yang aku suka?”
            “ iya aku ingat kok” tiba-tiba rasa bete muncul didalam benakku, Nico sangat tidak pas membicarakan ini di moment yang seperti ini pikirku.
            “ aku mau nembak dia sekarang.” Nico diam sebelum melanjutkan kata-katanya aku hanya terdiam dan heran dengan apa yang baru ia katakan. “ Neng, aku ga tau harus mulai dari mana, tapi ini yang aku rasakan selama satu bulan terakhir ini, aku suka sama kamu sejak aku liat kamu di kantin bu Mitro dulu. Aku ga mau kalau kita hanya sekedar teman saat ini, aku mau menjadi guardian angel kamu lyl. Kamu mau gak jadi pacar aku?”
            Nico membuatku terkejut rasanya hampir pingsan kudibuatnya. “ jadi cewe yang kamu bilang kamu suka sama dia itu aku?” tanyaku seakan tak percaya
            “ iya kamu orang yang aku suka.”
            “ Nico, kamu tau perasaanku saat aku tau kamu mau nembak cewe? Aku kacau Nico aku gak rela kalau kamu suka orang lain, tapi sekarang kamu nembak aku, ini rasanya kaya ada mimpi tau gak?” kataku dengan terisak-isak bahagia, “ co kamu tau? Aku punya perasaan yang sama dan waktu yang sama juga denganmu, jadi bagaimana bisa aku menolakmu?.”
            “ jadi di hari penuh rahmat ini kau mau menerimaku?” tanyanya meyakinkan
            “ aku mau Co, aku mau menerima kamu. InsyaAllah kita bisa menjalani ini sama-sama.” Kataku dengan tulus, sedetik kemudian abangku sudah berteriak-teriak agar aku besiap untuk pergi ke Jakarta, aku berpamitan pada pacar baruku untuk menutup telponnya. Hari ini lengkap sudah kebahagiaanku, mungkin ini kado ulang tahun ke 16 yang terindah aku mendapatkan first loveku.
***
            Saat liburan usai tentu saja orang yang ingin kutemui pertama kali adalah Nico, hari terakhir liburan Nico mengajakku berjalan-jalan dan makan malam, untung papa dan mamaku memberikan izin karna mereka sudah pernah bertemu dengan Nico sebelumnya. Aku tak menyangka kalau aku bisa secepat ini berpacaran dengan Nico.
            Minggu pertama masih hangat dan masih saling memperhatikan, minggu kedua sedikit demi sedikit sifat Nico yang asli mulai ketahuan. Aku hanya bisa berdo’a agar hubungan kami tetap berjalan lancar.
            Saat aku di perpustakaan di suatu hari yang cerah, aku sedang membaca buku astronomi dan Nico berdiri di sebelahku. “ kenapa sih kamu suka dengan bintang neng?”
            “ karna bintang itu indah, kita Cuma bisa liat bintang malam hari yang sunyi. Matahari juga bintang tapi bukan bintang seperti matahari yang aku suka. Tapi bintang kecil yang berkelap-kelip saat malam hari. Mereka buat aku tenang saat aku melihatnya, mereka kecil tapi kuat dan aku ingin seperti bintang dilangit. Meski yang aku tau Bintang yang paling terang akan cepat mati karna kehilangan banyak energinya. “ jelasku pada Nico.
            “ dan kamu gak perlu terang Neng, aku takut saat kamu sangat terang kamu pergi meninggalkanku.” Katanya lalu memelukku dari belakang. Perpustakaan ini sepi apalagi bagian rak-rak belakang jadi Nico berani memeluku meski tidak lebih dari sepuluh detik.
            Suatu pagi aku terbangun dari tidurku, aku melihat jam dinding ternyata masih jam 4 pagi, tiba-tiba aku merasa haus biasanya aku sudah menyiapkan air minum di sebelah tempat tidurku atau di lemari es kecil yang ada di kamarku, tetapi ternyata saat itu tidak ada air setetespun, akhirnya dengan terpaksa aku turun ke dapur, aku berjalan dengan setengah mengantuk dan aku tak tau kalau mbak Ipeh sering mengepel saat pagi buta seperti ini, karna aku berjalan dengan mata setengah terpejam akupun terjatuh dan langsung pingsan.
            Mbak Ipeh yang tau aku sudah terkapar dilantai langsung teriak-teriak membangunkan orang serumah, papa dan mama tentu saja kaget melihatku sudah bercucuran darah, dan darahnya sampai ke lantai karna darahku sukar membeku aku dibawa kerumah sakit, salah satu rumah sakit di Denpasar sudah disediakan dokter yang akan menanganiku dan pasien von willebrand diases lainnya. Saat di UGD aku langsung ditangani dengan cepat oleh para ahli medis.
            “ pak, apakah Lyla memiliki golongan darah istimewa?” tanya Dokter Bayu pada papaku.
            “ iya Dok, Lyla bergolongan darah AB negatif, apa disini ada stok darah itu?” kata papaku mulai khawatir, suaranya mulai bergetar. “ selamatkan anak kami dok, saya tak peduli berapapun biayanya akan saya bayar, tolong selamatkan anak kami.”
            “ kami akan berusaha sekuat tenaga pak.” Kata dokter dan berlalu pergi. “ tolong sus, di bank darah apakah ada golongan darah AB reasus negatif? Dia harus tranfusi darah segera, dia sudah kehilangan banyak darah.” Perintah dokter bayu pada seorang suster.
            Aku hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur rumah sakit, dengan baju yang semuanya terkena darah, hampir 1 jam akhirnya darahku berhenti mengalir dan dokter sudah menyiapkan hampir 5 kantong darah untuk disalurkan kedalam tubuhku, dan saat itu aku bersyukur aku masih dapat di selamatkan.
            Sudah satu minggu setelah pagi mengerikan terjadi, aku sudah ada di rumah tapi aku hanya berada di tempat tidur, aku tau aku kurang hati-hati pagi itu. Selama satu minggu aku tak masuk sekolah hingga aku membuat Nico khawatir, saat aku kembali ke rumah ratusan missed calls dari Nico dan sms darinya serta teman-teman yang lain menanyakan kenapa aku tak masuk sekolah.
            Setelah 2 minggu aku absen dari sekolah akhirnya aku kembali kerutinitasku, sebenarnya papa mulai tak setuju jika aku sekolah formal, dia hanya menginginkan aku kembali ke home schooling tapi aku menolak mentah-mentah keinginan papa.
            Aku berjalan sangat pelan, kali ini Nico tak menungguku di gerbang seperti biasa karna aku tak memberitau kalau hari ini aku sudah mulai bisa kembali ke sekolah, suasana sekolah yang aku rindukan dengan suara riuh rendah bergosip di pagi hari. Sangat susah agar mereka tak menyenggolku, aku sebisa mungkin untuk kuat jika tersenggol. Sampai di depan kelas Nico aku berhenti dan menengok kedalamnya mungkin saja Nico sudah ada di kelasnya.
            “ nyari Nico ya lyl? “ tanya teman Nico. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. “ tadi sih udah datang anaknya tapi ga tau kemana.” Lanjutnya.
            “ em, ya uda kalau begitu, makasih ya aku mau ke kelas dulu.” Kataku dan berlalu, sampai ujung koridor aku sempat berhenti sejenak karna ada seseorang yang menghadangku.
            “ kemana kamu 2 minggu ini? Apa kamu lupa bahwa disini ada yang menunggumu? menunggu kau memberi kabar. Apa aku gak pantes dapet kabar dari pacar aku sendiri?” Nico sudah mulai memberiku dengan banyak pertanyaan.
            Aku sadar aku salah karna membuat orang khawatir, “ada sesuatu hal yang terjadi 2 minggu lalu, aku tak sempat memberimu kabar karna ada yang harus aku lakukan. Maaf.” Kataku dengan menatap ujung sepatu Nico
            Nico mengangkat wajahku, kini aku tau kalau Nico kacau mukanya yang sedikit kelelahan dan kurang tidur, matanya yang memancarkan kekhawatiran yang mendalam. “ aku tak peduli dengan penyakitmu, tapi setidaknya kau memberi tauku kalau kamu sedang sakit.” Katanya dengan suara yang parau.
