Tahun
2002
Aku berlari menerjang hujan yang deras. Sekuat
kakiku untuk berlari, nafas mulai
tarengah-engah. Aku mulai melambatkan kecepatan lariku karna halte yang aku
tuju segera sampai. Hujan ini sedikit
menyiksaku, berlari dengan sekuat tenaga dengan nafas yang tidak teratur,
berlari dari sekolah sampai ke halte. Kali ini supir pribadi keluargaku telat
untuk menjeput. Mungkin macet karna hujan yang cukup deras ini akan membuat
seluruh jalan raya macet karna banyak jalan-jalan yang tergenang oleh air.
Aku mulai kedinginan, bibirku mulai membiru dan
badanku mulai merindukan kehangatan ruangan. Sayup-sayup ku dengar suara tapak
kaki yang mendekat ke arahku. Aku melihat ke arah itu, sudut mataku menangkap sosok yang telah aku kenal
sejak SMP.
“
kau ada disini?” itulah kata yang membuat aku menegakkan kepalaku ke arahnya
dan menatap matanya yang teduh dan selalu membuatku tenang.
“
iya, mang paijo terkena macet di jalan mungkin. Kamu tau bukan, jalanan jika
hujan seperti ini, pasti macet. Kau berlari dari sekolah ke halte? Bukannya kau
bawa motor Kendra?” ucapku masih dengan menatap matanya.
Lalu
iya mendekat ke arahku dan melingkarkan tangannya di bahuku, menaruh jaketnya
di bahu kecilku.
“
aku melihatmu berlari tadi, dan kulihat kau juga kedinginan dari jauh mukamu
lucu sekali jika kau sedang kedinginan. “ ucapnya lalu tersenyum ke arahku.
“
kau memang sahabat yang selalu mengerti aku Kendra, terima kasih jaketnya ya
mungkin aku akan mengembalikannya jika kering.” lalu aku tersenyum ke arahnya.
Kendra adalah sahabatku dari SMP, karna
orang tua kami juga berteman maka dari itulah aku mengenalnya dengan sangat
baik. Dia sosok yang sangat menyenangkan, kami bagaikan perangko dan surat yang
sulit untuk di pisahkan. Karna persahabatan kami sudah berjalan hampir 4 tahun.
“
don’t worry, kamu bisa mengembalikannya kapan saja jika kau mau. Aku akan
menemanimu sampai mang paijo datang untuk menjemputmu. Apa kau keberatan jika
aku ada disini Essa?”
“
tentu tidak ken. Jika kamu ada di sampingku aku merasa lebih tenang, karna kamu
akan selalu melindungiku bukan, sampai kapanpun?”
Kendra
hanya mengangguk, kamipun duduk di bangku besi halte yang dingin, hujan mulai
reda hanya menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, ku rapatkan jaket kendra
yang melingar di bahuku. Aku melihat ke arah kendra yang sedang menatap jalan
dengan tatapan kosong.
“
apa kau sedang punya masalah ken? “ tanyaku dengan hati-hati.
“
ti. . .ti. . .tidak, aku tidak punya masalah apapun.”
“
jangan pernah sembunyikan dari aku, aku mengenalmu dari 4 tahun yang lalu. Aku
mengertimu luar dan dalam. Jadi jangan pernah kau sembunyikan apapun dari aku.”
Kataku dengan tatapan nanar ke arah kendra.
Tangan
Kendra memegang pipiku yang merah dan dingin. “ tidak essa aku tak pernah
menyembunyikan apapun dari kamu. Aku janji saat aku punya masalah aku akan
bercerita ke kamu.” Ucapnya dengan mata yang meyakinkan. Aku tetap menatapnya dan
mencari kebenaran dari matanya.
Klakson
berbunyi dengan menduru. Aku menengok ke arah mobil itu, dan aku tersenyum
melihat siapa yang datang, ya mang paijo yang menekan klakson tersebut.
“
tunggu sebentar disini ya ken,” aku
berlari menuju mobil mercedes tersebut, aku mengambil shal rajutan dari
almarhumah nenek. Aku berlari menuju ke arah kendra yang menatapku heran, lalu
aku melingkarkan shal itu ke lehernya yang panjang. “ aku tak ingin kau sakit
ken, pakailah shal ini yang akan menjagamu sedikit lebih hangat. Aku pulang
dulu ya, terimakasih kau telah menemaniku.” Aku tersenyum ke arahnya.
“
terima kasih Essa, oke bilang sama mang paijo hati-hati. Aku tak ingin
sahabatku yang jelek ini kenapa-kenapa, nanti kalau aku sampai rumah aku telfon
kamu.” Sambil memegang hidungku lembut, aku memeluk iya sejenak untuk salam
perpisahan.
Aku
melangkahkan kakiku dengan enggan menuju bangku belakang mobil, sudut mataku
menagkap gerakan mang Paijo yang tersenyum ke arah Kendra.








0 komentar:
Posting Komentar