Senin, 15 Desember 2014

Season Change Musim Hujan Part #5

Pagi ini sangat cerah, dan oksigen di luar sangat bagus untuk pernafasan. Aku sengaja berangkat ke sekolah jauh lebih pagi dari pada wildan, aku sangat suka suasana sekolah saat pagi hari sepi dan nyaman untukku.
Tapi aku salah ternyata aku sedang tidak sendirian di sekolah ada nathan yang berangkat jauh lebih pagi. Aku melihat matanya namun untuk kali ini aku tak takut mentap matanya. Aku menyapanya dengan senyuman termanis pagi ini, diapun membalasnya dengan senyuman, namun saat aku akan berjalan meninggalkannya Nathan memegang tanganku untuk memaksaku berhenti.
“Ganessa, apa kau tak mau menjawab pertanyaaku akhir-akhir ini?” itulah kata yang pertama ia ucapkan.
Aku sedikit bingung dengan pertanyaan yang menjebakku, aku tau ini bukan hal yang sulit hanya tinggal menjawab, ya aku mau atau maaf aku tidak bisa. Namun bagiku itu seperti memuntahkan besi dari mulutku dan itu sangat sulit.
“ehh, ak.... aku...” jawabku sedikit bergetar.
“ jika kau tak bisa, tak apa aku bisa menerimanya.” Lalu nathan melepas pegangannya dari tanganku, dan mulai meninggalkanku.
Aku menatapnya dengan miris kasian ia bisa tau apa yang aku inginkan sesungguhnya aku belum siap untuk menerima kata cinta darinya. “ nathan, jika kamu mau, ayo kita bersahabat.” Kata-kataku itu sontak membuat nathan berhenti, lalu ia menoleh ke arahku. “ aku mau kita bersahabat seperti aku dan Kendra, seperti aku dan Wildan.” Aku sempat berfikir apa keputusanku benar atau salah.
“ apa kau yakin kau tak salah, ingin menjadikanku sahabatmu?” tanya nathan dengan suara bimbang.
“ aku yakin, apa salahnya aku menjadi salah satu sahabatmu, toh itu jauh lebih menyenangkan dari pada kita pacaran yang akan menimbulkan konflik jika kita sedang bertengkar. Dan aku tak mau itu terjadi.” Kini aku yang berjalan ke arahnya dan mengacungkan jari kelingkingku. “kita sahabat.” Aku mengucapkan kata itu dengan yakin.
“ ya, kita sahabat” nathanpun mengaitkan kelingkingnya dan tersenyum. Aku membalas senyuman yang hangat tersebut.
Lalu Nathan mengantarku ke kelas yang masih kosong lalu ia pergi. Aku menatap kelas yang kosong tersebut, sedikit menakutkan jika datang sepagi ini dan kelas juga masih gelap. Aku duduk di bangku biasa tempatku  menuntut ilmu. Aku membuka buku yang akan di pelajari hanya sekedar untuk mengingtakanku akan pelajaran tersebut.
Tak lama kemudian penduduk kelas datang satu persatu, yang perna Rika teman sebangkuku.
“loh, loe ga salah datang jam segini? Biasanya loe siang kalau datang.” Sapanya untuk pagi hari ini.
“ hehe, gue pengen aja berangkat pagi, lagian gue juga pengen tau rasanya berangkat pagi, sekali-kali. Kalau berangkat agak siangpun nanti macet loe tau sendirikan jakarta itu gimana?” jawabku dengan cepat.
“ pinter banget kalau ngeles, gue tadi liat nathan dari kelas kita. Jangan-jangan loe uda nanggepi perasaan loe ke nathan ya. Loe jadian ya sama nathan wah hari ini ada traktir dong.” Rika mulai bergosip tentang hubunganku dan nathan.
Aku Cuma membelakkan mataku.” Hey rika loe ngomong apa sih? Gue ga jadian ama nathan. Gue Cuma sahabat aja.” Kata gue dengan yakin.

“ ah loe malukan essa. Udah jangan malu-malu gitu gue bisa ngerti kok kalau loe sama nathan pacaran.” Rika masih ngotot kalau aku lagi pacaran sama nathan. Cubitanku terjun dengan cepat ke perutnya, rika hanya tertawa.

