Pagi
ini sangat cerah, dan oksigen di luar sangat bagus untuk pernafasan. Aku
sengaja berangkat ke sekolah jauh lebih pagi dari pada wildan, aku sangat suka
suasana sekolah saat pagi hari sepi dan nyaman untukku.
Tapi
aku salah ternyata aku sedang tidak sendirian di sekolah ada nathan yang
berangkat jauh lebih pagi. Aku melihat matanya namun untuk kali ini aku tak
takut mentap matanya. Aku menyapanya dengan senyuman termanis pagi ini, diapun
membalasnya dengan senyuman, namun saat aku akan berjalan meninggalkannya
Nathan memegang tanganku untuk memaksaku berhenti.
“Ganessa,
apa kau tak mau menjawab pertanyaaku akhir-akhir ini?” itulah kata yang pertama
ia ucapkan.
Aku
sedikit bingung dengan pertanyaan yang menjebakku, aku tau ini bukan hal yang
sulit hanya tinggal menjawab, ya aku mau atau maaf aku tidak bisa. Namun bagiku
itu seperti memuntahkan besi dari mulutku dan itu sangat sulit.
“ehh,
ak.... aku...” jawabku sedikit bergetar.
“
jika kau tak bisa, tak apa aku bisa menerimanya.” Lalu nathan melepas
pegangannya dari tanganku, dan mulai meninggalkanku.
Aku
menatapnya dengan miris kasian ia bisa tau apa yang aku inginkan sesungguhnya
aku belum siap untuk menerima kata cinta darinya. “ nathan, jika kamu mau, ayo
kita bersahabat.” Kata-kataku itu sontak membuat nathan berhenti, lalu ia
menoleh ke arahku. “ aku mau kita bersahabat seperti aku dan Kendra, seperti
aku dan Wildan.” Aku sempat berfikir apa keputusanku benar atau salah.
“
apa kau yakin kau tak salah, ingin menjadikanku sahabatmu?” tanya nathan dengan
suara bimbang.
“
aku yakin, apa salahnya aku menjadi salah satu sahabatmu, toh itu jauh lebih
menyenangkan dari pada kita pacaran yang akan menimbulkan konflik jika kita
sedang bertengkar. Dan aku tak mau itu terjadi.” Kini aku yang berjalan ke
arahnya dan mengacungkan jari kelingkingku. “kita sahabat.” Aku mengucapkan
kata itu dengan yakin.
“
ya, kita sahabat” nathanpun mengaitkan kelingkingnya dan tersenyum. Aku membalas
senyuman yang hangat tersebut.
Lalu
Nathan mengantarku ke kelas yang masih kosong lalu ia pergi. Aku menatap kelas
yang kosong tersebut, sedikit menakutkan jika datang sepagi ini dan kelas juga
masih gelap. Aku duduk di bangku biasa tempatku
menuntut ilmu. Aku membuka buku yang akan di pelajari hanya sekedar
untuk mengingtakanku akan pelajaran tersebut.
Tak
lama kemudian penduduk kelas datang satu persatu, yang perna Rika teman
sebangkuku.
“loh,
loe ga salah datang jam segini? Biasanya loe siang kalau datang.” Sapanya untuk
pagi hari ini.
“
hehe, gue pengen aja berangkat pagi, lagian gue juga pengen tau rasanya
berangkat pagi, sekali-kali. Kalau berangkat agak siangpun nanti macet loe tau
sendirikan jakarta itu gimana?” jawabku dengan cepat.
“
pinter banget kalau ngeles, gue tadi liat nathan dari kelas kita. Jangan-jangan
loe uda nanggepi perasaan loe ke nathan ya. Loe jadian ya sama nathan wah hari
ini ada traktir dong.” Rika mulai bergosip tentang hubunganku dan nathan.
Aku
Cuma membelakkan mataku.” Hey rika loe ngomong apa sih? Gue ga jadian ama
nathan. Gue Cuma sahabat aja.” Kata gue dengan yakin.
“
ah loe malukan essa. Udah jangan malu-malu gitu gue bisa ngerti kok kalau loe
sama nathan pacaran.” Rika masih ngotot kalau aku lagi pacaran sama nathan. Cubitanku
terjun dengan cepat ke perutnya, rika hanya tertawa.
***
Sahabat?? Mungkin jauh
lebih kata kata itu dari pada ditolak. Yah mau ga mau gue harus menerimanya.
