“ Kendra....!!!!” panggilku dengan sedikit berteriak, aku melihat motor Kendra
baru parkir, lalu aku menemukan sosoknya dan berteriak memanggilnya. Aku ingin
mengenalkan Wildan ke Kendra, aku akan mempunyai dua sahabat dalam satu lingkup
sekolah.
Semalam
Wildan cerita ia akan tinggal di rumah orang tuaku selama beberapa bulan sambil
menunggu orang tuanya menyusul untuk tinggal di Jakarta. Aku sempat bahagia
sekali saat Wildan bilang akan tinggal serumah denganku karna aku tidak akan
merasa kesepian lagi. Saat aku sedang tinggal sendiri di rumah.
Kendra
menatapku lalu ia mengeluarkan senyum khasnya yang membuat siapa saja
melihatnya akan terpanah olehnya. “ ken kenalin ini Wildan sahabatku dari kecil
yang pernah aku ceritain ke kamu yang 9 tahun lalu ngilang ke Canada apa kau
ingat?” tanyaku ke Kendra dengan mata berbinar-binar.
“
oh iya aku ingat, aku Kendra. Aku juga sahabatnya Ganessa sejak hampir 4 tahun
yang lalu.” Tangan kendra mengajak salaman wildan.
Wildan
pun hanya tersenyum dan menerima salam dari Kendra, aku ikut tersenyum
melihatnya. “ em Essa, tolong antar aku ke ruang kepala sekolah, aku ingin
menemui beliau, kau tau ini hari pertamaku sekolah.” Wildan masih dengan
tersenyum.
“
baik, Kendra aku nganterin Wildan dulu ya. Nanti aku ke kelas aku duluan ya.” Ucapku
sambil berjalan mengikuti langkah kaki besar Wildan.
Aku
merasa pagi ini sedikit aneh. Tak biasanya aku menjadi pusat perhatian. Memang
aku akui aku sering sekali menjadi pusat perhatian saat aku sedang berjalan
dengan Kendra yang bisa di bilang lumayan cakep dan banyak sekali gadis yang
mengincarnya.
“
eh, Wildan aku ga nyaman banget nih di liatin anak-anak se sekolah, risih banget
rasanya.” Kataku sedikit berbisik ke telinga Wildan.
“
mungkin karna kamu lagi jalan di samping cowo keren kaya aku makanya kamu jadi
pusat perhatian.” Jawabanya dengan terkekeh, aku mencubit lengannya dengan
lembut.
Aku
tak pernah mendapatkan perhatian yang lebih seperti ini. Tiba-tiba sudut mataku
menagkap seseorang yang baru-baru ini menyatakan perasaannya kepadaku iya dia
adalah Nathan. Ia menatapku aku semakin tidak enak hati kepadanya yang telah
memberikan perhatian lebih kepadaku. Lagi-lagi perasaan bersalah menyergap
relungku. Aku bersembunyi di balik punggung Wildan aku takut menatap mata
Nathan yang teduh namun tajam.
Aku
sempat takut sama tatapan Nathan semakin tak enak hati kepadanya, namun sudut
mata ini menangkap gerakan mata Nathan yang menyeleksi Wildan yang akan menjadi
kakak kelasku karna aku dan Wildan beda satu tahun.
***
Makan
malam ini sangat berbeda dari biasanya, aku melihat wajah berseri kak Adit aku
tidak pernah melihat wajah berseri itu sangat langkah untuk ku temukan. Aku
berfikir mungkin ini berkat Wildan, aku bisa melihat kak Adit tersenyum.
Dulu
jadi ingat waktu aku jatuh dari sepeda saat aku masih belum bisa
menggendarainya, wildan dan kak adit yang membantuku, bagiku mereka adalah dua
kakak yang paling berarti buat aku.
Makan malam ini juga sangat special, tumben
mama masak makan yang enak banget, dan anehnya makanan ini semuanya makanan
kesukaan kami. Kami lalui kesenangan ini semalaman.
***
Saat
aku kembali keduniaku ke dunia yang sepi dan hanya aku seorang diri yang
menatap bintang. Lagi dan lagi bintang yang selalu membuat aku begitu tenang.
Aku
tak tau apa yang sedang aku pikirkan, aku tak tau apa masalah dalam hidupku,
umurku hampir 16 tahun tak mungkin juga aku mempunyai masalah yang begitu
rumit.
Aku
menatap langit malam ini, langit hitam tanpa awan, lalu bayangan kendra datang
seketika dan pergi tanpa jejak, diikuti lagi bayangan Nathan yang datang dan
sama seperti bayangan Kendra yang hilang seketika.
“hey
kenapa mereka berdua yang datang di bayanganku.!” Aku mendesah sendiri di
balkon kamar. Aku memejamkan mata untuk membersikan semua fikiranku, agar aku
bisa berfikir lebih jernih inilah hal yang sering aku lakukan jika aku sangat
suntuk atau sedang mempunyai masalah.
***







0 komentar:
Posting Komentar