***

Sahabat?? Mungkin jauh lebih kata kata itu dari pada ditolak. Yah mau ga mau gue harus menerimanya. Gue yakin dengan kata sahabat itu gue bisa menyayangi Essa dengan diam tanpa harus dengan pacaran, namun setidaknya ini caraku mencintainya dengan cara BERSAHABAT.

 ***

Wildan kini menjadi perbincangan luar biasa seantereo sekolah, karna mungkin bentuk fisik yang lumayan keren itu, banyak cewe-cewe yang sengaja mendekat ke wildan.
“wildan, kamu uda punya pacar belum?” tanya seorang cewe yang agak genit. Wildan hanya menggeleng dengan tersenyum. Ada goresan senyuman yang terpancar dari cewe yang bernama Nila itu.
Nila pergi dengan ceria ke arah teman-temannya mungkin ini berita bagus untuknya. Wildan Cuma geleng-geleng heran dengan sikap nila yang pergi dengan ceria setelah berbicara dengannya.
Tak sengaja Essa dan rika sedang jalan di depan kelas Wildan, wildan sepontan lari menghampiri Ganessa.
“ kamu tadi kenapa berangkat gak ngajak-ngajak, lain kali aku bangunin juga ya, gak enak tau di jalan sendirian. Hari ini aku bawa motor sport kakakmu. Ntar mau bareng atau pulang dijemput?” tanya wildan, Rika Cuma melongo dengan kata-kata wildan yang karna seolah-olah mereka sedang satu rumah.
“ terus kakak pake apa? Kalau motornya kamu bawa. Bukannya mobil kakak lagi ada di bengkel ya?”
“ tadi pagi orang bengkel nganter moilnya, waktu mobil yang nganter kamu baru aja masuk garasi. Katanya kak Adit males buat ke bengkel.”
“bentar-bentar kalian ngobrolnya seakan-akan kalian itu satu rumah. Apa kalian satu rumah.” Rika mulai angkat bicara.
“kita emang serumah” jawab wildan ringan tanpa ekspresi. Lagi dan lagi Rika dibuat kaget oleh wildan. Essa yang mengetahui sikap perubahan muka Rika lalu cepat-cepat membawa rika pergi. Essa hanya memberikan senyum getir ke arah Wildan.

***

“Wow liat tuan putri kita, kemaren si tuan putri nepel terus kaya perangko ke Kendra tapi sekarang ke Wildan anak baru sekolah kita yang menjadi populer mendadak. Apa loe cewe murahan?!!” tanya Prili ke arahku dengan nada yang sangat ketus. Sontak aku membelalakan mataku seakan tak percaya.
“ Bisa-bisanya loe, ngatain gue murahan.!! Elo siapa berani ngatain gue kaya gitu?!!” Teriakku tak mau kalah dengan prili. aku bisa merasakan bahwa saat ini mukaku benar-benar merah karna marah. Aku sudah seperti lobster yang siap untuk dimakan.
“ apa kau benar-benar merasa menjadi seorang tuan putri yang tak mengenali siapa-siapa? Sungguh miris sekali tuan putri murahan kita.”
“ berani-beraninya loe bilang gitu. Apa loe iri ke gue karna gue deket sama kendra dan wildan?! Apa loe gak mampu ngerebut kendra dari gue ? makanya loe menggunakan cara murahan dengan loe ngatain gue cewe murahan. Sekarang siapa yang miris loe apa gue?” kini kata-kata pedasku keluar, sebenarnya aku adalah orang yang cukup diam tapi jika ada yang membuat ulah denganku aku sangat cepat untuk naik pitam.
Aku sempat melihat muka prili yang merah mungkin karna malu karna sekarang semua orang tau bahwa ia menyukai kendra. Dan Aku sudah mengetahui itu sejak lama.
Aku masih menatap prili dengan sorot tajam sebelum kendra datang untuk meleraiku.
“apa yang kalian lakukan ini sekolah bukan arena bertarung, essa!! Prili!! jawab!!” teriak kendra. Bukan hanya kali ini aku melihat kendra marah dulu waktu kita masih SMP aku sempat melihat dia marah ke teman-teman yang selalu menggangguku.
“Si Prili bikin gara-gara dulu Ken, masak si Essa di bilang cewe murahan karna baru-baru ini dia deket sama kak Wildan.” Rika angkat bicara, aku hanya menundukan kepalaku dan menatap ujung sepatuku. Aku selalu takut saat melihat Kendra yang marah. Tiba-tiba cuaca mendadak mendung benar-benar luar biasa amarah Kendra.