Gue yakin dengan kata sahabat itu gue bisa menyayangi Essa dengan diam tanpa
harus dengan pacaran, namun setidaknya ini caraku mencintainya dengan cara
BERSAHABAT.
***
Wildan
kini menjadi perbincangan luar biasa seantereo sekolah, karna mungkin bentuk
fisik yang lumayan keren itu, banyak cewe-cewe yang sengaja mendekat ke wildan.
“wildan,
kamu uda punya pacar belum?” tanya seorang cewe yang agak genit. Wildan hanya
menggeleng dengan tersenyum. Ada goresan senyuman yang terpancar dari cewe yang
bernama Nila itu.
Nila
pergi dengan ceria ke arah teman-temannya mungkin ini berita bagus untuknya. Wildan
Cuma geleng-geleng heran dengan sikap nila yang pergi dengan ceria setelah
berbicara dengannya.
Tak
sengaja Essa dan rika sedang jalan di depan kelas Wildan, wildan sepontan lari
menghampiri Ganessa.
“
kamu tadi kenapa berangkat gak ngajak-ngajak, lain kali aku bangunin juga ya,
gak enak tau di jalan sendirian. Hari ini aku bawa motor sport kakakmu. Ntar
mau bareng atau pulang dijemput?” tanya wildan, Rika Cuma melongo dengan
kata-kata wildan yang karna seolah-olah mereka sedang satu rumah.
“
terus kakak pake apa? Kalau motornya kamu bawa. Bukannya mobil kakak lagi ada
di bengkel ya?”
“
tadi pagi orang bengkel nganter moilnya, waktu mobil yang nganter kamu baru aja
masuk garasi. Katanya kak Adit males buat ke bengkel.”
“bentar-bentar
kalian ngobrolnya seakan-akan kalian itu satu rumah. Apa kalian satu rumah.”
Rika mulai angkat bicara.
“kita
emang serumah” jawab wildan ringan tanpa ekspresi. Lagi dan lagi Rika dibuat
kaget oleh wildan. Essa yang mengetahui sikap perubahan muka Rika lalu
cepat-cepat membawa rika pergi. Essa hanya memberikan senyum getir ke arah
Wildan.
***
“Wow
liat tuan putri kita, kemaren si tuan putri nepel terus kaya perangko ke Kendra
tapi sekarang ke Wildan anak baru sekolah kita yang menjadi populer mendadak.
Apa loe cewe murahan?!!” tanya Prili ke arahku dengan nada yang sangat ketus.
Sontak aku membelalakan mataku seakan tak percaya.
“
Bisa-bisanya loe, ngatain gue murahan.!! Elo siapa berani ngatain gue kaya
gitu?!!” Teriakku tak mau kalah dengan prili. aku bisa merasakan bahwa saat ini
mukaku benar-benar merah karna marah. Aku sudah seperti lobster yang siap untuk
dimakan.
“
apa kau benar-benar merasa menjadi seorang tuan putri yang tak mengenali
siapa-siapa? Sungguh miris sekali tuan putri murahan kita.”
“
berani-beraninya loe bilang gitu. Apa loe iri ke gue karna gue deket sama
kendra dan wildan?! Apa loe gak mampu ngerebut kendra dari gue ? makanya loe
menggunakan cara murahan dengan loe ngatain gue cewe murahan. Sekarang siapa
yang miris loe apa gue?” kini kata-kata pedasku keluar, sebenarnya aku adalah
orang yang cukup diam tapi jika ada yang membuat ulah denganku aku sangat cepat
untuk naik pitam.
Aku
sempat melihat muka prili yang merah mungkin karna malu karna sekarang semua
orang tau bahwa ia menyukai kendra. Dan Aku sudah mengetahui itu sejak lama.
Aku
masih menatap prili dengan sorot tajam sebelum kendra datang untuk meleraiku.
“apa
yang kalian lakukan ini sekolah bukan arena bertarung, essa!! Prili!! jawab!!”
teriak kendra. Bukan hanya kali ini aku melihat kendra marah dulu waktu kita
masih SMP aku sempat melihat dia marah ke teman-teman yang selalu menggangguku.
“Si
Prili bikin gara-gara dulu Ken, masak si Essa di bilang cewe murahan karna
baru-baru ini dia deket sama kak Wildan.” Rika angkat bicara, aku hanya
menundukan kepalaku dan menatap ujung sepatuku. Aku selalu takut saat melihat
Kendra yang marah. Tiba-tiba cuaca mendadak mendung benar-benar luar biasa
amarah Kendra.
