Perkenalkan
namaku Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi, nama yang panjang memang itulah
yang dikatakan orang saat mereka tau nama panjangku, aku lahir di Bandung, 18
Agustus 1997, Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara. Papaku pengusaha yang sedang
sukses dan naik daun layaknya artis ibu kota, mamaku wanita karir yang keren,
kami tinggal di Bandung daerah yang dulu tempat paling sejuk tapi sekarang
adalah kota yang padat penduduk. Disinilah kisahku dimulai...
Suatu pagi aku mendengarkan
sayup-sayup suara memanggil namaku, karna aku belum sepenuhnya sadar dari
tidurku.
“ Lylaaaa.... cepat bangun.” Suara
itu terdengar lagi namun suara semakin dekat.
Seseorang masuk ke kamar tersebut.
Dan ternyata itu mamaku, aku menarik selimutku lebih rapat karna hawa dingin
yang menyergap.
“ayo lyl bangun, mama uda mau buatin
sarapan. Mama lagi buru-buru ini. Kita harus makan bersama, cepat bangun namun
hati-hati nanti jatuh.” Kata mama dan berlalu pergi.
Aku membuka mataku berlahan,
kepalaku sedikit pening. Aku masih mencoba duduk dan bersiap untuk sarapan. Aku
berjalan perlahan dan keluar dari kamar aku melangkahkan kakiku dengan
berhati-hati. Hanya saja aku takut jatuh dan terluka.
“ pagi ma.. pa.. abang.. essa..”
sapaku dengan senyuman.
“ pagi sayang, itu rotinya dimakan
tapi jangan lupa, hati-hati nanti terluka.” Jawab papaku dengan tersenyum.
“ ohh iya hari ini guru home
schooling kamu datang jangan banyak tingkah patuhi apa yang dikatakan beliau,
mama pilihkan guru yang muda agar bisa jadi temen ngobrol kamu juga kalau
abang-abang kamu sama essa lagi gak ada dirumah.”
Aku hanya menatap mama dan tersenyum
semanis mungkin meski aku tau ini aku memaksakan senyumku. Sejak SMA aku di
larang keras untuk masuk sekolah formal. Aku hanya bisa belajar dirumah,
membaca dirumah semua aktifitasku aku lakukan dirumah. Alasanya? Karna takut
jatuh dan terluka.
Aku makan roti bakarku dengan
perlahan, apapun yang aku lakukan semuanya perlahan dan tidak boleh
tergesah-gesah. Aku sangat bahagia memiliki keluarga yang hangat seperti ini,
abang Faisol ( Muhammad Faisol Galih Eka Putra Al Fahriyzie) yang baik dan
selalu ngelindungi aku, abang Faisal ( Muhammad Faisal Gandhi Dwi Putra Al
Fahrieyzie) yang jail tapi selalu menuruti apa yang adik-adiknya mau, ya dan
mereka berdua kembar. Aku punya adik kecil yang lucu tapi desawa dari pada aku
Essa ( Herlina Ganessa Catur Putri Al Fahriyzie). Punya mama dan papa yang
sayang sama aku, yang selalu perhatian dan aku sangat-sangat bahagia, yah meski
orang tuaku sering keluar kota ataupun keluar negeri untuk urusan bisnis dan
lain-lainnya.
Satu jam kemudian.... hanya tinggal
aku sendiri, sebenarnya tidak benar-benar sendiri masih ada pak satpam, tukang
kebun, dan beberapa asisten rumah tangga. Aku menunggu guru privatku datang,
dengan duduk di gazebo dekat kolam renang tempat belajar favoritku. Dengan air
yang jernih pepohonan yang rindang dan semua kenyamanan hidup ada di tempat
ini. Aku mulai membaca buku-buku pelajaran yang kadang membuat kepalaku pusing.
“Lyla?” sapa suara lembut yang ada
dihadapanku.
Aku sedikit mengalihkan pandanganku
kesuara itu berasal. Seorang wanita berparas cantik, sorot matanya tajam namun
teduh dan bahasa tubuhnya mengatakan bahwa ia adalah seorang yang cerdas. “ Ahh
iya, anda guru privat saya yang baru?” tanyaku sebisa mungkin dengan sopan.
“ perkenalkan nama saya Malika, kamu
bisa panggil bu Malika,atau kakak. Kan umur saya belum terlalu tua.” Candanya di
sela-sela perkenalannya, aku tersenyum dan mempersilahkan guru privatku duduk
di sebelahku. “ hari ini kita mau belajar langsung apa sekedar ngobrol-ngobrol
saja? Namun saya rasa kamu sudah siap untuk belajar.”
“ saya pikir kak Malika orang yang
menyenangkan. Dan saya rasa langsung belajar saja karna sudah ada beberapa hal
yang ingin saya tanyakan kepada kakak.” Aku memutuskan untuk memanggilnya kakak
karna aku rasa umurnya tak jauh beda dengan abang-abangku. Ia hanya melemparkan
senyuman manis dan menjawab pertanyaan yang aku ajukan.
***
2 bulan kemudian, susana makan malam
hari ini sedikit berbeda, semua makan dalam diam. “ begini...” itulah kata yang
papa ucapkan pertama saat makan malam hampir selesai. “ Papa dan Mama harus mengurus
bisnis kita yang ada di Bali, dan kami berdua tidak mungkin meninggalkan kalian
tanpa pengawasan, jadi kalian harus ikut semua ke Bali tanpa terkecuali. Kalian
harus transfer sekolah, Ical sama Icol harus transfer universitas di Bali. Dan
kami akan urus semuanya dalam 2 Minggu kita berangkat ke Bali.”
“ Pa, papa gak bisa dong seperti
itu, aku baru saja adaptasi masuk ITB sekarang aku harus transfer ke Bali.
Gimana kalau Lyla dan Essa yang ikut, aku sama Ical tetep di Bandung.” Kata
bang Icol tak setuju dengan rencana papa.
“ Icol sayang, maaf kami tidak ada
pilihan lain, kami belum tega meninggalkan kalian berdua di Bandung sendirian.
Kami tak tega sayang.” Kata mama dengan lembutnya memberi pengertian ke bang
Icol.
“ mama, kami sudah dewasa kami bisa
jaga sendiri, toh jarak Bandung Bali gak sejauh ke Malaysiakan, kalian bisa
menengok kita kapanpun kalian mau, kami janji saat kami tak bersama kalian kami
tidak akan menjadi anak yang nakal.” Bang Ical angkat bicara.
Papa melempar sendok dan garpu yang
Ia pegang hingga terdengar bunyi dentingan keras. “ cukup !! kalian tidak punya
pilihan, kalian keluar dari rumah ini atau kalian ikut Papa ke Bali. Dan papa
jamin kalau kalian masih keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah papa dan
mama kalian berdua khususnya tidak akan papa sekolahkan. Jadi intinya kalian
harus pindah ke Bali tanpa terkecuali.” Ucap papa dengan amarah dan
meninggalkan kami berlima di meja makan.
Aku hanya bisa terdiam tanpa suara,
aku baru beradaptasi dengan kak Malika, guru muda yang baik dan cerdas, bisa di
ajak curhat. Namun aku tau papa berbuat begini karna beliau sayang dengan kita
semua.
“ Icol, Ical, Lyla dan Essa. Kalian
bisa mengertikan ? maksud papa sama mama ini baik jadi kalian tolong kerja
samanya ini demi kebaikan kalian.” kata mama dengan tatapan nanar.
“ apa kalau Lyla ikut kalian Lyla
bisa masuk sekolah formal? Bukannya di Bali banyak bule, pasti di rumah sakit
Bali akan tersedia Golongan darah istimewa yang Lyla miliki. Jadi kalaupun Lyla
terluka penanganan akan jauh lebih cepat kan?” tanyaku dengan nada rindukan
kebebasan.
“ nanti mama sapa papa pertimbangkan
dulu.” Kata mama dan berlalu pergi.
Kami hanya bisa saling menatap
pasrah, aku menatap abang-abangku yang kecewa, begitupun dengan essa yang
kecewa juga tentunya. Aku tau mereka punya banyak teman di sekolahnya, tapi
meski aku hanya bisa home schooling tapi aku juga akan kehilangan guru
privatku.
Kami mulai berkemas hanya dalam
waktu dua minggu, kak Malika kini yang biasanya hanya datang seminggu 3 kali
karna keinginanku kak Malika jadi datang kerumah setiap hari memberikan
pengetahuan yang aku inginkan, tidak hanya itu kadang kak Malika juga membantu mengepak
barang-barangku.
Sudah banyak kardus-kardus yang
tersusun rapi di ruang keluarga, sebagian sudah dikirim ke rumah baru kami di
Bali, namun masih saja banyak kardus-kardus yang menumpuk. Dan waktu kurang
satu minggu sebelum keberangkatan. Abang-abangku jadi sering pulang malam karna
sering main dengan teman-teman alasannya sih harus salam perpisahan gitu
katanya. Mungkin hanya aku yang tidak harus mengucap salam perpisahan, karna
aku tak punya teman selain Kak Malika, dan mungkin teman-teman SMPku sudah lupa
dengan aku yang jarang masuk sekolah dulu waktu SMP. Papa dan Mama setuju kalau
aku di Bali akan masuk ke sekolah formal, aku masuk Di SMA Negeri 1 Denpasar
Bali. Abang-abangku di transfer ke Universitas Udayana Bali, Essa ke SMP Negeri
4 Denpasar Bali yang dekat dengan perumahan kami nantinya, itu sih kata mama
dan papa.
Aku berharap aku bisa menjadi anak
normal pada umumnya, merasakan sekolah, jalan-jalan ke mall, ke pantai, piknik
bareng, study tour, wisata dengan teman-teman sekelas ataupun yang paling aku
inginkan merasakan cinta. Selama ini aku hanya tau cinta dari ftv dan
drama-drama yang aku lihat. Bahagia sekali merasakan cinta dari lawan jenis
kita. Abang Faisol penah bilang kalau kita sedang jatuh cinta kita akan susah
tidur kita akan selalu kepikiran orang yang sedang kita cintai. Kalau kata Bang
Faisal, kalau sedang jatuh cinta kita akan tidak enak makan, senyum-senyum
sendiri, dan selalu bersemangat. Dan aku ingin merasakan itu semua aku ingin
merasakan cinta.
Tiba saat keberangkatan ke Bali,
kami sekeluarga dan asisten rumah tangga kami yang ikut serta diboyong ke pulau
Dewata sudah ada di Bandara internasional Halim Perdana Kusuma, ini bukan
penerbangan kali pertama untukku atau saudara-saudaraku, Jadi aku merasa rileks
dan biasa saja, namun mbak Ipeh asisten rumah tangga kami baru kali pertama
naik yang namanya pesawat saat kita masih menunggu keberangkatan mbak Ipeh uda
sering bolak balik ke toilet. Aku mencoba untuk membuat mbak Ipeh tenang namun
tak berhasil.
4 jam kemudian .....
Yah kami landing di bandara Internasional I Ngurah Rai, hawa panas
menyergap, kurapatkan jaketku dan topi yang aku kenakan agar tidak terkena
sinar mataharinya yang terik, sopir baru kami sudah datang menjeput tepat di
pintu kedatangan, sopir itu membantu memasukkan koper-koper kami kedalam bagasi
mobil, dan kami segera masuk ke mobil untuk langsung ke rumah baru.
“ nanti kalian bisa jalan-jalan ke
pantai Kuta, ke Sanur, ke GWK juga. Pokoknya disini papa kasih kalian ke bebasan
untuk jalan-jalan atau kalian mau ke Lombok untuk berlibur? Papa siapkan
akomondasinya. Ini hadiah papa untuk kalian, karna kalian sudah mau ikut pindah
ke Bali.” Kata papa dengan tersenyum lebar. Aku dapat melihatnya dari kaca
sepion.
“ termasuk Lyla pa? Apa Lyla boleh
jalan-jalan sampe Lyla puas?” tanyaku dengan suara bergetar.
“ yah mungkin, kamu masih harus
dalam pengawasan kami, tapi asal kamu mau janji kamu akan baik-baik saja, papa
akan mengizinkan.”
“ papa yakin? Papa akan mengizinkan
Lyla pergi kemana saja yang Lyla mau?” tanyaku dengan mata berbinar dan senyum
lebar kali ini.
“ ya papa akan mengizinkan, tapi
tetap dengan pengawasan.”
Aku hanya tersenyum dan seakan
mengucapkan terima kasih sangat sulit, hanya bisa tersenyum dan tersenyum
bahagia. Kami tinggal di komplek perumahan Elit di Denpasar, menurut papa ini
perumahan dekat dengan pusat kota yang akan memudahkan kita kalau kita mau
kemana-mana dekat dengan sekolah, dekat dengan Hotel papa dan mama bekerja,
dekat dengan kampus abang-abangku.
Kita sampai di rumah baru kami, aku
memilih kamar yang memiliki balkon, dan ternyata kamar ini telah di desain
sesuai keinginanku, temboknya bercat biru muda, dan langit-langitnya diserupakan
langit malam yang penuh bintang. Kamar ini juga didesain dengan pintu yang
saling menhubung ke kamar sebelah, sebelah kananku kamar bang Faisol dan bang
Faisal, sebelah kiri kamar adikku Essa, kamar mama dan papa ada di lantai
bawah, dan kamar tamu juga ada di lantai bawah. Rumah ini sangat megah jauh
lebih megah dari rumah kami di Bandung. Rumah ini juga ada perpustakaan mini
yang sudah di lengkapi dengan sofa yang nyaman untuk membaca, kolam renang dan
taman yang luas. Namun halaman depannya tidak terlalu luas. Nampaknya papa dan
mama mendesain rumah ini agar kami nyaman tinggal di dalamnya. Setelah kurasa lelah
mengelilingi rumah untuk melihat ruangan-ruangan yang ada kini saatnya aku
beristirahat di kamarku sambil menatap langit-langit kamar yang elok.