            Aku heran kenapa dia tau kalau aku sakit, “ dari mana kamu tau kalau aku sakit? Aku tak memberi tau siapapun tentang itu.”
            “ Essa yang memberitaukan, aku sengaja pagi-pagi kesekolah Essa dan menanyakan padamu kenapa kau tak datang kesekolah, aku janji akan jaga kamu sekarang.” Nico mulai meletakkan tanganku di lengannya dan mulai berjalan didepanku seperti biasa, dan aku mencengkramnya lebih erat.
***
            Satu bulan hubungan kami masih hangat, 2 bulan sudah mulai terlihat sifat-sifat asli kami namun tetap hangat, bulan ke 3 mulai ada masalah-masalah yang membuat kami sering bertengkar dan membuat aku menangis sampai mataku bengkak dan akhirnya tidak masuk sekolah.
            Namun saat disekolah kami kembali hangat seperti tak ada masalah, hampir seantereo sekolah tau kalau aku berpacaran dengan Nico kita mematahkan banyak hati. Yang aku tau banyak yang suka dengan Nico dan begitupun kata Nico banyak yang suka denganku, tapi aku tak peduli yang aku tau hanya aku dan Nico sekarang.
            Saat pulang sekolah, aku melihat mobil yang tak aku kenali ada di halaman rumah, aku menanyakan pada pak Ketut siapa yang datang, hanya saja pak Ketut bilang kalau ada teman papa dari luar kota datang, siapa gerangan didalam akupun penasaran.
            Aku melihat sosokku yang lain sedang duduk di kursi ruang tamu bersama satu orang perempuan dan satu orang laki-laki, disana ada mama dan papa yang sedang melihat kearahku dan tersenyum. Gadis yang duduk bersama mereka juga melihatku namun tatapannya berbeda denganku yang melihatnya dengan heran, ia malah tersenyum bahagia.
            “ sudah pulang sayang? Mari duduk bersama kami.” Ajak mama dengan tersenyum. Aku sebenarnya melangkahkan kakiku dengan enggan dan duduk disebelah papa. Aku masih menatap gadis yang mirip sekali denganku.
            “ Lyla, sebelumnya maafin papa dan mama ya sayang, selama ini mama sama papa menyembunyikan ini dari kamu. Ini Lily kembaran kamu.” Kata mama, seakan didalam tubuhku ada petir ratusan volt yang menyetrumku. Aku membelalakan mataku dan aku melihat mamaku meminta penjelasan. “ Dulu saat perekonomin mama dan papa rendah saat mama dan papa sedang tak punya uang mama mengandung kalian berdua dan ternyata anak yang mama kandung kembar lagi, jujur saat itu mama tak sanggup untuk membesarkan kalian berempat lalu ada oom dan tante Hariey yang menyelamatkan mama, mereka mau mengasuh dan membesarkan Lily.” Jelas mamaku lagi.
            “ apa dia normal?” tanyaku dengan nada yang sangat datar. Aku tak tau apa yang harus aku ekspresikan, aku harus gembira atau bersedih aku tak tau.
            “ iya dia normal, karna kamu memiliki keistimewaan jadi mama dan papa tetap mempertahankan kamu.” Kata papa. Dan aku semakin merasa bahwa dunia ini tak adil. Dia normal sedangkan kembarannya disebut istimewa apa itu adil?
            Aku menangis saat itu juga aku merasa kecewa dengan apa yang dilakukan kedua orang tuaku, dan aku merasa Tuhan tak adil menciptakan aku yang lahir dengan keistimewaan. “ apa dia mempunyai golongan darah yang sama sepertiku?” Tanyaku lagi di dalam isakan tangisku.
            “ tidak aku tidak memiliki golongan darah sepertimu aku AB positif sedangkan kamu AB negatif, aku menyesal Lyl.” Jawabnya untuk pertama kali.
            “ kau tau aku sakit?! Kau tau aku sangat membutuhkan golongan darah AB reseus negatif? Kau tau itu?! Kenapa kau datang? Dan aku rasa kau tak akan bisa membantuku! Agar tetap hidup.” Aku berteriak-teriak di depan tamu itu, aku berdiri dan beranjak ke kamar dengan air mata yang bercucuran.
            Dia tak bisa membantuku, dia tak bisa membantuku saat aku butuh darah! Dia tak bisa membantuku...!! . Aku tau mama mencoba mengetuk pintuku yang sama sekali tak kugubris, handphoneku juga berbunyi namun aku juga tak menghiraukan.
            “ sayang, kamu tak apa-apakan? Jangan terlalu bersedih seperti itu, tak baik sayang, maafkan kami berdua sayang. Dan kembaran kamu akan tinggal disini satu minggu sebelum dia kembali ke Sampit Kalimantan Tengah.”
            “ pergi Ma!! Pergi Lyla pengen sendiri, Lyla ga pengen di ganggu.” Teriakku dengan suara parau dari dalam kamar.
            Ternyata aku salah aku lupa tak mengkunci pintu yang terhubung dengan kamar-kamar saudaraku, bang Faisol masuk dan duduk di sebelahku. Ia memegang bahuku dan mencengkramnya dengan lembut seakan memberikan kekuatan.
            “ abang tau kan tentang ini? 16 tahun bang 16 kalian sembunyikan dari aku.” Kataku masih dalam isakan tangis yang tak kunjung henti.
            “ maafkan kami lyla, yang mama katakan benar kami tak bermaksud. Kami hanya ingin menyelamatkanmu. Kau tau saat Lily di bawa pergi oleh oom dan tante itu? Abang hancur Lyla, darah daging abang dibawa pergi ketempat yang asing. Rasanya itu hancur lyl, hancur banget.” Abang meneteskan air mata setelah mengingat cerita 16 tahun yang lalu.
            Aku memeluknya dengan erat sampai aku tak ingin dilepaskannya. Aku menangis di dada bang faisol dan pada akhirnya air mataku berhenti, rasanya lega sekali menangis seperti ini. Aku mencoba untuk menerima Lily sebagai saudara kembarku.
            Malamnya Nico menelponku, aku tak tau harus cerita padanya atau tidak kalau aku punya saudara kembar, namun saat kuputuskan aku mau bercerita tentang Lily padanya.
            “ Nico...” kataku dengan suara mendadak parau.
            “ iya sayang? Ada apa?” tanyanya.
            “ ternyata aku punya saudara kembar....” lalu kuceritakan bagai mana aku menangis seharian, tertekan dan hancur. Hampir setengah jam aku menceritakan Lily.
            “ kamu jahat banget Lyl.” Itulah jawaban Nico yang tak kusangka keluar dari mulutnya.
            “ aku jahat co? Kenapa bisa aku yang jahat?” tanyaku dengan sinis.
            “ seharusnya kau menerima saudara kembarmu dengan lapang dada, kan saat itu orang tuamu juga terhimpit ekonomi harus membesarkan empat anak sekaligus dan yang satu sakit-sakitan. Apa kamu tak sadar kamu itu beban mereka Lyl, jangan kamu pikir meski Lily tak memiliki kesamaan darah atau yang lainnya denganmu, kamu tak mau menerimanya? aku ga suka dengan orang yang mau menangnya sendiri sepertimu!.” Kata pedas Nico mulai keluar. Aku beban? Itulah kata yang sampai sekarang masih terngiang di telingaku. Tanpa pikir panjang aku menutup telpon dari Nico, aku benci sekali jika dia sedang marah padaku. Tetesan air mata berhasil meluncur dengan apik di pipiku.
            Seseorang mengetuk pintuku, dan kulihat gagang pintu sedikit bergerak, aku diam dan berusaha mengusap air mataku dengan cepat.
