“Ma...
Mama apa kabar? Ganessa kangen banget sama mama, sama papa, sama kakak juga, ma
sabtu ini tolong luangin waktu buat Essa yah, essa punya kabar yang menarik
untuk mama papa sama kakak dengarkan, ya udah essa tutup dulu telponnya ma.
Assalamu’alaikum.” Akhir kata gue di telpon dengan nyokap gue.
“
eh Essa lo kenapa ngajakin gue sama Kirana makan di cafe kayak gini, lagi
banyak uang yah?” tanya Nathan heran karna gue gak ngasih alasan ke dia kenapa
dia gue neraktir makan malam ini, gue dan kirana Cuma cengar-cengir ga jelas
doang buat nanggepin pertanyaan Nathan.
“
gini loh Nathan sahabat gue yang paling gue sayang, kan tadi gue ke ruangan pak
waluyo, dosen paling kejem munurut gue, dan lo tau? Gue dapet beasiswa ke
Oxford University sampe lulus S1 bayangkan men Oxford. Dan ini istilahnya
syukuran kecil doang gitu.” Jawab gue. Nathan yang duduk di sebelah gue
langsung meluk gue Erat banget.
“
Selamat yah Ganessa,, ciee anak Oxford sekarang”. Kata Nathan dalam pelukannya.
Malam ini gue berasa seneng banget.
“Nathan,
lo mau kan sabtu ini ngaterin gue pulang ke Jakarta? Soalnya kan lo tau sendiri
gue gak bawak mobil ke Bandung.” Pinta gue dengan nada manja ke Nathan.
Nathan
hanya mengangguk mengiyakan mau gue, emang selama ini yang nganter gue ke
Jakarta sering-seringnya adalah Nathan, karna pertama tu orang selalu bawa
mobil, kedua karna gue lebih nyaman ke mana-mana bareng nathan, dan bokap
nyokap gue mempercayakan gue ke Nathan selama gue di Bandung. Gue senyum-senyum
sendiri.
Menurut
gue ini hari terindah sangat indah gue bisa ngasih kebangga tersendiri buat
keluarga, dosen dan sahabat-sahabat gue.
***
“
Ganessa” teriak kak Adit dari depan pintu rumah dengan melentangakan kedua tangannya.
Gue yang baru turun dari mobil langsung menyambutnya dengan memeluknya dengan
erat.
“
kak Adit, Essa kangen sama kakak. Kakak apa kabar?” tanya gue dengan melepas
pelukan gue.
“
baik kok, everything is okey hehe. Eh Nathan masuk-masuk pasti kalian capek
mama udah masakin semua kesukaan Essa hari ini” kata kak adit dengan
mempersilhkan nathan masuk.
Gue
buru-buru ke kamar gue yang ada di lantai dua, gue mau ganti baju dulu pikir
gue, setalah itu di ruang makan gue akan ngasih kejutan ke orang tua gue dan
kak Adit.
Di
Ruang makan kita semua bercanda-canda bareng ketawa-ketawa bareng.
“
ehem.” Deru gue agar semua memperhatikan gue, sekarang semua menoleh ke arah
gue. “ mama, papa kak adit yang essa sayang. Hari ini essa punya kabar yang
sangat dan sangat baik.” Sambil memperlihatkan amplop coklat di tangan kanan
gue. “ini hasil kerja keras essa kuliah selama ini. Coba deh papa yang baca.”
Bokap
gue menerima amplop coklat itu dengan heran, lalu beliau membuka amplopnya lalu
sekilas membaca dan tiba-tiba senyum tersinggung di bibirnya. Mamapun heran
dengan arti senyum bokap. Tiba-tiba bokap berdiri dan memeluk gue.
“selamat
Ganessa Nasution, kau kebanggan keluarga. Mama, Adit Ganessa mendapat beasiswa
Bisnis Management di Oxford University selama tiga tahun.” Bokap gue seperti
memberikan pengumuman ke orang-orang rumah.
“
ha?? Yang bener? Kamu ke Inggris dong yah, jauh banget dek.” Kata kak adit.