Papa tau kalau aku suka dengan
langit malam dan isinya, benda langit yang paling aku suka dan hanya ada di
malam hari adalah bintang. Aku suka bintang yang menurutku kalau aku sedang
melihat mereka dilangit luas aku merasa tenang dan damai seakan masalah yang
ada pada diriku hilang.
***
Hari ini adalah hari pertama kami
beraktifitas di pulau Dewata yang katanya surganya Indonesia ini. Aku suka
melihat diriku di bayangan kaca, rambutku terkuncir kuda rapi dengan memakai
setelan seragam putih abu-abu dan dasi yang sudah terpasang dileherku, dengan
lengan pendek dan rok span di bawah lutut. Aku membawa buku-buku yang telah
disiapkan oleh papa kemarin malam, aku bahagia bisa masuk ke sekolah formal
hari ini. Aku baru kelas X / sepuluh tahun ini, aku turun dari kamarku dengan tas
punggung yang hanya aku pakai sebelah saja. Aku duduk di meja makan dengan
tersenyum.
“ cie akhirnya masuk sekolah formal
lagi.” Goda bang Icol yang aku tanggapi dengan meringis kecil. Aku mulai
memakan roti yang ada di hadapanku.
“ Lyla mama uda bilang ke kepala
sekolah dan guru olahraga kamu, kalau kamu tak harus ikut olahraga, di tas
sudah ada obat-obatan yang kamu perlukan kan? Nanti mama siapkan di mobil juga,
biar kamu ga ribet bawa obat kamu
titipin di lemari pendingin di kantin kan bisa. Ohh iya hati-hati jangan sampai
jatuh dan terluka. Kalau uda pulang langsung pulang kalau mau jalan-jalan sama
teman kamu bilang mama ya.” Tutur mama panjang lebar pagi ini, aku hanya bisa
menjawab dengan kata iya, iya dan iya.
Setelah Essa turun dari mobil,
saatnya aku yang menuju ke sekolahku. Tak jauh dari sekolah Essa. Saat sampai
pak Ketut supir baru keluarga kami mengantarku sampai depan gerbang, saat masih
di gerbang sudah banyak mata yang menatapku dan berkasak-kusuk hebat. Aku
melemparkan senyuman kearah pak Ketut untuk meninggalkanku. Aku berjalan
sepelan mungkin menuju ruang kepala sekolah. Dan saat bel masuk aku diantar ke
kelas baruku, menyusuri lorong-lorong yang ada di sekolah ini.
“ kamu baik-baik saja Lyla? Kalau
kamu merasa lelah berjalan kita bisa beristirahat sebentar.” Tanya kepala
sekolah kepadaku dengan tatapan khawatir, aku hanya tersenyum dan menggelangkan
kepalaku menandakan aku tidak apa-apa.
Beberapa saat aku menunggu di depan
kelas lalu kepala sekolah mempersilahkan aku masuk ke kelas tersebut. Riuh
rendah terdengar oleh telinga kecilku, banyak yang mulai berkasak-kusuk hebat.
“ hai semua, perkenalkan namaku
Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzie, bisa di panggil Lyla singkatnya, aku
pindahan dari Bandung semoga kita bisa berteman ya.” Sapaku untuk yang pertama
tak lupa senyuman termanis yang aku punya aku persembahkan untuk mereka.
“ ada yang ditanyakan kepada Lyla?”
tanya Pak Made kepala sekolah yang masih setia berdiri disebelahku. Mataku
menangkap gerakan tangan yang diacungkan ke atas, kepala sekolah lalu
mempersilahkan pemilik tangan tersebut bertanya.
“apa kamu di sekolah lamamu juara
kelas?” katanya, aku bingung menjawab karna selama ini aku hanya home schooling yang tidak ada penilaian
juara kelas.
“ maaf sebelumnya, aku baru saja
masuk high school, sebelumnya aku
adalah siswa home schooling jadi aku
belum pernah merasakan jadi juara kelas selama high school.”
“ sudahlah Vin, kamu ini gak seru
banget sih dia kan baru masuk ke SMA kita masa uda di tanyain hal yang berat-berat
sih, kamu takut salah saing?” Celoteh anak lelaki di belakangnya. Anak yang
mengacungkan tangan tadi yang ternyata namanya Kevin hanya tersenyum sinis. Aku
yakin dia anak yang selalu menjadi juara kelas.
“ oke cukup, Lyla silahkan kamu
duduk di bangku yang kosong. Oh iya tolong hati-hati ya.” Kata pak Made lalu
keluar dari kelas, kata “hati-hati” tidak akan pernah terlupa dari pikiranku,
dan sekarang kepala sekolah juga akan memperingatkanku. Aku berjalan menatap
bangku yang kosong di tengah kelas, aku tersenyum kepada teman di sampingku
yang ternyata seorang anak perempuan yang manis menurutku. Dan hari-hari
menyenangkan di sekolah formal di mulai...
Saat istirahat aku membawa sebuah
termos kecil yang berisi obat-obatan yang di import langsung dari Amerika, aku
berniat menitipkan termos itu di kantin sekolah.
“ ibu permisi kenalin nama saya Lyla
saya siswa baru bu, saya boleh titip sesuatu di lemari pendingin itu?.” Kataku
sambil menunjung lemari pendingin yang ada di sebelah etalase toko tersebut.
“ ohh iya neng, nama saya bu Mitro,
silahkan neng tak papa kok. Neng taruk aja di bagian belakang yang paling bawah
agar tak ada yang tertarik dengan termos itu.” Sapanya dengan ramah.
“ iya bu, tolong kalau ada yang mau
buka jangan di bolehin ya bu. Ini penting buat saya, soalnya kalau ga di simpan
di tempat yang dingin takutnya rusak. Ohh iya ini buat bonus menjaga termos
saya.” Aku mengeluarkan uang seratus ribu untuk memberi imbalan jasa.
“ tidak perlu neng, saya ikhlas
kok.” Kata bu mitro dengan mendorong uang yang aku berikan.
“ begini saja bu saya beli minuman
ini uangnya.” Kataku sambil mengambil sebotol minuman dari lemari itu juga lalu
saat bu Mitro sibuk mencarikan uang kembalian aku langsung pergi dari kantin
tersebut. Sudut mataku melihat bu Mitro menggelang-gelangkan kepala.
Aku hanya bisa duduk di kelas yang
menjagaku tetap aman dari segala gangguan yang ada di sekolah ini yang bisa
membuat aku terluka. Seseorang berdiri dihadapanku aku tau saat aku sedang
konsentrasi dengan bukuku. Ada sepatu yang berhenti tepat di sebelah mejaku,
aku mendongak ke atas dan melihat siapa yang datang, ternyata ada seorang
laki-laki yang berdiri dihadapanku dengan badan yang tegap dan atletis yang
sedang menjulurkan tangan ke arahku.
“ kamu anak barukan? yang tadi aku
lihat sedang ngobrol dengan Bu Mitro di kantin? Kenalin aku Nico, Aditya Nico
Arif Prayoga.” Ucapnya berusaha mengajakku bersalaman. Aku tersenyum dan
menerima tangan itu dan ku genggam tangannya yang ternyata sangat hangat.
“ iya aku anak baru, panggil saja
Lyla.” Aku masih tersenyum menatapnya, saat aku melepas tangannya tiba-tiba dia
duduk di bangku depan menghadap kearahku.
“ kenapa kamu disini? Kamu belum
bisa bersosialisasi ya sama yang lain?” tanyanya lagi.
Aku menatap matanya dan tersenyum
lagi , “ tidak, bukan begitu aku bisa berteman dengan siapa saja. Hanya aku
takut untuk keluar karna banyak resiko untukku.”
“resiko? Resiko apa?” tanyanya
menyelidik.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum dan
mengeluarkan kalung perak bertulisan pasien
Von Willebrand Diases, aku tau Nico sedang membaca kalung itu lalu tak
berapa lama aku kembalikan kalung yang melingkar dileherku masuk kedalam
bajuku. Kulihat raut wajah bingungnya menatapku penuh tanya. “ sebelumnya aku
tak pernah menceritakan ini pada siapapun, tapi tak tau kenapa aku percaya sama
kamu jadi janji ya jangan bilang siapa-siapa tentang ini. Aku sakit Co aku
pengidap von willebrand diases, ketika
aku terluka darahku akan sukar membeku bisa-bisa terjadi pendarahan yang
berlebihan, ini kelainan darah yang diturunkan dan nenekku adalah salah satu
pasien VWD sampai akhirnya 10 tahun yang lalu nenek meninggal.” Aku bercerita
dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Nico menatapku lama penuh tanya,
seakan masih tak percaya kalau aku sakit. “ lalu apa yang terjadi jika
pendarahan yang berlebihan?” tanyanya masih dengan muka yang penuh tanya.
“ Aku membutuhkan tranfusi darah
minimal, maksimalnya aku meninggal dunia karna kehilangan banyak darah. Inilah
sebab aku tak mau keluar kelas bukan karna aku tak bisa bersosialisasi tapi karna
aku takut terluka, sebelumnya aku tak menceritakan karna aku takut mereka semua
akan jijik melihatku dan pergi menjauh.” Jawabku dengan singkat.
“ tapi kenapa kamu menceritakan ini
ke aku apa kamu tak takut kalau aku jijik padamu dan pergi menjauh?”
“ silahkan kalau kau mau menjauh
dariku sekarang aku tak apa, yang aku minta padamu jangan bilang pada
teman-teman yang lain, kamu bisakan?” tanyaku penuh kekhawatiran seharusnya aku
tak pernah cerita pada siapapun, sedikit ada penyesalan pada hatiku karna telah
bercerita pada orang yang baru aku kenal.
Kini aku dapat melihat bibir Nico
sedikit terangkat keatas menandakan dia sedang tersenyum. “ Aku tak akan
menjauhimu, aku tetap ingin berteman denganmu gadis yang berparas cantik, dan
aku janji aku tak akan pernah bilang tentang keadaanmu kepada orang lain.”
Jawab nico dengan tersenyum lebar, kini aku sedikit lega dengan apa yang baru
saja ia bicarakan dan aku bisa tersenyum lega.
Pulang sekolah Nico mengantarku
sampai gerbang dan aku langsung masuk mobil, kusempatkan untuk melambaikan
tangan padanya teman yang membuat aku nyaman. Saat mobil berjalan sejenak aku
melihat kebelakang dan Nico masih memperhatikan sampai mobilku hilang dari
pandangannya.
“Gadis yang menarik.” Desah Nico
saat mobilku hilang dari pandangannya.
***
Hari minggu ini abang-abang
mengajakku dan Essa berjalan-jalan di sekitar pantai Kuta Bali, saat semua ke
pantai dengan pakaian pendek aku malah menggunakan pakaian serba tertutup dan
topi. Tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk bersenang-senang, aku mau
bersenang-senang seharian ini.
“ Lyla kamu jalannya kecepetan”
teriak abangku memperingatkan.
“ Lyla terlalu bersemangat bang,
sekarang Lyla akan pelan-pelan.” Jawabku dengan memperlambat jalanku sangat
lambat sekali.
Kugunakan waktu sejenak untuk beristirahat
di pinggir pantai duduk sambil menikmati pemandangan dan melihat orang lalu
lalang dihadapanku. Essa sedang berlari-lari ke bibir pantai dan bermain dengan
ombak bersama bang Ical, sedangkan bang Icol mencarikan minuman untuk kami dan
alhasil aku sendirian duduk memperhatikan mereka semua. Tak lama aku duduk ada
seseorang yang ikut duduk denganku aku menoleh dan terkejut ternyata Nico
sedang duduk di sampingku.
“ hai, kenapa kamu sendirian
disini?” tanyanya tanpa memandangku.
Aku masih mengatasi rasa terkejutku
dan tersenyum “ aku tidak sendirian aku bersama saudara-saudaraku, kau lihat
dua orang yang sedang bermain disana? Mereka adalah kakak dan adikku, tapi
kakakku sulungku masih membelikan kami minuman dan belum kembali.” Kataku
sambil menunjuk Essa dan Bang Icol yang sedang tertawa lepas aku terdiam
sejenak . “ lalu kenapa kau disini sendirian? Apa yang kamu lakukan disini?”
kataku berbalik bertanya.
“ setiap Minggu aku memang selalu
kesini untuk berlari-lari saja, lalu tadi tak sengaja aku melihatmu bersama
saudara-saudramu aku dari tadi mengekor jauh di belakangmu, namun kau tak sadar
kalau aku membuntutimu.” Jawab Nico.
Aku hanya mengangguk-anggukan
kepalaku tanda mengerti beberapa saat kami diam dalam pikiran masing-masing.
Dan bang Icol datang dengan beberapa bungkus plastik di tangannya. “lama banget
bang belinya, jauh yah belinya?” kataku dengan melihat barang bawaan bang Icol.