            “ Lyl” ucap seseorang dari balik pintu yang kukenali suaranya sebagai Lily, baru kali ini dia ke kamarku setelah aku menangis sepanjang hari. Ia masih berdiri di ambang pintu.
            “ masuk aja ga papa kok.” Kataku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, meski sesungguhnya hatiku masih hancur.
            Lily masuk dan diam di sofa kamarku aku bisa melihat mukanya yang gelisah dan ketakutan. “ ada apa Lil? Ada sesuatu yang mau kau sampaikan padaku?”
            “ Aku minta maaf, aku yang memaksa mami dan papi angkatku membawaku ke keluargaku kandungku, aku tau kalau aku bukan anak kandung mereka 5 tahun yang lalu, maafkan aku ya. Mungkin seharusnya aku tidak pernah memaksa mereka untuk mempertemukan kita.” Katanya dengan menunduk, aku tau Lily seakan mau menangis.
            Aku berdiri berjalan kesofa dan duduk disebelahnya, aku memegang tangannya. “ memang aku masih belum bisa menerimamu, aku tak menyaka aku punya saudara kembar, aku kecewa jika aku mempunyai saudara kembar tapi tak bisa mendonorkan darahnya untukku, tapi mau dikata apalagi, kau tetap darahku kau tetap darah daging keluargaku. Aku mau mencoba menerimamu, aku akan sayang padamu sama seperti aku menyayangi bang Icol, Bang Ical, Dan Essa. Selamat datang keluarga baru kami.” Aku memeluk Lily dengan erat dan ia menangis bahagia.
            Mungkin ini keputusan yang tepat untuk menerima Lily sebagai saudara kembarku, yah dan aku tidak akan pernah menyesal.
***
            Meski kemarin aku dan Nico sedang dalam keadaan bertengkar, Nico tetap menungguku di gerbang sekolah. Aku hanya menatap ia datar dari dalam mobil, Lily ikut mengantarkan aku dan Essa ke sekolah, aku berdiam di depan pintu mobil, lalu aku melambaikan tangan dan tersenyum,
            Kulihat Nico tersenyum melihat aku tersenyum pada saudara kembarku saat aku berbalik dan saat akan mulai berjalan masuk ke Sekolah, senyumku mendadak pudar dan aku terus berjalan tanpa menatap Nico.
            Nico tersenyum dan mulai berjalan mengejarku. “ Neng marah ya?” tanyanya dengan tersenyum
            “ aku beban kan? Tinggalin aku, aku tak mau jadi beban, apalagi menjadi bebanmu. Pergi sana.” Kataku dan mempercepat langkahku.
            Nico seketika berhenti berjalan mencoba untuk mencerna kata-kataku, ia menatap punggungku yang menjauh . “ Kamu jalannya kecepetan Lyl,” desahnya.
            Efek aku berjalan dengan cepat kakiku lelah sekali aku duduk sejenak di kursi tempatku belajar. Aku tau aku kelewatan marah ke Nico tapi tak tau kenapa saat aku memikirkannya aku teringat dengan kata “beban” sangat menyakitkan untukku. Aku menarik nafas panjang mencoba melupakan apa yang ada. Aku mulai membuka buku-bukuku dan membacanya.
            Riuh rendah anak-anak mulai memasuki kelas, suasana yang sangat menyenangkan melihat semua orang tertawa pagi ini. Namun mendung seketika datang diwajah mereka saat ingat kalau hari ini ada ulangan Matematika, aku menepuk jidatku aku melupakan ulangan itu karna sibuk menangis seharian. Aku menatap Susan dengan pasrah, karna biasanya jika adalah ulangan matematika aku yang selalu diandalkan oleh Susan tapi karna aku sibuk dengan perasaan pribadiku jadi aku melupakan ulangan hari ini.
            Satu jam tiga puluh menit berlalu aku kesulitan mengerjakan 10 soal matematika ini aku tak bisa empat soal yang aku anggap sangat sulit aku melirik Susan yang hanya mengerjakan lima soal aku menatap jawabanku dengan pasrah, empat soal sisanya aku hanya mengerjakan separuh jalan karna aku pikir nilainya juga akan separuh juga yang aku dapat. Dan waktupun habis aku menitipkan jawabanku pada Susan untuk di kumpulkan kedepan dan aku membenamkan kepalaku dalam dekapan tangan yang menempel pada bangku.
            “ udah lyl, jangan terlalu dipikirkan hanya ulangan harian kan?” kata susan dengan menepuk punggungku. Aku mendongak dan ingin mengatakan aku baik-baik saja namun belum sempat aku mengatakan apa-apa aku melihat raut muka Susan horor. “ Lyl, hidung kamu?” aku mengerutkan keningku dan mencoba mencari tau kenapa dengan hidungku, aku memegang hidungku dan yang aku rasa adalah basah, aku melihat darah sudah ada di tanganku aku bingung apa yang harus aku lakukan.
            “ Nico... Nico..” kataku memberikan tanda bahwa aku butuh Nico. Susan yang mengerti maksudku segera menuju kelas Nico, untung saja pada saat ini kelas Nico sedang tidak ada guru.
            “ Nic, cepetan Lyla butuh bantuan kamu, dia tiba-tiba mimisan.” Kata Susan buru-buru. Tanpa pikir panjang Nico segera berlari ke kelasku. Sudah banyak anak yang berada didekatku mereka menatap dengan cemas. Nico menggendongku ke UKS sepanjang koridor Nico berlari dan terburu-buru.
            “ sekarang apa yang aku harus lakuin Neng?” Tanyanya bingung.
            “ ambilkan tumbler yang ada di lemari pendingin bu Mitro, di bawah sendiri.” Sedetik kemudian Nico melesat ke kantin yang sepi hanya ada beberapa anak yang membolos pelajaran. Nico melihat lemari pendingin itu dan mencari tumbler yang kau masuk, ia segera mengambil obat-obat itu dengan gemetar dan segera berlari menuju UKS lagi, bu Mitro sempat bingung namun beliau tak bisa menghentikan langkah Nico.
            “ ini neng, lalu apa?” nico bingung melihat saputangannya penuh dengan darah.
            Aku hanya tersenyum getir, sesungguhnya aku tak mau kalau sampai melakukan hal ini di depan Nico tapi apa daya hanya dia yang tau kalau aku berbeda dari yang lain. Aku mengeluarkan kantong kecil dan memasukkan hidungku kedalamnya kupencet-pencet hidungku agar darahnya keluar dan hidungku bersih dari darah. Aku mengeluarkan cairan obat dan memasukkannya dalam hidungku, beberapa menit kemudian darah berhenti aku marik nafas lega, aku melihat Nico yang sedang membersihkan sisa obat-obat dan kantong berisi darah.
            “ lain kali jangan kaya gini lagi ya aku takut neng, aku takut kamu kenapa-napa” katanya membersikan tangannya di westafel dan duduk di samping tempat tidurku. Aku tiduran di UKS karna kepalaku masih pening.
            “ aku juga ga mau Co kaya gini, toh ini tadi tiba-tiba banget habis ulangan matematika langsung kaya gini. Maaf ya udah bikin kamu takut jadi beban lagi deh buat kamu.” Kataku dengan kecewa.
            “ maaf ya sebenernya aku gak maksud loh bilang kalau kamu beban atau apalah itu, aku kemaren keceplosan aja, abis aku sebel sama kamu. Seharusnya kamu kan seneng kalau ternyata kamu udah nemuin kembaran kamu, meskipun kamu ga mau nerima tetep ajakan dia saudara kamu. Tapi aku seneng tadi liat kamu sama saudara kembar kamu udah baikan gitu. Maafin aku ya sayang.” Nico memegang tanganku dengan hangat. Ingin sekali rasanya aku meneteskan air mata namun masih aku tahan karna aku tak mau menangis didepannya.
