Pagi
dihari minggu ini membuat Kendra malas untuk bangun pagi. Jam dinding
menunjukan jam 6 pagi, Kendra masih bersembunyi di balik selimut.
Decitan
pintu kamar kendra mulai terdengar, ternyata adik perempuan kendra yang baru
berusia 12 tahun. Namanya Lia, lia duduk
di bangku Sekolah dasar dan akan memulai ujian nasional beberapa bulan lagi.
“
kak kendra bangun kak uda pagi nih, ayo kak joging keliling kompleks kakak kan
uda janji kemarin.” Teriak lia dan melompat-lompat di tempat tidur kendra.
“
ini jam berapa sih Li? Kakak masih ngantuk banget nih.” Kata kendra setengah hati.
“
ihh, kakak kalau janji ya harus di tepatin aku juga uda ngajak kak essa nih
kak, ayo bangun kak.” Teriak lia semakin keras, dan suara lia memenuhi kamar
kendra.
“
siapa Li? Essa? Kita kan beda perumahan dan sangat jauh lia. Apa kamu gila jika
essa akan ikut dengan kita.” Jawabnya dengan menarik selimutnya dan
merapatkannya.
“
kan ada mobil yang bisa buat aku datang ke perumahanmu bukan?” suara yang
membut kendra benar-benar tersadar dari tidurnya. Ya itu suaraku.
Aku
sengaja pagi-pagi ke rumah kendra karna ada undangan dari lia untuk joging
barsama. Aku tersenyum melihat kendra dengan muka yang kusut. Aku mendekati
wajahnya agar kendra benar-benar bangun dari tidurnya.
“
come on kendra, cepet sana beres-beres badan, tuh masih ada bekas buat peta semalam,
ihh jorok.” Kataku lalu aku keluar dengan tawa terbahak-bahak, lia mengekor di
belakangku.
Sudut
mataku melihat kendra yang langsung meluncur ke kamar mandi. Aku meneruskan
langkahku menuju ruang keluarga yang menurutku jauh lebih nyaman dari pada rumahku
sendiri yang cenderung sepi. Kedua orang tuaku adalah orang sibuk begitupun
dengan papa kendra. Namun mama mereka tetap ada di rumah sebagai ibu rumah
tangga yang baik.
“
essa, kamu uda sarapan sayang?” suara yang tiba-tiba ada di belakangku, tante Ica
sudah berdiri dengan cantik di belakangku.
Aku
tersenyum menatap tante ica “ sudah tante, tadi pagi mama masih sempat buatin
essa sama kak adit sarapan” jawabku dengan senyum termanis yang aku punya.
“
emang mau ada perjalanan bisnis lagi ya mamamu? Kali ini kemana?” tanya beliau
tanpa ragu.
“
lombok tan, nanti malem pasti pulang kok tan,”
aku menatap taman di dalam rumah kendra . aku teringat dulu waktu kami
masih SMP kami selalu bermain ataupun bertukar cerita di sana, duduk di dekat
kolam ikan dengan gemercik air yang menengkan kalbu.
Kendra
menuruni tangga dengan pakaian kaos oblong dan jins pendek, ia memakai sepatu
cats putih terlihat cool. “ serius banget ngobrolnya, ngomongin aku ya?”
ucapnya.
“
hhahah pede banget kamu ken, iya gak tante?” aku hanya terkekeh mendengarnya.
Lia
yang tak sabar untuk berlari pagi, terus menggeret aku dan kendra, kami hanya
menggeleng-geleng melihat tingkah adik kendra yang sungguh menggemaskan.
***
Saat
persahabatan manjadi cinta, ini hal yang paling aku tak suka. Aku tak ingin
persahabatan yang selama ini aku rajut dengan susah senang harus pecah dengan
nama CINTA.
Aku
memejamkan mataku untuk beberapa saat untuk dapat berfikir lebih jernih. Aku
tidak boleh cinta ke sahabatku sendiri, bagaimanapun caranya ga boleh,
kata-kata itu akan selalu teringat dihatiku.
Aku
mulai membuka bukuku untuk melupakan hal hal yang tidak penting seperti itu.
Belajar adalah pelarian yang sangat akurat buat aku, aku tak tau mengapa kenapa
belajar itu membuat semua pikiranku terfokus kepada satu titik dan itu membuat
aku lebih baik.
“
Ganessa.!!!” Sayup-sayup aku mendengar suara memanggilku, namun aku tak terlalu
menghiraukannya. “Ganessa!!!” suara itu muncul lagi, aku melangkahkan kakiku
dengan malas, pergi ke suara itu berasal yaitu ruang keluarga di lantai bawah.
Aku
hanya melihat kakakku yang sedang berdiri, dengan binar-binar senang dimukanya
yang terlihat jelas. “ ada apa kak? Kakak taukan aku sedang belajar aku sangat
terganggu kak.” Gerutuku dengan memasang muka cemberut.
“
kau harus tau siapa yang datang, apakah kau tak merindukannya?” aku berfikir
keras, seseorang yang telah lama pergi akhirnya kembali, aku heran, jika itu
adalah kedua orang tuaku yang sangat sibuk untuk bekerja, tidak mungkin jika
itu kedua orang tuaku yang baru tadi pagi berangkat, mana mungkin hari belum
larut malam mereka sudah pulang.
Lalu
ada sosok yang mendekat kearah kakakku, lalu laki-laki itu tersenyum kearahku.
Kini aku tau siapa yang datang dia adalah sahabat kecilku, lebih lama dari pada
Kendra. Bisa dibilang dia adalah kembaranku dan malaikat penolongku.
Waktu
kecil saat aku sedang menangis karna jatuh dari sepeda dia yang sigap
menolongku, sedangkan teman-teman yang hanya melihatku dengan tertawa karna aku
jatuh dan menangis. Aku ternsenyum jika mengingat itu. Akupun sedikit berlari
ke arahnya memintanya merengkuhku kedalam pelukannya.” Apakah kau baru ingat
jika kau punya teman kecil yang kau tinggalkan bertahun-tahun.” Aku berbicara
disela-sela pelukannya.
“
maafkan aku, kau tau aku sangat sibuk disana. Tapi setelah hampir 9 tahun kita
berpisah aku datang untuk menemuimu bukan.” Jawabnya dengan melonggarkan
pelukannya.
Dia
adalah sahabatku Wildan Fahirin yang 9 tahun lalu pergi keluar negeri karna
kedua orangnya yang ditugaskan untuk mengurusi perusahaan cabang tempat papanya
bekerja di Canada. Tempat yang sangat jauh dari Jakarta. Aku ingat saat usiaku
masih 7 tahun ia sering sekali mengajakku bermain bersama. Ia 1 tahun lebih tua
dari pada aku, april depan dia menginjak sweet seventen.
“
apa yang kau lakuakan disana? Sehingga akhir ini kau tak pernah membalas
pesanku? Apa kau ingin aku mati karna meridukan malaikat penolongku?” gerutuku
dengan menatap mata elangnya dengan tajam.
“
aku sedang mengurusi kepindahanku dari Canada ke Jakarta, aku pindah dari high
school canada untuk ke High school di Jakarta. Karna aku merindukan tempat
kelahiranku.” Jawabnya dengan tenang.
“
sungguh kau akan pindah ke Jakarta? Apakah oom Suryo dan Tante Sarah juga akan
ikut pindah kemari?” tanyaku dengan mata berbinar.
“
maaf-maaf mengganggu, essa berikan dia kesempatan untuk duduk dan minum, dia
baru datang kau lihat koper-koper besar dan barang bawaanya?” kata kak adit
yang kupikir benar. Aku mempersilahkan dia untuk duduk dan menikmati minuman
yang kusuguhkan dan beberapa hidangan kecil. Ku berikan wildan beberapa kesempatan
untuk menghilankan lelahnya.
Aku
mengamati wajah lelah Wildan yang saat ini sedang tidur di kursi ruang keluarga.
Lekuk-lekuk wajahnya masih sama mungkin hanya berbeda dari segi dagu yang jauh
lebih tirus dan di lehernya terdapat benjolan yang ada pada laki-laki remaja sampai
dewasa pada umunya.
Dia
masih terlihat sama 9 tahun yang lalu, hanya senyuman pahit yang ia lemparkan
kearahku saat di bandara waktu itu. Aku sungguh tidak rela saat itu mungkin
karna aku takut tidak ada yang melindungiku. Tapi mungkin sejak kehadiran
Kendra aku mulai merasa aku mempunyai malaikat peindungku yang baru tanpa
melupakan sosok berarti Wildan.
Tiba-tiba
aku teringat sosok Kendra yang hangat, kenapa aku tiba-tiba merindukannya? Aku
hanya dapat bertanya pada diriku sendiri.
***







0 komentar:
Posting Komentar