Bang Icol melihat Nico lalu melihatku, aku mengerti arti tatapan itu. “Kenalin
bang ini temen di Sekolah namanya Nico, Nico ini abang aku Bang Icol.” Mereka
saling berjabat tangan dan tersenyum.
“ ini minuman buat Nico, tadi aku
beli lebih.” Kata abangku dengan memberikan kaleng soft drink pada Nico.
“ Makasih kak, seharusnya kakak gak
perlu repot-repot.” Nico menyambut soft drink tersebut. Bang Icol memberikan
satu minuman susu kesukaanku dan membukanya untukku. Setelah dipanggilnya bang
Ical dan Essa supaya mendekat kearah kami. Nico sempat bingung melihat Bang
Ical dan Bang Icol yang kembar.
“ kalo ini abangku yang kedua
namanya Bang Ical dan ini adik paling kecil namanya Essa, yah sepertinya kamu
bingung Nico, Bang Ical sama Bang Icol ini kembar, kembar identik malah. Jadi
susah untuk dibedakan bagi orang yang tak pernah melihat mereka berdua.” Kataku
seolah sudah menghapus pertanyaan yang ada di muka Nico.
Akhirnya kami berlima berjalan-jalan
sampai parkiran mobil , sudah saatnya kami pulang abang Icol sempat menawarkan
untuk Nico pulang bersama kami tapi ternyata Nico menolaknya dengan halus karna
Nico membawa sepeda motor yang diparkirnya tak jauh dari mobil kami. Aku sempat
melambaikan tangan pada Nico sebelum ia pergi dan menghilang dari pandanganku.
Setelah melambaikan tangan tak tau mengapa kepalaku mendadak pusing dan
akhirnya pandanganku gelap lalu aku pingsan dan bang Icol yang membopongku
kedalam mobil.
Saat sadar aku sudah ada dikamarku,
aku melihat sekelilingku kepalaku masih terasa pening, aku melihat saudara-saudaraku
berada disisiku aku tersenyum “ maaf ya bang lyla begini lagi.” Ucapku pertama
kali saat aku tersadar dari pingsanku. Aku melihat muka saudara-saudaraku yang
khawatir dengan keadaanku. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang menusuk di
sendi-sendi kakiku aku meliriknya dan ternyata kakiku sedang di kompres dengan
air es karna kakiku sudah sedikit membengkak, mungkin ini karena aku kelelahan.
“ untung hanya membengkak dan tak
ada yang fatal.” Kata bang Ical saat atau melihat kakiku yang membengkak,
mungkin ini sudah kesekian kalinya kakiku membengkak seperti ini.
Aku kembali memejamkan mata
menikmati dingin yang menusuk disetiap sendiku, aku selalu berharap kejadian
seperti ini tidak akan terulang kembali, semakin lama rasa dinginnya hilang
hanya terlihat bekas lebam. Aku mencoba menggerakan kakiku dengan perlahan ini
yang aku lakukan saat kakiku sudah tak bengkak lagi.
Saat bang Icol melihatku keluar dari
kamar ia berusaha membantuku, aku meliriknya dan tersenyum. “ besok jangan
masuk sekolah ya aku takut kamu kenapa-kenapa dek.” Katanya dengan raut muka
yang khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku pelan “
Lyla mau masuk bang, Lyla tak mau tertinggal pelajaran lagi.” Jawabku dengan
berjalan tertatih.
Aku tau aku egois, ini karna aku tak
mau kejadian saat SMP kembali terulang. Tak ada yang mengenalku di sekolah aku
hanya punya sedikit teman, sangat menjengkelkan saat aku sendirian.
Saat malam tiba setelah mencoba
belajar dan membaca beberapa buku aku keluar dari kamar duduk di balkon depan
kamarku memandang ke langit malam yang luas, menatap bintang yang bertaburan
dengan hiasan bulan sabit yang tersenyum, lalu tiba-tiba bayangan Nico
menari-nari di kepalaku. Aku tak tau mengapa ini terjadi aku tak tau mengapa
Nico yang ada dikepalaku saat ini, aku mencoba menyingkirkan dia dari fikiranku
saat ini. Kucoba menatap bintang lagi menenangkan pikiranku yang agaknya
sedikit terombang ambing. Apa mungkin aku sedang merasakan apa yang orang sebut
dengan namanya jatuh cinta.
***
Aku memutuskan untuk tidak masuk
hari ini, karna kakiku sangat sakit jika di gerakkan terlalu lama, ini kali
pertamaku tak masuk sekolah di sekolah baruku. Ada sedikit ke khawatiran yang
ada di benakku. Tadi sekitar jam 8 pagi Nico mengirim sms padaku kenapa hari
ini aku tak masuk dan ada juga beberapa teman yang sms, aku heran mereka tau
nomerku dari mana? yang aku tau aku hanya memberikan nomerku pada Nico. Aku
senang saat mereka mengirimkan pesan padaku karna aku tau kalau mereka sedang
memperhatikanku. Kubalas satu-satu pesan mereka dengan sabar dan dengan hati
senang.
Dari : Putra
Lyla
kamu kenapa gak masuk hari ini? Kan aku jadi tak bisa melihat senyummu hari ini
L
Dari : Michael
Kamu hari ini kemana?
Kelas sepi tanpamu :3 cepat sembuh yaa.... ({})
Dari : Susan
Lyl,
kenapa ga masuk? Kamu sakit ya? Cepat sembuh ya ... aku sendirian ga ada temen
sebangku jadi garing nihh.. J
Dari : Nico
Kamu
kecapekan ya gara-gara kemarin sampai kamu hari ini gak masuk? nanti malem kalo
sempet aku telpon deh, kamu gapapakan? Jangan sakit-sakit ya, kalau kamu masuk
aku akan jaga kamu agar tak terluka, miss you Neng ... :*
Dari semua pesan yang dikirimkan
teman-temanku mungkin hanya pesan Nico yang menarik untuk kubaca
berulang-ulang, dia memanggilku ‘neng’ lagi. Aku tak tau apa hubunganku dengan
Nico tapi aku merasa nyaman, aku nyaman dengan apa yang ia lakukan untukku, aku
membaca kembali pesan Nico lalu tersenyum dan akhirnya kubalas pesan singkat
tersebut.
Saat malam tiba setelah abangku
mengantar makan malam dan obat yang harus kuteguk, akhirnya seseorang yang
kutunggu memberi ku kabar dengan menelponku, aku tersenyum melihat layar
handphoneku yang sedang menyala. Kuangkat dengan segera dan hati gembira.
“halo.” Kataku memberi awal
pembukaan
“ halo Lyl, gimana udah baikan?”
jawab Nico dari sebrang telpon
“ ehh uda kok Co, besok mungkin juga
uda masuk sekolah.”
“ emang sakitnya yang mana sih?”
“ ya Cuma nyeri aja di persendian
kaki, jadi buat jalan susah tapi ini uda baikan kok.”
“ ohh, yakin uda bisa jalan? Kalau
ga bisa jalan jangan paksain deh dari pada makin parah neng.”
Eh, aku terdiam sejenak dia manggil
aku neng rasanya jantungku langsung meloncos keluar dari raga lalu kembali. “
aku gak papa kok, yakin deh suwer.” Jawabku dengan cepat agar suaraku tak
terdengar bergetar. Karna tiba-tiba ada getaran berbeda dalam dadaku.
Selanjutnya Nico bercerita dengan
keadaan kelasnya yang selalu ramai membicarakanku, karna aku dan Nico tidak
satu kelas. Dan Nico bercerita betapa dia bahagianya bisa dekat denganku, aku
pun juga bahagia dekat dengannya kataku dalam hati. Hampir 2 jam kami mengobrol
ditelpon tertawa bersama, saling bercerita satu sama lain meskipun aku tau yang
banyak bercerita adalah Nico aku hanya mendengarkan saja.
“ uda ya neng, uda malem kamu juga
harus istirahat. Makasih ya uda mau ngobrol sama aku neng, besok kalau kamu uda
masuk aku tungguin di gerbang deh. Kan aku uda janji aku bakalan jagain kamu,
selamat malam neng.” Kata nico dan aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat
malam. Kumatikan telponnya lalu aku tidur dengan tersenyum.
***
Pagi-pagi ternyata Nico sesuai
dengan janjinya kemarin malam, dia sudah ada di gerbang sekolah menungguku.
Saat aku turun dari mobil di bantu oleh pak Ketut sedetik kemudian Nico sudah
di depanku menjulurkan tangannya kusambut tangan yang hangat itu dengan
tersenyum, saat jalan di koridor sekolah yang sudah agak ramai aku berjalan
dibelakang Nico, dia seperti tameng berjalan untukku agar aku tak tersenggol
oleh teman-teman yang lain. Tatapan yang berbeda-beda kudapat pagi ini, ada
yang terkejut dan ada tatapan tak suka padaku, aku mempererat peganganku pada
lengan baju Nico, saat Nico sadar jika aku memegang erat lengannya dia menoleh
kearahku, aku hanya tersenyum dan menggeleng lalu kembali berjalan dengan pelan
ke kelas. Yang aku syukuri adalah teman-teman kelas tetap tersenyum melihatku
datang, setelah bilang terima kasih ke Nico aku duduk di bangkuku dan Nico
berlalu pergi.
“ kamu uda baikan Lyl?” tanya Susan
teman satu bangkuku.
“ sudah kok San, kemarin Cuma
kecapekan aja jadi ga bisa bangun dari tempat tidur, sekarang udah ga papa kok
seperti yang kamu lihat.” Kataku dengan tersenyum.
“ kok tadi bisa dianterin Nico sih
Lyl?” kali ini Putra yang angkat bicara.
“ iya kemarin memang uda janjian di
gerbang sama Nico, ya uda deh tadi Nico nganterin ke kelas juga sekalian.” Jawabku
dengan menatap Putra.
“ eh, Lyl kamu kira Nico itu bodyguardmu apa? Masa iya Nico jalan di
depan kamu kaya jadi tameng kamu. Kamu kira kamu siapa?” kata-kata dari Micel
sedikit menyinggungku dan mengusik hatiku.
Beberapa saat aku terdiam lalu
tersenyum kearah suara itu berasal. “ aku memang bukan siapa-siapa Nico. Tapi
dia sendiri yang berjalan di depanku, dan aku tidak pernah mengganggapnya
sebagai pengawal pribadiku atau apalah itu namanya, dia hanya temanku.” Jawabku
dengan tegas namun tetap tersenyum.
“ eh, Micel terserah Nico dong mau
jalan di depan kek, atau dimanalah, kan yang punya kaki Nico bukan kamu, kamu
cemburu ya? Kan kamu dari dulu suka Nico.” Kata Kevin dengan ucapan pedasnya
dan disusul dengan tawa anak-anak satu kelas. Aku melihat muka Micel merah
sekarang sangking malunya mungkin. Aku Cuma tersenyum dan mengeluarkan beberapa
bukuku untuk kubaca.
Bel pulang berbunyi yang disambut
lega oleh murid-murid lainnya. Aku merasa lelah karna pelajaran matematika ini
membuat kepalaku pusing, andai saja ada kak Malika yang akan membatu
mengerjakan soal dengan cara mudah dan cepat pikirku, ahh aku merindukannya.
Nico sudah stay depan ruangan kelas,
aku menunggu yang lain keluar dulu agar aku tak tersenggol sana-sini. Saat
ruang kelas sudah kosong aku berjalan menuju Nico berdiri.
“ aku mau berjalan disampingmu, aku
tak mau berjalan di belakangmu.” Kataku dengan nama yang sedikit lain dari
biasanya.
“ loh memangnya kenapa kalau aku
jalan di depanmu, aku menjagamu agar kamu tak tersenggol anak-anak saat mereka
sedang menggerumbul, aku memberikan jalan padamu.” Jawab Nico heran.
“ aku hanya tak ingin mereka salah
paham dengan hubungan kita, Micel sudah cemburu dengan sikap kamu yang seperti
ini ke aku, aku Cuma pengen teman disini bukan musuh Nico.” Aku hanya bisa
menatap ujung sepatuku untuk menyembunyikan perasaanku.
Nico memegang pipiku dengan kedua
tangannya dan rasa hangat merasuk kedalam relungku seketika, “ neng, aku tak
peduli apa yang mereka bilang tentang kita, aku tak peduli mereka
membicarakanku seperti apa. Aku hanya ingin menjadi teman yang baik buat kamu.”
Nico tersenyum dan ia mulai berjalan didepanku dengan pelan akupun mulai
mengekor di belakangnya.
***
Bulan agustus datang, inilah saat
bahagiaku juga datang ini adalah bulan kelahiranku yah aku tak sabar untuk merayakan
ulang tahunku. Sudah satu bulan saat kepindahan kami ke Bali. Tak ada yang
berubah mungkin orang tuaku sedang sibuk-sibuknya di Hotel dan cotage cotage yang mereka kelolah, aku
juga sudah beberapa kali tidak masuk sekolah karna penyakitku. Dulu aku ingat
saat baru dua minggu masuk sekolah, teman-teman menanyakan kenapa aku selalu
menghilang saat pelajaran olahraga di lapangan, saat jam olahraga aku pergi
keperpustakaan untuk membaca buku apapun yang menurutku menarik.
Hubunganku dengan Nico yah kita
masih berteman setelah satu bulan ini, mungkin kita sedang ada di zona nyaman
berteman mungkin. Tapi aku selalu bersyukur dengan apa yang kudapat saat ini.