***
            3 bulan kemudian aku bertengkar hebat dengan Nico, Nico selalu menyalahkan aku dan dengan semua sikapku, aku kesal, marah, benci pada Nico. Aku menangis hampir setiap malam, dan paginya mataku sudah merah dan bengkak. Papa sudah melarangku untuk sekolah formal tapi aku tetap tak mau, aku masih berangkat ke sekolah namun sekarang sedikit berbeda Nico sudah tak menungguku di pintu gerbang, yah karna kita sedang bertengkar.
            Sampai pada di suatu malam yang indah penuh bintang langit cerah saat ini, aku melihat ke langit dan menangis lagi, bertengkar dengannya membuat hatiku gelisah dan sering menangis, hampir 3 jam aku menangis pandanganku mulai kabur dan darah mulai keluar dari kelopak mataku aku mencoba untuk tenang dan mencoba untuk berhenti menangis namun saat air mataku sudah tak mengalir lagi namun digantikan oleh darah yang menetes aku berdiri dan masuk ke kamarku menuju lemari pendingin dan berusaha mengobati sendiri. Namun karna darahnya tak kunjung berhenti dan kurasa seluruh badanku mulai lemas aku berjalan keluar kamar karna aku ingat ada abangku yang sedang menonton tv di ruang keluarga , aku berjalan tertatih menyusuri lantai pualam dan menuruni tangga dengan hati-hati, mukaku sudah bersimbah darah. Dan akhirnya aku terjatuh di tangga 10 anak tangga terakhir, sebelum aku pingsan aku sempat mendengar suara bang Icol meneriakkan namaku lalu aku tak sadarkan diri.
            Setelah satu minggu aku dirumah sakit tak kunjung sadar, dan sudah menghabiskan 10 kantong darah AB resues negatif, dan kedua orang tuaku serta saudara-saudaraku setuju aku dibawa ke salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Singapura. Keluargaku terpaksa membawaku kesana karna aku tak kunjung sadar.
            Essa sedang mengetikkan sesuatu dihapeku yang ternyata dia sedang memberikan pesan singkat ke Nico yang berisi : “ Kak, maafkan essa yang tak bisa jaga kak Lyla dengan baik saat di rumah, essa tak tau harus bilang apa tapi essa harus memberitau kakak tentang kak Lyla, kak Lyla terjatuh satu minggu yang lalu, dan dia meninggal kak. Hari ini kita akan bersama-sama berangkat ke Bandung untuk pemakaman kak Lyla.”
            Dan aku menyuruh essa bilang kalau aku sudah meninggal sebelum aku terjatuh, aku tau ini cara yang sadis untuk memutuskannya mungkin ini cara terbaik. Mungkin Nico akan kacau namun bisa juga Nico akan gembira telah lepas denganku.
            Aku ada di Sanglah Hospital Singapura, aku tertidur hampir 3 minggu sebelum pada akhirnya aku sadar. Aku telah membuat keluargaku khawatir dan aku hanya bisa menyesal.
***
            Lily dan Nico kini dekat, mereka sering telpon dan saling mengirim pesan singkat skenario bagus telah aku rencanakan termasuk kedekatan mereka. Namun saat aku di Singapura aku dan Lily tak saling memberi kabar hanya kadang 2 minggu sekali ia datang ke Singapura.
            Dan melalui Informanku, aku tau kalau Nico seperti orang Linglung saat tau aku meninggal, Nico dan teman-temanku bertakziah kerumahku namun mereka kecewa karna aku dan keluargaku sudah tidak ada di Bali.
            “ loh pak, beneran Lyla meninggal pak?” Tanya temanku kepada penjaga rumahku.
            “ Iya dik, Jenazahnya di makamkan di Bandung tadi malem keluarga ini berangkat dan acara tahlil dan yang lain-lain semuanya ada di Bandung.” Jelas beliau pada teman-temanku yang kecewa tak bisa memberikan penghormatan terakhir padaku.
            Yang tau kalau aku masih hidup adalah guru-guru sekolahku dan keluargaku saja yang lain tak tau kalau aku masih hidup dan sedang berjuang untuk sembuh.
            Pada akhirnya Lily dan Nico berpacaran. Aku hancur? Tentu saja namun ini keputusanku. Mereka menjalani hubungan jarak jauh atau Long distance reletionship (LDR). Namun pada setiap kesempatan Liburan Lily pulang ke Bali, Essa dan abang-abangku juga tidak bisa terus menerusan ada di Singapura mereka juga haris melanjutkan sekolah mereka.
            Mereka berdua menjalani hubungan dengan baik, Lily punya sahabat dari Ia masih kecil bernama Aldy Sudibjoe dan Nico sangat cemburu ketika Lily sedang bersama dengan Aldy. Sampai Nico memberika julukan pada Aldy “si kutu kupret”.
            Selama di Singapura aku menjalani semua pengobatan dan terapi karna saat jatuh dari tangga lukaku cukup serius dan harus mendapatkan penanganan khusus dari Tim medis Singapura.
***
            Penghujung Bulan Desember tahun 2012
            Setelah hampir tiga bulan aku dirawat di Singapura, aku kembali Ke Bali, Indonesia. Dengan keadaan yang baik. Di hotel papa kami mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kesehatan dan kedatanganku dari Singapura.
            Dan aku memutuskan untuk home schooling terlebih dahulu sebelum aku mengejutkan sekolah karna ternyata aku masih hidup. Aku merindukan Nico? Tentu saja aku merindukannya tapi apa yang bisa aku lakukan aku sudah tak bisa bersamanya lagi.
            Hari-hariku ada hanya kuhabiskan di rumah sama seperti di Bandung dulu, aku mengaktifkan nomer yang selama ini mati, handphone itu terus berbunyi ratusan pesan masuk kedalamnya. Aku melihat beberapa ucapan bela sungkawa dan aku tercengengang saat sms Nico masuk isinya “aku merindukanmu neng” dalam hati aku hanya bisa berkata dalam hari bahwa aku juga merindukannya.

            Di SMAN 1 Denpasar Bali
            Suara riuh rendah selalu menghiasi sekolah ini, di Kelas 10 1 kelasku berada Susan sedang terheran melihat handphonenya, salah satu teman menyapanya.
            “ kamu kenapa San?” tanya Anton heran.
            “ Eh Ton, beberapa hari yang lalu aku mengirim pesan ke nomernya Lyla, aku bilang kalau aku merindukannya, namun pesannya baru masuk hari ini. Setauku juga dari Lily kembaran Lyla kalau handphone Lyla sudah dinonaktifkan tapi tiba-tiba kekirim. Jadi siapa yang mengaktifkan hpnya?” jelas susan masih dengan muka yang bingung.
            “ Mungkin saja saudara-saudaranya yang make kan bisa? Kenapa harus heran?”
            “ tidak-tidak, tidak ada yang memakai hp itu Lily sendiri yang bilang padaku. Kalau handphonenya Lyla sudah disimpan sama Lily dan saudaranya tak ada yang tau kecuali Lily, lagian Lily sekarang ada di Kalimantan. Aku bingung saja.”
            Muka Susan masih bingung, tiba-tiba Nico duduk di sampingnya dan menatap Susan penuh arti.
            “ Smsku masuk ke Hapenya Lyla semuanya masuk ke handphonenya dia. Apa Lily sedang ada di Bali?” tanya Nico heran.
            “ bukannya Lily pacar kamu, seharsunya kamu lebih tau dong dia sedang di Bali atau tidak. Tapi setauku dia tidak ada di Bali dia sedang di Kalimantan.”
            “ dan apa kau yakin hanya Lily yang tau dimana Handphone Lyla Disimpan?”
            “ iya aku yakin, dan sangat yakin.”
            Nico masih duduk di sebelah Susan dengan heran, dalam benak mereka bertanya siapa yang memegang handphone itu sekarang.

            “ kamu ngaktifin nomer kamu yang lama Lyl?” terdengar suara dari sebrang telpon.
            “ iya kenapa memangnya aku hanya merindukan handphoneku apa salah?” tanyaku heran.
