Senin, 01 Desember 2014

Season Change Musim Hujan #part4

“ Kendra....!!!!” panggilku dengan sedikit berteriak, aku melihat motor Kendra baru parkir, lalu aku menemukan sosoknya dan berteriak memanggilnya. Aku ingin mengenalkan Wildan ke Kendra, aku akan mempunyai dua sahabat dalam satu lingkup sekolah.
Semalam Wildan cerita ia akan tinggal di rumah orang tuaku selama beberapa bulan sambil menunggu orang tuanya menyusul untuk tinggal di Jakarta. Aku sempat bahagia sekali saat Wildan bilang akan tinggal serumah denganku karna aku tidak akan merasa kesepian lagi. Saat aku sedang tinggal sendiri di rumah.
Kendra menatapku lalu ia mengeluarkan senyum khasnya yang membuat siapa saja melihatnya akan terpanah olehnya. “ ken kenalin ini Wildan sahabatku dari kecil yang pernah aku ceritain ke kamu yang 9 tahun lalu ngilang ke Canada apa kau ingat?” tanyaku ke Kendra dengan mata berbinar-binar.
“ oh iya aku ingat, aku Kendra. Aku juga sahabatnya Ganessa sejak hampir 4 tahun yang lalu.” Tangan kendra mengajak salaman wildan.
Wildan pun hanya tersenyum dan menerima salam dari Kendra, aku ikut tersenyum melihatnya. “ em Essa, tolong antar aku ke ruang kepala sekolah, aku ingin menemui beliau, kau tau ini hari pertamaku sekolah.” Wildan masih dengan tersenyum.
“ baik, Kendra aku nganterin Wildan dulu ya. Nanti aku ke kelas aku duluan ya.” Ucapku sambil berjalan mengikuti langkah kaki besar Wildan.
Aku merasa pagi ini sedikit aneh. Tak biasanya aku menjadi pusat perhatian. Memang aku akui aku sering sekali menjadi pusat perhatian saat aku sedang berjalan dengan Kendra yang bisa di bilang lumayan cakep dan banyak sekali gadis yang mengincarnya.
“ eh, Wildan aku ga nyaman banget nih di liatin anak-anak se sekolah, risih banget rasanya.” Kataku sedikit berbisik ke telinga Wildan.
“ mungkin karna kamu lagi jalan di samping cowo keren kaya aku makanya kamu jadi pusat perhatian.” Jawabanya dengan terkekeh, aku mencubit lengannya dengan lembut.
Aku tak pernah mendapatkan perhatian yang lebih seperti ini. Tiba-tiba sudut mataku menagkap seseorang yang baru-baru ini menyatakan perasaannya kepadaku iya dia adalah Nathan. Ia menatapku aku semakin tidak enak hati kepadanya yang telah memberikan perhatian lebih kepadaku. Lagi-lagi perasaan bersalah menyergap relungku. Aku bersembunyi di balik punggung Wildan aku takut menatap mata Nathan yang teduh namun tajam.
Aku sempat takut sama tatapan Nathan semakin tak enak hati kepadanya, namun sudut mata ini menangkap gerakan mata Nathan yang menyeleksi Wildan yang akan menjadi kakak kelasku karna aku dan Wildan beda satu tahun.
***

Makan malam ini sangat berbeda dari biasanya, aku melihat wajah berseri kak Adit aku tidak pernah melihat wajah berseri itu sangat langkah untuk ku temukan. Aku berfikir mungkin ini berkat Wildan, aku bisa melihat kak Adit tersenyum.
Dulu jadi ingat waktu aku jatuh dari sepeda saat aku masih belum bisa menggendarainya, wildan dan kak adit yang membantuku, bagiku mereka adalah dua kakak yang paling berarti buat aku.
Makan malam ini juga sangat special, tumben mama masak makan yang enak banget, dan anehnya makanan ini semuanya makanan kesukaan kami. Kami lalui kesenangan ini semalaman.

***

Saat aku kembali keduniaku ke dunia yang sepi dan hanya aku seorang diri yang menatap bintang. Lagi dan lagi bintang yang selalu membuat aku begitu tenang.
Aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan, aku tak tau apa masalah dalam hidupku, umurku hampir 16 tahun tak mungkin juga aku mempunyai masalah yang begitu rumit.
Aku menatap langit malam ini, langit hitam tanpa awan, lalu bayangan kendra datang seketika dan pergi tanpa jejak, diikuti lagi bayangan Nathan yang datang dan sama seperti bayangan Kendra yang hilang seketika.

“hey kenapa mereka berdua yang datang di bayanganku.!” Aku mendesah sendiri di balkon kamar. Aku memejamkan mata untuk membersikan semua fikiranku, agar aku bisa berfikir lebih jernih inilah hal yang sering aku lakukan jika aku sangat suntuk atau sedang mempunyai masalah.

***

0 komentar:

Posting Komentar