Kendra menatap mata prili dengan tajam. Tatapan itu membuat prili sedikit takut, prili semakin menunduk. Lama-lama aku kasian dengan prili. “ udalah ken, ga perlu di bahas lagi anggap aja itu tadi kita Cuma akting. Ayo kita pulang.” Aku segera mengambil tindakan aku menyeret tangan kendra keluar kelas. Saat kita benar-benar sudah di luar kelas hujan turun dengan deras.
Kendra menatapku kali ini tatapan itu mulai teduh sudah tidak ada amarah di matanya, ia kembali menaruh jaket yang ia bawa ke punggungku. “ apa kau yakin kau baik-baik saja?” itulah kata yang sedikit membuatku tenang.
Aku mengangguk pelan. “apa dia menyakiti hatimu? Apa yang dikatakan Rika benar?” tanya Kendra lagi.
“Ken, aku yakin aku tak apa-apa, dia tak menyaktiku dia hanya cemburu denganku aku sadar itu jika aku yang ada diposisi dia aku akan melakukan hal yang sama, melakukan hal yang di lakukan prili.” jawabku meyakinkan kendra.
“ apa maksudmu? Aku tak mengerti apa yang kau katakan?” kini aku melihat guratan prnuh tanya di wajahnya.
“ Prili sangat-sangat menyukai kamu Ken, tapi kamu selalu bersamaku,itu membuat dia tak bisa mendapatkan hatimu. Dia merasa bahwa aku yang membuat kamu tak menoleh gadis lain. Maka dari itu dia sangat marah dan sangat tidak menyukaiku.” Jelasku. Kini dingin mulai menyergap tubuhku. Hujan yang sangat deras ini benar-benar menundaku untuk pulang.
***
 Aku dan Kendra menunggu hujan reda di sekolah, sangat membosankan itu pasti. Kami memutuskan untuk menghangatkan badan di perpustakaan sekolah. Sedikit ramai di perpustakaan sekolah yang mempunya penghangat ruangan. Aku dan kendra memilih duduk di ubin ruang yang hangat. Aku bersandar di dinding yang dingin aku membaca novel teenlit kesukaan ku. Kendra duduk di sebelahku dengan bacaan astronomi di tangannya
“apa wildan tau kau disini bersamaku? Apa di tak akan mencarimu” tanyanya tanpa memalingkan matanya dari buku yang dibacanya.
“ aku sudah bilang padanya kalau aku sedang bersamamu tapi aku tak memberi taukan dimana kita berada. Aku hanya ingin bersamamu saat ini.” Aku melihat wajah Kendra yang terpaku pada bukunya.
Sudah hampir satu jam aku dan kendra membaca tapi hujan juga belum berhenti masih sangat deras. Aku sudah memberi tau kak adit bahwa aku hari ini pulang terlambat karna hujan. Ruangan yang hangat membuat aku mengantuk. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku di bahu kendra yang kokoh. Aku benar-benar mengantuk.
***
“ Andai kau tau apa yang aku rasakan kepadamu, aku bukan hanya menyayangimu sebagai sahabatku. Kau adalah malaikat  yang selalu aku pikirkan siang dan malam. Apa kau mau menjadi kekasihku? Atau aku akan selalu menjadi sahabatmu selamanya? Apa sekarang wildan yang hanya ada di pikiranmu. Wajahmu menggambarkan betapa kau lelah. Aku berjanji akan selalu menjadi penolongmu jauh lebih baik dari pada wildan.”
“ apa kau juga tau bahwa aku sudah menyukaimu saat kita pertama kali bertemu, namau pada saat itu aku tak yakin dengan semua perasaanku kepadaku. Aku hanya dapat menahan dan menahan rasa ini bertahun tahun sampai detik ini akupun masih mencintaimu.”
***
Aku sampai rumah menjelang malam. Wildan sudah datang setengah jam lebih cepat dari pada aku. Mungkin karna aku ketiduran di perpustakaan dan hapeku lowbet berat makanya dia tak bisa mencari tau keberadaanku.
“ kau dari mana saja? Wildan sudah sampai rumah dari setengaha jam yang lalu. Apa kau main? Kenapa tak menelfonku?” Kak Adit mulai menceramahiku, aku tau itu akan dilakukan kak Adit saat dia benar-benarkhawatir dengan keadaanku.