            “ setidaknya kamu bisakan ganti nomer kamu? Kau tau apa yang terjadi? teman-teman kamu dan Nico heran. Karna aku bilang kalau hape kamu sudah aku simpan dan tak ada yang tau hp kamu aku simpan dimana.” Lily mulai mengoceh aku hanya terdiam. Aku terdiam seribu bahasa tak tau apa yang harus aku katakan sedetik kemudian kumatikan telpon dari Lily dan melemparkan tubuhku ke atas kasur.
            Apa aku salah kalau aku bilang aku belum meninggal? Aku capek harus bersembunyi dirumah. Enggak gak boleh aku gak boleh sembunyi kaya pengecut, toh aku juga sudah sehat seharusnya aku ke sekolah formal bukan home schooling lagi. Yah aku harus kesekolah formal. Kini tekatku sudah bulat dan aku mau menunjukan pada dunia kalau aku masih hidup dan aku sudah sehat.
            Saat makan malam aku berniat memberi tahukan apa yang aku pikirkan, segala resiko siap aku tanggung. “ aku ingin kembali kesekolah, aku ingin mereka tau kalau aku masih hidup.” Kataku dengan nada berapi-api.
            “ maksud kamu apa Lyl?” tanya Bang Icol
“ ya yang aku mau aku kembali kedunia ini bang, aku ga mau di anggap uda mati, kan aku masih hidup.” Kataku menjelaskan.
“ tapi apa kata teman-teman kamu disekolah kalau tau kamu masih hidup, kan kamu yang memilih untuk disembunyikan keberadaanmu.” Papa mulai menanggapi tujuanku.
“ kamu gak malu kalau kamu ketahuan bohong?” bang Ecal menambahkan.
“ tidak, aku sudah tau resikonya, aku akan dijauhi, di bully bahkan aku merasa sendiri disekolah. Tapi biarkan aku menyelesaikan study SMAku mama sama papa setuju kan?” kataku dengan nada memelas dan memohon.
“ Essa boleh ngomong gak? Essa tau essa masih kecil tapi aku setuju sama teteh, kenapa teteh harus bersembunyi, kan nanti teteh bisa menjelaskan ke temen-temen teteh kalau teteh masih hidup. Toh tadi teteh juga bilang akan menanggung resikonya kan? Seharusnya kita bisa percaya sama teteh kalau teteh bisa melewati ini semua, meski Essa tau teteh salah uda ngebohongin banyak orang. Tuhan saja memberi maaf pada umatnya kenapa sesama umat tak bisa saling memberi maaf?” Essa adik paling kecilku angkat bicara akhirnya, semua diam dan mencerna ucapan Essa yang ada benarnya.
Dan akhirnya mama dan papa setuju kalau aku bisa mulai sekolah minggu depan, dan mereka akan berusaha menjelaskan pada pihak sekolah. Bahagia? Tentu saja, aku sudah merindukan hiruk pikuk sekolah  suara bising dan yang lainnya, meski aku tau saat aku datang lagi mereka akan merubah sikap pada orang pembohong sepertiku.
***
2 hari sebelum masuk sekolah aku menyempatkan diri untuk kesekolah terlebih dahulu untuk meminta izin kembali sekolah pada pihak guru, aku sengaja datang saat kegiatan belajar mengajar telah dimulai aku memakai jaket bertudung agar kedatanganku ke sekolah pagi ini tidak di ketahui anak-anak yang lain. Sebenarnya orang tuaku sudah meminta izin namun apa salahnya sekarang giliranku yang meminta izin secara pribadi. Aku berjalan menyusuri koridor-koridor sepi menuju ruang kepala sekolah saat ada yang berpapasan denganku hanya menunduk dan merapatkan tudungku agar takterlihat orang lain.
Aku masuk keruang kepala sekolah dan membuka tudungku lalu tersenyum, kepala sekolah yang berumur melebihi setengah abad itu juga tersenyum melihatku.
“ Apa Lyla sudah baik-baik saja?” kata beliau dengan logat Bali yang kental, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
“ mungkin mama dan papa saya sudah kemari sebelumnya, namun saya ingin meminta izin secara pribadi kepada bapak, apa boleh saya kembali bersekolah disini?” tanyaku dengan sedikit gugup dan tanpa ingin berbasa-basi dengan beliau.
“ tentu saja boleh, SMANSA selalu terbuka untuk kamu Lyla, tapi apa kamu yakin kembai ke kehidupan yang dulu, kalau guru-guru mungkin bisa mengerti dengan keadaan kamu, tapi apa teman-teman kamu bisa mengerti keadaan kamu? Kamu bisa di anggap pembohong.”
“ iya pak, saya tau saya akan dicap sebagai pembohong namun saya akan coba menjelaskan pada mereka semua pak. Saya janji saya akan menerima semua apa yang terjadi pada saya setelah saya kembali ke dunia ini.” Kataku dengan tegas agar kepala sekolah yakin dengan keputusan yang aku ambil. 
***
Seminggu setelah kedatanganku ke Sekolah untuk meminta izin akhirnya aku masuk ke sekolah, saat mobil berhenti didepan gerbang aku tak segera keluar hatiku gusar penuh dengan keresahan. Sejenak aku menarik nafas dan turun dengan perlahan. Banyak mata menatapku namun aku berusaha untuk sekuat mungkin berjalan tegar dan menatap kedepan.
aku berpapasan dengan Nico yang sedang berdiri di depan kelasnya aku hanya melirik dan tersenyum lalu melanjutkan jalanku. Dia menatapku heran aku tau itu, ratusan pasang mata menatapku, aku hanya bisa berharap-harap cemas.
“ehh, dia Lyla atau Lily, kan mereka kembar identik. Susah sekali membedakan mereka.” Suara kasak-kusuk berisik di telingaku.
Aku hanya bisa diam dan sesekali mataku menatap kebawah, aku sampai depan kelasku, aku menatap sebentar lalu masuk dan duduk di tempat biasanya. Mereka menatap aku dengan sangat heran, Susan menatapku tertegun.
“ kamu Lily? Kenapa kamu disini?” tanyanya dengan heran.
“ aku Lyla San, aku masih hidup. Susah menjelaskan keadaanku saat itu, aku Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi bukan Laily Ghiesha Cantika Al Fahrieyzi.” Kataku dengan gemetar.
Nico tiba-tiba masuk dan menatapku lama.
“ Lily? Kamu pindah sekolah?”
“ aku Lyla bukan Lily.” Jawabku singkat.
“ kamu bohong, Lyla sudah mati.”
“ aku ga bohong aku Lyla, aku bukan Lily!” teriakku sedikit. “ lihat bekas hitam ini, kamu taukan bekas itu hanya ada di punggung tangganku.” Kataku lemah. Nico berdiri di hadapanku, dan merai punggung tangganku. Ia melihat titik hitam di punggung tanganku karna sering tertusuk jarum infush bekas itu menghitam. Ia mengusuk sebentar dan berlutut dihadapanku.
“ kamu jahat Lyl, kamu jahat ngebohongi aku, anak kelasmu satu sekolah, seluruh dunia bahkan. Kau tau aku hancur tak bisa melihat jenazahmu, tapi sekarang lihat kamu berdiri dihadapanku. Sekarang aku bisa memenggang tanganmu, apa maksudmu membohongi kami semua.?” Katanya Nico dengan menitihkan air mata. Aku mengusap air mata dipipi Nico dan melihat teman-teman yang lain sedang melihat adegan drama kami.
“ sebelumnya aku minta maaf sama kalian semua, aku gak bermaksud ngebohongi kalian, aku hanya konsen sama penyakit aku. Selama ini aku pergi keluar negeri untuk mengembalikan keadaanku, meski aku tau aku tak bisa seratus persen sembuh. Maafin aku Co, aku ga maksud buat kamu hancur. Aku juga hancur setelah mengambil keputusan pergi dari kalian, namun sekarang aku janji aku ga akan pernah bohongi kalian lagi aku akan ada disini bersama kalian.” aku sempat menahan tangisanku namun usahaku gagal air mata meluncur dengan cepat.
