Rabu, 26 November 2014

Season Change Musim Hujan #PART2

“ loe tau ga? Kendra ngerelain jaket yang dia pake demi Essa. Gue ga terima. Gue suka Kendra dari dulu, kenapa harus Essa yang selalu dapat perhatian dari Kendra. Gue ga akan suka sungguh!!!.” Kata Prili dengan nada meninggi. Ia menatap tajam ke arah kaca yang terpantul bayangannya. Prili menimbang nimbang apa yang kurang dari dia, sampai Kendra tak pernah melirik dia sedikitpun.
“ lo cemburu Pril? Seharusnya lo harus berusaha buat dapetin Kendra. Kendra lebih memilih Essa karna loe tau kan mereka udah sahabat dari SMP, orang tua mereka juga berteman uda kayak saudara malah, itu kata bokap gue yang pernah berbisnis bareng sama bokap Essa. “ kata Sesil menanggapi ucapan prili.
Mereka adalah teman-teman Essa, prili gadis berparas cantik, dengan bibir tipis, mata lebar, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Namun cantik di wajahnya berbanding terbalik dengan hati dan sifatnya. Prili sangat iri dengan Essa, yang bisa dekat dengan Kendra, cowo yang beberapa bulan terakhir ini menyita semua perhatiannya. Prili suka menyukai Kendra namun dia tidak bisa mendekati Kendra karna Essa.
Teman Prili yaitu Sesil, Sesil juga tak kalah cantiknya dengan Prili, malah sesil sedikit jauh lebih cantik karna perawakan indonya. Sesil begitu netral, ia bisa membaur dengan semuanya tak seperti Prili yang kesannya memilih-milih teman. Orang tua sesil juga salah satu donatur terbesar di sekolahnya dengan orang tua Kendra dan Essa.
“ Sesil lo itu sebenarnya mendukung siapa sih? Gue atau essa? Lo temen gue kan? Ya loe seharusnya dukung gue lah, bukan orang lain loe ngertikan?” gerutu Prili
“Prili sayang, gue bukan orang yang memihak sana-sini, loe tau kan? Gue netral. Kalau lo mau jadian sama Kendra atau si Kendra yang deketin loe, kunci loe itu Cuma satu yaitu berusaha. Kalau loe ga usaha lo ga akan pernah dapet apapun yang loe inginkan ngerti?” Sesil pun langsung pergi meninggalkan Prili yang sedang mencerna omongan Sesil.

***
Aku duduk termenung di depan kamarku, menatap gelapnya malam yang penuh bintang. Aku suka bintang dari aku kecil, menurutku bintang adalah benda langit yang diciptakan Tuhan begitu indah. Entah kenapa aku suka bintang mungkin karena bintang itu yang selalu buat aku tenang, yang selalu menemani malamku jika aku sedang sendirian dan ingin sendiri.
Tiba-tiba aku mendengar decitan pintu kamar yang terbuka, kak Adit tiba-tiba duduk di sisiku tanpa menatapku iapun ikut menatap bintang yang malam ini cukup banyak. Tak ada yang membuka percakapan kami untuk beberapa saat, hingga...
“ apa kau ada masalah Essa?” tanyanya tiba-tiba, aku menengok ke arahnya dan aku melongo menatap wajahnya dari samping. “tutup mulut itu tak usa sampai melongo juga Sa.” Tuturnya lagi.
Aku pun mulai menatap bintang lagi. “ kakak tau aku punya masalah? Memang kak aku sedang punya masalah dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit.” jawabku tanpa berpaling dari langit.
“ pilihan apa? Aku hidup denganmu hampir 16 tahun jadi jika kamu punya masalah aku ingin kau cerita ke aku. Aku ada untuk kamu. Kamu adikku bukan? Kakak akan selalu ada untuk adiknya. Kamu taukan?” kata kak adit dengan lembut. Aku pun tersenyum dan memeluknya, ia membalas pelukannku.
“ ada dua orang yang sama-sama memberikan perhatian yang lebih kepadaku, Kendra dan Nathan.aku harus bagaimana kak? Aku bingung sungguh. Nathan pernah menyatakan perasaannya padaku kak, aku akui dia sangat gentel. Tapi waktu itu aku sedang tidak punya perasaan kesiapapun jadi sampai detik ini aku tidak pernah memberikan jawaban apapun ke Nathan. Aku tau kak tidak seharusnya aku menggantungkan perasaan seseorang.” Ucapku panjang lebar.
Masih di pelukan kak adit. “ lalu apa Ken sudah pernah mengungkapkan perasaannya kepadamu?” kak adit menatap kedua mataku. Akupun menggeleng pelan. “ kau kan sahabatan sama ken uda lama ya wajar dong kalau dia memberikan perhatian yang begitu lebih ke kamu.”
Aku masih mencerna ucapan kak Adit. Memang Ken adalah sahabatku, namun sahabat bisa jadi cinta kan? Aku termenung kembali bingung dengan apa yang di ucapkan kak adit padaku, kendra adalah sahabatku dan itu hal yang sangat wajar jika sahabat memberikan perhatian kepada sahabatnya yang lain. Namun aku ingin kendra lebih dari sahabatku, lebih dari teman. Dari hati kecilku, aku mencintai kendra namun aku tak ingin jika apa yang aku rasa membuat persahabatan kami terasa hambar dengan hadirnya cinta.
“ kak jika aku mencintai sahabatku sendiri apa itu wajar?” tanyaku ke kak adit.
Kak adit menatapku lekat-lakat mencari apa yang aku sembunyikan darinya dan mencari apa yang aku rasakan. “ sebenarnya wajar essa, namun apakah kau mau jika persahabat kalian hancur dengan kata cinta.? Aku tak ingin apa yang terjadi padaku dulu terjadi pada adikku. Jika kamu suka kendra lebih baik kau acuhkan perasaan itu dan cobalah perpaling dari rasa itu, mungin nathan solusinya.”
“ Nathan? Namun aku belum terlalu mengenalnya kak? Aku kenal dia baru-baru ini. Aku takut dia bukan yang terbaik untukku?” jawabku ragu.
“ nah itu yang buat kamu bimbang, ragu-ragu. Jangan pernah kamu ragu dalam mengambil keputusan, aku ingin kamu menggambil kesempatan yang ada di hadapanmu selagi itu baik buat kamu, kamu mengerti?” kata Kak Adit menatapku lekat-lekat.
Hening sejenak tak ada suara di antara kami, merenung manatap bintang, saat itulah aku merasakan tenang menyergap kalbuku.
“ Essa?” panggil kak adit. Aku hanya berdeham untuk menjawab panggilannya terebut. “ kakak tidur disini ya males banget nih mau keluar kamar kamu.

“ ih, ga mau kak. Sana-sana keluar aku ga mau tidur sama kakak. Hancur semua ntar nih badan kakak kalau tidur ga punya aturan.!” Kataku sambil mendorong punggung kak adit. Kak adit hanya tertawa dan keluar dari kamarku. 
***

0 komentar:

Posting Komentar