Mata gue tetap berbinar-binar. gue merasa kalau gue adalah orang yang
beruntung. Gue hidup di tengah-tengah keluarga yang hangat meski terkadang
mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri, gue punya sahabat-sahabat yang baik
seperti Nathan, Wildan dan Kendra. Nyokap sampe menagis mendengar kalau gue
dapet beasiswa.
“
jadi kapan kamu berangkat?” tanya nyokap gue.
“
kata pak Waluyo, Essa berangkat dua bulan lagi ma, pokoknya Papa, dan Essa
harus menandatangin berkas tersebut dan Essa akan mengurus transfer sekolah,
dan berkas-berkas lainnya essa juga harus ngurus paspor essa juga.”
“
bentar lagi dong kamu berangkat?”
“
iya, ma... mama jangan sedih yah, do’ain essa bisa sukses di negeri orang nanti
kalu lebaran essa bakalan pulang kok, tiap tahun essa akan pulang biar essa gak
bikin papa mama sama kak adit khawatir terus.”
“
hemm.. jadi pengen kejar beasiswa juga biar bisa sama-sama terus sama lo Essa.”
Celoteh Nathan yang di samping gue.semua orang yang ada di ruang makan pun
tertawa. Malam minggu terindah yang pernah gue rasa yah hari ini.
Setelah
Nathan pulang gue langsung selalu melakukan kebiasaan gue yg kebiasaan yang gak
pernah gue lupa saat gue ada di beranda kamar gue, liat bintang gue suka dengan
bintang-bintang di langit malam yang selalu nemenin gue saat malam mulai datang
dan sepi mulai melanda. Tiba-tiba kak Adit masuk ke kamar gue dan langsung
duduk di samping gue.
“Selamat
yah bisa belajar keluar negri ga nyangka adik kakak yang paling cantik ini bisa
lolos beasiswa, kakak kira kamu masih bodoh.” Candanya
“astaga
kakak, selalu deh ngerendahin kemampuan Essa” gue mukul bahu kakak gue ringan.
“ya
maaf hehe, kau sudah di Jakarta sekarang apa kau tak ingin bertemu dengan
Kendra?” dengar kak Adit menyebut nama Kendra gue menatap kak Adit lalu menatap
langit malam penuh bintang. Bayangan-bayangan Kendra muncul dibenak gue
kenangan gue dengan dia mulai SMP sampai SMA, saat gue bersama-sama dengan dia
dalam suka maupun duka. Bayangan Kendra menari-nari di dalam kepala gue. Dan
gue sadar dia yang selama ini gue Rindukan.
“aku
takut kak.” Jawab gue dengan singkat.
“takut
kenapa? Kau ada masalah dengan dia?” tanya kak Adit heran.
Gue
menggelengkan kepala “tidak kak, Essa tidak berantem dengan Kendra, tapi kendra
akhir-akhir ini ga pernah hubungin Essa, Essa takut kalau kendra sibuk kak, dan
Essa takut ngeliat Kendra dengan cewe lain kak, kan kakak tau Essa suka sama
Kendra, lebih dari suka kak tapi sayang banget sama Kendra.”
“kalau
dia tak menggubungimu kenapa kau tak mau menggubungi dia dulu? Toh jika dia
punya wanita lain setidaknya kau tetap di sampingnya dalam keadaan apapun itu
yang namanya sahabat.” Kata kak Adit bijak. Gue lalu memeluk kakak semata
wayang yang gue punya.
***
Hari
ini hari minggu dan hari terakhir gue di Jakarta sebelum balik ke Bandung nanti
sore, gue sengaja jalan-jalan di komplek perumahan Kendra siapa tau nanti
ketemu sama Kendra. Biasanya kalau pagi-pagi kaya gini Kendra dan Lia sering
sekali Joging bareng. Dari jauh rumah Kendra sudah terlihat, rumah yang megah
dan rumah yang nyaman untuk dihuni. Gue memelankan langkah kaki gue, ini masih
jam enam pagi kendra mungkin belum keluar. Hati gue serasa deg-degan banget
beberapa langkah ada di depan rumahnya gue sengaja jalan untuk lebih
memperlambat langkah kaki.
Tiba-tiba
pintu rumah itu terbuka sedikit, hati gue berdegup kencang, tak tau mengapa
kaki gue tiba-tiba serasa seperti batu yang sangat berat untuk di pindahkan,
ternyata Lia yang keluar dari rumah itu, sontak Lia nengok ke arah gue dan dia
melambaikan tangannya san gue bales dengan senyuman. Kaki gue masih gak bisa di
gerakin masih terpaku gue menatap rumah Kendra dan berharap Kendra yang keluar.
Lia
berlari menuju arah gue berdiri. Gue baru sadar sekarang Lia sudah besar dan
menjadi gadis remaja yang cantik .
“kak
Essa kapan ke Jakarta? kenapa Cuma berdiri disini? Ayo masuk kak, di dalam ada
kak Kendra.” Kata Lia dengan menarik tangan Gue.
“gu
gue, ehh maksudnya aku aku tadi Cuma jalan-jalan saja dan tak tau kenapa kakiku
terpaku disini. Sebaikknya aku cepat pulang saja Lia.” Kataku terbatah-batah
“loh
kok pulang? Kan kakak sudah disini kenapa tak masuk saja, ayoo masuk kak, kan
kakak bukan orang asing lagi bagi keluarga kami.” Lia dengan sekuat tenaganya
menarik tangan gue. Dan gak tau kenapa kaki gue kali ini gak nolak untuk
melangkah ke rumah Kendra.
“kak,
kak Ken ada kak Essa nih.” Teriak Lia dari ruang tamu.
Aku
hanya terpaku di ruang tamu yang lebar itu, aku sejenak memejamkan mataku dan
bayangan-bayangan indah yang aku lewatkan bertahun-tahun dulu bersama kendra
bersama sahabatku sahabat yang aku cintai.
“
kamu kapan datang sayang? Kamu apa kabar? Uda lama ya kamu ga kerumah tante”
sapa tante ica dengan membawa segelas susu hangat untukku.
“iya
tante, Essa sibuk akhir-akhir ini. Ini tadi ga tau kenapa essa berjalan ke
rumah tante. Essa baik-baik saja tante, tante baik kan?” sambil menerima susu
hangat lalu aku minum sedikit susu hangat yang membawa ketenangan.
Sayup-sayup aku dengar suara derapan
kaki kendra di lantai dua. Aku tau itu suar langkah kaki kendra, kendra yang
terburu-buru keluar dari kamarnya di lantai dua. Di bibir tangga kendra melihat ke arahku dan
ada senyuman manis yang terlihat di senyumnya, senyuman hangat yang selalu
kurindukan.
Ia pelan-pelan menuruni anak tangga,
dan ia memelukku dengan hangatnya. Aku yang kaget dan diam tak berkutik
sedikitpun. “kau bau kendra apa kau sudah mandi?” candaku padanya di sela-sela
pelukannnya.
Kendra melepas pelukannya dan
memandangku sejenak lalu ia memelukku lagi. “aku tak peduli kalau badanku bau,
tapi ini kan yang kau rindukan aroma tubuhku saat bangun tidur.” Kata kendra
membalas candaanku.
Tante ica dan Lia tertawa seketika.
Ya memang ini yang gue rindukan aroma tubuhnya, yang sejak dulu tidak pernah
berubah. Pada akhirnya Gue ikutan lari pagi di deket komplek rumah kendra, gue
selalu membawa camera yang selalu menemani gue, gue memotret sana-sini yang
menurut gue viewnya bagus untuk di foto, banyak-banyak juga foto kendra yang di
ambil secara candid. Ada juga foto Lia, foto gue juga, foto kita bertiga.
“ kuliah kamu gimana di Bandung?”
tanya kendra tiba-tiba.
Gue
diem sebentar menemukan jawaban yang pas, apakah gue harus bilang kalau gue mau
ke oxford atau gue ga bilang apa-apa ke kendra.
“ everything is oke” jawab gue
akhirnya. “ ya begital ken, sibuk dengan semua tugas dosen sama sibuk ini.”
Tambah gue lagi dengan menunjuk arah camera yang terkalung di leher gue.
“ ahh iya, kalau Nathan apa kabar?”
tatapan Kendra tiba-tiba menjadi tajam saat menyebut nama Nathan.
“ baik juga kok, nanti sore kita
balik sama-sama ke Bandung.” Jawab gue datar hampir tanpa ekspresi, gue tau
dari nada kendra bicara kalau kendra cemburu gue deket dengan Nathan. Gue gak
tau harus seneng apa sedih. “ kalo lo gimana? Cewe UI kan cantik-cantik tuh,
ada yang kepincut ga sama lo?” kata mengalihkan pembicaraan dari Nathan.
“ ada satu namanya Laras, dia suka
sama aku, tapi akunya aja yang lagi gak mau pacaran.” Jawab kendra polos.
“ kenapa ga mau? Lo bukannya udah
lama jombloh ya?” tanya gue lagi dengan cengengesan kali ini.
“ aku lagi pengen focus sama kuliah,
toh aku nggangep Laras uda kaya adik aku sendiri, lagian aku juga ga cinta sama
dia.” Kini nada Kendra bicara cukup cuek.
Gue Cuma diam ga bisa jawab apa-apa,
gue takut kendra tau kalau suara gue mulai bergetar, dan gue gak tau gue
cemburu atau gak.
Waktu semakin menunjukan siang hari,
gue segera pamit pada keluarga Kendra, kendra sempat memeluk gue, yang gue anggep
adalah pelukan terakhirnya karna yah gue akan pergi ketempat yang jauh,
Inggris. Gue merasakan dekapan Kendra yang erat, dan nafas kendra mulai berat.
“tante Essa pulang dulu ya tante,
tante jaga kesahatan ya, salam buat oom ya tante.” Pamit gue dengan cium pipi
tante Ica. “ kakak pulang dulu ya Lia, belajar yang rajin jangan ngerjain kak
kendra muluk.” Pelukku dengan tertawa. Kaki gue seperti susah melangkah keluar,
agaknya gue harus memaksakan, mungkin ini kan jadi pertemuan terakhir selama
gue akan belajar di Oxford.
“Essa yakin tak mau di anter
kendra?” tanya tante Ica.
“ tidak tante Essa yakin, terima
kasih, essa naik taxi saja.” Jawab gue dengan senyum termanis gue.
***
2
hari lagi gue berangkat ke Oxford. Gue menikmati hari-hari gue di Indonesia,
gue sempet jalan sama Nathan , makan dengan Kirana, quality time sama keluarga
gue di Jakarta. Waktu ternyata berjalan cepat. Gue sedang packing barang-barang
gue di kamar gue di Jakarta, seminggu yang lalu gue uda membersihkan
barang-barang di kosan Bandung, gue juga pamitan sama Nico dan Aldy juga.
Sayup-sayup gue denger ada suara
mobil masuk ke halaman rumah, gue tidak ambil pusing karna gue pikir itu bokap
yang baru pulang dari kantor. Gue tetep membereskan baju-baju gue yang akan gue
pake saat tinggal di Oxford. Rasa yang
gue rasain adalah gue bingung, seneng, bangga, takut semua campur kaya
nano nano.
“ sibuk banget ya sa?” kata suara di
balik pintu yang sedikit terbuka.
“ ehh lo Than? Masuk sini, engga kok
ini tinggal beberapa baju doang, kapan lo balik ke Jakarta?” tanya gue masih
sibuk dengan pakaian-pakaian gue.
“ barusan sih ini aja langsung
mampir kesini, gue mau ngajakin lo makan malem. So sweet kan gue?” candanya
“ capek ya? Tidur aja sono di kursi
pojok sono, jangan di kasur gue ntar bau lo. Hahah “
“ sialan lo.” Kata nathan sambil
melempar bantal yang pas muka gue. “ jadi sekarang lo cepet siap-siap sono, lo
ga mungkin kan gue ajakin dinner Cuma pake celana pendek sama kaus oblong
gini?”.
“ ya udah sono lo keluar gue mau
siap-siap, kak adit lagi main PS di kamarnya lo kesana aja dulu, eh btw ini
dinner dimana? Di cafe, di warung-warung daerah Ancol, atau di Restoran
berbintang?”
“ gue belum ada duit kalau di
tempat-tempat mewah, jadi lo jangan pake dress, pake pakaian biasa aja. Tapi
tetep dandan yee yang cantik, biar gue makin sayang sama lo.” Kata Nathan
sambil tertawa dan menutup kamar gue.
Malam ini Nathan membawa gue makan
di daerah Ancol, Ancol agak dingin malam ini, untung tadi udah siap-siap pake
baju yang agak panjangan, dan gue ga lupa bawa jaket. Pertama tadi kita udah
makan jagung bakar dan sekarang makan di warung yang tidak terlalu kecil di
pinggir pantai yang paling terkenal di Jakarta ini. Gue mesen ayam bakar
lengkap dengan lalapannya, roti bakar sama dengan ijo.
“ lo inget gak sa? Ini tempat apa?”
tanya Nathan di sela-sela gue menikmati degan ijo gue.
“ inget, ini ancol kan?” jawab gue
seenaknya.
Nathan mengendus kesal dan gue tau
itu, gue Cuma senyum kecil dan gue rasa Nathan hampir tidak bisa melihat
senyuman itu. Tentu gue inget ini tempat saat gue akan memberikan hadiah natal
saat SMA. gue masih sibuk dengan urusan gue sama si degan ijo ini. Kurang lebih
setengah jam gue sudah berhasil menghabiskan makan malam gue.
Nathan ngajak gue jalan-jalan di
sekitar pantai ancol. Angin menerpa rambut gue yang udah panjang. Tiba-tiba
Nathan memegang tangan gue, gue menatap tangan gue lalu muka Nathan.
“Sa, aku mau ngomong.” Kata nathan
yang tiba-tiba pakai aku kamu.
“ ngomong aja tan.”
“harus
yah kamu pergi ke oxford? Aku sedikit ga rela loh kalau kamu pergi. Sahabat aku
berkurang satu di kampus. Jujur aku sedikit kehilangan Sa. Tapi aku tau kok
kalau ini juga buat kebaikan kamu. Aku ga akan menghalangi kalau kamu mau
pergi.”
“lo
itu ngomong apa sih Tan? Kan lo sendiri yang ngyuruh gue ambil beasiswa dulu
nah sekarang giliran 2 hari lagi gue berangkat loh bilang kaya gini? Mau lo
apa?”
“
Aku gak mau apa-apa kok Sa. Aku Cuma sedih aja. Maafin aku ya.” Kata Nathan
dengan suara bergetar, sedetik kemudian dia sudah ada di hadapan gue. Dan
memeluk gue. “ kamu hati-hati ya Sa di negara orang, aku bakalan kangen banget
sama kamu, aku sayang sama kamu Sa.”
“iya-iya,
gue bakalan hati-hati kok, gue juga bakalan kangen banget sama lo, kangen
ngejailin lo, dan gue juga sayang banget sama lo.” Kata gue tersenyum dan
menepuk-nepuk pundak Nathan.
Nathan
melepaskan pelukannya dan mulai merogoh-rogoh saku jaketnya. “ ini buat kamu, maaf
ya kalau jelek, ahh iya jangan di lihat dari harganya juga.” Nathan memeberikan
kotak kecil ke gue. Gue membuka kotak kecil pemberian Nathan, isinya kalung
berliontin burung kecil berwarna emas.
“Golden
Bird seperti yang kamu suka kan?” tanya Nathan, gue hanya mengganguk lemah. “
sini gue pakein”. Nathan melingkarkan tanggannya di leher gue memasangkan
kalung itu.
Seditik
kemudian dia memeluk pundak gue yang kecil, lama sekali Nathan memeluk, hingga
gue merasakan hangat pada tubuh gue.
“Ini
pirit kan Than? Emas KW?” kata gue di sela-sela pelukannya
“mana
gue bisa beli kalung yang dari Emas, gue ini bikin sendiri loh, di bantuin sama
temen gue anak Geologi Unpad.” Jawab Nathan tanpa melepas pelukannya.
“
Makasih Than, lo sahabat gue yang paling baik.” Gue membalikkan badan gue
dan memelukknya. Kepergian gue kali ini
sangat berkesan banget.
***
to be continue ... season change musim gugur ....







0 komentar:
Posting Komentar