“ kalo aku pribadi aku seneng Lyl kamu kembali, kamu pasti juga punya alasan untuk menutupi apa yang ada dihidup kamu kan? Aku juga pasti melakukan hal yang sama saat aku ada si posisi kamu.” Kata Susan dan memelukku dari belakang.
Nico masih menggenggam tanganku erat seakan dia tak mau melepaskan genggamannya, tangannya tetap hangat dan tak ada yang berubah meski aku sedang tak bersamanya.
“ aku juga senang kau disini Lyl.” Kata teman yang lain, mulai kulihat wajah mereka berubah menjadi senyuman.
“ selamat datang kembali Lyl.” Anton tersenyum lebar.
Aku tersenyum dan menatap nico yang masih tertunduk. “ aku kembali Co, aku sudah disini Co. Untuk menjadi teman dan sahabat kamu.”
“ ini yang aku sesalkan kau hanya bisa menjadi temanku.” Kata Nico semakin mempererat genggamannya.
“ jaga Lily dengan baik, saat kau menyakitinya kau juga akan menyakitiku.” Kataku menatap matanya dan tersenyum.
***
Aku memulai hari baruku, sebagai pribadi yang baru. Kini Nico kembali kerutinitasnya dia kembali menungguku di gerbang, berjalan di depanku, namun hubunganku dan dia tetap menjadi teman. Lily? Setelah tahun baru Lily dan Nico putus. Namun aku dan Nico tak bisa kembali bersama.
Aku menjalani hari-hariku dengan menyenangkan, tetapi terkadang aku harus absen sekolah karna kelelahan atau terluka, suasana SMA beda dengan SMP. Mereka mau menerimaku dengan keadaanku. Kadang saat aku terluka Nico dan yang lainnya membantu membersihkan darah yang bercucuran.
Papa dan Mamaku tentu saja senang saat aku gembira aku akan melupakan kalau aku berbeda dengan yang lainnya, mereka berharap kebahagiaan ini selalu ada di keluarga kami.
Tahun ajaraan baru di Mulai .....
Sebagai siswa Kelas 11 tentu saja aku harus masuk jurusan , dan aku masuk IPA begitupun dengan Nico dan kami sekelas, Susan ada di IPS lagi-lagi aku ada di IPA 1.
Aku satu bangku dengan Nico, bukan karna aku tak ingin duduk dengan yang lainnya, namun aku hanya takut terluka. Di kelas baru otomatis aku harus beradaptasi lagi dengan teman-teman yang baru, dan tidak semua tau kalau aku berbeda dengan yang lainnya.
Pada suatu hari aku sedang duduk dengan tenang dibangkuku Nico sedang tidak bersamaku karna katanya ada acara kumpul dengan anak-anak ekskul basket. Seseorang menghampiriku yang aku tau namanya I Made Keyla, yang akrab dipanggil keyla. Aku menatapnya dengan polos.
“ ada apa?” tanyaku masih dengan tatapan polos.
“ aku dulu anak 10 5,  aku mau nanya, kenapa kamu ga ikut olahraga? Aku tau kamu disini anak donatur terbesar tapi gak seharusnya kan kamu ninggalin pelajaran?”
Aku menatapnya lama, dan berguman dalam hati bahwa dia tidak mengetahui apa yang terjadi denganku, saat aku mau membuka mulutku Nico sudah datang dan diikuti dengan anak-anak yang lain yang cepat-cepat duduk.
Nico menatap Keyla yang masih berdiri dihadapanku. “ Kamu ga duduk? Udah ada guru tuh di dapan. Kamu mau di hukum?” kata Nico yang membuat Keyla beranjak dari tempat ia berdiri. Nico menatapku dengan penuh tanya dimatanya namun aku hanya mengangkat bahuku dan kembali terfokus kedepan.
***
Aku terbaring di tempat tidurku, aku merasa lelah karna rutinitasku, saat aku mulai memejamkan mata dering ponselku mengurungkan niatku untuk tidur aku membaca pesan singkat yang aku tak tau itu dari siapa, pesannya hanya bertulisan “Hai Kak”, tanpa titik atau tanda baca lainnya. Awalnya aku tak menghiraukan pesan singkat itu, aku kembali mencoba untuk tidur kembali namun lagi-lagi pesan singkat dari orang yang sama dan isi pesan yang sama masuk lagi keponselku. Lalu karna kesal aku hanya membalasnya dengan kata “siapa?”. Tak lama kemudian ia membalas “kenalin aku Fatchul Mujib anak 10 3”, aku mengerutkan keningku saat tau siapa yang mengirimiku pesan singkat, ini adik kelas pikirku, dari siapa dia tau nomer ponselku?, banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam otakku.
Keesokan harinya aku hanya duduk di depan kelas dan selalu Nico selalu ada di sampingku, lalu ponselku bergetar ternyata ada pesan masuk dari orang yang kemarin mengiriku pesan seorang adik kelas yang aku tak tau wujudnya. “ aku melihat kakak sedang duduk di samping cowo yang aku ga tau namanya.” Setelah membaca pesan itu aku melihat sekeliling ke seluruh sudut, namun banyak sekali anak-anak yang berlalu lalang yang membuatku bingung dimana ia bisa melihatku sedang duduk dengan Nico. Nico otomotis memandangku dengan heran.
“kenapa Lyl?” tanyanya bingung.
Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah. “ kamu dimana? Kenapa bisa tau aku” balasku ada adik kelas tersebut. Aku menatap layar ponsel lalu melihat sekeliling dan itu kulakukan berulang kali.
“ Lyl, are you okey?” tanya Nico lagi, aku hanya tersenyum dan menggeleng lagi. Tak lama kemudian ia membalas pesanku, “ kakak balik badan, dan aku ada di arah jam 12.” Aku menuruti apa yang adik kelas itu bilang, masih dengan tatapan bingung aku melihat arah jam 12 sudah tak banyak anak yang berada di area koridor sebrang, aku melihat sosok yang sedang melihatku lalu tersenyum dan melambaikan tangan, jadi itu adik kelas yang memberiku pesan singkat yang bernama Fatchul Mujib, ia memiliki fisik yang tinggi ukuran tubuh yang pas dengan tingginya, kulitnya yang terlihat putih, dan senyumnyapun juga manis, wajahnya penuh dengan aksen jawa berbeda dengan Nico yang matanya sipit seperti orang cina.
“ kau tau aku dari mana? Dan siapa yang memberi taumu tentang nomer handphoneku?” send to Mujib (panggilan akrabnya)
“ aku tak sengaja mau membuka isi tumbler kakak waktu itu, sampai akhirnya dicegah oleh ibu kantin, aku bingung. Lalu ada kakak kelas yang memberi tauku bahwa itu milik kak Lyla, jadi aku penasaran siapa sih kak Lyla itu, tidak sulit mencari nomer kakak karna yah, disini kakak lumayan terkenal.” Send to Lyla.
“ kau sudah melihat isi tumbler  itu?, are you kidding me? I am famous? Are you sure about that?” send to Mujib, ada sedikit kekhawatiran saat aku tau dia telah memegang tumblerku.
“ tidak, aku tidak membukanya, aku hanya hampir membukanya karna penasaran. Ngomong-ngomong apa yang ada di dalam tumbler itu? Jika aku boleh tau juga sih?” Send to Lyla.
“ bukan apa-apa, dan itu tidak penting juga buat kau ketahui.” Send to Mujib.
Sejak kejadian ia akan membuka tumblerku aku dan dia semakin dekat, Bagaimana dengan Nico? Nico tentu saja tak tau aku dekat dengan Mujib, hanya Mujib tau kalau aku dekat dengan Nico. Karna hubungan kami semakin dekat setiap hari kita saling bertukar pesan singkat saling menelpon, banyak yang aku ceritakan padanya tentang keluargaku apa yang aku suka dan masih banyak yang lainnya. Namun, aku belum menceritakan tentang Von Willebrand Diases yang aku derita.