Hari ini hari minggu dan aku hanya berdiam dikamar, aku rasanya sedang lelah
dan tak ingin kemana-mana. Kuhabiskan waktuku untuk tiduran, membaca buku, ke
kamar mandi, kembali ke tempat tidur yah kegiatan yang monoton.
Bulan ini juga bertepatan dengan
bulan Ramadhan bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan. Karna di sekolahku
mayoritas beragama hindu jadi sampai H-3 menjelang Hari Raya Idul Fitri sekolah
belum juga diliburkan, tetapi yang umat muslim sudah boleh libur, aku dan
keluargaku pulang ke Bandung dan merayakan lebaran bersama sanak saudara kami
yang ada di Bandung dan daerah sekitar. Nico? Em Nico balik ke Malang yah dia
berasal dari kota Malang, dan Nico muslim.
Kami selalu saling mengingatkan
untuk makan sahur, saat berbuka juga kami saling menghubungi. Sebenarnya aku
tidak dianjurkan untuk puasa karna dapat mengganggu kesehatanku, tapi karna aku
ingin menjadi umat Tuhan yang baik jadinya aku ikut berpuasa. Kadang setelah
sholat tarawih aku dan Nico tak jarang telfon-telfonan sampai malam.
Sampai pada akhirnya tanggal 17
Agustus 2012, Nico memberiku pesan singkat bahwa ia akan menyatakan perasaanya
pada seorang wanita yang ia suka di Malang, aku merasa terpukul? Iya pasti, aku
kecewa ternyata rasaku untuknya bertepuk sebelah tangan. Tapi aku tetap tegar
dan tak ingin menangis, aku kacau sangat kacau.
Keesokan harinya Nico menelponku
pagi-pagi selain untuk membangunkan aku sahur ia juga mengucapkan selamat ulang
tahun padaku, ini adalah hari bahagiaku dilahirkan di dunia. Aku tak ingin
mengingat-ingat kejadian kemarin saat aku kacau hari ini aku ingin
bersenang-senang. Sebenarnya tak ada acara spesial untuk ulang tahunku yang ke
15 tahun hanya ada acara buka puasa dengan keluarga kecilku.
Dan lebaran tiba tepat 2 hari
setelah ulang tahunku, saat aku selesai sungkem dengan keluarga yang sudah jadi
tradisi sebelum kita ke Jakarta untuk ke rumah saudaraku Nico tiba-tiba
menelpon. Aku heran kenapa dia menelpon di moment yang seperti ini, awalnya aku
kira hanya untuk bermaaf-maafan saja, jadi ku angkat telpon itu.
“ halo Co?”
“ halo Lyl, minal aidzin walfaidzin
ya Lyl, maaf maaf nih kalau aku punya salah ya.”
“ ohh iya Co, aku juga ya minta maaf
kalau selama ini Lyla bikin salah ke Nico.”
“ Lyl, kamu ingat 3 hari yang lalu
aku bilang mau nembak cewe yang aku suka?”
“ iya aku ingat kok” tiba-tiba rasa
bete muncul didalam benakku, Nico sangat tidak pas membicarakan ini di moment
yang seperti ini pikirku.
“ aku mau nembak dia sekarang.” Nico
diam sebelum melanjutkan kata-katanya aku hanya terdiam dan heran dengan apa
yang baru ia katakan. “ Neng, aku ga tau harus mulai dari mana, tapi ini yang
aku rasakan selama satu bulan terakhir ini, aku suka sama kamu sejak aku liat
kamu di kantin bu Mitro dulu. Aku ga mau kalau kita hanya sekedar teman saat ini,
aku mau menjadi guardian angel kamu
lyl. Kamu mau gak jadi pacar aku?”
Nico membuatku terkejut rasanya
hampir pingsan kudibuatnya. “ jadi cewe yang kamu bilang kamu suka sama dia itu
aku?” tanyaku seakan tak percaya
“ iya kamu orang yang aku suka.”
“ Nico, kamu tau perasaanku saat aku
tau kamu mau nembak cewe? Aku kacau Nico aku gak rela kalau kamu suka orang
lain, tapi sekarang kamu nembak aku, ini rasanya kaya ada mimpi tau gak?” kataku
dengan terisak-isak bahagia, “ co kamu tau? Aku punya perasaan yang sama dan
waktu yang sama juga denganmu, jadi bagaimana bisa aku menolakmu?.”
“ jadi di hari penuh rahmat ini kau
mau menerimaku?” tanyanya meyakinkan
“ aku mau Co, aku mau menerima kamu.
InsyaAllah kita bisa menjalani ini sama-sama.” Kataku dengan tulus, sedetik
kemudian abangku sudah berteriak-teriak agar aku besiap untuk pergi ke Jakarta,
aku berpamitan pada pacar baruku untuk menutup telponnya. Hari ini lengkap
sudah kebahagiaanku, mungkin ini kado ulang tahun ke 16 yang terindah aku
mendapatkan first loveku.
***
Saat liburan usai tentu saja orang
yang ingin kutemui pertama kali adalah Nico, hari terakhir liburan Nico
mengajakku berjalan-jalan dan makan malam, untung papa dan mamaku memberikan
izin karna mereka sudah pernah bertemu dengan Nico sebelumnya. Aku tak menyangka
kalau aku bisa secepat ini berpacaran dengan Nico.
Minggu pertama masih hangat dan
masih saling memperhatikan, minggu kedua sedikit demi sedikit sifat Nico yang
asli mulai ketahuan. Aku hanya bisa berdo’a agar hubungan kami tetap berjalan
lancar.
Saat aku di perpustakaan di suatu
hari yang cerah, aku sedang membaca buku astronomi dan Nico berdiri di
sebelahku. “ kenapa sih kamu suka dengan bintang neng?”
“ karna bintang itu indah, kita Cuma
bisa liat bintang malam hari yang sunyi. Matahari juga bintang tapi bukan
bintang seperti matahari yang aku suka. Tapi bintang kecil yang berkelap-kelip
saat malam hari. Mereka buat aku tenang saat aku melihatnya, mereka kecil tapi
kuat dan aku ingin seperti bintang dilangit. Meski yang aku tau Bintang yang
paling terang akan cepat mati karna kehilangan banyak energinya. “ jelasku pada
Nico.
“ dan kamu gak perlu terang Neng,
aku takut saat kamu sangat terang kamu pergi meninggalkanku.” Katanya lalu
memelukku dari belakang. Perpustakaan ini sepi apalagi bagian rak-rak belakang
jadi Nico berani memeluku meski tidak lebih dari sepuluh detik.
Suatu pagi aku terbangun dari
tidurku, aku melihat jam dinding ternyata masih jam 4 pagi, tiba-tiba aku
merasa haus biasanya aku sudah menyiapkan air minum di sebelah tempat tidurku
atau di lemari es kecil yang ada di kamarku, tetapi ternyata saat itu tidak ada
air setetespun, akhirnya dengan terpaksa aku turun ke dapur, aku berjalan dengan
setengah mengantuk dan aku tak tau kalau mbak Ipeh sering mengepel saat pagi
buta seperti ini, karna aku berjalan dengan mata setengah terpejam akupun
terjatuh dan langsung pingsan.
Mbak Ipeh yang tau aku sudah
terkapar dilantai langsung teriak-teriak membangunkan orang serumah, papa dan
mama tentu saja kaget melihatku sudah bercucuran darah, dan darahnya sampai ke
lantai karna darahku sukar membeku aku dibawa kerumah sakit, salah satu rumah
sakit di Denpasar sudah disediakan dokter yang akan menanganiku dan pasien von willebrand diases lainnya. Saat di
UGD aku langsung ditangani dengan cepat oleh para ahli medis.
“ pak, apakah Lyla memiliki golongan
darah istimewa?” tanya Dokter Bayu pada papaku.
“ iya Dok, Lyla bergolongan darah AB
negatif, apa disini ada stok darah itu?” kata papaku mulai khawatir, suaranya
mulai bergetar. “ selamatkan anak kami dok, saya tak peduli berapapun biayanya
akan saya bayar, tolong selamatkan anak kami.”
“ kami akan berusaha sekuat tenaga
pak.” Kata dokter dan berlalu pergi. “ tolong sus, di bank darah apakah ada
golongan darah AB reasus negatif? Dia harus tranfusi darah segera, dia sudah
kehilangan banyak darah.” Perintah dokter bayu pada seorang suster.
Aku hanya bisa tergolek lemas di
tempat tidur rumah sakit, dengan baju yang semuanya terkena darah, hampir 1 jam
akhirnya darahku berhenti mengalir dan dokter sudah menyiapkan hampir 5 kantong
darah untuk disalurkan kedalam tubuhku, dan saat itu aku bersyukur aku masih
dapat di selamatkan.
Sudah satu minggu setelah pagi
mengerikan terjadi, aku sudah ada di rumah tapi aku hanya berada di tempat
tidur, aku tau aku kurang hati-hati pagi itu. Selama satu minggu aku tak masuk
sekolah hingga aku membuat Nico khawatir, saat aku kembali ke rumah ratusan missed calls dari Nico dan sms darinya
serta teman-teman yang lain menanyakan kenapa aku tak masuk sekolah.
Setelah 2 minggu aku absen dari
sekolah akhirnya aku kembali kerutinitasku, sebenarnya papa mulai tak setuju
jika aku sekolah formal, dia hanya menginginkan aku kembali ke home schooling tapi aku menolak
mentah-mentah keinginan papa.
Aku berjalan sangat pelan, kali ini
Nico tak menungguku di gerbang seperti biasa karna aku tak memberitau kalau
hari ini aku sudah mulai bisa kembali ke sekolah, suasana sekolah yang aku
rindukan dengan suara riuh rendah bergosip di pagi hari. Sangat susah agar
mereka tak menyenggolku, aku sebisa mungkin untuk kuat jika tersenggol. Sampai
di depan kelas Nico aku berhenti dan menengok kedalamnya mungkin saja Nico
sudah ada di kelasnya.
“ nyari Nico ya lyl? “ tanya teman
Nico. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. “ tadi sih udah datang anaknya tapi
ga tau kemana.” Lanjutnya.
“ em, ya uda kalau begitu, makasih
ya aku mau ke kelas dulu.” Kataku dan berlalu, sampai ujung koridor aku sempat
berhenti sejenak karna ada seseorang yang menghadangku.
“ kemana kamu 2 minggu ini? Apa kamu
lupa bahwa disini ada yang menunggumu? menunggu kau memberi kabar. Apa aku gak
pantes dapet kabar dari pacar aku sendiri?” Nico sudah mulai memberiku dengan
banyak pertanyaan.
Aku sadar aku salah karna membuat
orang khawatir, “ada sesuatu hal yang terjadi 2 minggu lalu, aku tak sempat
memberimu kabar karna ada yang harus aku lakukan. Maaf.” Kataku dengan menatap
ujung sepatu Nico
Nico mengangkat wajahku, kini aku
tau kalau Nico kacau mukanya yang sedikit kelelahan dan kurang tidur, matanya
yang memancarkan kekhawatiran yang mendalam. “ aku tak peduli dengan
penyakitmu, tapi setidaknya kau memberi tauku kalau kamu sedang sakit.” Katanya
dengan suara yang parau.
Aku heran kenapa dia tau kalau aku
sakit, “ dari mana kamu tau kalau aku sakit? Aku tak memberi tau siapapun
tentang itu.”
“ Essa yang memberitaukan, aku
sengaja pagi-pagi kesekolah Essa dan menanyakan padamu kenapa kau tak datang
kesekolah, aku janji akan jaga kamu sekarang.” Nico mulai meletakkan tanganku
di lengannya dan mulai berjalan didepanku seperti biasa, dan aku mencengkramnya
lebih erat.
***
Satu bulan hubungan kami masih
hangat, 2 bulan sudah mulai terlihat sifat-sifat asli kami namun tetap hangat,
bulan ke 3 mulai ada masalah-masalah yang membuat kami sering bertengkar dan
membuat aku menangis sampai mataku bengkak dan akhirnya tidak masuk sekolah.
Namun saat disekolah kami kembali
hangat seperti tak ada masalah, hampir seantereo sekolah tau kalau aku
berpacaran dengan Nico kita mematahkan banyak hati. Yang aku tau banyak yang
suka dengan Nico dan begitupun kata Nico banyak yang suka denganku, tapi aku
tak peduli yang aku tau hanya aku dan Nico sekarang.
Saat pulang sekolah, aku melihat
mobil yang tak aku kenali ada di halaman rumah, aku menanyakan pada pak Ketut
siapa yang datang, hanya saja pak Ketut bilang kalau ada teman papa dari luar
kota datang, siapa gerangan didalam akupun penasaran.
Aku melihat sosokku yang lain sedang
duduk di kursi ruang tamu bersama satu orang perempuan dan satu orang laki-laki,
disana ada mama dan papa yang sedang melihat kearahku dan tersenyum. Gadis yang
duduk bersama mereka juga melihatku namun tatapannya berbeda denganku yang
melihatnya dengan heran, ia malah tersenyum bahagia.
“ sudah pulang sayang? Mari duduk
bersama kami.” Ajak mama dengan tersenyum. Aku sebenarnya melangkahkan kakiku
dengan enggan dan duduk disebelah papa. Aku masih menatap gadis yang mirip
sekali denganku.
“ Lyla, sebelumnya maafin papa dan
mama ya sayang, selama ini mama sama papa menyembunyikan ini dari kamu. Ini
Lily kembaran kamu.” Kata mama, seakan didalam tubuhku ada petir ratusan volt
yang menyetrumku. Aku membelalakan mataku dan aku melihat mamaku meminta
penjelasan. “ Dulu saat perekonomin mama dan papa rendah saat mama dan papa
sedang tak punya uang mama mengandung kalian berdua dan ternyata anak yang mama
kandung kembar lagi, jujur saat itu mama tak sanggup untuk membesarkan kalian
berempat lalu ada oom dan tante Hariey yang menyelamatkan mama, mereka mau
mengasuh dan membesarkan Lily.” Jelas mamaku lagi.
“ apa dia normal?” tanyaku dengan
nada yang sangat datar. Aku tak tau apa yang harus aku ekspresikan, aku harus
gembira atau bersedih aku tak tau.
“ iya dia normal, karna kamu
memiliki keistimewaan jadi mama dan papa tetap mempertahankan kamu.” Kata papa.
Dan aku semakin merasa bahwa dunia ini tak adil. Dia normal sedangkan
kembarannya disebut istimewa apa itu adil?
Aku menangis saat itu juga aku
merasa kecewa dengan apa yang dilakukan kedua orang tuaku, dan aku merasa Tuhan
tak adil menciptakan aku yang lahir dengan keistimewaan. “ apa dia mempunyai
golongan darah yang sama sepertiku?” Tanyaku lagi di dalam isakan tangisku.
“ tidak aku tidak memiliki golongan
darah sepertimu aku AB positif sedangkan kamu AB negatif, aku menyesal Lyl.”
Jawabnya untuk pertama kali.
“ kau tau aku sakit?! Kau tau aku
sangat membutuhkan golongan darah AB reseus negatif? Kau tau itu?! Kenapa kau
datang? Dan aku rasa kau tak akan bisa membantuku! Agar tetap hidup.” Aku
berteriak-teriak di depan tamu itu, aku berdiri dan beranjak ke kamar dengan
air mata yang bercucuran.
Dia tak bisa membantuku, dia tak
bisa membantuku saat aku butuh darah! Dia tak bisa membantuku...!! . Aku tau
mama mencoba mengetuk pintuku yang sama sekali tak kugubris, handphoneku juga berbunyi namun aku juga
tak menghiraukan.
“ sayang, kamu tak apa-apakan?
Jangan terlalu bersedih seperti itu, tak baik sayang, maafkan kami berdua
sayang. Dan kembaran kamu akan tinggal disini satu minggu sebelum dia kembali
ke Sampit Kalimantan Tengah.”
“ pergi Ma!! Pergi Lyla pengen
sendiri, Lyla ga pengen di ganggu.” Teriakku dengan suara parau dari dalam
kamar.
Ternyata aku salah aku lupa tak
mengkunci pintu yang terhubung dengan kamar-kamar saudaraku, bang Faisol masuk
dan duduk di sebelahku. Ia memegang bahuku dan mencengkramnya dengan lembut
seakan memberikan kekuatan.
“ abang tau kan tentang ini? 16
tahun bang 16 kalian sembunyikan dari aku.” Kataku masih dalam isakan tangis
yang tak kunjung henti.
“ maafkan kami lyla, yang mama
katakan benar kami tak bermaksud. Kami hanya ingin menyelamatkanmu. Kau tau
saat Lily di bawa pergi oleh oom dan tante itu? Abang hancur Lyla, darah daging
abang dibawa pergi ketempat yang asing. Rasanya itu hancur lyl, hancur banget.”
Abang meneteskan air mata setelah mengingat cerita 16 tahun yang lalu.
Aku memeluknya dengan erat sampai
aku tak ingin dilepaskannya. Aku menangis di dada bang faisol dan pada akhirnya
air mataku berhenti, rasanya lega sekali menangis seperti ini. Aku mencoba
untuk menerima Lily sebagai saudara kembarku.
Malamnya Nico menelponku, aku tak
tau harus cerita padanya atau tidak kalau aku punya saudara kembar, namun saat
kuputuskan aku mau bercerita tentang Lily padanya.
“ Nico...” kataku dengan suara
mendadak parau.
“ iya sayang? Ada apa?” tanyanya.
“ ternyata aku punya saudara
kembar....” lalu kuceritakan bagai mana aku menangis seharian, tertekan dan
hancur. Hampir setengah jam aku menceritakan Lily.
“ kamu jahat banget Lyl.” Itulah
jawaban Nico yang tak kusangka keluar dari mulutnya.
“ aku jahat co? Kenapa bisa aku yang
jahat?” tanyaku dengan sinis.
“ seharusnya kau menerima saudara
kembarmu dengan lapang dada, kan saat itu orang tuamu juga terhimpit ekonomi
harus membesarkan empat anak sekaligus dan yang satu sakit-sakitan. Apa kamu
tak sadar kamu itu beban mereka Lyl, jangan kamu pikir meski Lily tak memiliki
kesamaan darah atau yang lainnya denganmu, kamu tak mau menerimanya? aku ga
suka dengan orang yang mau menangnya sendiri sepertimu!.” Kata pedas Nico mulai
keluar. Aku beban? Itulah kata yang sampai sekarang masih terngiang di
telingaku. Tanpa pikir panjang aku menutup telpon dari Nico, aku benci sekali
jika dia sedang marah padaku. Tetesan air mata berhasil meluncur dengan apik di
pipiku.
Seseorang mengetuk pintuku, dan
kulihat gagang pintu sedikit bergerak, aku diam dan berusaha mengusap air
mataku dengan cepat.
“ Lyl” ucap seseorang dari balik
pintu yang kukenali suaranya sebagai Lily, baru kali ini dia ke kamarku setelah
aku menangis sepanjang hari. Ia masih berdiri di ambang pintu.
“ masuk aja ga papa kok.” Kataku
dengan suara yang kubuat setenang mungkin, meski sesungguhnya hatiku masih
hancur.
Lily masuk dan diam di sofa kamarku
aku bisa melihat mukanya yang gelisah dan ketakutan. “ ada apa Lil? Ada sesuatu
yang mau kau sampaikan padaku?”
“ Aku minta maaf, aku yang memaksa
mami dan papi angkatku membawaku ke keluargaku kandungku, aku tau kalau aku
bukan anak kandung mereka 5 tahun yang lalu, maafkan aku ya. Mungkin seharusnya
aku tidak pernah memaksa mereka untuk mempertemukan kita.” Katanya dengan menunduk,
aku tau Lily seakan mau menangis.
Aku berdiri berjalan kesofa dan
duduk disebelahnya, aku memegang tangannya. “ memang aku masih belum bisa
menerimamu, aku tak menyaka aku punya saudara kembar, aku kecewa jika aku mempunyai
saudara kembar tapi tak bisa mendonorkan darahnya untukku, tapi mau dikata
apalagi, kau tetap darahku kau tetap darah daging keluargaku. Aku mau mencoba
menerimamu, aku akan sayang padamu sama seperti aku menyayangi bang Icol, Bang
Ical, Dan Essa. Selamat datang keluarga baru kami.” Aku memeluk Lily dengan
erat dan ia menangis bahagia.
Mungkin ini keputusan yang tepat
untuk menerima Lily sebagai saudara kembarku, yah dan aku tidak akan pernah
menyesal.
***
Meski kemarin aku dan Nico sedang
dalam keadaan bertengkar, Nico tetap menungguku di gerbang sekolah. Aku hanya
menatap ia datar dari dalam mobil, Lily ikut mengantarkan aku dan Essa ke
sekolah, aku berdiam di depan pintu mobil, lalu aku melambaikan tangan dan
tersenyum,
Kulihat Nico tersenyum melihat aku
tersenyum pada saudara kembarku saat aku berbalik dan saat akan mulai berjalan
masuk ke Sekolah, senyumku mendadak pudar dan aku terus berjalan tanpa menatap
Nico.
Nico tersenyum dan mulai berjalan
mengejarku. “ Neng marah ya?” tanyanya dengan tersenyum
“ aku beban kan? Tinggalin aku, aku
tak mau jadi beban, apalagi menjadi bebanmu. Pergi sana.” Kataku dan
mempercepat langkahku.
Nico seketika berhenti berjalan
mencoba untuk mencerna kata-kataku, ia menatap punggungku yang menjauh . “ Kamu
jalannya kecepetan Lyl,” desahnya.
Efek aku berjalan dengan cepat
kakiku lelah sekali aku duduk sejenak di kursi tempatku belajar. Aku tau aku
kelewatan marah ke Nico tapi tak tau kenapa saat aku memikirkannya aku teringat
dengan kata “beban” sangat menyakitkan untukku. Aku menarik nafas panjang
mencoba melupakan apa yang ada. Aku mulai membuka buku-bukuku dan membacanya.
Riuh rendah anak-anak mulai memasuki
kelas, suasana yang sangat menyenangkan melihat semua orang tertawa pagi ini.
Namun mendung seketika datang diwajah mereka saat ingat kalau hari ini ada
ulangan Matematika, aku menepuk jidatku aku melupakan ulangan itu karna sibuk
menangis seharian. Aku menatap Susan dengan pasrah, karna biasanya jika adalah
ulangan matematika aku yang selalu diandalkan oleh Susan tapi karna aku sibuk
dengan perasaan pribadiku jadi aku melupakan ulangan hari ini.
Satu jam tiga puluh menit berlalu
aku kesulitan mengerjakan 10 soal matematika ini aku tak bisa empat soal yang
aku anggap sangat sulit aku melirik Susan yang hanya mengerjakan lima soal aku
menatap jawabanku dengan pasrah, empat soal sisanya aku hanya mengerjakan
separuh jalan karna aku pikir nilainya juga akan separuh juga yang aku dapat.
Dan waktupun habis aku menitipkan jawabanku pada Susan untuk di kumpulkan
kedepan dan aku membenamkan kepalaku dalam dekapan tangan yang menempel pada
bangku.
“ udah lyl, jangan terlalu
dipikirkan hanya ulangan harian kan?” kata susan dengan menepuk punggungku. Aku
mendongak dan ingin mengatakan aku baik-baik saja namun belum sempat aku mengatakan
apa-apa aku melihat raut muka Susan horor. “ Lyl, hidung kamu?” aku mengerutkan
keningku dan mencoba mencari tau kenapa dengan hidungku, aku memegang hidungku
dan yang aku rasa adalah basah, aku melihat darah sudah ada di tanganku aku
bingung apa yang harus aku lakukan.
“ Nico... Nico..” kataku memberikan
tanda bahwa aku butuh Nico. Susan yang mengerti maksudku segera menuju kelas
Nico, untung saja pada saat ini kelas Nico sedang tidak ada guru.
“ Nic, cepetan Lyla butuh bantuan
kamu, dia tiba-tiba mimisan.” Kata Susan buru-buru. Tanpa pikir panjang Nico
segera berlari ke kelasku. Sudah banyak anak yang berada didekatku mereka
menatap dengan cemas. Nico menggendongku ke UKS sepanjang koridor Nico berlari
dan terburu-buru.
“ sekarang apa yang aku harus lakuin
Neng?” Tanyanya bingung.
“ ambilkan tumbler yang ada di lemari pendingin bu Mitro, di bawah sendiri.”
Sedetik kemudian Nico melesat ke kantin yang sepi hanya ada beberapa anak yang
membolos pelajaran. Nico melihat lemari pendingin itu dan mencari tumbler yang
kau masuk, ia segera mengambil obat-obat itu dengan gemetar dan segera berlari
menuju UKS lagi, bu Mitro sempat bingung namun beliau tak bisa menghentikan
langkah Nico.
“ ini neng, lalu apa?” nico bingung
melihat saputangannya penuh dengan darah.
Aku hanya tersenyum getir,
sesungguhnya aku tak mau kalau sampai melakukan hal ini di depan Nico tapi apa
daya hanya dia yang tau kalau aku berbeda dari yang lain. Aku mengeluarkan kantong
kecil dan memasukkan hidungku kedalamnya kupencet-pencet hidungku agar darahnya
keluar dan hidungku bersih dari darah. Aku mengeluarkan cairan obat dan
memasukkannya dalam hidungku, beberapa menit kemudian darah berhenti aku marik
nafas lega, aku melihat Nico yang sedang membersihkan sisa obat-obat dan
kantong berisi darah.
“ lain kali jangan kaya gini lagi ya
aku takut neng, aku takut kamu kenapa-napa” katanya membersikan tangannya di
westafel dan duduk di samping tempat tidurku. Aku tiduran di UKS karna kepalaku
masih pening.
“ aku juga ga mau Co kaya gini, toh
ini tadi tiba-tiba banget habis ulangan matematika langsung kaya gini. Maaf ya
udah bikin kamu takut jadi beban lagi deh buat kamu.” Kataku dengan kecewa.
“ maaf ya sebenernya aku gak maksud
loh bilang kalau kamu beban atau apalah itu, aku kemaren keceplosan aja, abis
aku sebel sama kamu. Seharusnya kamu kan seneng kalau ternyata kamu udah nemuin
kembaran kamu, meskipun kamu ga mau nerima tetep ajakan dia saudara kamu. Tapi
aku seneng tadi liat kamu sama saudara kembar kamu udah baikan gitu. Maafin aku
ya sayang.” Nico memegang tanganku dengan hangat. Ingin sekali rasanya aku
meneteskan air mata namun masih aku tahan karna aku tak mau menangis
didepannya.
***
3 bulan kemudian aku bertengkar
hebat dengan Nico, Nico selalu menyalahkan aku dan dengan semua sikapku, aku
kesal, marah, benci pada Nico. Aku menangis hampir setiap malam, dan paginya
mataku sudah merah dan bengkak. Papa sudah melarangku untuk sekolah formal tapi
aku tetap tak mau, aku masih berangkat ke sekolah namun sekarang sedikit
berbeda Nico sudah tak menungguku di pintu gerbang, yah karna kita sedang
bertengkar.
Sampai pada di suatu malam yang
indah penuh bintang langit cerah saat ini, aku melihat ke langit dan menangis
lagi, bertengkar dengannya membuat hatiku gelisah dan sering menangis, hampir 3
jam aku menangis pandanganku mulai kabur dan darah mulai keluar dari kelopak
mataku aku mencoba untuk tenang dan mencoba untuk berhenti menangis namun saat
air mataku sudah tak mengalir lagi namun digantikan oleh darah yang menetes aku
berdiri dan masuk ke kamarku menuju lemari pendingin dan berusaha mengobati sendiri.
Namun karna darahnya tak kunjung berhenti dan kurasa seluruh badanku mulai
lemas aku berjalan keluar kamar karna aku ingat ada abangku yang sedang
menonton tv di ruang keluarga , aku berjalan tertatih menyusuri lantai pualam
dan menuruni tangga dengan hati-hati, mukaku sudah bersimbah darah. Dan
akhirnya aku terjatuh di tangga 10 anak tangga terakhir, sebelum aku pingsan
aku sempat mendengar suara bang Icol meneriakkan namaku lalu aku tak sadarkan
diri.
Setelah satu minggu aku dirumah
sakit tak kunjung sadar, dan sudah menghabiskan 10 kantong darah AB resues
negatif, dan kedua orang tuaku serta saudara-saudaraku setuju aku dibawa ke
salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Singapura. Keluargaku terpaksa
membawaku kesana karna aku tak kunjung sadar.
Essa sedang mengetikkan sesuatu
dihapeku yang ternyata dia sedang memberikan pesan singkat ke Nico yang berisi
: “ Kak, maafkan essa yang tak bisa jaga kak Lyla dengan baik saat di rumah,
essa tak tau harus bilang apa tapi essa harus memberitau kakak tentang kak
Lyla, kak Lyla terjatuh satu minggu yang lalu, dan dia meninggal kak. Hari ini
kita akan bersama-sama berangkat ke Bandung untuk pemakaman kak Lyla.”
Dan aku menyuruh essa bilang kalau
aku sudah meninggal sebelum aku terjatuh, aku tau ini cara yang sadis untuk
memutuskannya mungkin ini cara terbaik. Mungkin Nico akan kacau namun bisa juga
Nico akan gembira telah lepas denganku.
Aku ada di Sanglah Hospital
Singapura, aku tertidur hampir 3 minggu sebelum pada akhirnya aku sadar. Aku
telah membuat keluargaku khawatir dan aku hanya bisa menyesal.
***
Lily dan Nico kini dekat, mereka
sering telpon dan saling mengirim pesan singkat skenario bagus telah aku
rencanakan termasuk kedekatan mereka. Namun saat aku di Singapura aku dan Lily
tak saling memberi kabar hanya kadang 2 minggu sekali ia datang ke Singapura.
Dan melalui Informanku, aku tau
kalau Nico seperti orang Linglung saat tau aku meninggal, Nico dan
teman-temanku bertakziah kerumahku namun mereka kecewa karna aku dan keluargaku
sudah tidak ada di Bali.
“ loh pak, beneran Lyla meninggal
pak?” Tanya temanku kepada penjaga rumahku.
“ Iya dik, Jenazahnya di makamkan di
Bandung tadi malem keluarga ini berangkat dan acara tahlil dan yang lain-lain
semuanya ada di Bandung.” Jelas beliau pada teman-temanku yang kecewa tak bisa
memberikan penghormatan terakhir padaku.
Yang tau kalau aku masih hidup
adalah guru-guru sekolahku dan keluargaku saja yang lain tak tau kalau aku
masih hidup dan sedang berjuang untuk sembuh.
Pada akhirnya Lily dan Nico
berpacaran. Aku hancur? Tentu saja namun ini keputusanku. Mereka menjalani
hubungan jarak jauh atau Long distance
reletionship (LDR). Namun pada setiap kesempatan Liburan Lily pulang ke
Bali, Essa dan abang-abangku juga tidak bisa terus menerusan ada di Singapura
mereka juga haris melanjutkan sekolah mereka.
Mereka berdua menjalani hubungan
dengan baik, Lily punya sahabat dari Ia masih kecil bernama Aldy Sudibjoe dan
Nico sangat cemburu ketika Lily sedang bersama dengan Aldy. Sampai Nico
memberika julukan pada Aldy “si kutu kupret”.
Selama di Singapura aku menjalani
semua pengobatan dan terapi karna saat jatuh dari tangga lukaku cukup serius
dan harus mendapatkan penanganan khusus dari Tim medis Singapura.
***
Penghujung Bulan Desember tahun 2012
Setelah hampir tiga bulan aku
dirawat di Singapura, aku kembali Ke Bali, Indonesia. Dengan keadaan yang baik.
Di hotel papa kami mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kesehatan
dan kedatanganku dari Singapura.
Dan aku memutuskan untuk home schooling terlebih dahulu sebelum
aku mengejutkan sekolah karna ternyata aku masih hidup. Aku merindukan Nico?
Tentu saja aku merindukannya tapi apa yang bisa aku lakukan aku sudah tak bisa
bersamanya lagi.
Hari-hariku ada hanya kuhabiskan di rumah
sama seperti di Bandung dulu, aku mengaktifkan nomer yang selama ini mati, handphone itu terus berbunyi ratusan
pesan masuk kedalamnya. Aku melihat beberapa ucapan bela sungkawa dan aku
tercengengang saat sms Nico masuk isinya “aku merindukanmu neng” dalam hati aku
hanya bisa berkata dalam hari bahwa aku juga merindukannya.
Di SMAN 1 Denpasar Bali
Suara riuh rendah selalu menghiasi
sekolah ini, di Kelas 10 1 kelasku berada Susan sedang terheran melihat
handphonenya, salah satu teman menyapanya.
“ kamu kenapa San?” tanya Anton
heran.
“ Eh Ton, beberapa hari yang lalu
aku mengirim pesan ke nomernya Lyla, aku bilang kalau aku merindukannya, namun
pesannya baru masuk hari ini. Setauku juga dari Lily kembaran Lyla kalau handphone Lyla sudah dinonaktifkan tapi
tiba-tiba kekirim. Jadi siapa yang mengaktifkan hpnya?” jelas susan masih
dengan muka yang bingung.
“ Mungkin saja saudara-saudaranya
yang make kan bisa? Kenapa harus heran?”
“ tidak-tidak, tidak ada yang
memakai hp itu Lily sendiri yang bilang padaku. Kalau handphonenya Lyla sudah disimpan sama Lily dan saudaranya tak ada
yang tau kecuali Lily, lagian Lily sekarang ada di Kalimantan. Aku bingung
saja.”
Muka Susan masih bingung, tiba-tiba
Nico duduk di sampingnya dan menatap Susan penuh arti.
“ Smsku masuk ke Hapenya Lyla
semuanya masuk ke handphonenya dia.
Apa Lily sedang ada di Bali?” tanya Nico heran.
“ bukannya Lily pacar kamu,
seharsunya kamu lebih tau dong dia sedang di Bali atau tidak. Tapi setauku dia
tidak ada di Bali dia sedang di Kalimantan.”
“ dan apa kau yakin hanya Lily yang
tau dimana Handphone Lyla Disimpan?”
“ iya aku yakin, dan sangat yakin.”
Nico masih duduk di sebelah Susan
dengan heran, dalam benak mereka bertanya siapa yang memegang handphone itu
sekarang.
“ kamu ngaktifin nomer kamu yang
lama Lyl?” terdengar suara dari sebrang telpon.
“ iya kenapa memangnya aku hanya
merindukan handphoneku apa salah?”
tanyaku heran.
“ setidaknya kamu bisakan ganti
nomer kamu? Kau tau apa yang terjadi? teman-teman kamu dan Nico heran. Karna
aku bilang kalau hape kamu sudah aku simpan dan tak ada yang tau hp kamu aku simpan
dimana.” Lily mulai mengoceh aku hanya terdiam. Aku terdiam seribu bahasa tak
tau apa yang harus aku katakan sedetik kemudian kumatikan telpon dari Lily dan
melemparkan tubuhku ke atas kasur.
Apa aku salah kalau aku bilang aku
belum meninggal? Aku capek harus bersembunyi dirumah. Enggak gak boleh aku gak
boleh sembunyi kaya pengecut, toh aku juga sudah sehat seharusnya aku ke
sekolah formal bukan home schooling
lagi. Yah aku harus kesekolah formal. Kini tekatku sudah bulat dan aku mau
menunjukan pada dunia kalau aku masih hidup dan aku sudah sehat.
Saat makan malam aku berniat memberi
tahukan apa yang aku pikirkan, segala resiko siap aku tanggung. “ aku ingin
kembali kesekolah, aku ingin mereka tau kalau aku masih hidup.” Kataku dengan
nada berapi-api.
“ maksud kamu apa Lyl?” tanya Bang
Icol
“ ya
yang aku mau aku kembali kedunia ini bang, aku ga mau di anggap uda mati, kan
aku masih hidup.” Kataku menjelaskan.
“ tapi apa kata teman-teman kamu disekolah
kalau tau kamu masih hidup, kan kamu yang memilih untuk disembunyikan
keberadaanmu.” Papa mulai menanggapi tujuanku.
“ kamu gak malu kalau kamu ketahuan bohong?”
bang Ecal menambahkan.
“ tidak, aku sudah tau resikonya, aku akan
dijauhi, di bully bahkan aku merasa sendiri disekolah. Tapi biarkan aku
menyelesaikan study SMAku mama sama papa setuju kan?” kataku dengan nada
memelas dan memohon.
“ Essa boleh ngomong gak? Essa tau essa masih
kecil tapi aku setuju sama teteh, kenapa teteh harus bersembunyi, kan nanti
teteh bisa menjelaskan ke temen-temen teteh kalau teteh masih hidup. Toh tadi
teteh juga bilang akan menanggung resikonya kan? Seharusnya kita bisa percaya
sama teteh kalau teteh bisa melewati ini semua, meski Essa tau teteh salah uda
ngebohongin banyak orang. Tuhan saja memberi maaf pada umatnya kenapa sesama umat
tak bisa saling memberi maaf?” Essa adik paling kecilku angkat bicara akhirnya,
semua diam dan mencerna ucapan Essa yang ada benarnya.
Dan akhirnya mama dan papa setuju kalau aku
bisa mulai sekolah minggu depan, dan mereka akan berusaha menjelaskan pada
pihak sekolah. Bahagia? Tentu saja, aku sudah merindukan hiruk pikuk
sekolah suara bising dan yang lainnya,
meski aku tau saat aku datang lagi mereka akan merubah sikap pada orang
pembohong sepertiku.
***
2 hari sebelum masuk sekolah aku menyempatkan
diri untuk kesekolah terlebih dahulu untuk meminta izin kembali sekolah pada
pihak guru, aku sengaja datang saat kegiatan belajar mengajar telah dimulai aku
memakai jaket bertudung agar kedatanganku ke sekolah pagi ini tidak di ketahui
anak-anak yang lain. Sebenarnya orang tuaku sudah meminta izin namun apa
salahnya sekarang giliranku yang meminta izin secara pribadi. Aku berjalan
menyusuri koridor-koridor sepi menuju ruang kepala sekolah saat ada yang
berpapasan denganku hanya menunduk dan merapatkan tudungku agar takterlihat
orang lain.
Aku masuk keruang kepala sekolah dan membuka
tudungku lalu tersenyum, kepala sekolah yang berumur melebihi setengah abad itu
juga tersenyum melihatku.
“ Apa Lyla sudah baik-baik saja?” kata beliau
dengan logat Bali yang kental, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
“ mungkin mama dan papa saya sudah kemari
sebelumnya, namun saya ingin meminta izin secara pribadi kepada bapak, apa
boleh saya kembali bersekolah disini?” tanyaku dengan sedikit gugup dan tanpa
ingin berbasa-basi dengan beliau.
“ tentu saja boleh, SMANSA selalu terbuka
untuk kamu Lyla, tapi apa kamu yakin kembai ke kehidupan yang dulu, kalau
guru-guru mungkin bisa mengerti dengan keadaan kamu, tapi apa teman-teman kamu
bisa mengerti keadaan kamu? Kamu bisa di anggap pembohong.”
“ iya pak, saya tau saya akan dicap sebagai
pembohong namun saya akan coba menjelaskan pada mereka semua pak. Saya janji
saya akan menerima semua apa yang terjadi pada saya setelah saya kembali ke
dunia ini.” Kataku dengan tegas agar kepala sekolah yakin dengan keputusan yang
aku ambil.
***
Seminggu setelah kedatanganku ke Sekolah
untuk meminta izin akhirnya aku masuk ke sekolah, saat mobil berhenti didepan
gerbang aku tak segera keluar hatiku gusar penuh dengan keresahan. Sejenak aku
menarik nafas dan turun dengan perlahan. Banyak mata menatapku namun aku
berusaha untuk sekuat mungkin berjalan tegar dan menatap kedepan.
aku berpapasan dengan Nico yang sedang
berdiri di depan kelasnya aku hanya melirik dan tersenyum lalu melanjutkan jalanku.
Dia menatapku heran aku tau itu, ratusan pasang mata menatapku, aku hanya bisa
berharap-harap cemas.
“ehh, dia Lyla atau Lily, kan mereka kembar
identik. Susah sekali membedakan mereka.” Suara kasak-kusuk berisik di
telingaku.
Aku hanya bisa diam dan sesekali mataku
menatap kebawah, aku sampai depan kelasku, aku menatap sebentar lalu masuk dan
duduk di tempat biasanya. Mereka menatap aku dengan sangat heran, Susan
menatapku tertegun.
“ kamu Lily? Kenapa kamu disini?” tanyanya
dengan heran.
“ aku Lyla San, aku masih hidup. Susah
menjelaskan keadaanku saat itu, aku Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi bukan
Laily Ghiesha Cantika Al Fahrieyzi.” Kataku dengan gemetar.
Nico tiba-tiba masuk dan menatapku lama.
“ Lily? Kamu pindah sekolah?”
“ aku Lyla bukan Lily.” Jawabku singkat.
“ kamu bohong, Lyla sudah mati.”
“ aku ga bohong aku Lyla, aku bukan Lily!”
teriakku sedikit. “ lihat bekas hitam ini, kamu taukan bekas itu hanya ada di
punggung tangganku.” Kataku lemah. Nico berdiri di hadapanku, dan merai punggung
tangganku. Ia melihat titik hitam di punggung tanganku karna sering tertusuk
jarum infush bekas itu menghitam. Ia mengusuk sebentar dan berlutut
dihadapanku.
“ kamu jahat Lyl, kamu jahat ngebohongi aku,
anak kelasmu satu sekolah, seluruh dunia bahkan. Kau tau aku hancur tak bisa
melihat jenazahmu, tapi sekarang lihat kamu berdiri dihadapanku. Sekarang aku
bisa memenggang tanganmu, apa maksudmu membohongi kami semua.?” Katanya Nico
dengan menitihkan air mata. Aku mengusap air mata dipipi Nico dan melihat
teman-teman yang lain sedang melihat adegan drama kami.
“ sebelumnya aku minta maaf sama kalian
semua, aku gak bermaksud ngebohongi kalian, aku hanya konsen sama penyakit aku.
Selama ini aku pergi keluar negeri untuk mengembalikan keadaanku, meski aku tau
aku tak bisa seratus persen sembuh. Maafin aku Co, aku ga maksud buat kamu
hancur. Aku juga hancur setelah mengambil keputusan pergi dari kalian, namun
sekarang aku janji aku ga akan pernah bohongi kalian lagi aku akan ada disini
bersama kalian.” aku sempat menahan tangisanku namun usahaku gagal air mata
meluncur dengan cepat.
“ kalo aku pribadi aku seneng Lyl kamu
kembali, kamu pasti juga punya alasan untuk menutupi apa yang ada dihidup kamu
kan? Aku juga pasti melakukan hal yang sama saat aku ada si posisi kamu.” Kata
Susan dan memelukku dari belakang.
Nico masih menggenggam tanganku erat seakan
dia tak mau melepaskan genggamannya, tangannya tetap hangat dan tak ada yang
berubah meski aku sedang tak bersamanya.
“ aku juga senang kau disini Lyl.” Kata teman
yang lain, mulai kulihat wajah mereka berubah menjadi senyuman.
“ selamat datang kembali Lyl.” Anton
tersenyum lebar.
Aku tersenyum dan menatap nico yang masih
tertunduk. “ aku kembali Co, aku sudah disini Co. Untuk menjadi teman dan
sahabat kamu.”
“ ini yang aku sesalkan kau hanya bisa
menjadi temanku.” Kata Nico semakin mempererat genggamannya.
“ jaga Lily dengan baik, saat kau
menyakitinya kau juga akan menyakitiku.” Kataku menatap matanya dan tersenyum.
***
Aku memulai hari baruku, sebagai pribadi yang
baru. Kini Nico kembali kerutinitasnya dia kembali menungguku di gerbang,
berjalan di depanku, namun hubunganku dan dia tetap menjadi teman. Lily?
Setelah tahun baru Lily dan Nico putus. Namun aku dan Nico tak bisa kembali
bersama.
Aku menjalani hari-hariku dengan
menyenangkan, tetapi terkadang aku harus absen sekolah karna kelelahan atau terluka,
suasana SMA beda dengan SMP. Mereka mau menerimaku dengan keadaanku. Kadang
saat aku terluka Nico dan yang lainnya membantu membersihkan darah yang
bercucuran.
Papa dan Mamaku tentu saja senang saat aku
gembira aku akan melupakan kalau aku berbeda dengan yang lainnya, mereka
berharap kebahagiaan ini selalu ada di keluarga kami.
Tahun ajaraan baru di Mulai .....
Sebagai siswa Kelas 11 tentu saja aku harus
masuk jurusan , dan aku masuk IPA begitupun dengan Nico dan kami sekelas, Susan
ada di IPS lagi-lagi aku ada di IPA 1.
Aku satu bangku dengan Nico, bukan karna aku
tak ingin duduk dengan yang lainnya, namun aku hanya takut terluka. Di kelas
baru otomatis aku harus beradaptasi lagi dengan teman-teman yang baru, dan
tidak semua tau kalau aku berbeda dengan yang lainnya.
Pada suatu hari aku sedang duduk dengan
tenang dibangkuku Nico sedang tidak bersamaku karna katanya ada acara kumpul
dengan anak-anak ekskul basket. Seseorang menghampiriku yang aku tau namanya I
Made Keyla, yang akrab dipanggil keyla. Aku menatapnya dengan polos.
“ ada apa?” tanyaku masih dengan tatapan
polos.
“ aku dulu anak 10 5, aku mau nanya, kenapa kamu ga ikut olahraga?
Aku tau kamu disini anak donatur terbesar tapi gak seharusnya kan kamu
ninggalin pelajaran?”
Aku menatapnya lama, dan berguman dalam hati
bahwa dia tidak mengetahui apa yang terjadi denganku, saat aku mau membuka
mulutku Nico sudah datang dan diikuti dengan anak-anak yang lain yang
cepat-cepat duduk.
Nico menatap Keyla yang masih berdiri
dihadapanku. “ Kamu ga duduk? Udah ada guru tuh di dapan. Kamu mau di hukum?”
kata Nico yang membuat Keyla beranjak dari tempat ia berdiri. Nico menatapku
dengan penuh tanya dimatanya namun aku hanya mengangkat bahuku dan kembali
terfokus kedepan.
***
Aku terbaring di tempat tidurku, aku merasa
lelah karna rutinitasku, saat aku mulai memejamkan mata dering ponselku
mengurungkan niatku untuk tidur aku membaca pesan singkat yang aku tak tau itu
dari siapa, pesannya hanya bertulisan “Hai Kak”, tanpa titik atau tanda baca
lainnya. Awalnya aku tak menghiraukan pesan singkat itu, aku kembali mencoba
untuk tidur kembali namun lagi-lagi pesan singkat dari orang yang sama dan isi
pesan yang sama masuk lagi keponselku. Lalu karna kesal aku hanya membalasnya
dengan kata “siapa?”. Tak lama kemudian ia membalas “kenalin aku Fatchul Mujib
anak 10 3”, aku mengerutkan keningku saat tau siapa yang mengirimiku pesan singkat,
ini adik kelas pikirku, dari siapa dia tau nomer ponselku?, banyak pertanyaan
yang berkecamuk di dalam otakku.
Keesokan harinya aku hanya duduk di depan
kelas dan selalu Nico selalu ada di sampingku, lalu ponselku bergetar ternyata ada
pesan masuk dari orang yang kemarin mengiriku pesan seorang adik kelas yang aku
tak tau wujudnya. “ aku melihat kakak sedang duduk di samping cowo yang aku ga
tau namanya.” Setelah membaca pesan itu aku melihat sekeliling ke seluruh
sudut, namun banyak sekali anak-anak yang berlalu lalang yang membuatku bingung
dimana ia bisa melihatku sedang duduk dengan Nico. Nico otomotis memandangku
dengan heran.
“kenapa Lyl?” tanyanya bingung.
Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah. “
kamu dimana? Kenapa bisa tau aku” balasku ada adik kelas tersebut. Aku menatap
layar ponsel lalu melihat sekeliling dan itu kulakukan berulang kali.
“ Lyl, are
you okey?” tanya Nico lagi, aku hanya tersenyum dan menggeleng lagi. Tak
lama kemudian ia membalas pesanku, “ kakak balik badan, dan aku ada di arah jam
12.” Aku menuruti apa yang adik kelas itu bilang, masih dengan tatapan bingung
aku melihat arah jam 12 sudah tak banyak anak yang berada di area koridor
sebrang, aku melihat sosok yang sedang melihatku lalu tersenyum dan melambaikan
tangan, jadi itu adik kelas yang memberiku pesan singkat yang bernama Fatchul
Mujib, ia memiliki fisik yang tinggi ukuran tubuh yang pas dengan tingginya,
kulitnya yang terlihat putih, dan senyumnyapun juga manis, wajahnya penuh
dengan aksen jawa berbeda dengan Nico yang matanya sipit seperti orang cina.
“ kau tau aku dari mana? Dan siapa yang
memberi taumu tentang nomer handphoneku?”
send to Mujib (panggilan akrabnya)
“ aku tak sengaja mau membuka isi tumbler kakak waktu itu, sampai akhirnya
dicegah oleh ibu kantin, aku bingung. Lalu ada kakak kelas yang memberi tauku
bahwa itu milik kak Lyla, jadi aku penasaran siapa sih kak Lyla itu, tidak
sulit mencari nomer kakak karna yah, disini kakak lumayan terkenal.” Send to
Lyla.
“ kau sudah melihat isi tumbler itu?, are you kidding me? I am famous? Are you
sure about that?” send to Mujib, ada sedikit kekhawatiran saat aku tau dia
telah memegang tumblerku.
“ tidak, aku tidak membukanya, aku hanya
hampir membukanya karna penasaran. Ngomong-ngomong apa yang ada di dalam tumbler itu? Jika aku boleh tau juga
sih?” Send to Lyla.
“ bukan apa-apa, dan itu tidak penting juga
buat kau ketahui.” Send to Mujib.
Sejak kejadian ia akan membuka tumblerku aku dan dia semakin dekat,
Bagaimana dengan Nico? Nico tentu saja tak tau aku dekat dengan Mujib, hanya
Mujib tau kalau aku dekat dengan Nico. Karna hubungan kami semakin dekat setiap
hari kita saling bertukar pesan singkat saling menelpon, banyak yang aku
ceritakan padanya tentang keluargaku apa yang aku suka dan masih banyak yang
lainnya. Namun, aku belum menceritakan tentang Von Willebrand Diases yang aku derita.
Mujib beberapa kali mengajakku keluar namun selalu
kutolak dengan halus, ada beberapa hal yang selalu membuatku khawatir. Aku
sedang membaca buku di bangku kesayanganku, Nico duduk dan mengendus kesal. Aku
menoleh kearahnya “ ada apa?” tanyaku.
“ Kau sadar, kau berubah.” Katanya sinis.
“ Aku berubah? Maksudnya? Aku tetap Lyla yang
kamu kenal.”
“ Tidak, kau bukan Lyla yang aku kenal, kau
lebih asik dengan dunia gadgetmu
sekarang, saat kau bersamaku kau selalu bermain dengan alat itu, seakan kau
sudah tak memperhatikanku lagi.” Katanya kesal.
aku mencerna kata-kata Nico dengan baik,
mungkin Nico benar saat aku bersama Nico aku sibuk berkirim pesan dengan Mujib,
dia sangat menyita perhatianku. Dia baik, sopan, tinggi, dan senyumnya yang
manis yang membuatku seakan jatuh cinta padanya. Mungkin terlalu cepat jika
dibilang aku jatuh cinta namun aku tak ingin dia pergi dariku.
Aku menatap Nico dengan rasa bersalahku, “
maaf Co, aku tak bermaksud seperti itu, karna ada sesuatu hal yang menyita
perhatianku.” Aku beranjak pergi menuju kamar mandi dan meninggalkan Nico yang
mukanya masih kesal karnaku.
Saat aku pergi ke kamar mandi aku sengaja
memilih jalan sedikit memutar hanya untuk melihat Mujib, dia menghampiriku saat
dia tau aku berjalan di depan kelasnya. Dia selalu menunjukkan senyuman yang
manis dan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona termasuk aku.
“ Hai Kak, mau kemana?” tanyanya
Aku mengamati garis mukanya yang indah, “ aku
mau ke kamar mandi.”
“kenapa mengambil jalan yang memutar?
Bukannya lebih jauh?”
“karna aku ingin melihat senyumanmu.” Kataku
dengan tersenyum dan berlalu pergi, dari sudut mataku aku dapat melihat ia
tersenyum sumringah sekali yang membuat hatiku senang saat melihat senyumannya.
Listen to my story
I saw a falling star
And I made a wish upon the tiny spark,then
My heart belongs to you forever
forever more
I hope my wish can be heard to the sky?
Lagu indah mengalun merdu dikamarku, aku
menatap bintang yang indah sekali di langit malam dengan bulan sabit yang
melengkungkan senyumannya. Ahh lagi-lagi aku kepikiran oleh adik kelas berparas
tampan dan mempunyai senyum menawan yang tak akan dilupakan semua orang
khususnya aku.
