Senin, 24 November 2014

Season Change Musim Hujan #part1

Season Change


Tahun 2002
 Aku berlari menerjang hujan yang deras. Sekuat kakiku untuk berlari,  nafas mulai tarengah-engah. Aku mulai melambatkan kecepatan lariku karna halte yang aku tuju segera sampai.   Hujan ini sedikit menyiksaku, berlari dengan sekuat tenaga dengan nafas yang tidak teratur, berlari dari sekolah sampai ke halte. Kali ini supir pribadi keluargaku telat untuk menjeput. Mungkin macet karna hujan yang cukup deras ini akan membuat seluruh jalan raya macet karna banyak jalan-jalan yang tergenang oleh air.
Aku mulai kedinginan, bibirku mulai membiru dan badanku mulai merindukan kehangatan ruangan. Sayup-sayup ku dengar suara tapak kaki yang mendekat ke arahku. Aku melihat ke arah itu, sudut  mataku menangkap sosok yang telah aku kenal sejak SMP.
“ kau ada disini?” itulah kata yang membuat aku menegakkan kepalaku ke arahnya dan menatap matanya yang teduh dan selalu membuatku tenang.
“ iya, mang paijo terkena macet di jalan mungkin. Kamu tau bukan, jalanan jika hujan seperti ini, pasti macet. Kau berlari dari sekolah ke halte? Bukannya kau bawa motor Kendra?” ucapku masih dengan menatap matanya.
Lalu iya mendekat ke arahku dan melingkarkan tangannya di bahuku, menaruh jaketnya di bahu kecilku.
“ aku melihatmu berlari tadi, dan kulihat kau juga kedinginan dari jauh mukamu lucu sekali jika kau sedang kedinginan. “ ucapnya lalu tersenyum ke arahku.
“ kau memang sahabat yang selalu mengerti aku Kendra, terima kasih jaketnya ya mungkin aku akan mengembalikannya jika kering.” lalu aku tersenyum ke arahnya. Kendra  adalah sahabatku dari SMP, karna orang tua kami juga berteman maka dari itulah aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia sosok yang sangat menyenangkan, kami bagaikan perangko dan surat yang sulit untuk di pisahkan. Karna persahabatan kami sudah berjalan hampir 4 tahun.
“ don’t worry, kamu bisa mengembalikannya kapan saja jika kau mau. Aku akan menemanimu sampai mang paijo datang untuk menjemputmu. Apa kau keberatan jika aku ada disini Essa?”
“ tentu tidak ken. Jika kamu ada di sampingku aku merasa lebih tenang, karna kamu akan selalu melindungiku bukan, sampai kapanpun?”
Kendra hanya mengangguk, kamipun duduk di bangku besi halte yang dingin, hujan mulai reda hanya menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, ku rapatkan jaket kendra yang melingar di bahuku. Aku melihat ke arah kendra yang sedang menatap jalan dengan tatapan kosong.
“ apa kau sedang punya masalah ken? “ tanyaku dengan hati-hati.
“ ti. . .ti. . .tidak, aku tidak punya masalah apapun.”
“ jangan pernah sembunyikan dari aku, aku mengenalmu dari 4 tahun yang lalu. Aku mengertimu luar dan dalam. Jadi jangan pernah kau sembunyikan apapun dari aku.” Kataku dengan tatapan nanar ke arah kendra.
Tangan Kendra memegang pipiku yang merah dan dingin. “ tidak essa aku tak pernah menyembunyikan apapun dari kamu. Aku janji saat aku punya masalah aku akan bercerita ke kamu.” Ucapnya dengan mata yang meyakinkan. Aku tetap menatapnya dan mencari kebenaran dari matanya.
Klakson berbunyi dengan menduru. Aku menengok ke arah mobil itu, dan aku tersenyum melihat siapa yang datang, ya mang paijo yang menekan klakson tersebut.
“ tunggu sebentar disini ya ken,”  aku berlari menuju mobil mercedes tersebut, aku mengambil shal rajutan dari almarhumah nenek. Aku berlari menuju ke arah kendra yang menatapku heran, lalu aku melingkarkan shal itu ke lehernya yang panjang. “ aku tak ingin kau sakit ken, pakailah shal ini yang akan menjagamu sedikit lebih hangat. Aku pulang dulu ya, terimakasih kau telah menemaniku.” Aku tersenyum ke arahnya.
“ terima kasih Essa, oke bilang sama mang paijo hati-hati. Aku tak ingin sahabatku yang jelek ini kenapa-kenapa, nanti kalau aku sampai rumah aku telfon kamu.” Sambil memegang hidungku lembut, aku memeluk iya sejenak untuk salam perpisahan.

Aku melangkahkan kakiku dengan enggan menuju bangku belakang mobil, sudut mataku menagkap gerakan mang Paijo yang tersenyum ke arah Kendra.

0 komentar:

Posting Komentar