Mujib beberapa kali mengajakku keluar namun selalu kutolak dengan halus, ada beberapa hal yang selalu membuatku khawatir. Aku sedang membaca buku di bangku kesayanganku, Nico duduk dan mengendus kesal. Aku menoleh kearahnya “ ada apa?” tanyaku.
“ Kau sadar, kau berubah.” Katanya sinis.
“ Aku berubah? Maksudnya? Aku tetap Lyla yang kamu kenal.”
“ Tidak, kau bukan Lyla yang aku kenal, kau lebih asik dengan dunia gadgetmu sekarang, saat kau bersamaku kau selalu bermain dengan alat itu, seakan kau sudah tak memperhatikanku lagi.” Katanya kesal.
aku mencerna kata-kata Nico dengan baik, mungkin Nico benar saat aku bersama Nico aku sibuk berkirim pesan dengan Mujib, dia sangat menyita perhatianku. Dia baik, sopan, tinggi, dan senyumnya yang manis yang membuatku seakan jatuh cinta padanya. Mungkin terlalu cepat jika dibilang aku jatuh cinta namun aku tak ingin dia pergi dariku.
Aku menatap Nico dengan rasa bersalahku, “ maaf Co, aku tak bermaksud seperti itu, karna ada sesuatu hal yang menyita perhatianku.” Aku beranjak pergi menuju kamar mandi dan meninggalkan Nico yang mukanya masih kesal karnaku.
Saat aku pergi ke kamar mandi aku sengaja memilih jalan sedikit memutar hanya untuk melihat Mujib, dia menghampiriku saat dia tau aku berjalan di depan kelasnya. Dia selalu menunjukkan senyuman yang manis dan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona termasuk aku.
“ Hai Kak, mau kemana?” tanyanya
Aku mengamati garis mukanya yang indah, “ aku mau ke kamar mandi.”
“kenapa mengambil jalan yang memutar? Bukannya lebih jauh?”
“karna aku ingin melihat senyumanmu.” Kataku dengan tersenyum dan berlalu pergi, dari sudut mataku aku dapat melihat ia tersenyum sumringah sekali yang membuat hatiku senang saat melihat senyumannya.
Listen to my story
I saw a falling star
And I made a wish upon the tiny spark,then
My heart belongs to you forever
forever more
I hope my wish can be heard to the sky?
Lagu indah mengalun merdu dikamarku, aku menatap bintang yang indah sekali di langit malam dengan bulan sabit yang melengkungkan senyumannya. Ahh lagi-lagi aku kepikiran oleh adik kelas berparas tampan dan mempunyai senyum menawan yang tak akan dilupakan semua orang khususnya aku.
Langit malam masih menyugukan keindahannya malam ini, tanpa awan membuat bintang dan bulan terlihat jelas dimataku. Masih indah dan selalu indah batinku. Saat aku sedang melamun dan memandang langit handphoneku berbunyi, aku menatap layar dan tersenyum. Mujib sedang menelponku.
“Hallo?” kataku dengan suara yang sengaja kulembut-lembutkan.
“ Hallo kak,lagi apa nih?”
“Aku sedang memandang ciptaan Tuhan yang paling indah.” Kataku dengan tersenyum.
“ semua ciptaan Tuhan indah kalik kak, termasuk kakak.” Godanya lalu terkekeh. Aku juga tertawa mendengarnya.
“ kau bisa saja, coba kamu keluar tatap langit dan lihatlah semua benda yang ada di angkasa itu, indah sekali bukan?”
“ aku tak pernah melihat langit malam seindah ini. Selama ini aku tak pernah memperhatikan langit malam.” Katanya, seakan ia terpesona dengan langit sangat terlihat jelas melalui suaranya.
“ mungkin mulai sekarang kau harus lebih memperhatikan apa yang ada di sekitarmu.” Diam beberapa saat tak ada yang saling mendahului berbiacara samapai akhirnya ... “ apa kamu tau bintang yang paling terang akan cepat mati?”
“ tidak, aku tidak tau apa benar cahaya bintang bisa hilang?”
“tentu saja bisa, karna saat bintang itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang itu artinya bintang itu sedang membakar dirinya, nanti  setelah energi bintang itu habis ia akan mati dan berpindah tempat.” Jelasku. “dan itu seperti aku.” Kataku pelan berharap ia tak mendengar kalimat terakhirku.
“seperti aku? Apa maksudnya?” aku menyesal Mujib telah mendengar kalimat terakhirku.
“ ahh tidak, lupakanlah itu tidak penting.” Kataku mengalihkan perhatiannya.
Kami mengobrol sampai malam sampai telingaku panas, sampai tak ada yang bisa dibicarakan lagi. “ rasanya aku sudah mulai mengantuk, bolehkah aku tidur?” kataku mengakhiri telponnya.
“ heheh, iya kak maaf membuat kakak tidur selarut ini, have a nice dream my little star.” Katanya lalu menutup telponnya.
Little star are you kidding me? Kataku dalam hati, seakan tak percaya iya memanggilku bintang kecilnya. Aku tersenyum dan menarik selimut dan denyum dalam tidurku.
***
Hari-hari kulewati begitu cepat sampai akhirnya bulan agustus datang lagi tahun 2014 aku sudah menjadi anak kelas XII, artinya angkatanku paling tua disini. Mujib selalu bertanya kenapa aku kadang-kadang tak masuk itu yang membuatku susah untuk menjawabnya. Namun mau tak mau aku menjawabnya hanya dengan satu kalimat yang singkat, padat “Aku sakit”
Tak ada kata lain selain itu agaknya jawabannku tak bisa membuat ia lega ia masih memberiku pertanyaan-pertanyaan seperti ...
“emang kakak sakit apa?”
“ apa aku tidak boleh mengetahui penyakit kakak?”
“ aku bisa jaga rahasia kak”
“apa sakit kakak berhubungan dengan tumbler yang ada di kantin?” Aku selalu memberikan jawaban yang sama hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku.
Hari ini tanggal 18 Agustus 2014 my sweet seventeen, sebelumnya kedua orang tuaku mau merayakan ulang tahunku secara besar-besaran namun aku tak mau aku hanya ingin ulang tahunku dirayakan sesederhana mungkin. Aku mengadakan potong tumpeng dan potong kue tart di dalam kelas, dan masing-masing siswa diberi bingkisan. Malamnya keluargaku mengajak makan malam disebuah restoran mewah yang ada di daerah Sanur Bali.
Aku selalu bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang termasuk keluarga kecilku, aku punya dua kakak kembar yang sayang padaku, aku punya saudara kembar yang cantik dan baik meski kita baru bertemu, dan aku punya adik kecil yang pengertian. Orang tuaku membesarkan kami dengan keringat mereka sendiri. Aku bahagia dan aku bangga pada mereka.
Keesokan harinya Nico memberikan sebuah kado dengan kotak kecil, “ terimalah “ katanya.
Aku melihat mata Nico dan tersenyum. “ seharusnya kau tak perlu repot-repot memberiku kado seperti ini tapi terima kasih ya” kataku yang sibuk membuka bungkusan tersebut. Aku membuka kotaknya secara perlahan ternyata Nico memberiku Gantungan Kunci berbentuk bintang yang ditengahnya ada namaku aku mengangakat bintang tersebut lalu tersenyum .” kadonya bagus sekali terima kasih” kataku lagi.
“ apa kau suka? Apa kau akan memakainya?” tanyanya lagi.
“tentu saja aku suka, tentu saja aku akan memakainya. Karna aku suka.”
Aku memasangnya di salah satu resletting tasku, “ tasku ranselku semakin cantik” kataku yang membuat Nico tersenyum.