Kendra
menatap mata prili dengan tajam. Tatapan itu membuat prili sedikit takut, prili
semakin menunduk. Lama-lama aku kasian dengan prili. “ udalah ken, ga perlu di
bahas lagi anggap aja itu tadi kita Cuma akting. Ayo kita pulang.” Aku segera
mengambil tindakan aku menyeret tangan kendra keluar kelas. Saat kita
benar-benar sudah di luar kelas hujan turun dengan deras.
Kendra
menatapku kali ini tatapan itu mulai teduh sudah tidak ada amarah di matanya,
ia kembali menaruh jaket yang ia bawa ke punggungku. “ apa kau yakin kau
baik-baik saja?” itulah kata yang sedikit membuatku tenang.
Aku
mengangguk pelan. “apa dia menyakiti hatimu? Apa yang dikatakan Rika benar?”
tanya Kendra lagi.
“Ken,
aku yakin aku tak apa-apa, dia tak menyaktiku dia hanya cemburu denganku aku
sadar itu jika aku yang ada diposisi dia aku akan melakukan hal yang sama,
melakukan hal yang di lakukan prili.” jawabku meyakinkan kendra.
“
apa maksudmu? Aku tak mengerti apa yang kau katakan?” kini aku melihat guratan
prnuh tanya di wajahnya.
“
Prili sangat-sangat menyukai kamu Ken, tapi kamu selalu bersamaku,itu membuat
dia tak bisa mendapatkan hatimu. Dia merasa bahwa aku yang membuat kamu tak
menoleh gadis lain. Maka dari itu dia sangat marah dan sangat tidak
menyukaiku.” Jelasku. Kini dingin mulai menyergap tubuhku. Hujan yang sangat
deras ini benar-benar menundaku untuk pulang.
***
Aku
dan Kendra menunggu hujan reda di sekolah, sangat membosankan itu pasti. Kami
memutuskan untuk menghangatkan badan di perpustakaan sekolah. Sedikit ramai di
perpustakaan sekolah yang mempunya penghangat ruangan. Aku dan kendra memilih
duduk di ubin ruang yang hangat. Aku bersandar di dinding yang dingin aku
membaca novel teenlit kesukaan ku. Kendra duduk di sebelahku dengan bacaan
astronomi di tangannya
“apa
wildan tau kau disini bersamaku? Apa di tak akan mencarimu” tanyanya tanpa
memalingkan matanya dari buku yang dibacanya.
“
aku sudah bilang padanya kalau aku sedang bersamamu tapi aku tak memberi taukan
dimana kita berada. Aku hanya ingin bersamamu saat ini.” Aku melihat wajah
Kendra yang terpaku pada bukunya.
Sudah
hampir satu jam aku dan kendra membaca tapi hujan juga belum berhenti masih
sangat deras. Aku sudah memberi tau kak adit bahwa aku hari ini pulang
terlambat karna hujan. Ruangan yang hangat membuat aku mengantuk. Tanpa sadar
aku menyandarkan kepalaku di bahu kendra yang kokoh. Aku benar-benar mengantuk.
***
“ Andai kau tau apa
yang aku rasakan kepadamu, aku bukan hanya menyayangimu sebagai sahabatku. Kau
adalah malaikat yang selalu aku pikirkan
siang dan malam. Apa kau mau menjadi kekasihku? Atau aku akan selalu menjadi
sahabatmu selamanya? Apa sekarang wildan yang hanya ada di pikiranmu. Wajahmu
menggambarkan betapa kau lelah. Aku berjanji akan selalu menjadi penolongmu
jauh lebih baik dari pada wildan.”
“ apa kau juga tau
bahwa aku sudah menyukaimu saat kita pertama kali bertemu, namau pada saat itu
aku tak yakin dengan semua perasaanku kepadaku. Aku hanya dapat menahan dan
menahan rasa ini bertahun tahun sampai detik ini akupun masih mencintaimu.”
***
Aku
sampai rumah menjelang malam. Wildan sudah datang setengah jam lebih cepat dari
pada aku. Mungkin karna aku ketiduran di perpustakaan dan hapeku lowbet berat
makanya dia tak bisa mencari tau keberadaanku.
“
kau dari mana saja? Wildan sudah sampai rumah dari setengaha jam yang lalu. Apa
kau main? Kenapa tak menelfonku?” Kak Adit mulai menceramahiku, aku tau itu
akan dilakukan kak Adit saat dia benar-benarkhawatir dengan keadaanku.
“maaf
kak, handphoneku lowbet. Tadi aku sama kendra di perpustakaan yang punya penghangat
ruangan terus aku ketiduran deh. Lalu kata Kendra dia gak berani kalau
ngebangunin aku. Jadinya aku bangun-bangun sendiri deh.” Jelasku pada kak Adit.
“Loh
kamu di perpustakaan kenapa aku gak tau. Aku tadi sempat ke sana mencarimu.”
Wildan yang sedari tadi membaca majalah di sofa ikut bicara. Aku Cuma
memberikan senyum ke Wildan dan menuju kamarku.
***
“kak
Adit, ayo main PS yuk. Bosen nih.” Ajak Wildan. Sudah malam hari hujan kembali
datang mengguyur kota Jakarta.
“wah
ada yang nantangin nih oke, tapi bentar. Bik bibik.” Panggil Adit. Lalu wanita
setangah baya itu berlari ke arah Adit.
“iya
bang, ada apa ya?” jawab wanita setengah baya yang biasanya di panggil bibik
itu adalah pembantu rumah tangga yang ada di rumah ini.
“buatin
susu coklat buat aku sama wildan ya bik, sama makanan kecil. Oh iya Essa juga
buatin susu coklat bik, tolong juga antar ke kamarnya.” Minta Adit.
“iya
bang, tunggu sebentar ya bang. Pesanan abang akan datang secepat kilat.” Jawab
bibik dengan bercanda. Aditpun tersenyum mendengar candaan bibik.
***
Lia
adik Kendra sedang membaca buku di kamar Kendra, ini sering dilakukan Lia saat
ia benar-benar kesepian. Maklum ia adalah anak-anak yang masih ingin perhatian.
Kendra hanya sesekali melihatnya dengan tersenyum.
“
kakak, apa kakak suka dengan kak Esaa?”
tanya tanpa memalingkan matanya dari buku yang dibacanya.
“kau
itu masih kecil, tau apa kau tentang saling suka.” Jawab kendra.
“
Aku tau kakak suka kak esaa, banyak sekali kata-kata dan foto-foto kak essa di
buku ini.” Ternyata Lia menyembunyikan
buku Kendra didalam buku pelajarannya, agar Kendra tidak sadar bahwa yang Lia
baca dari tadi adalah buku kendra.
Kendra
membelalakan matanya seketika. “ darimana kau ambil buku itu?” tanya kendra
dengan merampas buku itu dari tangan lia.
“abis
buku yang menurut kakak penting ini tergeletak begitu saja di meja belajar
kakak tadi sewaktu kakak belum pulang sekolah.aku mengambilnya karna aku
penasaran Dari sampul buku itupun sudah menarik perhatianku. Ternyata bukan
sampulnya saja yang menarik perhatian namun juga isinya. Kak Essa memang cantik
kak. Aku akan mendukung kakak jika kakak menjadi pacarnya.” Tutur lia tanpa
henti.
Kendra
menatap mata adik semata wayangnya itu lekat-lekat. “ ya kamu memang benar
bukan hanya buku ini yang menarik perhatian tapi juga orang yang ada di situpun
sangat menarik perhatian sudah hampir 4 tahun aku mencintainya. Namun aku belum
berani mengungkapkan apa yang selalu ada di hatiku ini.” Desahan kendra semakin
bisa di dengar oleh lia.
“kenapa
kakak gak bilang cinta ke kak Essa apa perlu aku yang bilang ke kak Essa bahwa
kakak menyukainya.?” Lia menawarkan bantuannya.
“tidak
terima kasih, kakak mau kamu menyembunyikan ini dari dia. Diamlah seribu bahasa
jika menyangkut perasaan kakak apa bisa?”
“wah
ini adalah ladang bisnis buat aku kak. Apa yang akan kakak berikan jika aku mau
membantu kakak. Bembantu dalam menyembunyikan rahasia kakak. “
Kendra
tertawa dan menimpuk Lia dengan pulpen yang ada di meja belajarnya. “kakak aku
serius kalau kakak enggak mau ngasih aku apa-apa jangan harap rahasia ini akan
aman.” Ancam Lia.