“maaf kak, handphoneku lowbet. Tadi aku sama kendra di perpustakaan yang punya penghangat ruangan terus aku ketiduran deh. Lalu kata Kendra dia gak berani kalau ngebangunin aku. Jadinya aku bangun-bangun sendiri deh.” Jelasku pada kak Adit.
“Loh kamu di perpustakaan kenapa aku gak tau. Aku tadi sempat ke sana mencarimu.” Wildan yang sedari tadi membaca majalah di sofa ikut bicara. Aku Cuma memberikan senyum ke Wildan dan menuju kamarku.
***
“kak Adit, ayo main PS yuk. Bosen nih.” Ajak Wildan. Sudah malam hari hujan kembali datang mengguyur kota Jakarta.
“wah ada yang nantangin nih oke, tapi bentar. Bik bibik.” Panggil Adit. Lalu wanita setangah baya itu berlari ke arah Adit.
“iya bang, ada apa ya?” jawab wanita setengah baya yang biasanya di panggil bibik itu adalah pembantu rumah tangga yang ada di rumah ini.
“buatin susu coklat buat aku sama wildan ya bik, sama makanan kecil. Oh iya Essa juga buatin susu coklat bik, tolong juga antar ke kamarnya.” Minta Adit.
“iya bang, tunggu sebentar ya bang. Pesanan abang akan datang secepat kilat.” Jawab bibik dengan bercanda. Aditpun tersenyum mendengar candaan bibik.
***
Lia adik Kendra sedang membaca buku di kamar Kendra, ini sering dilakukan Lia saat ia benar-benar kesepian. Maklum ia adalah anak-anak yang masih ingin perhatian. Kendra hanya sesekali melihatnya dengan tersenyum.
“ kakak, apa kakak suka dengan kak Esaa?”  tanya tanpa memalingkan matanya dari buku yang dibacanya.
“kau itu masih kecil, tau apa kau tentang saling suka.” Jawab kendra.
“ Aku tau kakak suka kak esaa, banyak sekali kata-kata dan foto-foto kak essa di buku ini.”  Ternyata Lia menyembunyikan buku Kendra didalam buku pelajarannya, agar Kendra tidak sadar bahwa yang Lia baca dari tadi adalah buku kendra.
Kendra membelalakan matanya seketika. “ darimana kau ambil buku itu?” tanya kendra dengan merampas buku itu dari tangan lia.
“abis buku yang menurut kakak penting ini tergeletak begitu saja di meja belajar kakak tadi sewaktu kakak belum pulang sekolah.aku mengambilnya karna aku penasaran Dari sampul buku itupun sudah menarik perhatianku. Ternyata bukan sampulnya saja yang menarik perhatian namun juga isinya. Kak Essa memang cantik kak. Aku akan mendukung kakak jika kakak menjadi pacarnya.” Tutur lia tanpa henti.
Kendra menatap mata adik semata wayangnya itu lekat-lekat. “ ya kamu memang benar bukan hanya buku ini yang menarik perhatian tapi juga orang yang ada di situpun sangat menarik perhatian sudah hampir 4 tahun aku mencintainya. Namun aku belum berani mengungkapkan apa yang selalu ada di hatiku ini.” Desahan kendra semakin bisa di dengar oleh lia.
“kenapa kakak gak bilang cinta ke kak Essa apa perlu aku yang bilang ke kak Essa bahwa kakak menyukainya.?” Lia menawarkan bantuannya.
“tidak terima kasih, kakak mau kamu menyembunyikan ini dari dia. Diamlah seribu bahasa jika menyangkut perasaan kakak apa bisa?”
“wah ini adalah ladang bisnis buat aku kak. Apa yang akan kakak berikan jika aku mau membantu kakak. Bembantu dalam menyembunyikan rahasia kakak. “
Kendra tertawa dan menimpuk Lia dengan pulpen yang ada di meja belajarnya. “kakak aku serius kalau kakak enggak mau ngasih aku apa-apa jangan harap rahasia ini akan aman.” Ancam Lia.
Kendra mulai berfikir keras, karna lia adalah sosok yang serius dalam semua perkataannya. Ia pernah menyembuyikan binatang peliharaan di kamarnya, dan Lia tau itu. Mama mereka tak suka dengan kura-kura dan kendra memeliharanya dalam kamarnya. Lia mengajukan ancaman ke kendra tapi kendra tidak memperdulikan ancaman itu. Keesokan harinya kendra ketauan sedang memberi makan kura-kura tersebut dan ia di marahi selama 3 jam oleh mamanya.
“memangnya kau mau apa?” tanya kendra dengan tidak yakin.
Lia tersenyum licik. “ aku Cuma mau seperempat uang jajan kakak selama satu minggu. Tak beratkan.??” Senyuman kembali tersinggung di ujung bibir Lia.
“apa kau gila. Jadi selama seminggu kakak harus memberikan uang kakak ke kamu gitu? Dan otomatis kakak harus menghemat selama satu minggu. Apa kau yakin akan menyiksa kakak?” gerutu Kendra.
“aku tidak menyikasamu kak, aku hanya ingin kakak benrbagi sedikit uang sakumu padaku. Jika kau tidak mau itu terserah kamu aku tidak akan memaksamu kok. Tapi ya kakak harus rasakan jika kak Essa akan tau semuanya tentang kakak.”
“baiklah-baiklah hanya satu minggukan, aku akan mengabulkan permintaanmu yang sangat menyiksaku ini.”
***
Semalam hanya ada dia di bayanganku, hanya ada dia dipikiranku. Apa memang dia yang terbaik untukku. Tuhan tolong tunjukan bahwa dia yang terbaik untukku atau dia hanya sekedar sahabat untukku. Tuhan tolonglah sampaikan sejuta salamku untuknya Ku kan berjanji takan hianati pintanya.
Ingatkah saat kita pertama bertemu? Saat itu hanya kau, hanya kau yang mampu menatap mataku dengan pandangan teduh dan penuh kehangatan, hanya kau yang bisa membuat hariku indah dengan semua tatapan hangatmu.
***
Pagi yang mendung ini mama sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Ya sangat aneh mungkin jika itu mama tidak terlalu aneh tapi ini mama. Sabtu pagi adalah week and ya memang hari libur namun tidak biasanya untuk papa dan mamaku. aku baru saja terbangun dari tidurku dan seakan ini bagai mimpi pemandangan yang langkah dirumahku.
“papa!!” teriakku dengan keras. Aku berlari menuruni tangga dengan cepat dan segera menghamburkan pelukanku ke papa. Mama dan papa terlihat tersenyum bahagia. Aku tau kita masih akan satu rumah namun aku sangat merindukan orang tuaku yang hampir tak pernah ada di rumah ini sunggu mengharukan.
“ apa kau merindukan papa dan mama? Kau tampak seperti essa saat berusia 8 tahun.” Itulah kata papa saat aku masih ada dalam pelukannya.
“ apa papa bercanda tentu aku sangat merindukan kalian. Kalian sangat sibuk berkerja apa aku berhak untuk membenci kalian. Aku ingin membenci kesibukan kalian, namun aku tetap saja ga bisa kalian tetap darah dagingku mana bisa aku membenci kalian.” Jawabku dengan tersenyum. Kak Adit yang baru bangun seketika juga membelalakan matanya. Kebaredaan orang tuaku dirumah sangat luar biasa.
“ apa kali ini papa tidak ada perjalanan bisnis keluar negeri ataupun keluar kota?” tanya kak Adit dengan muka jutek. Ya kita tau, aku dan kak adit sudah beranjak dewasa tapi bukan berarti aku dan kak adit tidak merindukan orang tua. Kami tetap ingin bersama keluarga kecil kami. Ingin liburan bersama keluarga kami.
“seperti yang kau lihat. Papa sedang mengambil cuti untuk beberapa hari. Papa ingin seperti keluarga yang lain berlibur dengan anak-anaknya. Jadi papa ga mau di ganggu sama perkerjaan papa dalam satu minggu ini. Papa hanya milik kalian untuk minggu ini.” Papa benar-benar berkata jujur. Karna yang aku tau mata papa akan berbinar-binar jika papa berkata jujur.
“apa papa serius!!!” teriakku dengan kak Adit berbarengan. Papa hanya menganggukan kepalanya dengan mantap. Mamapun ikut gembira. Ya inilah yang kami butuhkan Pergi bersama.
***
Hari ini masih hari Rabu, dan hari ini ada pelajaran kimia yang sangat membosankan. Aku tak begitu suka kimia. Atau mungkin bisa di bilang tak suka sama sekali sejak aku kelas satu SMA. Sekarang aku sudah kelas dua dan aku masuk jurusan IPA, seperti anak IPA pada umumnya pelajaran ini sangatlah umum namun sangat menjengkelkan. Kenapa hari ini masih hari rabu aku tak sabar untuk pergi esok dengan keluarga kecilku di tambah juga sahabat yang seperti keluargaku sendiri, Wildan.
Rencananya papa mengajak kami ke Puncak. Yah memang tak jauh dari Jakarta. Mugkin waktu yang mama punya hanya sedikit untuk pergi dengan keluarganya. Maka dari itu papa mengajak liburan ke Puncak itung-itung juga ke Villa kami yang di beli sekitar 3 tahun yang lalu. Aku dan Wildan memang sengaja untuk membolos sekolah sementara waktu namun ini bukan karna keegoisan dari kami. Namun kami hanya berfikir jarang-jarang bisa liburan sama orang tua.
Aku menceritakan tentang liburan ini ke Kendra. Ya memang seperti anak kecil yang pamer saat di belikan mainan oleh orang tuanya.
***
“Essa semua barang yang kamu butuhkan udah dimasukan mobil, ingat jangan sampe ada yang ketinggalan. Adit tolong kamu bantu mama masukin bawaan ini ke mobil. Wildan juga jangan ada barang tertinggal.” Yah itu adalah ocehan pagi ini. Mama adalah orang yang sangat perfect dan teliti. Jadi acara liburan seperti acara mau pergi keluar negeri. Namun tetap saja aku senang. Mungkin setelah berbulan-bulan berasa tak serumah dengan orang tuaku.
Aku hanya menyiapkan beberapa baju, novel, makanan ringan, boneka kesayangku, dan beberapa barang lainnya. Ini seperti orang mau pindahan menurutku. Sedikit berlebihan memang namun aku hanya berfikif yah untuk jaga-jaga.
Aku turun ke garasi mobil untuk menaruh barangku di bagasi. Aku melihat Wildan dan kak Adit yang sedang menata barang. Mereka juga terlihat sangat senang. Meski Wildan tidak bersama orang tuanya namun tidak ada rasa sedih atau apapun. Karna bagi dia orang tuaku adalah orang tua kedua baginya jadi mengapa harus merasa sungkan.
“oke semua siap anak-anak?” papa merangkul kami bertiga dari belakang. Kami bertiga hanya mengangguk dan tersenyum kemudian kami semua sudah duduk dengan tenang di bangku masing-masing.
Di dalam perjalanan, kami tentu mulai bosan dan memulai kesibukan masing-masing. Papa tentu saja masih terfokuskan dengan jalanan yang sedikit macet karna mau masuk jalan tol wajar kalau macet. Mama sedang sibuk dengan majalah fashion yang di bawanya. dan aku tau mama tak akan melupakan itu meski di kantor sekalipun. Kak Adit sedang asyik main game di gadget pemberian papa tahun lalu. Wildan sedang Tidur dan mendengarkan musik melalui earphonenya. Dan aku hanya bisa melihat kesibukan masing-masing. Mulai bosan memang tiba-tiba hapeku bergetar ada sms dari Kendra
Apa kau sudah di jalan?
Yah ini mau masuk daerah jawa barat masih macet,
Ohh, okey
Aku bosan dengan perjalan ini. Apa kau bisa menemaniku
Ya mungkin jika tidak ada guru aku akan menemanimu.
Terima kasih :)
Ya sama-sama. Ohh iya tadi ada yag mencari kau pagi-pagi tadi.
Ohh ya? Siapa?
Emb Nathan. Dari pagi ia sudah di depan kelas. Terus katanya ia mencarimu, lalu aku bilang jika kau tak masuk beberapa hari ini.
Ohh. Okey nanti aku hubungi dia.
Apa kau punya hubungan dengannya.
Tentu saja aku punya hubungan dengan dia.
Lalu apa hubunganmu dengannya.
Kau sangat kepo, :p tanyakan sendiri pada Nathan J
Kau yang membuatku Kepo, awas kau yah :D. Haduh maaf Essa aku tak bisa menemanimu nanti aku janji aku bakalan sms kamu. Soalnya ada pak brengos uda dateng.
Ohh iyya nanti ya.
Yah dan Kendra lagi pelajaran sekarang perjalanan mulai membosankan lagi. Aku memasang headset di telingaku dan mulai memutar lagu-lagu favoritku. Lama-lama mataku mulai mengantuk dan akhirnya aku menyandarkan kepalaku ke bahu Wildan dan mulai tertidur.
***
Anak ini kalau lagi tidur cantik juga. Ya Ampun Wildan jangan sampe loe suka sama sahabat loe sendiri. Loe gak akan bahagia jika loe suka sama sahabat loe sendiri. Akhirnya akan menyakitkan buat keduanya. Dan Wildan mulai sekarang Essa harus loe anggap jadi adik loe. hanya dengan cara itu loe bisa sayang ke dia tanpa harus ada perasaan suka
***
Perjalanan yang lumayan panjang akhirnya berakhir juga. “ Dek, bangun dek uda nyampek, wildan hey bro bangun.” Teriak kak adit mencoba untuk membangunkan aku dan wildan. Aku menguap selebar yang aku bisa untuk melampiaskan rasa kantuk yang menyerangku.
“ wah udah lama ya gak kesini. Udaranya masih tetap ternyata masih segar. Pak joe jagonya ngatur tamannya.” Itulah pujian dariku untuk pak Jo tukang kebun yang merawat kebun di Villa keluarga kami.
“wah dek liat ayunan yang dibuatin papa dulu. Masih ada. Waktu SMP kan ini. “ kata kak Adit saat melihat ujung Halaman ada ayunan yang bertengger di dahan pohon.
“tempat ini masih sama saat kita kecil ya. Omm tante gimana kalau nanti kita BBQan pasti seru banget.” Saran wildan.
“ohh okey, bisa tuh. Ayo masuk dulu kita istirahat dulu nanti mama suruh bik Una buat belanja buat BBQ malam nanti.” Kata mama dengan menggiring kita ke dalam.
***
“ Loe ngapain disini? Ini bukan arena kelas loe.” taya kendra ketus ke nathan.
“ gue nunggu Essa. Kalau loe mau masuk ya masuk aja anggap aja gue gak ada. Gampang kan?” jawab Nathan seenaknya.
“ ya terserah loe aja. Orang dia hari ini gak masuk , tungguin saja nyampek loe pulang. Gampang kan?” jawab kendra dengan berjalan masuk ke kelas.
Nathan masih mencerna perkataan Kendra. Lalu Nathan menoleh kearah Kendra dan mentapnya tajam. Gue bisa bersahabat dengan Essa tapi kayaknya sulit kalau harus bersahabat dengan Kendra, karna gue tau gue adalah saingan kendra.
“eh, hari ini Essa beneran gak masuk yah? Dia kemana?” tanya Nathan ke salah satu teman essa.
“ gue denger-denger sih gitu. Bokap essa lagi ada di rumah dan ngajakin essa dan sekeluarga liburan ke puncak gitu.” Jawabnya lalu masuk.
“ohh kepuncak ya okeh makasih yah.”
***
Mungkin saat ini kita tidak akan merasa kesepian saat banyak yang memperhatikan ataupun banyak orang yang menyayangi kita dan terkadang kita tidak memperhatikan mereka ataupun menganggap mereka tidak ada. Namun saat kita benar-benar merasa kesepian di saat itulah kita merasa bahwa kita di tinggalkan oleh mereka semua. Dan disitulah kita merasa SENDIRI
***
Sore ini Jakarta di landa hujan badai maklum sudah memasuki bulan Desember yang basah. Kendra sedari tadi menunggu hujan terang karna ia akan berlatih basket dengan teman-teman satu timnya.
“Sial kenapa hujannya gak berhenti-berhenti? Kalau gini caranya gue bisa gak latian basket.” Gerutu Kendra. Sambil memandang langit yang masih meneteskan air.
Kendra mengambil handphonenya lalu memencet-mencet tombolnya dan sesaat kemudian ia menempelkan handphonenya di telinga. Sesaat dia terlihat menunggu dan ... “bro, sorry ya hari ini gue gak bisa ngikut latian deh, hujannya deres banget. Pasti nyokap kali ini juga ngelarang gue naik motor jalanan licin belum macet juga, sorry ya. Next time gue ikut deh pasti.” Sesaat ia Cuma menjawab dengan kata “iya dan iya” saat temannya berbicara. Kendra tau kalau teman-temannya pasti kecewa. Dengannya. Ia menutup telepon dan melempar kan hape tersebut ke tempat tidurnya dan ia pun melempar juga tubuhnya di tempat yang sama.
***
Disisi lain jalan aku dapat melihat bayanganmu
Setelah melihatku dengan mata dingin, kamu berjalan kearahku
Kau selalu berkata, namaun kau tak pernah mempertanggug jawabkan perkataanmu
Dalam suara kecil, kenangan menangis
Menangis.....
Air matamu seperti laut biru yang membasahiku
Menatapku seolah aku asap
Seperti tidak ada
Sama seperti istana pasir yang tersapu oleh ombak
Seperti tidak memeliki kenangan
Memutuskan untuk mengakhiri seperti itu
Mampu melihat bayanganmu disisi berlawanan dari jalan itu
Setelah melihatku dengan mata dingin
Kamu berjalan kearahku
***
Liburanku dan kedua orang tuaku sangat mengesankan, aku bahagia bisa bersama mereka meski kadang-kadang hujan melanda dan mengurungkan niat kami untuk pergi hanya sekedar jalan-jalan di dekat villa. Namun apa harus dikata satu Minggu berlalu dengan cepat.
Kali ini mama dan papa kembali keaktivitasnya semula seakan mereka tak kenal lelah untuk terus bekerja. Begitupun dengan aku, kak Adit, dan Wildan yang sudah mulai menjalani aktifitas masing-masing. Aku dan wildan sedang menyiapkan ujian semester 1, mungkin ini hal sepele tapi aku tetap tak ingin mengecewakan orang tuaku.
Menjelang Natal aku sedang menyiapkan kado Natal utuk Nathan yang kebetulan agamanya Kristen Katholik. Apa salahnya aku memeberinya sebuah bingkisan untuk sahabat baruku. Aku memberinya sebuah kalung lambang Salib dan di belakangknya ada nama NATHAN SUDIBYO.
Ini masih tanggal 23 Desember, tentu saja hujan masih sangat deras. Namun sudah agak berkurang dari biasanya. Setelah semuanya selesai aku Cuma bisa melamun di beranda kamarku. Aku tak tau apa yang sedang aku pikirkan. Pikiranku pergi kemana-mana. Seakan tak punya arah dan tujuan.
Tiba-tiba handphone yang ada disambingku berdering aku menatap layarnya dan memmbaca KENDRA yang sedang menelphoneku.
“ada apa ken?” tanyaku padanya.
“ em tak ada apa-apa iseng saja aku ingin keluar bersamamu bagaimana kalau malam nanti kita nonton?” jawab kendra di sebrang telpon.
“ aku liat jadwal dulu ya takutnya tabrakan sama acara di kantor nyokap, kan gak enak sama nyokap soalnya aku uda janji mau nemenin nyokap di acaranya.”
“ okeh, ntar kalau bisa cepet-cepet kabarin aku yah “
“siip” aku menutup telpon dari kendra.
Minggu-minggu ini aku berasa malas untuk melakukan aktivitasku, tak tau mengapa juga aku sangat malas sekali, tak seperti biasanya.
Kesepian mungkin itulah yang membuatku malas. Aku sangat kesepian. Mama, papa , kak Adit sudah mulai sibuk dan sering pulang malam. Wildan yang sudah mempunyai banyak teman dan mempunyai tim futsal sudah mulai sering latihan dan jarang ada di rumah. Dan aku tetap sendiri di rumah, tanpa ada yang bisa di ajak cerita atau sekedar ubtuk mengobrol.
Aku berfikir sejenak, apa yang ingin aku lakukan. Dan tiba-tiba aku ingin menulis beberapa kata.
Apa kabar?
Bagaimana mencapai impianmu
Apakah itu tidak sakit bahkan ketika kamu terjepit?
Mungkin kamu gunakan ubtuk kehidupanmu sekarang
Tidakkah terkadang kamu merasa bosan?
Apakah kamu terkadang merasa kesepian dan letih?
Apakah kamu menginggat mimpiku?
Tersenyumlah untukku
Berdirilah lagi
Biarkan hatimu bahagia dengan penuh

***

To Be Continue ..... (Coming soon Musim Panas)


0 komentar:

Posting Komentar