Saat istirahat aku mengajak Nico ke kantin niatku untuk menraktirnya, aku juga mau mengganti isi tumbler yang ada di lemari pendingin kantin Bu Mitro. Aku memesan salad asal Indonesia (baca : gado-gado) dan Nico memesan Nasi goreng.
“ bentar ya, mau menggambil tumblerku dulu.” Aku berjalan kearah lemari pendingin dan membukanya.
“ jadi kakak mau mengambil tumbler itu?” Mujib tiba-tiba datang di belakangku. Aku terenyak kaget mendengar suara itu.
“ kau mengagetkanku.” Kataku dengan menyembunyikan tumbler yang sudah sempat dilihat Mujib.
“ aku masih penasaran isinya apaan sih kak?”
“ sebaiknya kau buang rasa penasaranmu itu.” Kataku singkat dan berlalu pergi menuju tempat Nico duduk.
Nico memandangku penuh tanya yang aku tau harus menjawab dengan senyum dan menggeleng pelan. Aku cepat mengganti isinya sebelum ada yang melihat isinya khususnya Mujib, aku belum yakin sama dia kalau dia bisa menjagaku aku tak mau mengambil resiko. Setelah semua aku rasa beres aku mengembalikan tumbler itu ketempatnya semula dan menitipkannya lagi di Bu Mitro setiap aku selesai mengganti isi tumbler itu aku selalu memberi uang Bu Mitro yang sebenarnya tak pernah beliau harapkan.
27 Agustus 2014
Aku mulai mencintai seseorang yang lumayan telah aku kenal aku harus melakukan hal yang sama saat aku mencintai seseorang membuka apa yang ada pada diriku, aku sengaja mengajak Mujib ke cafe dekat dengan rumahku. Ia datang lebih cepat dari ada aku.
“maaf aku terlambat ya?” kataku sambil duduk dihadapannya, Ia hanya tersenyum dan menggeleng. Aku memanggil waiters dan memesan orange float dan hot cappucino untuk Mujib dan beberapa makanan ringan.
“kenapa kakak memanggilku kesini?” katanya heran.
“ aku rasa kau harus tau sesuatu.” Aku berhenti bicara sejenak dan menatap matanya. “ kau ingat saat aku bilang aku sakit? Apa kau sudah tak penasaran dengan apa isi tumbler yang ada di kantin?”
“tentu saja aku penasaran dengan kehidupan kakak yang menurutku banyak rahasia. Dan menarik untuk aku cari tau.”
Aku mengeluarkan kalung yang selama ini aku simpan dalam bajuku, aku melihat ia membacanya dan aku ingat ekspresi ini adalah ekspresi saat Nico membacanya heran dan penuh tanya. “ apa itu Von Willebrand Diases?” tanyanya.
“ ini penyakitku susah untuk menjelaskan secara medis namun yang harus kau tau aku tak bisa sedikitpun terluka, aku tak bisa jatuh, aku tak bisa makan makanan yang kasar, aku tak boleh menangis terlalu lama, aku tak boleh jalan terlalu jauh dan terlalu cepat, aku tak boleh kelelahan, aku tak boleh stress. Semua itu akan membuat aku akan kehilangan banyak darah. Saat aku tak masuk aku mungkin sedang kelelahan atau kakiku membiru dan bengkak.” Aku mengambil nafas sejenak. “ aku mau kau tau karna aku mulai mencintaimu.” Kataku singkat.
“ lalu isi tumbler itu?”
“ itu obat yang di import langsung dari Amerika, itu obat-obatan yang selalu disediakan dimanapun aku berada.”
“ apa kak Nico tau tentang kondisimu?”
“ tentu saja dia tau, dia tau sejak tahun pertamaku di Bali.”
“aku bisa menerimamu dengan keadaanmu, aku akan menjagamu sebisa mungkin.” Biasanya ia memanggilku kakak namun ia beralih ke kata ‘kamu’.
“ terima kasih kau mau menerimaku dengan kondisiku.” Kataku lega. Aku tau kalau dia oarang yang dewasa orang yang bisa mengerti orang lain.
Mujib memegang tanganku yang terasa ringan ia menatapku penuh arti. “ mungkin tak hanya kamu yang mulai mencintaiku namun aku juga mulai mencintaimu, apa kau mau menjadi pacarku?” sontak aku melotot dan menatapnya penuh tanya, mataku kini mulai tergenang air mata aku sangat bahagia, aku hanya bisa mengangguk dan air mata yang aku coba tahan akhirnya tumpah juga.
Mujib tersenyum bahagia melihat aku mengangguk, “ jangan menangis Lyla, aku takut kau terluka aku tak mau kau terluka.” Katanya mencoba menghapus air mataku, aku menghampirinya dan memeluknya.
***
Aku tau betapa dewasanya Mujib saat mengahadapi semua sikap egois dan kekanakanku agaknya sedikit berbeda dengan Nico, namun aku tak mau membandingkan mereka berdua karna manusia diciptakan unik dan berbeda memiliki sifat dan karakter masing-masing.
Kini bukan lagi Nico yang menungguku di depan namun Mujib, ia berjalan di depanku membiarkan tubuhnya tersenggol oleh anak yang berlalu lalang, dan selalu aku mendapat tatapan iri dari orang yang melihatku, khusunya adik kelas yang suka pada Mujib.
Sebagai anggota pramuka senior tentu saja Mujib sangat terkenal seantero sekolah, bukan karna ia telah menjadi senior tapi karna ia juga mempunya wajah yang rupawan dan senyum yang menawan. Ia juga sangat dewasa, baik dan ramah pada semua orang. Sikap ramahnya yang kadang membuat aku jengkel karna sikap ramahnya membuat aku selalu makan hati.
Aku suka dengan kesibukanku menjadi siswa kelas akhir artinya aku akan Lulus, Essa yang beda 2 tahun denganku harus menjalani masa SMAnya di Jakarta. Itu yang Essa mau sekolah SMA terbagus di Jakarta. Akhir-khir ini rumah sangat sepi semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Akhirnya aku dan Mujib sudah dua bulan bersama, banyak bertengkar? Tentu saja bertengkar adalah bumbu dari sebuah hubungan. Namun Mujib punya cara-cara jitu agar kami tidak lagi bertengkar dan membuat suasana menjadi sangat romantis.
Suatu hari sepulang sekolah yang terik aku berjalan menuju gerbang sekolah sedikit berlari lalu menengok “ ayo cepat” ajakku, Mujib menatapku khawatir.
Aku berhenti di tegah jalan sampai akhirnya ada sepeda motor yang melaju sangat cepat dan menabrakku, karna badanku yang ringan seperti tak memiliki massa aku jatuh dan tak sadarkan diri. Aku sempat menengar teriakan Mujib sampai akhirnya aku tak mendengar apa-apa lagi.
***
Aku dapat melihat tubuhkan yang terbaring kaku di sebuah kamar rumah sakit, mujib menangis dan memegang tangganku. Orang tuaku saling berpelukan dan menangis, bang Icol kakak tertuaku bersadar di tembok dan memengang kepalanya seakan frustasi, bang Ical memeluk Essa dan Lily yang sedang menangis. Aku melihat mereka dan tersenyum, mungkin ini akhir dari kehidupan Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi.
Aku sadar aku bukan untuk Mujib, Mujib bukan untukku namun aku bahagia ia mencadi cinta terakhirku. Meski ia tak bisa melihatku namun aku tetap bisa melihat wajahnya yang rupawan dan senyumnya yang menawan dari alamku yang berbeda.
Kini dari alamku aku dapat melihat orang-orang yang kusayang sedang menangis, menangisi kepergianku kini aku tau betapa aku berharganya untuk mereka meski dulu Nico pernah mengatakan bahwa aku adalah beban namun bagi kedua orang tuaku aku hanyalah malaikat mereka malaikat kecil mereka. Kini aku mengikuti cahaya yang datang menjemputku aku berbalik dan meninggalkan mereka dengan senyum bahagia.
TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar