“
loe tau ga? Kendra ngerelain jaket yang dia pake demi Essa. Gue ga terima. Gue
suka Kendra dari dulu, kenapa harus Essa yang selalu dapat perhatian dari Kendra.
Gue ga akan suka sungguh!!!.” Kata Prili dengan nada meninggi. Ia menatap tajam
ke arah kaca yang terpantul bayangannya. Prili menimbang nimbang apa yang
kurang dari dia, sampai Kendra tak pernah melirik dia sedikitpun.
“
lo cemburu Pril? Seharusnya lo harus berusaha buat dapetin Kendra. Kendra lebih
memilih Essa karna loe tau kan mereka udah sahabat dari SMP, orang tua mereka
juga berteman uda kayak saudara malah, itu kata bokap gue yang pernah berbisnis
bareng sama bokap Essa. “ kata Sesil menanggapi ucapan prili.
Mereka
adalah teman-teman Essa, prili gadis berparas cantik, dengan bibir tipis, mata
lebar, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Namun cantik di wajahnya
berbanding terbalik dengan hati dan sifatnya. Prili sangat iri dengan Essa,
yang bisa dekat dengan Kendra, cowo yang beberapa bulan terakhir ini menyita
semua perhatiannya. Prili suka menyukai Kendra namun dia tidak bisa mendekati Kendra
karna Essa.
Teman
Prili yaitu Sesil, Sesil juga tak kalah cantiknya dengan Prili, malah sesil
sedikit jauh lebih cantik karna perawakan indonya. Sesil begitu netral, ia bisa
membaur dengan semuanya tak seperti Prili yang kesannya memilih-milih teman.
Orang tua sesil juga salah satu donatur terbesar di sekolahnya dengan orang tua
Kendra dan Essa.
“
Sesil lo itu sebenarnya mendukung siapa sih? Gue atau essa? Lo temen gue kan?
Ya loe seharusnya dukung gue lah, bukan orang lain loe ngertikan?” gerutu Prili
“Prili
sayang, gue bukan orang yang memihak sana-sini, loe tau kan? Gue netral. Kalau
lo mau jadian sama Kendra atau si Kendra yang deketin loe, kunci loe itu Cuma
satu yaitu berusaha. Kalau loe ga usaha lo ga akan pernah dapet apapun yang loe
inginkan ngerti?” Sesil pun langsung pergi meninggalkan Prili yang sedang
mencerna omongan Sesil.
***
Aku
duduk termenung di depan kamarku, menatap gelapnya malam yang penuh bintang.
Aku suka bintang dari aku kecil, menurutku bintang adalah benda langit yang diciptakan
Tuhan begitu indah. Entah kenapa aku suka bintang mungkin karena bintang itu
yang selalu buat aku tenang, yang selalu menemani malamku jika aku sedang
sendirian dan ingin sendiri.
Tiba-tiba
aku mendengar decitan pintu kamar yang terbuka, kak Adit tiba-tiba duduk di
sisiku tanpa menatapku iapun ikut menatap bintang yang malam ini cukup banyak.
Tak ada yang membuka percakapan kami untuk beberapa saat, hingga...
“
apa kau ada masalah Essa?” tanyanya tiba-tiba, aku menengok ke arahnya dan aku
melongo menatap wajahnya dari samping. “tutup mulut itu tak usa sampai melongo
juga Sa.” Tuturnya lagi.
Aku
pun mulai menatap bintang lagi. “ kakak tau aku punya masalah? Memang kak aku
sedang punya masalah dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit.” jawabku tanpa
berpaling dari langit.
“
pilihan apa? Aku hidup denganmu hampir 16 tahun jadi jika kamu punya masalah
aku ingin kau cerita ke aku. Aku ada untuk kamu. Kamu adikku bukan? Kakak akan
selalu ada untuk adiknya. Kamu taukan?” kata kak adit dengan lembut. Aku pun
tersenyum dan memeluknya, ia membalas pelukannku.
“
ada dua orang yang sama-sama memberikan perhatian yang lebih kepadaku, Kendra
dan Nathan.aku harus bagaimana kak? Aku bingung sungguh. Nathan pernah menyatakan
perasaannya padaku kak, aku akui dia sangat gentel. Tapi waktu itu aku sedang
tidak punya perasaan kesiapapun jadi sampai detik ini aku tidak pernah
memberikan jawaban apapun ke Nathan. Aku tau kak tidak seharusnya aku
menggantungkan perasaan seseorang.” Ucapku panjang lebar.
Masih
di pelukan kak adit. “ lalu apa Ken sudah pernah mengungkapkan perasaannya
kepadamu?” kak adit menatap kedua mataku. Akupun menggeleng pelan. “ kau kan
sahabatan sama ken uda lama ya wajar dong kalau dia memberikan perhatian yang
begitu lebih ke kamu.”
Aku
masih mencerna ucapan kak Adit. Memang Ken adalah sahabatku, namun sahabat bisa
jadi cinta kan? Aku termenung kembali bingung dengan apa yang di ucapkan kak
adit padaku, kendra adalah sahabatku dan itu hal yang sangat wajar jika sahabat
memberikan perhatian kepada sahabatnya yang lain. Namun aku ingin kendra lebih
dari sahabatku, lebih dari teman. Dari hati kecilku, aku mencintai kendra namun
aku tak ingin jika apa yang aku rasa membuat persahabatan kami terasa hambar
dengan hadirnya cinta.
“
kak jika aku mencintai sahabatku sendiri apa itu wajar?” tanyaku ke kak adit.
Kak
adit menatapku lekat-lakat mencari apa yang aku sembunyikan darinya dan mencari
apa yang aku rasakan. “ sebenarnya wajar essa, namun apakah kau mau jika
persahabat kalian hancur dengan kata cinta.? Aku tak ingin apa yang terjadi
padaku dulu terjadi pada adikku. Jika kamu suka kendra lebih baik kau acuhkan
perasaan itu dan cobalah perpaling dari rasa itu, mungin nathan solusinya.”
“ Nathan? Namun aku belum terlalu mengenalnya kak? Aku kenal dia baru-baru ini. Aku
takut dia bukan yang terbaik untukku?” jawabku ragu.
“
nah itu yang buat kamu bimbang, ragu-ragu. Jangan pernah kamu ragu dalam
mengambil keputusan, aku ingin kamu menggambil kesempatan yang ada di hadapanmu
selagi itu baik buat kamu, kamu mengerti?” kata Kak Adit menatapku lekat-lekat.
Hening
sejenak tak ada suara di antara kami, merenung manatap bintang, saat itulah aku
merasakan tenang menyergap kalbuku.
“
Essa?” panggil kak adit. Aku hanya berdeham untuk menjawab panggilannya
terebut. “ kakak tidur disini ya males banget nih mau keluar kamar kamu.
“
ih, ga mau kak. Sana-sana keluar aku ga mau tidur sama kakak. Hancur semua ntar
nih badan kakak kalau tidur ga punya aturan.!” Kataku sambil mendorong punggung
kak adit. Kak adit hanya tertawa dan keluar dari kamarku.
***







0 komentar:
Posting Komentar