Langit malam masih menyugukan keindahannya
malam ini, tanpa awan membuat bintang dan bulan terlihat jelas dimataku. Masih
indah dan selalu indah batinku. Saat aku sedang melamun dan memandang langit handphoneku berbunyi, aku menatap layar
dan tersenyum. Mujib sedang menelponku.
“Hallo?” kataku dengan suara yang sengaja
kulembut-lembutkan.
“ Hallo kak,lagi apa nih?”
“Aku sedang memandang ciptaan Tuhan yang paling
indah.” Kataku dengan tersenyum.
“ semua ciptaan Tuhan indah kalik kak,
termasuk kakak.” Godanya lalu terkekeh. Aku juga tertawa mendengarnya.
“ kau bisa saja, coba kamu keluar tatap
langit dan lihatlah semua benda yang ada di angkasa itu, indah sekali bukan?”
“ aku tak pernah melihat langit malam seindah
ini. Selama ini aku tak pernah memperhatikan langit malam.” Katanya, seakan ia
terpesona dengan langit sangat terlihat jelas melalui suaranya.
“ mungkin mulai sekarang kau harus lebih
memperhatikan apa yang ada di sekitarmu.” Diam beberapa saat tak ada yang
saling mendahului berbiacara samapai akhirnya ... “ apa kamu tau bintang yang
paling terang akan cepat mati?”
“ tidak, aku tidak tau apa benar cahaya
bintang bisa hilang?”
“tentu saja bisa, karna saat bintang itu
mengeluarkan cahaya yang sangat terang itu artinya bintang itu sedang membakar
dirinya, nanti setelah energi bintang
itu habis ia akan mati dan berpindah tempat.” Jelasku. “dan itu seperti aku.”
Kataku pelan berharap ia tak mendengar kalimat terakhirku.
“seperti aku? Apa maksudnya?” aku menyesal
Mujib telah mendengar kalimat terakhirku.
“ ahh tidak, lupakanlah itu tidak penting.”
Kataku mengalihkan perhatiannya.
Kami mengobrol sampai malam sampai telingaku
panas, sampai tak ada yang bisa dibicarakan lagi. “ rasanya aku sudah mulai
mengantuk, bolehkah aku tidur?” kataku mengakhiri telponnya.
“ heheh, iya kak maaf membuat kakak tidur
selarut ini, have a nice dream my little
star.” Katanya lalu menutup telponnya.
Little
star are you kidding me? Kataku dalam hati, seakan tak percaya
iya memanggilku bintang kecilnya. Aku tersenyum dan menarik selimut dan denyum
dalam tidurku.
***
Hari-hari kulewati begitu cepat sampai
akhirnya bulan agustus datang lagi tahun 2014 aku sudah menjadi anak kelas XII,
artinya angkatanku paling tua disini. Mujib selalu bertanya kenapa aku
kadang-kadang tak masuk itu yang membuatku susah untuk menjawabnya. Namun mau
tak mau aku menjawabnya hanya dengan satu kalimat yang singkat, padat “Aku
sakit”
Tak ada kata lain selain itu agaknya
jawabannku tak bisa membuat ia lega ia masih memberiku pertanyaan-pertanyaan seperti
...
“emang kakak sakit apa?”
“ apa aku tidak boleh mengetahui penyakit
kakak?”
“ aku bisa jaga rahasia kak”
“apa sakit kakak berhubungan dengan tumbler yang ada di kantin?” Aku selalu
memberikan jawaban yang sama hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku.
Hari ini tanggal 18 Agustus 2014 my sweet
seventeen, sebelumnya kedua orang tuaku mau merayakan ulang tahunku secara
besar-besaran namun aku tak mau aku hanya ingin ulang tahunku dirayakan
sesederhana mungkin. Aku mengadakan potong tumpeng dan potong kue tart di dalam
kelas, dan masing-masing siswa diberi bingkisan. Malamnya keluargaku mengajak
makan malam disebuah restoran mewah yang ada di daerah Sanur Bali.
Aku selalu bersyukur dengan apa yang aku
miliki sekarang termasuk keluarga kecilku, aku punya dua kakak kembar yang
sayang padaku, aku punya saudara kembar yang cantik dan baik meski kita baru
bertemu, dan aku punya adik kecil yang pengertian. Orang tuaku membesarkan kami
dengan keringat mereka sendiri. Aku bahagia dan aku bangga pada mereka.
Keesokan harinya Nico memberikan sebuah kado
dengan kotak kecil, “ terimalah “ katanya.
Aku melihat mata Nico dan tersenyum. “
seharusnya kau tak perlu repot-repot memberiku kado seperti ini tapi terima
kasih ya” kataku yang sibuk membuka bungkusan tersebut. Aku membuka kotaknya
secara perlahan ternyata Nico memberiku Gantungan Kunci berbentuk bintang yang
ditengahnya ada namaku aku mengangakat bintang tersebut lalu tersenyum .”
kadonya bagus sekali terima kasih” kataku lagi.
“ apa kau suka? Apa kau akan memakainya?”
tanyanya lagi.
“tentu saja aku suka, tentu saja aku akan
memakainya. Karna aku suka.”
Aku memasangnya di salah satu resletting
tasku, “ tasku ranselku semakin cantik” kataku yang membuat Nico tersenyum.
Saat istirahat aku mengajak Nico ke kantin
niatku untuk menraktirnya, aku juga mau mengganti isi tumbler yang ada di lemari pendingin kantin Bu Mitro. Aku memesan
salad asal Indonesia (baca : gado-gado) dan Nico memesan Nasi goreng.
“ bentar ya, mau menggambil tumblerku dulu.” Aku berjalan kearah
lemari pendingin dan membukanya.
“ jadi kakak mau mengambil tumbler itu?” Mujib tiba-tiba datang di
belakangku. Aku terenyak kaget mendengar suara itu.
“ kau mengagetkanku.” Kataku dengan
menyembunyikan tumbler yang sudah
sempat dilihat Mujib.
“ aku masih penasaran isinya apaan sih kak?”
“ sebaiknya kau buang rasa penasaranmu itu.”
Kataku singkat dan berlalu pergi menuju tempat Nico duduk.
Nico memandangku penuh tanya yang aku tau
harus menjawab dengan senyum dan menggeleng pelan. Aku cepat mengganti isinya
sebelum ada yang melihat isinya khususnya Mujib, aku belum yakin sama dia kalau
dia bisa menjagaku aku tak mau mengambil resiko. Setelah semua aku rasa beres
aku mengembalikan tumbler itu
ketempatnya semula dan menitipkannya lagi di Bu Mitro setiap aku selesai
mengganti isi tumbler itu aku selalu
memberi uang Bu Mitro yang sebenarnya tak pernah beliau harapkan.
27 Agustus 2014
Aku mulai mencintai seseorang yang lumayan
telah aku kenal aku harus melakukan hal yang sama saat aku mencintai seseorang
membuka apa yang ada pada diriku, aku sengaja mengajak Mujib ke cafe dekat
dengan rumahku. Ia datang lebih cepat dari ada aku.
“maaf aku terlambat ya?” kataku sambil duduk
dihadapannya, Ia hanya tersenyum dan menggeleng. Aku memanggil waiters dan memesan orange float dan hot
cappucino untuk Mujib dan beberapa makanan ringan.
“kenapa kakak memanggilku kesini?” katanya
heran.
“ aku rasa kau harus tau sesuatu.” Aku
berhenti bicara sejenak dan menatap matanya. “ kau ingat saat aku bilang aku
sakit? Apa kau sudah tak penasaran dengan apa isi tumbler yang ada di kantin?”
“tentu saja aku penasaran dengan kehidupan
kakak yang menurutku banyak rahasia. Dan menarik untuk aku cari tau.”
Aku mengeluarkan kalung yang selama ini aku
simpan dalam bajuku, aku melihat ia membacanya dan aku ingat ekspresi ini
adalah ekspresi saat Nico membacanya heran dan penuh tanya. “ apa itu Von Willebrand Diases?” tanyanya.
“ ini penyakitku susah untuk menjelaskan
secara medis namun yang harus kau tau aku tak bisa sedikitpun terluka, aku tak
bisa jatuh, aku tak bisa makan makanan yang kasar, aku tak boleh menangis
terlalu lama, aku tak boleh jalan terlalu jauh dan terlalu cepat, aku tak boleh
kelelahan, aku tak boleh stress. Semua itu akan membuat aku akan kehilangan
banyak darah. Saat aku tak masuk aku mungkin sedang kelelahan atau kakiku
membiru dan bengkak.” Aku mengambil nafas sejenak. “ aku mau kau tau karna aku
mulai mencintaimu.” Kataku singkat.
“ lalu isi tumbler itu?”
“ itu obat yang di import langsung dari Amerika, itu obat-obatan yang selalu
disediakan dimanapun aku berada.”
“ apa kak Nico tau tentang kondisimu?”
“ tentu saja dia tau, dia tau sejak tahun
pertamaku di Bali.”
“aku bisa menerimamu dengan keadaanmu, aku
akan menjagamu sebisa mungkin.” Biasanya ia memanggilku kakak namun ia beralih
ke kata ‘kamu’.
“ terima kasih kau mau menerimaku dengan
kondisiku.” Kataku lega. Aku tau kalau dia oarang yang dewasa orang yang bisa
mengerti orang lain.
Mujib memegang tanganku yang terasa ringan ia
menatapku penuh arti. “ mungkin tak hanya kamu yang mulai mencintaiku namun aku
juga mulai mencintaimu, apa kau mau menjadi pacarku?” sontak aku melotot dan
menatapnya penuh tanya, mataku kini mulai tergenang air mata aku sangat
bahagia, aku hanya bisa mengangguk dan air mata yang aku coba tahan akhirnya
tumpah juga.
Mujib tersenyum bahagia melihat aku
mengangguk, “ jangan menangis Lyla, aku takut kau terluka aku tak mau kau
terluka.” Katanya mencoba menghapus air mataku, aku menghampirinya dan
memeluknya.
***
Aku tau betapa dewasanya Mujib saat
mengahadapi semua sikap egois dan kekanakanku agaknya sedikit berbeda dengan
Nico, namun aku tak mau membandingkan mereka berdua karna manusia diciptakan
unik dan berbeda memiliki sifat dan karakter masing-masing.
Kini bukan lagi Nico yang menungguku di depan
namun Mujib, ia berjalan di depanku membiarkan tubuhnya tersenggol oleh anak
yang berlalu lalang, dan selalu aku mendapat tatapan iri dari orang yang
melihatku, khusunya adik kelas yang suka pada Mujib.
Sebagai anggota pramuka senior tentu saja
Mujib sangat terkenal seantero sekolah, bukan karna ia telah menjadi senior
tapi karna ia juga mempunya wajah yang rupawan dan senyum yang menawan. Ia juga
sangat dewasa, baik dan ramah pada semua orang. Sikap ramahnya yang kadang
membuat aku jengkel karna sikap ramahnya membuat aku selalu makan hati.
Aku suka dengan kesibukanku menjadi siswa
kelas akhir artinya aku akan Lulus, Essa yang beda 2 tahun denganku harus
menjalani masa SMAnya di Jakarta. Itu yang Essa mau sekolah SMA terbagus di
Jakarta. Akhir-khir ini rumah sangat sepi semuanya sibuk dengan urusan
masing-masing.
Akhirnya aku dan Mujib sudah dua bulan
bersama, banyak bertengkar? Tentu saja bertengkar adalah bumbu dari sebuah
hubungan. Namun Mujib punya cara-cara jitu agar kami tidak lagi bertengkar dan
membuat suasana menjadi sangat romantis.
Suatu hari sepulang sekolah yang terik aku
berjalan menuju gerbang sekolah sedikit berlari lalu menengok “ ayo cepat”
ajakku, Mujib menatapku khawatir.
Aku berhenti di tegah jalan sampai akhirnya
ada sepeda motor yang melaju sangat cepat dan menabrakku, karna badanku yang
ringan seperti tak memiliki massa aku jatuh dan tak sadarkan diri. Aku sempat
menengar teriakan Mujib sampai akhirnya aku tak mendengar apa-apa lagi.
***
Aku dapat melihat tubuhkan yang terbaring
kaku di sebuah kamar rumah sakit, mujib menangis dan memegang tangganku. Orang
tuaku saling berpelukan dan menangis, bang Icol kakak tertuaku bersadar di
tembok dan memengang kepalanya seakan frustasi, bang Ical memeluk Essa dan Lily
yang sedang menangis. Aku melihat mereka dan tersenyum, mungkin ini akhir dari
kehidupan Lailatul Galuh Tri Gadis Al Fahrieyzi.
Aku sadar aku bukan untuk Mujib, Mujib bukan
untukku namun aku bahagia ia mencadi cinta terakhirku. Meski ia tak bisa
melihatku namun aku tetap bisa melihat wajahnya yang rupawan dan senyumnya yang
menawan dari alamku yang berbeda.
Kini dari alamku aku dapat melihat
orang-orang yang kusayang sedang menangis, menangisi kepergianku kini aku tau
betapa aku berharganya untuk mereka meski dulu Nico pernah mengatakan bahwa aku
adalah beban namun bagi kedua orang tuaku aku hanyalah malaikat mereka malaikat
kecil mereka. Kini aku mengikuti cahaya yang datang menjemputku aku berbalik
dan meninggalkan mereka dengan senyum bahagia.
TAMAT








0 komentar:
Posting Komentar