Kendra
mulai berfikir keras, karna lia adalah sosok yang serius dalam semua
perkataannya. Ia pernah menyembuyikan binatang peliharaan di kamarnya, dan Lia
tau itu. Mama mereka tak suka dengan kura-kura dan kendra memeliharanya dalam
kamarnya. Lia mengajukan ancaman ke kendra tapi kendra tidak memperdulikan
ancaman itu. Keesokan harinya kendra ketauan sedang memberi makan kura-kura
tersebut dan ia di marahi selama 3 jam oleh mamanya.
“memangnya
kau mau apa?” tanya kendra dengan tidak yakin.
Lia
tersenyum licik. “ aku Cuma mau seperempat uang jajan kakak selama satu minggu.
Tak beratkan.??” Senyuman kembali tersinggung di ujung bibir Lia.
“apa
kau gila. Jadi selama seminggu kakak harus memberikan uang kakak ke kamu gitu?
Dan otomatis kakak harus menghemat selama satu minggu. Apa kau yakin akan
menyiksa kakak?” gerutu Kendra.
“aku
tidak menyikasamu kak, aku hanya ingin kakak benrbagi sedikit uang sakumu
padaku. Jika kau tidak mau itu terserah kamu aku tidak akan memaksamu kok. Tapi
ya kakak harus rasakan jika kak Essa akan tau semuanya tentang kakak.”
“baiklah-baiklah
hanya satu minggukan, aku akan mengabulkan permintaanmu yang sangat menyiksaku
ini.”
***
Semalam hanya ada dia
di bayanganku, hanya ada dia dipikiranku. Apa memang dia yang terbaik untukku.
Tuhan tolong tunjukan bahwa dia yang terbaik untukku atau dia hanya sekedar
sahabat untukku. Tuhan tolonglah sampaikan sejuta salamku untuknya Ku kan
berjanji takan hianati pintanya.
Ingatkah saat kita
pertama bertemu? Saat itu hanya kau, hanya kau yang mampu menatap mataku dengan
pandangan teduh dan penuh kehangatan, hanya kau yang bisa membuat hariku indah
dengan semua tatapan hangatmu.
***
Pagi
yang mendung ini mama sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Ya sangat aneh
mungkin jika itu mama tidak terlalu aneh tapi ini mama. Sabtu pagi adalah week
and ya memang hari libur namun tidak biasanya untuk papa dan mamaku. aku baru
saja terbangun dari tidurku dan seakan ini bagai mimpi pemandangan yang langkah
dirumahku.
“papa!!”
teriakku dengan keras. Aku berlari menuruni tangga dengan cepat dan segera
menghamburkan pelukanku ke papa. Mama dan papa terlihat tersenyum bahagia. Aku
tau kita masih akan satu rumah namun aku sangat merindukan orang tuaku yang
hampir tak pernah ada di rumah ini sunggu mengharukan.
“
apa kau merindukan papa dan mama? Kau tampak seperti essa saat berusia 8
tahun.” Itulah kata papa saat aku masih ada dalam pelukannya.
“
apa papa bercanda tentu aku sangat merindukan kalian. Kalian sangat sibuk
berkerja apa aku berhak untuk membenci kalian. Aku ingin membenci kesibukan
kalian, namun aku tetap saja ga bisa kalian tetap darah dagingku mana bisa aku
membenci kalian.” Jawabku dengan tersenyum. Kak Adit yang baru bangun seketika
juga membelalakan matanya. Kebaredaan orang tuaku dirumah sangat luar biasa.
“
apa kali ini papa tidak ada perjalanan bisnis keluar negeri ataupun keluar
kota?” tanya kak Adit dengan muka jutek. Ya kita tau, aku dan kak adit sudah
beranjak dewasa tapi bukan berarti aku dan kak adit tidak merindukan orang tua.
Kami tetap ingin bersama keluarga kecil kami. Ingin liburan bersama keluarga
kami.
“seperti
yang kau lihat. Papa sedang mengambil cuti untuk beberapa hari. Papa ingin
seperti keluarga yang lain berlibur dengan anak-anaknya. Jadi papa ga mau di
ganggu sama perkerjaan papa dalam satu minggu ini. Papa hanya milik kalian
untuk minggu ini.” Papa benar-benar berkata jujur. Karna yang aku tau mata papa
akan berbinar-binar jika papa berkata jujur.
“apa
papa serius!!!” teriakku dengan kak Adit berbarengan. Papa hanya menganggukan
kepalanya dengan mantap. Mamapun ikut gembira. Ya inilah yang kami butuhkan
Pergi bersama.
***
Hari
ini masih hari Rabu, dan hari ini ada pelajaran kimia yang sangat membosankan.
Aku tak begitu suka kimia. Atau mungkin bisa di bilang tak suka sama sekali
sejak aku kelas satu SMA. Sekarang aku sudah kelas dua dan aku masuk jurusan
IPA, seperti anak IPA pada umumnya pelajaran ini sangatlah umum namun sangat
menjengkelkan. Kenapa hari ini masih hari rabu aku tak sabar untuk pergi esok
dengan keluarga kecilku di tambah juga sahabat yang seperti keluargaku sendiri,
Wildan.
Rencananya
papa mengajak kami ke Puncak. Yah memang tak jauh dari Jakarta. Mugkin waktu
yang mama punya hanya sedikit untuk pergi dengan keluarganya. Maka dari itu
papa mengajak liburan ke Puncak itung-itung juga ke Villa kami yang di beli
sekitar 3 tahun yang lalu. Aku dan Wildan memang sengaja untuk membolos sekolah
sementara waktu namun ini bukan karna keegoisan dari kami. Namun kami hanya
berfikir jarang-jarang bisa liburan sama orang tua.
Aku
menceritakan tentang liburan ini ke Kendra. Ya memang seperti anak kecil yang
pamer saat di belikan mainan oleh orang tuanya.
***
“Essa
semua barang yang kamu butuhkan udah dimasukan mobil, ingat jangan sampe ada
yang ketinggalan. Adit tolong kamu bantu mama masukin bawaan ini ke mobil.
Wildan juga jangan ada barang tertinggal.” Yah itu adalah ocehan pagi ini. Mama
adalah orang yang sangat perfect dan teliti. Jadi acara liburan seperti acara
mau pergi keluar negeri. Namun tetap saja aku senang. Mungkin setelah
berbulan-bulan berasa tak serumah dengan orang tuaku.
Aku
hanya menyiapkan beberapa baju, novel, makanan ringan, boneka kesayangku, dan
beberapa barang lainnya. Ini seperti orang mau pindahan menurutku. Sedikit berlebihan
memang namun aku hanya berfikif yah untuk jaga-jaga.
Aku
turun ke garasi mobil untuk menaruh barangku di bagasi. Aku melihat Wildan dan
kak Adit yang sedang menata barang. Mereka juga terlihat sangat senang. Meski
Wildan tidak bersama orang tuanya namun tidak ada rasa sedih atau apapun. Karna
bagi dia orang tuaku adalah orang tua kedua baginya jadi mengapa harus merasa
sungkan.
“oke
semua siap anak-anak?” papa merangkul kami bertiga dari belakang. Kami bertiga
hanya mengangguk dan tersenyum kemudian kami semua sudah duduk dengan tenang di
bangku masing-masing.
Di
dalam perjalanan, kami tentu mulai bosan dan memulai kesibukan masing-masing.
Papa tentu saja masih terfokuskan dengan jalanan yang sedikit macet karna mau
masuk jalan tol wajar kalau macet. Mama sedang sibuk dengan majalah fashion
yang di bawanya. dan aku tau mama tak akan melupakan itu meski di kantor
sekalipun. Kak Adit sedang asyik main game di gadget pemberian papa tahun lalu.
Wildan sedang Tidur dan mendengarkan musik melalui earphonenya. Dan aku hanya
bisa melihat kesibukan masing-masing. Mulai bosan memang tiba-tiba hapeku
bergetar ada sms dari Kendra
Apa kau sudah di jalan?
Yah ini mau masuk
daerah jawa barat masih macet,
Ohh, okey
Aku bosan dengan
perjalan ini. Apa kau bisa menemaniku
Ya mungkin jika tidak
ada guru aku akan menemanimu.
Terima kasih :)
Ya sama-sama. Ohh iya
tadi ada yag mencari kau pagi-pagi tadi.
Ohh ya? Siapa?
Emb Nathan. Dari pagi
ia sudah di depan kelas. Terus katanya ia mencarimu, lalu aku bilang jika kau
tak masuk beberapa hari ini.
Ohh. Okey nanti aku
hubungi dia.
Apa kau punya hubungan
dengannya.
Tentu saja aku punya
hubungan dengan dia.
Lalu apa hubunganmu
dengannya.
Kau sangat kepo, :p
tanyakan sendiri pada Nathan J
Kau yang membuatku
Kepo, awas kau yah :D. Haduh maaf Essa aku tak bisa menemanimu nanti aku janji
aku bakalan sms kamu. Soalnya ada pak brengos uda dateng.
Ohh iyya nanti ya.
Yah
dan Kendra lagi pelajaran sekarang perjalanan mulai membosankan lagi. Aku memasang
headset di telingaku dan mulai memutar lagu-lagu favoritku. Lama-lama mataku
mulai mengantuk dan akhirnya aku menyandarkan kepalaku ke bahu Wildan dan mulai
tertidur.
***
Anak
ini kalau lagi tidur cantik juga. Ya Ampun Wildan jangan sampe loe suka sama
sahabat loe sendiri. Loe gak akan bahagia jika loe suka sama sahabat loe
sendiri. Akhirnya akan menyakitkan buat keduanya. Dan Wildan mulai sekarang
Essa harus loe anggap jadi adik loe. hanya dengan cara itu loe bisa sayang ke
dia tanpa harus ada perasaan suka
***
Perjalanan
yang lumayan panjang akhirnya berakhir juga. “ Dek, bangun dek uda nyampek,
wildan hey bro bangun.” Teriak kak adit mencoba untuk membangunkan aku dan
wildan. Aku menguap selebar yang aku bisa untuk melampiaskan rasa kantuk yang
menyerangku.
“
wah udah lama ya gak kesini. Udaranya masih tetap ternyata masih segar. Pak joe
jagonya ngatur tamannya.” Itulah pujian dariku untuk pak Jo tukang kebun yang
merawat kebun di Villa keluarga kami.
“wah
dek liat ayunan yang dibuatin papa dulu. Masih ada. Waktu SMP kan ini. “ kata
kak Adit saat melihat ujung Halaman ada ayunan yang bertengger di dahan pohon.
“tempat
ini masih sama saat kita kecil ya. Omm tante gimana kalau nanti kita BBQan
pasti seru banget.” Saran wildan.
“ohh
okey, bisa tuh. Ayo masuk dulu kita istirahat dulu nanti mama suruh bik Una
buat belanja buat BBQ malam nanti.” Kata mama dengan menggiring kita ke dalam.
***
“
Loe ngapain disini? Ini bukan arena kelas loe.” taya kendra ketus ke nathan.
“
gue nunggu Essa. Kalau loe mau masuk ya masuk aja anggap aja gue gak ada.
Gampang kan?” jawab Nathan seenaknya.
“
ya terserah loe aja. Orang dia hari ini gak masuk , tungguin saja nyampek loe
pulang. Gampang kan?” jawab kendra dengan berjalan masuk ke kelas.
Nathan
masih mencerna perkataan Kendra. Lalu Nathan menoleh kearah Kendra dan
mentapnya tajam. Gue bisa bersahabat dengan Essa tapi kayaknya sulit kalau
harus bersahabat dengan Kendra, karna gue tau gue adalah saingan kendra.
“eh,
hari ini Essa beneran gak masuk yah? Dia kemana?” tanya Nathan ke salah satu
teman essa.
“
gue denger-denger sih gitu. Bokap essa lagi ada di rumah dan ngajakin essa dan
sekeluarga liburan ke puncak gitu.” Jawabnya lalu masuk.
“ohh
kepuncak ya okeh makasih yah.”
***
Mungkin saat ini kita
tidak akan merasa kesepian saat banyak yang memperhatikan ataupun banyak orang
yang menyayangi kita dan terkadang kita tidak memperhatikan mereka ataupun
menganggap mereka tidak ada. Namun saat kita benar-benar merasa kesepian di
saat itulah kita merasa bahwa kita di tinggalkan oleh mereka semua. Dan
disitulah kita merasa SENDIRI
***
Sore
ini Jakarta di landa hujan badai maklum sudah memasuki bulan Desember yang
basah. Kendra sedari tadi menunggu hujan terang karna ia akan berlatih basket
dengan teman-teman satu timnya.
“Sial
kenapa hujannya gak berhenti-berhenti? Kalau gini caranya gue bisa gak latian
basket.” Gerutu Kendra. Sambil memandang langit yang masih meneteskan air.
Kendra
mengambil handphonenya lalu memencet-mencet tombolnya dan sesaat kemudian ia
menempelkan handphonenya di telinga. Sesaat dia terlihat menunggu dan ... “bro,
sorry ya hari ini gue gak bisa ngikut latian deh, hujannya deres banget. Pasti
nyokap kali ini juga ngelarang gue naik motor jalanan licin belum macet juga,
sorry ya. Next time gue ikut deh pasti.” Sesaat ia Cuma menjawab dengan kata
“iya dan iya” saat temannya berbicara. Kendra tau kalau teman-temannya pasti
kecewa. Dengannya. Ia menutup telepon dan melempar kan hape tersebut ke tempat
tidurnya dan ia pun melempar juga tubuhnya di tempat yang sama.
***
Disisi lain jalan aku
dapat melihat bayanganmu
Setelah melihatku
dengan mata dingin, kamu berjalan kearahku
Kau selalu berkata,
namaun kau tak pernah mempertanggug jawabkan perkataanmu
Dalam suara kecil,
kenangan menangis
Menangis.....
Air matamu seperti laut
biru yang membasahiku
Menatapku seolah aku
asap
Seperti tidak ada
Sama seperti istana
pasir yang tersapu oleh ombak
Seperti tidak memeliki
kenangan
Memutuskan untuk
mengakhiri seperti itu
Mampu melihat
bayanganmu disisi berlawanan dari jalan itu
Setelah melihatku
dengan mata dingin
Kamu berjalan kearahku
***
Liburanku
dan kedua orang tuaku sangat mengesankan, aku bahagia bisa bersama mereka meski
kadang-kadang hujan melanda dan mengurungkan niat kami untuk pergi hanya
sekedar jalan-jalan di dekat villa. Namun apa harus dikata satu Minggu berlalu
dengan cepat.
Kali
ini mama dan papa kembali keaktivitasnya semula seakan mereka tak kenal lelah
untuk terus bekerja. Begitupun dengan aku, kak Adit, dan Wildan yang sudah
mulai menjalani aktifitas masing-masing. Aku dan wildan sedang menyiapkan ujian
semester 1, mungkin ini hal sepele tapi aku tetap tak ingin mengecewakan orang
tuaku.
Menjelang
Natal aku sedang menyiapkan kado Natal utuk Nathan yang kebetulan agamanya
Kristen Katholik. Apa salahnya aku memeberinya sebuah bingkisan untuk sahabat
baruku. Aku memberinya sebuah kalung lambang Salib dan di belakangknya ada nama
NATHAN SUDIBYO.
Ini
masih tanggal 23 Desember, tentu saja hujan masih sangat deras. Namun sudah
agak berkurang dari biasanya. Setelah semuanya selesai aku Cuma bisa melamun di
beranda kamarku. Aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan. Pikiranku pergi
kemana-mana. Seakan tak punya arah dan tujuan.
Tiba-tiba
handphone yang ada disambingku berdering aku menatap layarnya dan memmbaca
KENDRA yang sedang menelphoneku.
“ada
apa ken?” tanyaku padanya.
“
em tak ada apa-apa iseng saja aku ingin keluar bersamamu bagaimana kalau malam
nanti kita nonton?” jawab kendra di sebrang telpon.
“
aku liat jadwal dulu ya takutnya tabrakan sama acara di kantor nyokap, kan gak
enak sama nyokap soalnya aku uda janji mau nemenin nyokap di acaranya.”
“
okeh, ntar kalau bisa cepet-cepet kabarin aku yah “
“siip”
aku menutup telpon dari kendra.
Minggu-minggu
ini aku berasa malas untuk melakukan aktivitasku, tak tau mengapa juga aku
sangat malas sekali, tak seperti biasanya.
Kesepian
mungkin itulah yang membuatku malas. Aku sangat kesepian. Mama, papa , kak Adit
sudah mulai sibuk dan sering pulang malam. Wildan yang sudah mempunyai banyak
teman dan mempunyai tim futsal sudah mulai sering latihan dan jarang ada di
rumah. Dan aku tetap sendiri di rumah, tanpa ada yang bisa di ajak cerita atau
sekedar ubtuk mengobrol.
Aku
berfikir sejenak, apa yang ingin aku lakukan. Dan tiba-tiba aku ingin menulis
beberapa kata.
Apa kabar?
Bagaimana mencapai impianmu
Apakah itu tidak sakit bahkan
ketika kamu terjepit?
Mungkin kamu gunakan ubtuk
kehidupanmu sekarang
Tidakkah terkadang kamu merasa
bosan?
Apakah kamu terkadang merasa
kesepian dan letih?
Apakah kamu menginggat mimpiku?
Tersenyumlah untukku
Berdirilah lagi
Biarkan hatimu bahagia dengan penuh
***
To Be Continue ..... (Coming soon Musim Panas)